Dan Kami pun Masukkan, Dalam Daftarmu !

Orang yang beragama itu orang yang sungguh berani.  Hanya orang-orang yang berkukuh dan intens dalam menyelami indahnya islam yang memiliki kekuatan yang luar biasa. Memang hal ini bukan hal yang aneh tapi ini memang realita. Mereka berani mempertaruhkan segalanya. Yah, segalanya. Semua yang di miliki. Jiwa, harta bahkan nyawa-pun tak masalah. Dalam kenyataannya orang yang sudah tercelup sibghah islam secara utuh mereka cenderung mempunyai semangat dan mental baja. Mereka mempunyai kemampuan yang bukan hanya sebatas kemampuan orang-orang biasa. Mereka mempunyai kharisma mistik yang luar biasa yang entah dari mana datangnya. Yang pasti keajaiban-keajaiban selalu berjalan berkelindan mengitarinya.

Jika anda perhatikan judul di atas sungguh terlihat aneh dan entah apa penilaian anda. Kalimat itu memang bukan bahasa kalimat sekarang, tapi kalimat lama. Cukup sulit memberikan makna dalam judul di atas. Mungkin karena kalimatnya yang rancu dan kurang pas. Ini penulis lakukan untuk memberikan kesan orisinil atas kalimat ini. Judul di atas merupakan akhir bait dari sebuah puisi yang di gubah oleh HAMKA untuk Muhammad Natsir. Tepatnya di Majlis Konstituante di ruang sidang Konstituante pada 13 November 1957 ketika beliau mendengarkan pidato seorang Muhammad Natsir. Memang sudah tiada yang meragukan, pidato seorang Muhammad Natsir memang telah membahana dan menimbulkan gejolak jiwa bagi para pendengarnya. Ini lah memang kharisma yang langka, yang tidak di miliki oleh pejuang sekaligus cendekiawan muslim lainnya. Hanya orang-orang yang mempunyai keteguhan iman yang kukuh dan kemantapan ilmu yang dalam yang mempunyai kharisma yang kuat sehingga memancarkan resonansinya kepada siapa saja yang mendengarnya.

Selengkapnya rangkaian bait tersebut adalah sebagai berikut:

Meskipun bersilang keris di leher
Berkilat pedang di hadapan matamu
Namun yang benar kau sebut juga benar
Cita Muhammad biarlah lahir
Bongkar apinya sampai bertemu
Hidangkan di atas persada nusa
Jibril berdiri sebelah kananmu
Mikail berdiri sebelah kiri
Lindungan Ilahi memberimu tenaga
Suka dan duka kita hadapi
Suaramu wahai Natsir, suara kaum-mu
Kemana lagi, Natsir kemana kita lagi
Ini berjuta kawan sepaham
Hidup dan mati bersama-sama
Untuk menuntut Ridha Ilahi
Dan aku pun masukkan
Dalam daftarmu .......!

Menurut hemat saya, gubahan puisi tersebut sungguh luar biasa. Betapa tidak dari aspek bahasanya saja penuh dengan makna dan seolah mempunyai jiwa sendiri dalam setiap kalimatnya. Oke, lepas dari perbedaan diksi pujangga pada zamannya HAMKA, tulisan ini hanya mengupas sedikit tentang latar belakang seorang Natsir mengapa HAMKA sampai menulis gubahan puisi yang dahsyat ini kepada seorang Natsir. Bagaimana sepak terjang seorang Muhammad Natsir dalam kiprahnya sebagai ulama sekaligus cendekiawan islam yang berkarakter teguh.

Memang itulah adanya. Perlu di  ketahui bahwa Natsir adalah seorang tokoh islam di indonesia yang sangat berpengaruh. Muhammad Natsir, lahir di Alahan Panjang, Sumatra Barat, pada tanggal 17 Juli 1908. Dari tanggal kelahirannya ini, diketahui bahwa ia lahir pada hari Jumat bertepatan dengan 17 Jumadil Akhir 1326 H. Ayahnya bernama Muhammad Idris Sultan Saripado, dan ibunya bernama Khadijah.

Pendidikan Muhammad Natsir, dimulai di sekolah dasar HIS (pendidikan dasar). Pada tahun 1923-1927, ia melanjutkan pendidikannya di Meer Uitgebrid Lager Onderwijs (MULO) di Padang. Selama di Mulo ia menerima beasiswa dari pemerintah Belanda karena prestasinya yang baik. Selain tekun belajar, ia juga aktif sebagai anggota National Islamistische Pavinderij(NATIPU) dari perkumpulan Jong Islamieten Bond (JIB) Padang yang diketuai oleh Sanusi Pane.

Setamatnya di sekolah dasar dan menengah, maka pada tahun 1927, Muhammad Natsir pindah ke Bandung melanjutkan studinya pada Algemene Middelbare Scool (AMS = setingkat SMA sekarang). Di daerah ini, ia pernah belajar pada sebuah sekolah agama di Solok yang dipimpin oleh seorang yang bernama Tuangku Mudo Amin. Muhammad Natsir juga, mengikuti pelajaran agama secara teratur yang diberikan oleh Haji Abdullah Ahmad di Padang. Di samping itu, Muhammad Natsir pernah berguru dengan tokoh yang mumpuni keilmuannya, yakni A. Hassan.

Pada tahun 1938, Muhammad Natsir mulai aktif di bidang politik dengan menjadi anggota Partai islam Indonesia (PII) Cabang Bandung. Pada tahun 1940-1942, ia menjabat sebagai ketua PII, dan ketika itu ia kerja di pemerintahan sebagai Kepala Biro Pendidikan Kodya Bandung sampai tahun 1945 dan merangkap sekretaris Sekolah Tinggi (STI) di Jakarta. Kemudian pada awal kemerdekaan Republik Indonesia, Muhammad Natsir tampil menjadi salah seorang politisi dan pemimpin negara, sebagai menteri dan perdana menteri yang terkenal sebagai administrator berbakat, dan pernah berkuasa sesudah Indonesia merdeka.

Pasca kemerdekaan RI, maka Muhammad natsir dipercaya menjadi anggota Komite nasional Indonesia (KNIP). Pada masa perdana menteri Sultan Syahrir, Muhammad Natsir diminta menjadi menteri penerangan. Tampilnya Muhammad Natsir di lembaga pemerintahan tidak terlepas dari langkah strategisnya dalam mengemukakan alur pemikirannya, dan atau sumbangan pemikirannya untuk membangun negara ini.

Pada masa demokrasi terpimpin, yakni pada tahun 1958, Muhammad Natsir mengambil sikap menentang politik pemerintah. Keadaan ini. Hal ini mendorongnya bergabung dengan para penentang lainnya dan membentuk “Pemerintah Revolusioner Republilk Indonesia (PRRI)”. Sebagai akibatnya, maka ia ditangkap dan dimasukkan ke dalam penjara.

Setelah Muhammad Natsir keluar dari penjara, yakni pada masa pemerintahan orde baru (era Soeharto), ia memulai aktivitas perjuangannya dengan memakai format dakwah (bukan lagi politik). Sikap kritis dan kreatifnya pada masa itu membawa hubungannya dengan pemerintah Orba, juga kurang harmonis.

Referensi Kepustakaan:
Thohir Luth, Muhammad Natsir dan Pemikirannya (Cet. I; Jakarta: Gema Insani Press, 1990). Deliar Noer,Gerakan Modern Islam di Indonesia 1900-1942 (Cet. VIII; Jakarta: LP3ES, 1996). Ahmad Watik Pratiknya,Percakapan Antara Generasi Perjuangan Seorang Bapak (Jakarta: Media Dakwah, 1989). Imam Munawwir,Kebangkitan Islam dan Tantangan-Tantangan Yang di Hadapi Dari masa ke Masa (Cet. II; Surabaya: Bina Ilmu, 1984).


