2014, Antara 2 Perahu kertas

Tidak ada yang memungkiri bahwa pergantian tahun merupakan sebuah momen yang sangat istimewa. Sebuah kesempatan yang memungkinkan seseorang untuk melakukan suatu hal yang beda dari biasanya. Salah satu moment tersebut bisa digunakan untuk sebuah acara, baik yang bersifat individu maupun komunitas. Yap, lepas perbedaan antara penggunaan momen tersebut, saya lebih menyukai keasyikan dengan menonton film. Tapi semua itu kembali kepada pribadi masing-masing.
Oke, seperti yang ada pada judul diatas, saya pergunakan untuk menghatamkan sebuah film dua jilid yang berjudul Perahu kertas. Sebuah film lawas karya Hanung.Ternyata tidak ada sebuah kesempatan yang tersia-siakan. Tidak ada sebuah aktifitas yang tidak berarti jika kita mempunyai keinginan untuk mengambil pelajaran.
Entah apa saja aktifitasnya, yang pasti sebuah aktifitas yang baik jika didahului dengan niat yang baik pula akan berdampak pada hasil yang baik. Film tersebut menggambarkan dan memberi pelajaran kepada saya akan arti sebuah kehidupan, Kebersamaan, cita-cita dan cinta.
Bersamaan dengan itu pula saya mengambil sebuah kata pelajaran bahwa kadang persepsi membutuhkan realitas. Yah benar. Kadang persepsi pikiran yang ada di dalam otak kita itu tidak realiastis. Oke, sebuah bukti empirik, tidak selamanya anggapan kita terhadap seseorang itu sesuai dengan realita orang tersebut.
Ketika kita merasakan cinta apakah itu akan terukur dengan logika akal?. Tidak. Dimensi akal akan menolak hal itu. Tapi dimensi rasa akan menyimpulkan hal yang beda. Kesimpulan yang membedakan antara aspek logika pikiran dan logika realitas.

Akhir tahun 2013. Malam ini adalah detik-detik malam terakhir pergantian tahun. Yang menjadi pertanyaan saya ialah terus ngapain kalau pergantian tahun? Bersenang-senang? Pesta kembang api? Ataukah nonton film seperti saya? Tentu terserah anda. Yang penting hal itu baik dan maslahat bagi anda dan sekitar anda. Jangn sampai demi merayakan tahun baru anda mendeskreditkan peristiwa dan momen-momen penting lainnya. Ayolah kawan. Dunia ini terlalu indah bila hanya untuk bersenang-senang macam itu. Selamat tahun baru 2014

Antara Nyelip di jalan dan Kesuksesan (Refleksi Akhir Tahun)

Antara Nyelip di jalan dan Kesuksesan (Refleksi Akhir Tahun)
Ugal-ugalan di jalanan
Ini hanyalah refleksi dari pemanfaatan waktu saya. Sebuah kesempatan bagi saya dalam menggunakan sisa-sisa waktu ketika mencoba membaca dan memahami kitab nailul authar (b. arab). Oke, sampai di sini cukup basa-basinya, biar tidak boros kata,hehe.  Siang tadi saya sedikit mengalami beberapa perjalanan rasa yang membuncah. Pasalnya, ketika saya mengendarai motor di jalan raya, tepatnya di perempatan lampu trafik,  ada salah seorang pengendara mobil (tepatnya mobil jeep) dengan tergesa-gesa keluar dari mobilnya. Saya yang ada di samping mobil jeep itu kaget, kebetulan jalan saya berseberangan dengan pengendara mobil tersebut dan tepat di sampingnya.

Ia begitu tergesa-gesa, dengan wajah merah padam dan penuh keringat bercucuran karena cuaca di Jogja kala itu sedang meledak kepanasan. Tiba-tiba ia berteriak dengan teriakan yang keras. “Hei mobilmu itu nyrempet. Nyrempeet mobil gue”. Katanya dengan wajah seakan ingin menghantam orang yang diteriakin di belakangnya. Ketika itu saya hanya tersenyum pahit. Kok bisa !, Saya bertanya-tanya. Hanya dengan nyrempet sedikit dan tak ada bekas atau bahkan lecet sedikitpun ia marah-marah nggak jelas seperti itu. Lebih-lebih di tengan jalan yang padat merayap.

Sejak itu saya berfikir, memang manusia itu egoistis sekali. Betapa tidak, ini bahkan contoh realita yang konkrit. Seorang dengan tergesa-gesa, berjalan dengan motor ngebut-ngebutan tanpa mau tahu arah kira-kanan ada pengendara lainnya. Itu egois sekali. Mungkin inilah yang jadi permasalahan bagi manusia, termasuk kita, termasuk saya sendiri, anda dan yang lainnya. Terkadang kita egois ingin menang sendiri tanpa memperhatikan orang lain di sekitar kita.

Jika hal kecil seperti ini di bawa ke kasus lain banyak sekali contohnya. Misalnya saja kasus seorang pejabat yang sudah banyak terjadi di negeri kita, yaitu mereka-mereka yang melakukan tindak korupsi. Yah, inilah salah satu bentuk ke-egoisan yang lain. bahkan ini sudah masuk kelas elit dalam tingkat strata keegoisannya. Bagaimana tidak, mereka dengan seenaknya mementingkan diri mereka sendiri atau kelompok bahkan partai mereka sendiri tanpa peduli dengan sekitarnya. Padahal di bawah sana ada para orang jompo yang membutuhkan, orang sakit yang tak bisa berobat, orang miskin yang punya talenta lebih tapi tak tersalurkan dengan pendidikan yang memadai. Nah inilah keegoisan-keegoisan itu. Bila kita mau mengoreksinya tentu sangat banyak. Bahkan melimpah di negeri kita yang (maaf) penuh dengan bualan janji-janji semata.

Kita sering sekali merasa kepanikan bahkan kemarahan yang tingkat tinggi ketika mengalami kebangkrutan, kemunduran dan kegagalan. Bahkan tak jarangg kita menyalahkan dan mengkambing hitamkan orang lain atas kesalahan dan kegagalan kita sendiri. Sebagai contoh kecilnya adalah seperti kasus pengendara mobil yang marah-marah di tengah jalan tadi. Dia tak sadar bahwa dia juga salah, tapi dengan pede-nya ia juga menyalahkan orang lain. Ia tak tahu kalau ia sendiri mengerem mobilnya mendadak sehingga pengendara yang di belakangnya tak bisa mengontrol keadaan sehingga terjadilan benturan sedikit ke arah bagian belakang mobil di depannya.

Kemudian apa kaitannya dengan kesuksesan?. Tentu saja, ini sangat terkait. Terkadang jika kita mengalami kesuksesan atau kemujuran dengan pedenya kita mengatakan “oh itu berkat kepintaran gue” atau “oh, kalau tidak ada saya itu nggak bisa” dan lain sebagainya. Kita akan merasa bahwa kita berperan penting dalam proses kesuksesan tersebut, tapi ketika mengalami kegagalan kita yang pertama kali mengatakan “salah siapa ini?” atau “ini pasti gara-gara dia”. Luar biasa memang manusia. Ia beranggapan bahwa dirinya sempurna. Padahal inilah yang menunjukkan adanya keegoisan yang begitu nampak dalam diri manusia. So, sudah selayaknya kita untuk mengkoreksi diri kita. Lebih-lebih di akhit tahun ini. Yuk gunakan akhir tahu ini sebagai momentum untuk refleksi muhasabah kita. Bungkam..bungkam..bungkam egoistisme. Salam refleksi muhasabah.


Nama-Nama Ulama Serupa Tapi Beda

Salah satu ciri mencintai ilmu adalah mencintai ulama. Mencintai ulama diawali dari mengenal mereka. Katanya, "tak kenal maka tak sayang".

Ada beberapa nama ulama yang mempunyai sebutan sama, tapi sebenarnya orangnya berbeda. Tentu sebagai pecinta ilmu, selayaknya tak salah dalam mengenali mereka. Diantara nama-nama ulama itu adalah:

Ibnu Taimiyyah

Pertama, Ibnu Taimiyyah Fachruddin Abu Abdillah Muhammad bin al-Khidhir bin Muhammad bin al-Khidhir bin Ali bin Taimiyyah al-Harrani al-Hanbali. Beliau lahir tahun 542 H dan wafat tahun 622 H.

Beliau mempunyai kitab “at-Tafsir al-Kabir”, Targhib al-Qashi fi al-Fiqh”. Ibnu Taimiyyah Taqiyuddin yang sering disebut sebagai Syeikhul Islam (w. 728 H) bertemu nasabnya dengan Ibnu Taimiyyah Fachruddin ini pada al-Khidhir bin Muhammad, atau bisa dikatakan bahwa Ibnu Taimiyyah Fachruddin ini termasuk paman jauh dari Ibnu Taimiyyah Taqiyuddin.

Kedua, Ibnu Taimiyyah Majduddin Abu al-Barakat al-Jadd. Beliau adalah Abdussalam bin Abdullah bin al-Khidhir bin Muhammad bin Taimiyyah al-Harrani, seorang faqih Madzhab Hanbali, ahli hadits, dan mufassir. Lahir di Harran tahun 590 H.