Strong Desire Makes Miracle

Dalam suatu kesempatan saya membuka-buka kertas buku yang pernah tersinggahi coretan-coretan tinta saya. Ketika saya membacanya terasa ada sebuah kalimat yang sangat menantang untuk saya syarah dan interpretasikan.  Strong Desire Makes Miracle –kemauan yang kuat akan menciptakan keajaiban-. Begitulah arti kata itu. Sebuah kemauan yang kuat -atau dalam bahasa ikhwannya di sebut dengan istilah azam- akan melahirkan keajaiban-keajaiban yang sangat-sangat banyak. Saya kira ini sudah dapat di mengerti oleh para khalayak.
Banyak sekali pengalaman empiris yang kita tahu dari hal ini. Coba saja bila anda tidak percaya. Sebuah keinginan yang kuat akan mensugesti jiwa dan pikiran yang kemudian akan dialirkan melalui syaraf motorik dan menggerakkan tubuh yang awalnya malas tak mau di gerakkan. Hal ini juga banyak terbukti, sebut saja ketika diri ini malas untuk sholat tahajud. Dan kemudian tiba-tiba ada keinginan dan kemauan yang kuat untuk melakukannya tepat jam tiga bahkan jam dua malam sekalipun, saya yakin dengan kondisi normal dan didorong dengan kemauan yang kuat maka diri ini akan bangun tepat jam tiga seperti kemauan kita. Contoh lain adalah ketika ada jadwal pertandingan bola jam dua malam dan kita berkeinginan untuk bangun nonton bola, saya yakin juga diri ini akan bnagun jam segitu.

Lalu apa hubungannya dengan Miracle ?. Nah, inilah yang yang menjadi bahasan kita pada tulisan ini. Bila kita sangat ingin melihat keindahan pulau yang terletak di tengah lautan maka kita pun rela untuk menapakkan kaki untuk menaiki kapal untuk menyeberanginya. Begitu juga ketika kita ingin mempunyai harta yang banyak salah satunya dengan cara menabung sedikit demi sedikit yang kemudian akan kita unduh hasilnya di kemudiaan hari. Dan Ketika kita mengunduh hasinya itulah bagian dari keajaiban itu. Walaupun kita tidak tau keajaiban-keajaiban apa saja yang datang silih berganti berikutnya. Yang pasti ketika sebuah hasil di dahului dengan hal-hal kecil maka ia akan menampakkan hasil berikutnya yang lebih dari sebelumnya.

Hermeneutika, Bukan Metodologi Tafsir al-Qur'an

Dalam khasanah keilmuan islam ada ilmu yang secara khusus yang di gunakan dalam menafsirkan al-Quran, yaitu ilmu tafsir. Dalam menafsirkan al-Quran, seorang mufassir di tuntut untuk menguasai beberapa cabang ilmu agar dalam menafsirkan sesuatu sesuai kaidah tafsir dalam agama islam. Ia tidak memiliki kewenangan untuk menafsirkan al-Quran bila tidak memiliki kapasitas yang cukup untuk menjadi seorang mufassir. Metodologi tafsir yang di gunakan harus sesuai dengan tuntunan Rasulullah saw, para sahabat, para tabi’in dan para ulama yang mumpuni dan telah di akui kapasitasnya sebagai mufassir.
Namun akhir-akhir ini , kita-umat islam- dikejutkan oleh berbagai macam serangan arus pemikiran liberalisme. Baik yang dilakukan oleh orentalis maupun para intelektual islam yang terpesona dengan pemikiran barat. Dalam masalah tafsir di munculkanlah metode tafsir yang dinamai Hermeneutika. Yaitu cara penafsiran yang mula-mulanya ditetapkan untuk menafsirkan Bibel dan di paksakan untuk dapat di aplikasikan dalam menafsirkan berbagai kitab suci, terutama al-Quran.
Dari akar sejarahnya sebenarnya hermeneutika merupakan adopsi dari istilah Yunani kuno yaitu hermenêuin yang berarti menafsirkan. Istilah ini kerujuk kepada seorang tokoh mitologis dalam mitologi Yunani yang dikenal dengan nama Hermes (Mercurius). Dikalangan pendukung hermeneutika ada yang menghubungkan sosok Hermes dangan Nabi Idris as. Dalam mitologi Yunani kuno sosok Hermes dikenal sebagai dewa yang bertugas menghubungkan pesan-pesan Dewa kepada manusia. Dari tradisi Yunani, hermeneutika berkembang sebagai metodologi penafsiran Bibel yang dikemudian hari dikembangkan oleh para teolog dan filosof barat sebagai motodologi penafsiran secara umum dalam ilmu-ilmu sosial dan humaniora.
Dalam sepak terjang penggunaan hermeneutika dalam menafsirkan ilmu, metode ini telah dipakai lebih dulu oleh para filosof dan para teolog kristen untuk menafsirkan Bibel. Tugas utama Hermeneutika sebagaimana di jelaskan oleh Werner G. Jeandrond dalam Theological Hermeneutics adalah untuk memahami teks sebagaimana dimaksudkan oleh para penulis teks itu sendiri (The main taks of hermeneutics, hewever, was to understand the textz as their authors had understood them). Dalam The New Encyclopedis Britannica ditulis bahwa hermeneutika adalah studi prinsip-prinsip general tentang interpretasi Bibel (the Study of the general principle of biblical interpretation). Tujuan dari Hermeneutika adalah untuk menemukan kebenaran yang ada dalam bibel (kata mereka). Dalam sejarah interpretasi Bibel ada empat model untama interpretasi Bibel, yaitu:
1.       Literal interpretation
2.       Moral interpretation
3.       Allegorical interpretation, dan
4.       Anagogical interpretation.
Hermeneutika memang cukup pantas untuk di gunakan menafsirkan Bibel karena Bibel bukan merupakan teks wahyu secara final. Yang menjadi problema haruskah penafsiran Hermeneutika tersebut di paksakan pada penfsiran al-Quran?. Jawabannya tentu Tidak !. Jika penafsiran hermeneutik dilakukan pada Bibel hal itu wajar karena kata-kata dalam bibel bukan hanya kata-kata Tuhan, tetapi juga kata-kata Isa. Tidak hanya itu dalam tradisi penyusunan Bibel-pun tidak luput dari kata-kata pengarang Bibel yaitu Markus, Yohanes dll. Kesemuanya itu mempunyai interpretasi sendiri-sendiri dari pemahaman masing-masing pengarang terhadap kata-kata Isa yang mereka catat. Seperti kata-kata Paus yang pernah di muat dalam surat kabar New York Sun pada 17 Januari 2006 yang ditulis oleh Daniel Pipes berkudul “The Pope and the Koran” (Paus dan al-Quran), di jelaskan menurut istilah Paus, Tuhan menggunakan manusia dan memberikan inspirasi kepada mereka untuk mengungkapkan kata-kata Tuhan kepada manusia (He used His human creatures and inspired them to speak His word to the world). Karena itu, menurut Paus, kaum Yahudi dan Kristen dapat mengambil apa yang baik dalam bibel mereka dan memperhalusnya. Jadi, kata Paus dalam bibel itu sendiri ada logika internal yang memungkinkan untuk di sesuaikan sesuai dengan situasi dan kondisi yang baru. Dalam istilah Paus, Bibel adalah “kata-kata Tuhan yang turun melalui komunitas manusia”.
Lalu, apa masalahnya jika Hermeneutika diterapakan dalam menafsirkan al-Quran?
Ada banyak masalah jika Hermeneutika di paksakan sebagai metodologi dalam menafsirkan al-Quran. Bahkan akan merubah hukum-hukum yang telah tetap (tsawabit) dalam islam. Tentu hal ini sangat berbahaya dan tidak boleh di biarkan. Konsep al-Quran sendiri sangat berbeda dengan Bibel. Seperti yang sampai sekarang di yakini oleh kuam muslimin bahwa al-Quran itu “lafdzan wa ma’nan minallah’ (lafadz dan ma’nanya dari Allah swt). Meskipun sama-sama keluar dari mulut suci Rasulullah saw, tatapi sejak awal telah di bedakan antara al-Quran dan hadis Nabi. Hal ini jauh berbeda dengan bibel yang merupakan “teks manusiawi” maka Bibel bisa menerima penafsiran hermeneutika dan menempatkannya sebagai bagian dari dinamika sejarahnya. Sedangkan al-Quran berbeda sekali. Sifat al-Quran itu otentik dan sudah final sehingga bukan menjadi bagian dari dinamika sejarah. Islam telah sempurna dari awalnya, hal ini telah di jelaskan di dalam al-Quran sendiri surat al-Maidah ayat 3. Dalam islam memang ada yang bisa berubah sejalan dengan perkembangan zaman yang diketegorikan dalam bagian al-Mutagayyirat (yaitu bagian-bagian yang bisa berubah) seperti muamalah. Namun kita juga perlu tahu bahwa islam juga mempunyai bagian yang al-Tsawâbit (yaitu bagian yang tidak bisa dirubah dan statis) seperti dalam lapangan aqidah dan ibadah. Penafsiran Hermeneutik itu tidak bisa di terapkan dalam teks al-Quran sebagai teks wahyu murni yang memang merupakan kitab yang tanzil.
Para Hermeneut (Pengaplikasi Konsep Hermeneutika) seperti Prof. Amin Abdullah, Prof. Aminah Wadud, Prof. Fazlur Rahman, Nasr Hamid Abu Zaid dll mereka menganut paham relativisme tafsir. Kata mereka tidak ada tafsir yang tetap. Semua tafsir dipandang sebagai produk akal manusia yang relatif, kontekstual, temporal dan personal. Salah seorang Hermeneut yaitu Prof. Amin Abdullah mengatakan bahwa “ dengan sangat intensif hermenueutika mencoba membongkar kenyataan bahwa siapapun orangnya, kelompok apapun namanya, kalau masih pada level manusia pastilah “terbatas,-parsial-kontekstual pemahamannya, serta ‘bisa saja keliru’. Ha ini tentu berseberangan dengan keinginan egois hampir semua orang untuk selalu benar”. Berangkat dari pemahaman relativisme ini maka tidak ada lagi kebenaran yang bisa diterima semua pihak. Semua manusia bisa salah.
Argumen yang semacam itu sungguh salah besar dan tidak beralasan. Islam adalah agama yang satu dan sepanjang sejarah para ulama selalu bersatu dalam banyak hal. Umat islam dari zaman Nabi saw hingga kini dan sampai hari kiamat membaca syahadat dengan lafadz yang sama, shalat subuh selalu dua rekaat dan membaca takbir ‘Allahu akbar’, begitu juga dengan puasa ramadhan, haji dll. Ini menunjukkan kebenaran yang sama. Akal manusia tentu bisa menjangkau hal yang mutlak yang tentu saja dalam batas-batasnya sebagai manusia. Artinya akal manusia itu menyakini kebenaran yang satu.  Kebenaran itu akan menjadi kebenaran yang mutlak jika di sandarkan kepada dzat yang maha mutlak benar, ialah Allah swt. Tidak benar bahwa akal manusia selalu berbeda dalam segala hal. Bahkan dalam menafsirkan al-Quran pun para mufassir tidak berbeda dalam menafsirkan shalat lima waktu, kewajiban puasa pada bulan ramadhan, haji ke baitullah dll. Ini semua sudah mafhum dalam islam, jadi tidak benar jika semuanya adalah relatif, dzanniy. Bahkan ungkapan mereka yang menyatakan bahwa “semuanya adalah relatif adalah juga relatif. Sehingga ucapan itu sendiri bersifat relatif.
Paham relativisme dalam tafsir ini sangat berbahaya, sebab:
1.       Menghilangkan keyakinan akan kebenaran dalam finalitas islam. Sehingga selalu berusaha memandang kerelativan kebenaran dalam islam.
2.       Menghancurkan bangunan ilmu pengetahuan islam yang lahir dari al-Quran dan as-Sunnah yang sudah teruji selama ratusan tahun.
3.       Menetapkan islam sebagai agama sejarah yang selalu berubah-ubah megikuti zaman. Bagi mereka tidak ada yang tatap dalam islam. Hukum islam yang sudah dinyatakan tetap (Tsawabit) dan final menurut mereka senantiasa bisa di ubah sejalan dengan kontektualisasi perkembangan zaman.
Sebagai penutup tulisan ini, mengutip perkataan Prof. Wan Mohd Nor Wan Daud bahwa: “Konsekwensi dari pendekatan hermeneutika ke atas sistem epistimologi islam termasuk segi perundangannya sangatlah besar dan berbahaya. Penolakannya  terhadap penafsiran yang final dalam suatu masalah bukan hanya masalah agama dan akhlak, tapi juga masalah keilmuan lainnya. Keadaan ini dapat menimbulkan kekacauan nilai, akhlak dan ilmu pengetahuan, dapat memisahkan hubungan aksiologi antar generasi, antar agama dan antar manusia.



Review Buku “Musllimlah dari pada LIBERAL (Catatan Perjalanan di Inggris)

Review Buku “Musllimlah dari pada LIBERAL 
(Catatan Perjalanan di Inggris)
Pengarang          : Adian Husaini.
Penerbit              : Sinergi Publishing.
Tahun Terbit      : Agustus 2010.