Beliau inilah pengarang kitab “al-Muntaqa min Ahadits al-Ahkam”, kitab yang nantinya disyarah oleh Imam as-Syaukani (w. 1255 H) dalam kitab “Nail al-Authar”. Kitab Ibnu Taimiyyah al-Jadd yang lain adalah “al-Muharrar fi al-Fiqh”. Ibnu Taimiyyah al-Jadd ini adalah kakek dari Ibnu Taimiyyah Taqiyuddin (w. 728 H).

Ketiga, Ibnu Taimiyyah Syihabuddin al-Walid. Nama lengkapnya adalah AAbdul Halim bin Abdussalam bin Abdullah bin al-Khidhir bin Taimiyyah al-Harrani. Beliau lahir tahun 628 H dan wafat 682 H. Beliau termasuk ikut andil dalam penulisan kitab al-Muswaddah, kitab yang ditulis oleh tiga orang yaitu Ibnu Taimiyyah Taqiyuddin, bapaknya dan kakeknya.

Keempat, Ibnu Taimiyyah Taqiyuddin Abu al-Abbas Syeikhul Islam. Nama lengkapnya adalah Ahmad bin Abdul Halim bin Abdussalam bin Abdullah bin Abu al-Qasim al-Khidhir an-namiri al-Harrani ad-Dimasyqi al-Hanbali. Beliau lahir di Harran tahun 661 H dan wafat di Damaskus tahun 728 H.

Kitab yang beliau karang diantaranya “Iqtidha’ as-Shirath al-Mustaqim”, “ar-Risalah at-Tadmuriyyah”, “al-Aqidah al-Wasithiyyah”, “Majmu’ al-Fatawa”.

Ibnu Katsir

Pertama, Ibnu Katsir al-Makkiy; salah seorang Ahli Qira’at Sab’ah yang mutawatir. Beliau adalah Abdullah bin Katsir bin Umar bin Abdullah bin Zadan al-Makkiy, termasuk golongan Tabi’in. Beliau lahir tahun 45 H di Makkah dan wafat disana pula tahun 120 H.

Kedua, Ibnu Katsir Ismail bin umar bin Katsir bin Dhowwa al-Bashri ad-Dimasyqi Abu al-Fida Imaduddin. Beliau termasuk ulama ahli tafsir, sejarawan dan hafidz, lahir tahun 701 H di Syam dan wafat di Damaskus pada tahun 774 H.

Karya terkenal beliau adalah “al-Bidayah wa an-Nihayah”“Tafsir al-Qur’an al-Karim”, “Jami’ al-Masanid”.

Ibnu al-Arabi dan Ibnu Arabi

Pertama, Ibnu al-Arabi (dengan Al-) al-Maliky. Nama lengkap beliau adalah Muhammad bin Abdullah bin Muhammad al-Ma’arify al-Isybily al-Maliky atau yang lebih terkenal dengan sebutan Abu Bakar Ibnu al-Arabi al-Qadhi, lahir di Isybiliyah tahun 468 H dan wafat tahun 543 H.

Beliau termasuk ulama besar dari Madzhab Maliky, karyanya diantaranya “Ahkam al-Qur’an”, “al-Awashim min al-Qawashim”.

Kedua, Ibnu Arabi (tanpa Al-) as-Shufi. Nama lengkap beliau adalah Muhammad bin Ali bin Muhammad bin Arabi bin at-Tha’i al-Andalusi atau yang lebih terkenal dengan sebutan Abu Bakar al-Hatimi atau Muhyiddin Ibnu Arabi. 

Beliau adalah tokoh sufi dan teologi yang disebut-sebut pencetus paham wihdat al-wujud, lahir di Andalusia tahun 560 H dan wafat tahun 638 H.

Karya beliau yang terkenal adalah “al-Futuhat al-Makkiyyah”, “Fushush al-Hikam”, “al-Washaya”.

Al-Alusi

Pertama, al-Alusi al-Kabir Syihabuddin Abu as-Tsana’, Mahmud bin Abdullah al-Husain al-Alusi. Beliau seorang ahli tafsir, ahli hadits, sastrawan dan ulama Baghdad, lahir tahun 1217 H dan wafat tahun 1270 H. Karya yang terkenal dari beliau adalah ”Ruh al-Ma’ani”.

Kedua, al-Alusi Nu’man bin Mahmud bin Abdullah Abu al-Barakat, lahir tahun 1252 H dan wafat tahun 1317 H di Baghdad. Kitab yang terkenal dari beliau adalah “Jala’ al-Ainain fi Muhakamat al-Ahmadain”, “al-Ayat al-Bayyinat fi Hukmi Sama’ al-Amwat Inda al-Hanafiyyah as-Sadat”.