Oleh: Ziyadul Muttaqin

Buku ini merupakan salah satu karya Dr. Adian Husaini. Beliau merupakan salah satu dari tokoh dan promotor di INSIST, juga dosen di Ibnu Khaldun. Banyak sekali buku beliau yang sudah di terbitkan oleh berbagai penerbit, diantaranya adalah buku ini. Ketika saya membaca buku ini, di awal buku saya mendapatkan sebuah kalimat yang cukup untuk memotivasi sekaligus menantang saya. “A journalist never dies”-Seorang wartawan tidak akan pernah mati. Tentu saja ini hanyalah ungkapan simbolik. Ungkapan ini mau menunjukkan bahwa seorang jurnalis/wartawan selalu mempunyai ide-ide cemerlang dan kreatif bahkan ide gila sekalipun. Ia akan selalu menulis apa yang ia rasakan, ia lihat, ia dengar bahkan ia bayangkan sekalipun. Hal ini karena naluri jurnalistiknya tetap melekat dalam dirinya. Saya kira pandangan seperti ini harus di gerakkan dan di geliatkan untuk kalangan muda. Terutama para mahasiswa perguruan tinggi.
Dalam buku ini beliau mengomentari perihal kondisi kaum muslimin di indonesia dan di inggris. Kaum muslimin di Indonesia kebanyakan masih termarjinalkan. Kenapa? Karena muslim di indonesia ternyata baru pengguna ide. Kita user dari orang lain. Kita belum menjadi produser ide atau inisiator. Kita belum mempunyai universitas sekelas azhar. Sedangkan di Inggris ada tantangan tersendiri mengenai liberalisme yang memang gudangnya. Menurut hemat saya, memang seperti itulah realitasnya di indonesia. Akan tetapi di setiap zaman pasti ada masa yang namanya masa redup dan masa cemerlang. Dan semoga kita di Indonesia hanya mengalami masa redup itu sebentar dan kembali menyelami masa cemerlang.  Dalam buku ini juga beliau membahas mengenai beberapa masalah, diantaranya:
Atheisme
Maslah atheisme sangat menarik untuk di kupas. Atheisme yang dikembangkan saat ini bukan hanya “tidak mengakui adanya tuhan” tetapi juga menyingkirkan peran tuhan dalam kehidupan. Dalam dunia modern, Tuhan dianggap sebagi penghalang kebebasan dan kenikmatan hidup manusia. Dlam bukunya, Histori of God (1993: 378), karen Amstrong mengutip ucapan filosof terkenal asal prancis, Jean-Paul Sartre (1905-1980), bahwa “even if God existed, it willl still necessary to reject him, since the idea of God negates our freedom” –jadi katanya, walupun Tuhan itu eksis, tetap harus di tolak. Sebab pikiran tentang Tuhan itu membunuh kebebasan kita-. Sebenarnya manusia dengan akalnya bisa menemukan adanya Tuhan dan menemukan Tuhan yang satu. Aristotle dengan akalnya ia bisa menemukan adanya Tuhan. Seorang pengusaha agri-bisnis dari jepang pernah bercerita kepada saya bahwa ia menemukan Tuhan ketika mengamati tomat, kedelai adn sebagainya. Tetapi dengan hanya akalnya semata manusia tidak akan pernah mengenal akan Tuhan yang satu itu, bagaimana sifat-sifatnya, siapa namanya dan bagaimana cara menyembahnya. Untuk itulah Tuhan yang satu mengutus Rasul-rasulnya dan menyampaikan masalah-masalahnya. Kalau soal keberadaan tuahan, maka manusia yang waras dan mau menggunakan akalnya akan sulit menolak. Orang yang akalnya sangat sederhana pun bisa memehami bahwa kotoran kucing berarti menunjukkan adanya kucing meskipun ia tidak melihat kucing. Saya contohkan jika orang menyatakan bahwa Tuhan tidak ada maka sebenarnya sama saja ia menyatakan bahwa Tuhan itu tidak ada. Maka sebenarnya ia sama saja menyatakan bahwa di kota london di masa lalu ada tumpukan semen, batu bata, pasir, potongan-potongan besi dan sebagainya lalu terjadilah badai yang hebat dan kemudiaan menjadi bangunan parlemen inggris lengkap dangan menara big ben-nya.
Padahal alam semesta ini sangat teratur. Adanya alam yang sangat teratur menunjukkan adanya yang mengatur. Tidak mungkin alam ini tercipta dengan sendirinya. Lihatlah DNA dan sidik jari milyaran manusia. Tidak ada satupun manusia yang DNA dan sidik jarinya sama dengan orang lain. Siapa yang mengatur semua in?. Tentu ada yang mengatur. Ialah Allah swt, satu-satunya Tuhan yang berhak disembah.
Problem Demokrasi
Demokrasi menurut pandangan orang barat yakni kedaulatan berada di tangan rakyat dan suara rakyat adalah suara  Tuhan (vox populi vox dei). Ada pula yang menolak secara mentah-mentah dan meyatakan bahwa demokrasi sebagai sistem kufur. Saya mencoba mendudukkan demokrasi pada tempatnya. Memang konsep islam dalam soal kebenaran tidak sama dengan konsep kebenaran yang didasarkan pada suara mayoritas.
Problem Bahasa
Pada era ini banyak terjadi proses take and give antar peradaban yang senantiasa akan berlangsung dengan dinamis. Dalam hal ini perlu satu pemahaman yang mendasar tentang  islamic worlview dan strategi tepat dalam pengambilan suatu istilah asing. Dalam posisi sebagai perdaban yang “underdog” terhadap perdaban barat, kaum muslimin di tuntut untuk berhati-hati dalam pengambilan istilah-istilah asing. Membanjirnya istilah-istilah asing kedalam kosa kata kaum muslim seperti pluralisme, inklusivisme, multikulturalisme, kesetaraan gender dan sebagainya telah meyebabkan apa yang disebut oleh prof. Naquib al-Attas sebagai “de-islamization of lenguage”, yakni proses islamisasi bahasa. Rusaknya bahasa dapat berdampak sangat luas dan besar terhadap pemikiran kaum muslimin sebab mereka memahami agamanya dari bahasa. Jika bahasanya sudah rusak, maka mereka kehilangan jalan untuk memahami agamanya dengan benar.

Beliau banyak mengomentari mengenai kondisi keagamaan di inggris. Salah satunya mengenai semangat keberagamaan mereka. Beliau mencatat bahwa walaupun di inggris merupakan tempatnya paham leberalisme agama, tapi masih ada orang-orang yang mempunyai semangat yang tinggi dalam berpegang teguh. Tidak setiap yang tinggal di situ harus berpaham liberal walaupun lingkungannya sangat mendukung untuk berpaham demikian.

Di bawah Naungan Cinta

Zahra menunduk kesal. Suara siulan dan tepuk tangan begitu memekakkan telinganya, bagai mengiringi tampilnya seorang pejabat. Ia menarik nafas panjang, matanya yang sejak tadi tertuju pada tas di pangkuannya, kini beralih ke panggung. Disana seorang gadis tengah memperkenalkan lagu yang akan dibawanya.

Zahra yang duduk disekitar banyak siswa-siswi SMA di Kairo itu tertunduk lemas. Tak beberapa lama alunan merdu nyanyian Via terdengar dari atas panggung. Fara yang sedang asyik menikmati lagu Via mengalihkan pandangannya ke Zahra. Gadis itu masih merunduk memandang tas pemberian kakaknya tersebut.

“Hei..!! Zahra, lihat tuh si Via !” teriak Fara kepada Zahra. Tapi betapa kagetnya Fara melihat mata Zahra berkaca-kaca. Ia belum berani menanyainya, apalagi mengintrogasinya. Zahra yang tak menyadari keadaannya hanya menoleh sebentar dan menunduk lagi. Hatinya pilu melihat gadis berjilbab menggoyang-goyangkan pinggulnya mengikuti alunan musik. Ingin rasanya Zahra menghentikan musik itu agar Via berhenti pula, menghentikan gemuruh suara yang menggoncang setiap sudud-sudud aula itu.

“Oh...Ya Allah berilah hidayah kepadanya”, jerit Zahra dalam hatinya. Fara yang dari tadi duduk disampingnya semakin gelisah melihat keadaan Zahra.

“Ra..” panggilnya seraya memegang bahu temannya itu. Zahra tersentak kaget. Dia menoleh ke arah Fara.

“Kamu sakit Ra?”

“tidak”, jawab Zahra singkat.

Tapi matamu basah. Tuh lihat sudah mau turun ke pipi. Zahra cepat-cepat mengusapnnya. Betulkan basah?. Kata Fara seraya mendekatkan kepalanya ke arah Zahra.

“Ya, tapi aku nggak apa apa kok. Aku Cuma merasa lebih baik tidak datang pada acara perpisahan ini”. “Kalau begitu aku minta maaf memaksamu hadir, Kupikir ini kesempataan terkhir kita bertemu di sekolah ini. Apa kamu tidak suka sama Via?, tanya Fara hati-hati. Zahra memandang sahabatnya itu lekat-lekat.