Ketiga, al-Alusi Abu al-Ma’ali Mahmud Syukri bin Abdullah bin Syihab ad-Din Mahmud. Beliau adalah cucu dari al-Alusi al-Kabir Syihabudiin. Beliau lahir di Baghdad tahun 1273 H dan wafat disana pula pada 1342 H. Karangan beliau yang cukup terkenal adalah “Bulugh al-Arib fi Ahwal al-Arab”, Mukhtashar at-Tuhfah al-Itsna Asyariyyah”, “Tarikh Najd”.

Mengenal Beberapa Kitab Hadis

‘Diriwayatkan oleh Al-Bukhariy, Muslim, At-Tirmidziy, dan An-Nasaa’iy’. Saya yakin banyak di antara rekan-rekan pernah membaca tulisan seperti ini. Apa artinya ?. Artinya adalah, hadits yang dimaksudkan telah diriwayatkan dan dibawakan oleh imam-imam tersebut dalam kitabnya, yaituShahih Al-Bukhaariy, Shahiih Muslim, Sunan At-Tirmidziy,dan Sunan An-Nasaa’iy. Sebenarnya, nama kitab-kitab tersebut tidak ‘betul-betul amat’ seperti itu, walau kalau ditulis demikian, juga bukan merupakan kekeliruan. Berikut keterangan singkat yang memberikan informasi tentang nama sebagian kitab hadits.

1.      Shahih Al-Bukhaariy.
Tentang nama kitab ini, An-Nawawiy rahimahullah berkata :
فسماه مؤلفه البخارى، رحمه الله: الجامع المسند الصحيح المختصر من أمور رسول الله - صلى الله عليه وسلم - وسننه وأيامه
“Lalu penulisnya, yaitu Al-Bukhaariy rahimahullah, menamakannya : Al-Jaami’ Al-Musnad Ash-Shahiih Al-Mukhtashar min Umuuri Rasuulillah shallallaahu ‘alaihi wa sallam wa Sunanihi wa Ayyaamihi” [Tahdziibul-Asmaa’ wal-Lughah, 1/73; Daarul-Kutub Al-‘Ilmiyyah].
Hal yang sama disebutkan oleh Ibnu Hajar rahimahullahdalam Hadyus-Saariy, 1/11, Pasal kedua [Daaruth-Thayyibah, Cet. 1/1426].