“Bukannya tidak suka Far, aku hanya kurang tertarik pada acara ini. Lagi pula tak ada alasan aku membenci Via. Jangan marah Ra, aku Cuma tanya kok, piece..hehe”. Sudahlah Far aku tak tersinggung kok, aku baik-baik saja. Kita pulang yuk?, ajak Zahra kemudian.

Fara terdiam dan bengong sesaat. Ia banyak tahu tentang Zahra, darinya ia tahu lebih dalam tentang islam. Tapi ia kadang tak mengerti juga tentang keinginan Zahra, persis seperti saat ini.

“Pulang...?”. “Ya, tapi mengapa?, bukankah kamu nanti akan tampil dalam penyampaian hadiah?. Masak sang juarawati mau pulang duluan. Lagi pula, apa tak ingin melihat penampilan cowok yang selalu mengejarmu?” kata Fara sampil menggoda Zahra. “Kalau tak mau pulang, aku akan pulang duluan, kata Zahra datar”.

“Ah, kamu ini bagaimana sih Ra, apa kamu tidak takut sama pak Qasim. Guru killer kita”. “Maaf far, aku harus pulang”. Putus Zahra seraya bangkit dari kursinya. Banyak mata yang memandang kearahnya, namun segera beralih kembali pada goyangan maut Via, seakan tak mau ketinggalan sedikitpun pamandangan jahili itu.

Zahra melangkah ke tempat parkir dengan tergesa. Baru saja hendak menstarter motornya, tiba-tiba ada suara memanggilnya.

“Zahra...!!, tunggu sebentar!”

Tak berapa lama cowok yang dari tadi memanggilnya sudah ada di depan motornya, Tanpa disangka tangannya dengan gesit mengambil kunci motor Zahra. Zahra tersentak kaget. Kembalikan kunci itu Hid, Pinta Zahra.

“Kamu mau pulang ra? Kenapa?”

Ya, ibuku sakit, aku harus pulang secepatnya. Kembalikan kunci itu hid. Aku mohon. Tapi ra..ini hari terakhir kita bertemu, apa kamu tidak ingin mengenang hari bersejarah ini?”

Zahra hanya diam, hatinya menangis. Ia teringat ibunya yang sewaktu berangkat tadi memang sedang sakit. Syahid tahu watak Zahra yang teguh pendiriannya, ia tak tak mudah menyerah. Syahid tak bisa menolaknya. Dipasangnya kembali kunci motor Zahra pada tempatnya, lalu ia menyingkir. “terima kasih”. Ucap Zahra datar langsung menstarter motor metic-nya tersebut tanpa menghiraukan Syahid. Syahid hanya diam terpaku memandang gadis berjilbab putih itu menghilang. Sebenarnya banyak gadis yang mengharapkan selendang cintanya, tapi entah mengapa Zahra yang pendiam justru yang kejatuhan selendang cintanya.

******

Dua tahun berlalu sudah. Zahra baru saja selesaai membereskan tugasnya di asrama putri. Ia baru saja menamatkan buku ‘Pudarnya Pesona Cleopatra’ yang dipinjamnya dari maktabah kampus al-Azhar University.

Kini ia sedikit banyak tahu akan budaya dan peradaban bangsa mesir yang sebenarnya. Tak jauh beda dengan bangsa asal ayahnya, Indonesia. Hari-harinya dihabiskannya di asrama putri atau sesekali mampir ke maktabah al-Jadid di sebelah selatan asramanya.

“Hei Zahra, kamu sibuk nggak?, sebuah pertanyaaan hinggap di gendang telinganya. Ternyata dari teman seasramanya, Fatiya. “enggak kok, hari ini aku enggak ada kuliyah, ada apa Fat?”.

Antarin ke Maktabah al-Jadid yuk. Cari referensi kitab buat tugas dari Syekh Ahmad kemarin. Oh, baiklah. Tapi tunggu sebentar biar aku ganti baju dulu.

*******

            Pukul 09.14 menit mereka telah turun dari kereta di mahattah jami’ depan maktabah al-Jadid. Dengan gesit mereka mengayunkan langkah kearah pintu masuk. Dari luar pintu terlihat banyak sekali ribuan buku tertata rapi di sepanjang rak. Fatiya segera melejit sendiri mencari kitab yang diperlukannya. Sementara Zahra hanya melihat-lihat buku yang ada sambil membaca surat kabar El Mesry El Youm yang sedari tadi dipegangnya.

Tiba-tiba, bruuuk..!

Ma’alisy ya ukhty, Seru Zahra dalam bahasa arab ‘ammiyah. Tanpa memandang siapa yang ditabraknya, Zahra langsung membantunya menata buku yang dijatuhkannya.

“Zahra??”

“Fara?”

Mereka saling tatap, saling terpekik, lantas saling memeluk. Barangkali itu satu ungkapan yang tepat. “Alhamdulillah, tak kusangka kiita bisa berjumpa lagi..” desis Fara sambil menyeka sudud matanya yang basah karena terharu.

“Idem..!!” Zahra berkata riang dalam keharuan. Kau masih seperti dulu Ra. Tak ada yang berubah, bahkan kamu lebih anggun sekarang”. Kuliyah dimana sekarang? Di al-Azhar University, fakultas ushuluddin tingkat kedua, kamu sendiri kuliyah dimana Far?. Aku sekarang di Universitas Cairo tingkat kedua fakultas kedokteran. Banyak kok teman-teman dari SMA yang melanjutkan di sana, termasuk juga....ee.

“apa Far?”. Tutur Zahra heran.

Zahra, kamu masih ingat teman kita di SMA kita dulu, Syahid?

“Syahid?”. Yah, Syahid. Cowok yang dulu pernah menaruh hati padamu dikala SMA, dia juga pernah kuliyah satu universitas denganku, di Universitas Cairo, tapi lain fakultas. Aku pernah bertemu dengannya beberapa kali. Dari bicaranya, dia kelihatan lebih dewasa, lebih alim dan lebih tawadhu’. Aku tidak tahu persis mengapa ia bisa berubah sedrastis itu. Tapi yang pasti bila Allah telah berkehendak maka tak ada satupun yang bisa mencegahnya. Akan tetapi akhir-akhir ini aku tidak pernah melihatnya lagi. Terakhir aku melihatnya  dia tengah mengisi suatu diskusi kajian islam di masjid kampus. Setelah itu dia menghilang entah kemana, tak ada kabarnya.”

            Zahra, kamu tahu. Sebulan setelah kabar menghilangnya Syahid, aku mendapatkan kabar bahwa Syahid telah meninggal dunia. Lebih tepatnya meninggal sebagai syuhada. “Alhamdulillah, Innalillahiwainna ilaihi raaji’un. Ucap Zahra dengan bibir bergetar. ‘Fara, benarkah yang kau katakan....?”. Fara terdiam, suasana berubah hening seketika. Buliran-buliran air mulai membasahi pipi Zahra. Hatinya terharu antara terharu dan sedih.

            Zahra, sebelum ia meninggal dia sempat bertanya tentang dirimu. Sepertinya ia masih memendam rasa padamu. Masih seperti dulu. Kamu tak apa kan Ra? “tak apa, aku hanya terharu mendengar ceritamu far, jawab Zahra dengan terisak. Pikirannya menerawang jauh ke masa lalu. Syahid. Nama teman satu SMA dulu yang pernah menghalang-halanginya pulang karena kunci motor Zahra di ambilnya. Kini, ia telah berlalu. Meninggalkan sebuah kenangan. Meninggal sebagai seorang Syuhada. Terlukis indah seperti namanya “Syahid”.

*******

Dimensi Paradigma

Dalam hidup di dunia ini ada sebuah istilah yang mungkin sering kali kita tidak menyadarinya. Bahkan kitasering mengabaikan dan menyepelekannya. Mungkin karena kita tak memperhatikan atau mungkin terlalu sering hinggap di telinga kita sehingga sampai tak menyadarinya. Seseorang yang dianggap pelaku kekerasan oleh sekelompok lain akan disebut sebagai pembela kebenaran oleh sekelompok lain juga. Seseorang yang dianggap teroris di tempat lain ia pasti mendapat julukan pahlawan di tempat lain. Jangan lupakan itu !. Ini bukan hanya sebatas omongan atau isapan jempol belaka. Ini telah terbukti, bukan hanya sebuah teori klasik yang entah itu empiris ataukah tidak. Banyak realitas yang menunjukkan hal ini. Kita tahu bahwa roda senantiasa berputar, orang yang paginya kaya belum tentu sorenya akan kaya juga, bisa jadi mendadak melarat. Orang yang malamnya sehat belum tentu paginya bangun dalam keadaan sehat, anda yang sekarang masih bisa membaca tulisan ini belum tentu bisa membaca tulisan ini di lain waktu. (makanya lahap langsung ini tulisan, hehe)

Roda senantiasa berputar dan waktu senantiasa bergilir. Sebuah kasus tahun 2001 saat peristiwa WTC, menurut tentara gembong teroris tulen dunia, siapa lagi kalau bukan Amerika Serikat, seorang warga Saudi Usamah bin Laden disebarkan rumor sebagai teroris kelas dunia dan kepalanya bernilai puluhan bahkan ratusan juta dolar baik hidup maupun mati. Mereka begitu getolnya meneriakkan kata-kata teror kepada Usamah bin Laden. Akan tetapi setelah peristiwa WTC yang pelakunya dialamatkan kepada Usamah bin Laden yang dianggap sebagai biang keladi dibalik peledakan WTC tersebut, justru melambungkan nama Usamah bin Laden dan nama tersebut menjadi icon nama yang populer. Bahkan di Vietnam banyak banyi yang lahir berbarengan dengan peristiwa tersebut di beri nama Usamah. Inilah sebuah paradigma pandangan yang berbeda. Yang satunya menyebutnya sebagai biang teroris sedangkan yang lainnya menganggapnya sebagai pahlawan.

Seorang da’i atau mubaligh yang sering nongol di televisi pun tak luput dari persepsi paradigma yang seperti ini. Ada sebagian masyarakat yang mendukung abis-abisan kontes da’i muda pilihan yang ditayangkan di berbagai televisi swasta di indonesia ini. Tidak usah saya sebut ajang apa itu, saya kira para pembaca sudah tau bahkan lebih tahu dari saya sendiri. Banyak masyarakat di indonesia ini yang sangat simpatik dan friendly dengan tayangan-tayangan  semacam itu, mereka beranggapan kontes semacam itu bertujuan sangat mulia sebagai bentuk pengkaderan ulama atau da’i yang sangat dibutuhkan ummat. Akan tetapi di lain tempat, di lain waktu dan di lain dimensi rasa pula, sebuah masyarakat lain berpandangan bahwa kontes seperti itu hanya sia-sia saja. Hanya sebuah trensester sebagai akibat dari masuknya bulan ramadhan. Kita pun sudah tau, banyangkan saja pada bulan ramadhan ini pun banyak sekali kontes-kontes da’i-da’i pilihan televisi yang entah niatnya apa, apakah ingin dapat duit puluhan juta, ataukah kerena pengen popularitas yang menggiurkan yang ditawarkan oleh televisi?. Entahlan. Itu terserah mereka. Akan tetapi yang pasti ada sebagian orang yang mencemooh hai tu sebagai hal yang kurang baik, tidak bermanfaat, menghabis-habiskan biaya dan seambrek pandangan-pandangan lain yang bisa dikatakan jelek dan kurang siip. Yah, itu sebuah paradigma hidup.

Tak beda jauh dengan kejadian-kejadian di negeri kita ini. Indonesia. Kasus korupsi yang membeludak ini membuat KPK berteriak lantang. Membuat para petinggi-petinggi negara meragukan kualifikasi KPK. Tak hanya itu, banyak dari parpol-parpol yang meragukannya, lepas dari persoalan apakah ada udang dibalik batu ataukah udang dibalik tempong ( makanan dari udang di campur tepung yang di goreng). Tentang hal ini banyak sekali yang mendukung kerja KPK bahkan mengapresiasi kinerjanya. Akan tetapi disatu sisi tak sedikit pula yang menjadikan kemunduran KPK saat ini sebagai kesempatan emas untuk sekalian saja melibas habis komisi independent ini. Tak hanya itu peran-peran dan sinyal-sinyal politik di KPK-pun mau mereka masuki. Sungguh tragis memang. Tapi inilah realitas saat ini. Lepas dari paradigma yang berbeda ini, yang pasti disetiap zaman, disetiap masa, di setiap waktu, disetiap tempat dan disetiap elemen, pasti ada sebuah perbedaan persepsi. Dan itu memang harus ada dan wajib ada. Itulah sebauh perbedaan.

10/08/2013
17:03 Wib

Pacaran, Boleh Kok !! #Part 2

Dalam artikel saya yang pertama tentang Pacaran, Boleh Kok !! #Part 1. Saya telah jelaskan bahwa sebenarnya pacaran dalam islam itu boleh-boleh saja. Bahkan bila hal itu diperlukan justru bisa menembah mesra hubungan kekasih dengan balutan cinta, dibangun dengan senandung rindu nan hangat. Tapi hal itu tentu ada syaratnya. Pacaran dalam islam boleh, asal dilakukan setelah menikah. Bila pacaran dilakukan sebelum terjadi pernikahan antar keduanya maka hal itu menjadi Haram hukumnya.
Rasulullah bersabda:
"Telah tertulis atas anak adam nasibnya dari hal zina. Akan bertemu dalam hidupnya, tak dapat tidak. Zinanya mata adalah melihat, zina telinga adalah mendengar, zina lidah adalah berkata, zina tangan adalah menyentuh, zina kaki adalah berjalan, zina hati adalah ingin dan berangan-angan. Dibenarkan hal ini oleh kelaminnya atau didustakannya."
Jika kita sejenak mau introspeksi diri dan mengkaji hadist ini dengan kepala dingin maka dapat dipastikan bahwa segala macam bentuk zina terjadi karena motivasi yang tinggi dari rasa tak pernah puas sebagai watak khas makhluk yang bernama manusia. Dan kapan saja, diman saja, perasaan tak pernah puas itu selalu memegang peranan. Seperti halnya dalam berpacaran ini. Pacaran adalah sebuah proses ketidakpuasan yang terus berlanjut untuk sebuah pembuktian cinta. Kita lihat secara umum tahapan dalam pacaran.
·         Perjumpaan pertama, yaitu perjumpan keduanya yang belum saling kenal. Kemudian berkenalan baik melalui perantara teman atau inisiatif sendiri. hasrat ingin berkenalan ini begitu menggebu karena dirasakan ada sifat2 yang menjadi sebab keduanya merasakan getaran yang lain dalam dada. Hubungan pun berlanjut, penilaian terhadap sang kenalan terasa begitu manis,????? pertama ia nilai dengan daya tarik fisik dan penampilannya, mata sebagai juri. Senyum pun mengiringi, kemudian tertegun akhirnya , akhirnya jantung berdebar, dan hati rindu menggelora. Pertanyaan yang timbul kemudaian adalah kata-kata pujian, kemudian ia tuliskan dalam buku diary, "Akankah ia mencintaiku." Bila bertemu ia akan pandang berlama-lama, ia akan puaskan rasa rindu dalam dadanya.
·         Pengungkapan diri dan pertalian, disinilah tahap ucapan I Love You, "Aku mencintaimu". Si Juliet akan sebagai penjual akan menawarkan cintanya dengan rasa malu, dan sang Romeo akan membelinya dengan, "I LOve You". Jika Juliet diam dengan tersipu dan tertunduk malu, maka sang Romeo pun telah cukup mengerti dengan sikap itu. Kesepakatan? pun dibuat, ada ijin sang romeo untuk datang kerumah, "Apel Mingguan atau Wakuncar ". Kapan pun sang Romeo pengin datang maka pintu pun terbuka dan di sinilah mereka akan menumpahkan perasaan masing-masing, persoalanmu menjadi persoalannya, sedihmu menjadi sedihnya, sukamu menjadi riangnya, hatimu menjadi hatinya, bahkan jiwamu menjadi hidupnya. Sepakat pengin terus bersama, berjanji sehidup semati, berjanji sampai rumah tangga. Asyik dan syahdu.
·         Pembuktian, inilah sebuah pengungkapan diri, rasa cinta yang menggelora pada sang kekasih seakan tak mampu untuk menolak ajakan sang kekasih. " buktikan cintamu sayangku". Hal ini menjadikan perasaan masing-masing saling ketergantungan untuk memenuhi kebutuhan diantara keduanya. Bila sudah seperti ini ajakan ciuman bahkan bersenggama pun sulit untuk ditolak. Na'udzubillah
Begitulah akhirnya mereka berdua telah terjerumus dalam nafsu syahwat, tali-tali iblis telah mengikat. Mereka jadi terbiasa jalan berdua bergandengan tangan, canda gurau dengan cubit sayang, senyum tawa sambil bergelayutan dan cium sayang melepas abang. Kunjungan kesatu, kedua, ketiga, keseratus, keseribu, dan yang tinggal sekarang adalah suasana usang, bosan, dan menjenuhkan percintaan . Segalanya telah diberikan sang juliet, Juliet pun menuntut sang Romeo bertanggung jawab ? Ternyata sang romeo pergi tanpa pesan walaupun datang dengan kesan. Sungguh malang nasib Juliet.