2.      Shahih Muslim.
Tentang nama kitab ini, Ibnu Shalaah rahimahullah berkata :
روينا عن مسلم رضي الله عنه قال : صنفت هذا المسند الصحيح من ثلاثمائة ألف حديث مسموعة، وبلغنا عن مكي بن عبدان، وهو أحد حفاظ نيسابور قال : سمعت مسلم بن الحجاج يقول : لو أن أهل الحديث يكتبون مائتي سنة الحديث فمدارهم على هذا المسند، يعني - مسنده الصحيح - .
“Kami telah meriwayatkan dari Muslim radliyallaahu ‘anhu, bahwasannya ia berkata : ‘Aku telah menulis Al-Musnad Ash-Shahiih ini dari 300.000 hadits yang aku dengar’. Dan telah sampai kepada kami dari Makkiy bin ‘Abdaan, salah seoranghuffaadh negeri Naisaabuur, ia berkata : Aku mendengar Muslim bin Al-Hajjaaj berkata : ‘Seandainya para ahli hadits menulis hadits selama 200 tahun, maka poros mereka ada pada Musnad ini, yaitu Musnad-nya Ash-Shahiih” [Shiyaanatu Shahiih Muslim, hal. 67-68; Daarul-Gharb Al-Islaamiy, Cet. Thn. 1404 H].
Namun, ada ulama lain yang menyebutkan nama lain selain yang dikatakan Ibnu Shalaah rahimahullah.
Ibnu Baththah rahimahullah menamakan : Al-Musnad Ash-Shahiih bi-Naqlil-‘Adl ‘anil-‘Adl ‘an Rasuulillah shallallaahu ‘alaihi wa sallam (المسند الصحيح بنقل العدل عن العدل عن رسول الله صلى الله عليه وسلم) [Fihrisah Ibni Baththah, hal 67 – melalui muqaddimah muhaqqiqkitab Shahiih Muslim, hal. 20; Daaruth-Thayyibah, Cet. 1/1427].
Al-Qaadliy ‘Iyaadl rahimahullah menamai dengan Al-Musnad Ash-Shahiih Al-Mukhtashar minas-Sunan (المسند الصحيح المختصر من السنن) [Al-Ghun-yah, hal 35 – idem].
Dalam kitab Masyaariqul-Anwaar disebutkan dengan nama Al-Musnad Ash-Shahiih Al-Mukhtashar bi-Naqlil-‘Adl ‘anil-‘Adl ilaa Rasuulillah shallallaahu ‘alaihi wa sallam (المسند الصحيح المختصر بنقل العدل عن العدل إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم) [Al-Masyaariq, 1/22 –idem].
3.      Sunan Abi Daawud.
Tentang nama kitab ini, Abu Daawud rahimahullah sendiri berkata :
فإنكم سألتم أن أذكر لكم الأحاديث التي في كتاب ((السنن)) أهي أصح ما عرفت في الباب.....
“Sesungguhnya kalian telah meminta agar aku menyebutkan kepada kalian hadits-hadits yang terdapat dalam kitab As-Sunan, apakah ia paling shahih sepanjang yang aku ketahui dalam bab…..” [Ar-Risaalah ilaa Ahli Makkah – melalui perantaraan Tadwiin As-Sunnah An-Nabawiyyah oleh Dr. Muhammad Az-Zahraaniy, hal. 117. Bisa juga dibaca di :sini].
Para ulama tidak berselisih pendapat atas penamaan kitab ini.[1]
4.      Sunan At-Tirmidziy.
Nama yang masyhur di kalangan ulama adalah Jaami’ At-Tirmidziy. Ibnu Hajar rahimahullah berkata :
ثُمَّ وَجَدْته فِي التَّفْسِير مِنْ جَامِع التِّرْمِذِيّ مِنْ هَذَا الْوَجْه فَقَالَ " عَنْ أَبِيهِ سَمِعْت عُمَر " ثُمَّ قَالَ " حَدِيث حَسَن غَرِيب "
“Kemudian aku dapati riwayat tersebut dalam Jaami’ At-Tirmidziy dari sisi ini, lalu ia (perawi) berkata : ‘Dari ayahnya : Aku mendengar ‘Umar’, kemudian At-Tirmidziy berkata : ‘Hadits hasan ghariib” [Fathul-Baariy, 9/58].
Dinamakan juga Jaami’ Ash-Shahiih, sebagaimana dikatakan Al-Mubaarakfuriy rahimahullah berkata :
قال في ((كشف الظنون)) جامع الصحيح للإمام الحافظ أبي عيسى محمد بن عيسى الترمذي، وهو ثالث الكتب الستة في الحديث
“Telah berkata penulis kitab Kasyfudh-Dhunuun : Jaami’ Ash-Shahiih milik Al-Imaam Al-Haafidh Abu ‘Iisaa Muhammad bin ‘Iisaa At-Tirmidziy. Ia merupakan yang ketiga dari kitab yang enam dalam hadits” [Muqaddimah Tuhfatul-Ahwadziy, 1/364].
Disebut juga dengan Al-Jaami’ Al-Kabiir sebagaimana dikatakan oleh Ibnul-Atsiir dalamAl-Kaamil 7/460 dan Ahmad bin Al-‘Alaaiy dalam Ahaadiitsul-Mustaghrabah Al-Waaridatu fil-Jaami’ Al-Kabiir [lihat : Muqaddimah Muhaqqiq Kitaab Al-Jaami’ Al-Kabiir(Dr. Basyaar ‘Awwaad), 1/7; Daarul-Gharb Al-Islaamiy, Cet. 1/1996 M].
5.      Sunan An-Nasaa’iy.
Telah berkata Muhammad bin Mu’aawiyyah Al-Ahmarrahimahullah (perawi dari An-Nasaa’iy) :
قال النسائي : كتاب السنن كله صحيح وبعضه معلول إلا أنه لم يبين علته والمنتخب منه المسمى بالمجتبى صحيح كله
“An-Nasaa’iy berkata : Kitab As-Sunan semua haditsnya shahih, dan sebagiannya ma’luul. Hanya saja ‘illat-nya itu tidak nampak. Adapun hadits-hadits yang dipilih dari kitab tersebut, yang dinamakan Al-Mujtabaa, semuanya shahih” [Syarh Sunan An-Nasaa’iy oleh Muhammad bin ‘Aliy Aadam, 1/27; Daarul-Mi’raaj Ad-Dauliyyah].
Penulis kitab Syarh Sunan An-Nasaa’iy menuliskan :
وذكر بعضهم أن النسائي لما صنف السنن الكبرى أهداه إلى أمير الرملة، فقال له الأمير : أكُلُّ ما في هذا صحيح ؟. قال : لا، قال : فجرد الصحيح منه فصنف المجتبى، وهو بالباب الموحدة، قال الزركشي في تخريج الرافعي : ويقال : بالنون أيضا، وقال القاضي تاج الدين السبكي : سنن النسائي التي هي إحدى الكتب الستة هي الصغرى، لا الكبرى، .....
“Dan sebagian ulama menyebutkan bahwasannya An-Nasaa’iy ketika telah selesai menulis As-Sunan Al-Kubraa, ia menghadiahkannya kepada amir kota Ramalah. Lalu sang amir berkata kepadanya (An-Nasaa’iy) : ‘Apakah semua hadits dalam kitab ini shahih ?’. Ia menjawab : Tidak’. Amir berkata : “Maka, pisahkanlah yang shahih darinya’. Lalu An-Nasaa’iy menulis Al-Mujtabaa. Az-Zarkasyiy berkata dalam Takhriij Ar-Raafi’iy : ‘Disebut juga dengan Al-Mujtanaa’. Al-Qaadliy Taajuddiin As-Subkiy berkata : ‘Sunan An-Nasaa’iy yang merupakan salah satu di antara kitab yang enam adalah Ash-Shughraa, bukan Al-Kubraa” [idem].
Jadi, Sunan An-Nasaa’iy itu ada dua. Pertama, adalah Sunan Al-Kubraa; dan yang kedua adalah As-Sunan Ash-Shughraa atau disebut Al-Mujtabaa atau Al-Mujtanaayang merupakan pemilihan hadits-hadits shahih oleh An-Nasaa’iy dari Al-Kubraa.[2]
6.      Sunan Ibnu Maajah.
Nama kitab ini adalah As-Sunan, yang kemudian dinisbatkan kepada penulisnya menjadi : Sunan Ibni Maajah.
7.      Musnad Ahmad.
Telah dituliskan artikel yang membahas kitab ini :Mengenal Musnad Al-Imaam Ahmad.
Itu saja yang dapat dituliskan. Sedikit memang, tapi semoga ada manfaatnya. Paling tidak, akan menggugah rasa penasaran kita membaca kitab-kitab hadits, sehingga kita akan semakin cinta kepadanya.
Wallaahu a’lam.
[abul-jauzaa’ – sardonoharjo, ngaglik, sleman, yk – banyak mengambil faedah dari kitabTadwiin As-Sunnah An-Nabawiyyah karya Dr. Muhammad Az-Zahraaniy].