Pacaran, Boleh Kok !! (Part 1)

Cinta memang fitrah manusia yang memang sudah seharusnya dipunyai oleh setiap orang. Akan tetapi perlu juga kita ketahuai bahwa kebanyakan anak muda salah menerjemahkan cinta hanya kepada lawan jenis yang sebayanya saja, atau mungkin dapat secara jujur diartikan dorongan seksual yang membuatnya cinta kepada lawan jenis. Cinta itu mempunyai cakupan yang sangat luas. Cinta memang sebuah anugerah, cinta hadir untuk memaniskan hidup di dunia, apalagi rasa cinta kepada lawan jenis, sang pujaan hati atau sang kekasih hati menjadikan cinta itu begitu terasa manis. Bahkan kalau orang bilang, bila orang udah cinta maka empedu pun terasa seperti gula. Begitulah cinta,

Lalu apakah cinta, mencintai dan dicintai itu dilarang oleh agama mas?. Tidak ada larangan dalam agama islam tentang larangan mencintai dan dicintai, bukan cintanya yang dilarang. Akan tetapi bagaimana kita memainkan cinta itu, untuk apa dan yang penting juga untuk siapa kita memberikan cinta itu. Oke. bukan tempatnya jika saya membahas secara rinci tentang cinta, karena artikel ini hanya sebuah catatan ringan saya atas rasa simpatik saya terhadap remaja islam pada umumnya dan terkhusus kepada adik-adik saya yang pernah saya jumpai di berbagai tempat. Oke. Langsung saja eksekusi ke TKP.

Pada pembahasan kali ini saya akan mengangkat masalah pacaran. Pacaran yang sudah merupakan fenomena menggejala dan bahkan sudah seperti jamur dimusim hujan menjadi sebuah ajang idola bagi remaja. Sebenarnya bagaimana sih definisi pacaran itu? Saya yakin para pelaku pacaran pasti akan sedikit kesulitan mendefinisikan pacaran.. Apakah berdua-dua-an dengan lawan jenis atau bermesra-mesraan dengan lawan jenis ataukah seperti apa. Kalau memang seperti itu, apa bedanya dengan zina dan pelampiasan nafsu. Entahlah. Peduli amat dengan hal konyol seperti itu. Toh kata itu sudah mengudara dan mendarah daging di masyarakat. Sebagai contoh kecil saja, ketika saya di saya tengah mengajar TPA di salah satu kampung di daerah gunung kidul yogyakarta ada salah satu anak TPA yang nyeletuk “mas udah punya pacar belum?’ atau juga ketika saya ada telfon pas waktu sahur “dari pacarnya ya mas”. Luar biasa, bahkan daerah-daerah kampung saja sudah tidak asing lagi, entah karena arus globalisasi atau apalah. Tapi yang jelas yang namanya pacaran sudah sangat dianggap wajar oleh masyarakat kita di Indonesia.

Sensasi pacaran itu tak ubahnya seperti apa yang dinginkan oleh seorang pemuda untuk memadu cinta dengan dara jelita kembang desanya, dalam pandangannya sang dara tampak begitu sempurna. Hingga kala itu pikiran pun hanyut, malam terkenang, siang terbayang, maka tak enak, tidur pun tak nyenyak, selalu terbayang si dia yang tersayang. Hingga tunas kerinduan menjamur menggapai tangan, menggelitik sambil berbisik. Bisikan nan gemulai, tawa-tawa kecil kian membelai, canda-canda hingga terkulai, karena asyik, cinta pun telah menggulai. Menggulai awan yang mengawang, merobek cinta yang tinggi membintang, hingga lukapun tak terasa.

Kehidupan seorang muslim atau muslimah saat ini tanpa pacaran adalah hambar, begitulah kata mereka. Kalau dikatakan nggak usah kamu pacaran maka serentak ia akan mengatakan "Lha kalo nggak pacaran, gimana kita bisa ngenal calon pendamping kita?". kalau dikatakan pacaran itu haram, mereka menyaut, "pacaran yang gimana dulu.". Beginilah keadaan kaum muda sekarang, racun syubhat, dan syahwat membela hawa nafsu sudah menjadi sebuah hakim? akan hukum halal-haram, boleh dan tidak. Tragis memang kondisi kita ini, terutama yang muslimah. Mereka para muslimah kebanyakan berlomba-lomba untuk mendapatkan sang pacar atau sang kekasih, apa sebabnya, "Aku takut nggak dapat jodoh". Muslimah banyak ketakutannya tentang calon pendamping, karena mereka tahu bahwa perbandingan laki-laki dan perempuan adalah 1 : 5. Tapi apakah jalan pacaran sebagai penyelesaian ?. Tidak juga. Sekedar berbagai rahasia, yang ditunggu-tunggu oleh seorang wanita muslimah dewasa bukanlah sebuah kata-kata mesra, gombalan atau mungkin kata-kata romantis seperti I miss You, I love You. Bukan !!. Tetapi mereka mendambakan ungkapan akad nikah “saya terima nikah dan kawinnya fulanah binti fulan....”. Coba renungkan kawan. Kalau ada yang mengatakan ‘dedek cinta mas R***y selamanya, nggak ada yang lain, dedek ingin jadi pendamping hidup mas R***y’. Katakan itu mah bulsit belaka. Apalagi yang mengatakan masih umurana belasan tahun. Pengen ketawa aja. hehe

Pacaran dalam islam? Memang Boleh !!
Pacaran yang kita dapati saat ini adalah bermakna memadu cinta dari lawan jenis, saling mengasihi, saling mencintai, saling menyayangi dan melakukan kegiatan layaknya orang yang saling mencinta, seperti gandengan tangan, berdua-duaan, mojok berdua dipojokan gelap-gelapan. Bagaimana hukum pacaran dalam Islam? Ya, sesuai dengan judul artikel ini : memang boleh! tapi dengan syarat, yaitu dengan dihalalkan terlebih dahulu hubungan mereka dengan cara pernikahan. Pacaran dalam Islam itu sangat dianjurkan hanya setelah halal. Hukum pacaran dalam Islam akan menjadi haram apabila dilakukan sebelum menikah. Sesuai dengan ayat al Quran dan beberapa hadis
“Artinya : Dan janganlah kamu mendekati zina, karena sesungguhnya zina itu adalah faahisah (perbuatan yang keji) dan seburuk-buruk jalan (yang ditempuh oleh seseorang)” [Al-Israa : 32].