[1]     Sebagaimana dikatakan Syu’aib Al-Arna’uth dan Muhammad Al-Kaamil dalammuqaddimah tahqiiq kitab Sunan Abi Daawud, 1/44 [Daarur-Risaalah, Cet. 1/1430 H.
[2]     Lihat juga : Syuruuth Al-Aimmatis-Sittah oleh Al-haafidh Muhammad bin Thaa hir Al-Maqdisiy, hal. 12 (muqaddimah); Daarul-Kutub Al-‘Ilmiyyah, Cet. 1/1405 H.

Akhir Kata “Haya”

Di bawah pohon kurma itu seorang laki-laki muda sedang menatap sendu. Entah apa yang dipikirkannya. Raut wajahnya kelihatan menerawang jauh kemasa lalunya yang kelam. Raungan angin padang sahara yang membentang luas di kota itu pun tak begitu dihiraukannnya. Ia begitu menikmatinya seakan tak mau lekas berdiri menghindari terpaan angin yang panas.
Ia terus saja menatap puing-puing rumah itu dengan matanya yang coklat bulat. Pandangannya tajam bak pedang yang siap menghunus. Hatinya begitu teriris melihat kenyataan pahit itu. Betapa tidak, semua keluarganya habis sudah dibantai para tentara rezim pemerintah sekuler.
Hatinya sangat pilu. Sebenarnya ia tak ingin meneteskan air mata dihadapan orang banyak. Kata Abi, pantang buat seorang laki-laki untuk menangis, tapi apalah daya ia tak kuat membendungnya. Matanya yang sembab kembali menatap puing-puing bangunan rumah itu. Sesekali wajahnya yang kelu itu menunduk layu.
“Abi, maafkan farid bi, Farid tak bisa menjaga Umi dan adik-adik Farid”.
Hampir setengah hari ia duduk-duduk di bawah pohon kurma. Kenangan masa lalu masih sesekali berkeliaran di kepalanya. Hampir saja ia putus asa menjalani hidup.
Tak ada satu pun keluarganya tersisa. Bahkan adik perempuan kecilnya pun telah tiada. Pikirannya begitu hangat teringat masa-masa terakhir bersama Haya. “Kak Farid, Haya ingin sekali bisa berjalan sendiri, Haya ingin belajar al-Quran di rumah Umi Maryam. Haya ingin bermain bersama mereka”. Celoteh Haya.
“Haya, kamu di rumah saja, kondisimu tidak memungkinkan sekarang. Lain kali saja kalau kakak sudah bisa membelikan kursi roda untuk Haya, pasti kakak ijinkan Haya bermain sepuasnya”.
“Beneran ya Kak?”
“Tentu, Kakak berjanji”.
“Haya, maafkan kakak”. Teriak Farid dalam hati. Kak Farid tidak bisa mengijinkan kamu keluar rumah. Di luar terlalu berbahaya. Kakak tak ingin kejadian yang menimpa Umi terulang kembali. Sudah cukup rasanya hati kakak berduka melihat Umi sekarat di depan mata. Ini kakak lakukan demi kamu Haya. Maafkan Kakak.
Satu-satunya keluarga yang tersisa baginya hanya adik perempuannya, Haya. Sekitar 5 tahun lalu ia dilahirkan Umi. Itupun ia harus menerima kenyataan pahit ketika bulan lalu kaki adiknya harus diamputasi karena tertimpa reruntuhan bangunan. Tubuhnya kecil mungil kurus. Bagitu menyakitkan ketika ia memandang kaki adiknya. Hatinya membara melihat kenyataan para tentara biadab yang tak punya rasa. Ingin sekali ia membalaskan sakit hati itu.

“Kreeekk”.
Sebuah tangan mungil memegang daun pintu. Ia berjalan masuk mengendap-endap menggunakan tongkat kayu buatan Kakaknya. Ia terpaksa keluar rumah ketika kakaknya tidak ada. Walaupun ia dilarang keras keluar rumah, ia mempunyai alasan tersendiri mengapa ia keluar. Walau masih seumuran kencur, ia sadar bahwa keluar rumah sama dengan mencari maut.
“Dari mana kamu Haya”, tanya Farid.
“Haya dari rumah Farah Kak, Haya main ke sana“. Jawab Haya merunduk.
“Haya, maafkan Kakak, jangan keluar rumah lagi, bahaya !”, sanggah Farid dengan wajah serius. Bukan karena marah pada adiknya, tapi karena cinta dan sayangnya yang membuncah kepada adik satu-satunya. Ia tak mau kehilangan keluarganya lagi.
Tok tok tok..Assalamualaikum.. Suara orang memanggil dari balik pintu.
Wa’alaikumussalam, sahut Farid menjawab.
Silahkan masuk. Dengan nafas terputus-putus Akhi Ridwan berbicara tak beraturan. Tubuhnya menggigil. Raut wajahnya menyiratkan ketakutan yang luar biasa.
“ada apa akhi?”
“Gawat.., sekolah kita..sekolah kita hancur”. “Militer pemerintah tadi melancarkan gencatan ke daerah tepian dan,,,dan teman-teman kita..”. Akhi Ridwan tak sanggup meneruskan bicara. Namun Farid faham artinya.
“Ayo kita kesana !”. Sahut Farid kepada Akhi Ridwan.
Farid sudah berjalan sedikit ke seberang pintu, tiba-tiba ia berhenti. terdiam.
“Haya, jika Kakak belum kembali selama 24 jam. Cepat pergi ke tempat Umi Maryam”
Haya hanya diam.
Konflik diperbatasan negara itu terus berlanjut. Hari demi hari semakin saja merembet ketepian sebelah berat.  Di perbatasan kota Kosofo itu sering terjadi bentrokan  yang menewaskan beberapa penduduk sipil. Bahkan bentrokan itu terkesan disengaja. Jelas tak sebanding, tentara dengan persenjataan lengkap dengan para penduduk sipil yang tangan kosong berteriak bersenjatakan asa. Sungguh tak seimbang.
Konflik terus bergejolak. Dengan diatas namakan menjaga dan melindungi rakyat begitukah mereka melindunginya. Haruskah dengan tank-tank baja, senjata api laras panjang sekaliber Ak47, M16 buatan Amerika, Jerman, Rusia. Hah, itukah yang disebut melindungi rakyat.
Sungguh sangat lucu. Dengan mengatasnamakan memberantas teroris mereka membombardir perumahan perumahan warga yang sedang mengadakan perkumpulan, kajian-kajian agama. Bulsit, ini bukan persoalan itu, ini soal keyakinan. Sebuah keyakinan yang berbeda dari pemerintah yang sekuler. Hati Farid hanya pilu jika mengingat-ingat kejadian itu.
Sekolah itu porak poranda. Semuanya runtuh, tak tersisa sedikitpun. Farid terlambat. Semuanya lanyap. Sunyi sesaat. Gedung kelas, Perpustakaan, Ruang makan. Semuanya runtuh hanya menyisakan puing-puing bebatuan.
Semua militer telah pergi. Tank-tank baja tak ada di tempat. Apalagi pesawat-pesawat pengintai. Semuanya sudah tak ada. Seakan-akan seluruh sekolahan ini runtuh alami tanpa penyebab sedikitpun. Biadab sekali mereka.
Mereka mengincar sekolah ini sejak lama. Mereka tahu sekolah inilah yang banyak mencetak keder-keder militan pejuang rakyat. Dengan dalih sebagai tempat persembunyian gembong pemberontak, mereka meghalalkan semuanya. Anak-anak tak berdosa tergeletak.
Jam 13.43 waktu setempat. Saat semua orang selesai melaksanakan sholat Jum’at  tiba-tiba terdengar beberapa pesawat militer melayang-layang di udara. Bukan ke tempat ini. Tapi ke tepian sebelah selatan. Ke perkampungan. Pesawat itu menjatuhkan sesuatu ke bawah. “Buuumm...bummm..”.
Farid tercengang. Dia ingat adik perempuannya.
“Hayaaaa...!!”, teriak Farid kencang. Yah, pesawat itu mengincar perkampungan tepi selatan. Tapat di perkampungan Farid. Puing-puing rumah berserakan.
“Haya..haya..hayaaa..!”
Semua bangunan rumahnya runtuh, hanya tinggal pondasi saja. Begitu juga rumah Umi Maryam. Tentu tubuh mungil itu terkubur bersama puing-puing bangunan. Tak ada yang tahu, itulah takdir disini. Tak ada pilihan hidup damai. Hanya ada dua pilihan, mau mati sia-sia atau mati untuk berjuang. Seakan itu adalah sebuah keniscayaan.
Tak ada satupun yang menyahut. Di sana banyak wajah-wajah yang berkabut kelam. Bau kematian tak terelakkan. Tak ada satupun yang selamat.
“Farid !, diamana kau?”.  Farid,, Farid, teriak lantang seseorang dari kejauhan.
Suara sunyi. Tak bersambut. Teriakan itu hanya disambut hembusan angin kencang yang dibungkam oleh butiran pasir sahara. Tiba-tiba dari belakang sebuah tangan menggait lembut bahu Farid.
Umi maryam?
“Dimana Haya Umi”. “diamana?”
                “Maafkan Umi Farid, Umi tak bisa menjaga Haya dengan baik”. “Sebuah takdir ilahi kadang sulit kita terima, tapi yakinlah bahwa Allah pasti punya maksud lain dibalik semua ini, tabahkan hatimu”.
                Farid hanya terdiam, selama beberapa waktu ia hanya diam.
“Iya Umi. Farid sudah pasrah, ini mungkin yang terbaik buat Farid, juga Haya disana”. “Farid berjanji akan menyumbangkan raga ini hanya untuk membela agama Allah, Farid ingin segera bertemu dengan Haya, Abi dan Umi di Surga. Farid berjanji Umi, Farid berjanji.”