Bahkan mendekati saja tidak boleh apalagi melakukan zina. Sedangkan pacaran adalah salah satu jalan untuk mendekati kearah zina hakiki. Bayangkan saja, dua sejoli lawan jenis malam-malam jam berdua-duaan di pojokan gang gelap-gelapan. Coba apa yang diinginkan? Ah, stop. Terlalu fantasy.




Dalam sebuah hadis disebutkan:
“Barangsiapa yang percaya kepada Allah dan hari akhir, maka janganlah ia berdua-duaan dengan perempuan yang tidak ada bersamanya seorang mahrammnya karena yang ketiganya di waktu itu adalah setan.”
“Seseorang ditusuk kepalanya dengan jarum besi lebih baik daripada menyentuh wanita yang tidak halal baginya.” Hadits ini diriwayatkan oleh Ar-Ruyani di dalam kitab Musnad-nya (227/2)
Sudah bacakah sobat. Maaf sedikit nyindir J
16/08/23

22:10

Adab Memberi Salam

ZiyadDesign
Sudah menjadi kebiasaan bagi para penduduk indonesia, mungkin juga sebagian negara lain di sekitar indonesia. Ketika seseorang memberi ucapan salam mereka menggunakan ucapan “aslm, a’kum, salam, ass dll”. Ucapan seperti ini sering saya temui di dalam Hp via SMS. Namun sudah tahukah kita bahwa ucapan salam yang diajarkan oleh Rasulullah yang benar? Tentu sebagai orang islam yang tahu akan syariat islam sebaiknya kita mengikuti tuntunan nabi SAW.

Tulisan ini hanya sebagai renungan dan Ingatan bersama...
Ucapan “salam”? apakah maksud disebaliknya?. Coba kita lihat dalam firman Allah ta’ala: “Maka berpalinglah (hai Muhammad) dari mereka dan katakanlah: "Salam (selamat tinggal)". Kelak mereka akan mengetahui (nasib mereka yangburuk). (QS. 43:89).
Makna “salam” saja bisa jadi bermakna berbeda. Oleh karena itu ucapkanlah “assalamualaikum atau assalamualaikum warahmatullah atau assalamualaikum warhmatullahi wabarakaatuh”. Jika kita menjawab salam lebih lengkap maka hal itu lebih baik. Saya hanya memberikan sedikit ulasan tentang ilmu yang saya tahu walaupun hanya sedikit dan semoga Allah memberikan kemudahan kepada saya agar tulisan yang ringan ini dibaca oleh ummat islam secara umum. Semoga tulisan ini bermanfaat kepada semuanya.

Menurut ustadz Zawawi Yusof, Baginda saw memberi salam dengan lafaz "Assalamualaikum" dan menjawab salam dari para sahabat baginda dengan salam yang lengkap yaitu "Waalaikumussalam warahmatulallahhi wabarakatuh". Inilah yang sering dilupakan oleh saudara-saudara kita di masyarakat luas. Seringnya jika menjawab salam hanya menjawab salam dengan ucapan “waalaikum salam”. Padahal yang benar adalah “waalaikumussalam”. Kemudian saya juga sering melihat kenyataan dan realita di masyarakat kita ketika menjawab salam masih kurang tepat. Selain itu, janganlah kita menggantikan perkataan "Assalamualaikum" dengan "A'kum" dalam sms atau apa saja sekalipun melalui tulisan. Jika perkataan "Assalamualaikum" itu dianggap terlalu panjang, maka bisa kita ganti dengan perkataan "As Salam" yang bermaksud sama dengan "Assalamualaikum". Perkataan 'AKUM' adalah gelaran untuk orang-orang Yahudi yang bermaksud 'BINATANG' dalam Bahasa Ibrani.

Kata ‘AKUM tersebut ialah singkatan dari perkataan 'Avde Kokhavim U Mazzalot' yang bermaksud 'HAMBA-HAMBA BINATANG DAN ORANG-ORANG SESAT. Jadi, mulai sekarang jika ada orang memberi atau menjawab ucapan salam dengan perkataan "A'kum", mari kita ingatkan dia dengan menggunakan kata "As Salam" karena kata as salam sama berasal dari kata "Assalamualaikum". Jangan menggunakan "Bye" kerana "Bye" adalah jarum sulit Kristen yang berarti "Di Bawah Naungan Pope. Jangan pula gunakan "A'kum"  karena "A'kum" berarti  "Binatang" dalam bahasa Yahudi. Jangan pula menggunakan "Semekom" karena "Semekom" berarti "Celaka Kamu”. Gunakan perkataan" As Salam" sebagai singkatan bagi "Assalammualaikum".

 Salam Ukhuwah..~ Ziyadul Muttaqin


Pesan-pesan Umar Ibn al-Khattab

Siapa yang menjaga percakapannya dianugerahkan kepadanya hikmah.
 Siapa yang menjaga penglihatannya dianugerahkan kepadanya hati yang khusyuk.
Siapa yang menjaga makanannya dianugerahkan kepadanya kel
ezatan dalam beribadah.
Siapa yang bersabar di atas ujian, Allah sempurnakan sabarnya lalu memasukkannya ke dalam
Surga mana yang dia suka.

Siapa yang menjaga daripada ketawa dianugerahkan kepadanya kehebatan.
Siapa yang menjaga daripada bergurau dianugerahkan kepadanya keelokan atau kemuliaan

Siapa yang meninggalkan cinta dunia dianugerahkan kepadanya dapat melihat kesalahan
sendiri.


Siapa yang meninggalkan kesibukan mencari kesalahan pada perbuatan Allah, dianugerahkan kepadanya pelepasan daripada nifak.
Jika tidaklah kerana takut dihisab sesungguhnya aku perintahkan kamu membawa seekor kambing untuk dipanggang di depan pembakar roti ini.
Siapa takut kepada Allah SWT, nescaya marahnya tidak dapat dilihat. Dan siapa takutkan Allah, kehendaknya akan ditunaikan.


 Wahai Tuhan, jangan Engkau jadikan kebinasaan umat Muhammad SAW di tanganku.
Termaktub dalam sepucuk surat khalifah Umar kepada Abu Musa Al Asyaari:
Milikilah sifat sabar. Sifat sabar itu ada dua. Sabar yang pertama lebih afdhal dari sabar yang kedua iaitu sabar dalam meninggalkan larangan Allah SWT dan sabar dalam menghadapi musibah. Ketahuilah bahawa sabar itu sangkutan iman (orang yang bersabar akan mendapat iman) kerana kebajikan yang paling utama adalah taqwa dan taqwa hanya dapat dicapai dengan sabar.