22/12/13, di Lereng Merapi


Istilah-istilah Penting dalam Kitab Nailul Authar

Kitab ini di karang oleh al-‘Allamah Muhammad bin ‘Ali bin Muhammad bin Abdullah Asy-Syaukaany As-Shan’aany. Beliau wafat pada malam rabu pada tanggal 27 Jumadil akhir pada tahun 1250 H. Nailul Authar merupakan kitab syarah hadis dari kitab Muntaqal Ahbar karya kakeknya Ibnu Taimiyyah.
Sudah mafhum dikalangan pelajar atau penuntut ilmu bahwa kitab Nailul Authar merupakan kitab fikih hadis rujukan yang sangat populer. Tidak hanya di dunia Arab saja, tapi juga di Indonesia. Kitab Nailul Authar merupakan kitab rujukan fikih hadis yang langsung diambil dari nash hadis. Dalam pembahasan fikih sunnah, seorang pelajar tentu akan menjumpai kitab ini, sejajar dengan kitab subulus salam karya as-Shan’any dan yang lainnya.
Bila dilihat sekilas, kita tidak akan tahu perbedaan kitab ini dibanding kitab fikih hadis yang lain. Kitab ini ternyata memiliki perbedaan dan kekhususan tersendiri, khususnya dalam penyebutan istilah yang dipakai. Dalam muqaddimah mushannif kitab Nailul Authar, mushannif (pengarang) menyebutkan kode-kode yang di gunakan dalam kitab ini. Inilah yang sering dilupakan oleh para pembaca dalam memahami kitab. Mereka sering melupakan bagian pentingnya, yaitu muqaddimah / pengantar bukunya. Hal ini karena masing-masing mushannif mempunyai kode-kode tersendiri dalam menulis dan menggunkan istilahnya.
Kode-kode itu antara lain:

  1. Ketika disebutkan kata “Akhrajaahu” maka yang dimaksud adalah riwayat Imam Bukhari dan Imam Muslim.
  2. Ketika disebutkan kata “Muttafaq ‘Alai” maka yang dimaksud adalah riwayat Imam Ahmad, Bukhari dan Muslim. Ini agak berbeda dengan kebanyakan ulama dalam kitab-kitab hadis lain. Biasanya kata muttafaq ‘Alaih merupakan sebutan untuk riwayat Bukhari-Muslim.
  3. Ketika disebutkan kata “Rawaahu al-Khomash” maka yang dimaksud adalah riwayat Imam Ahmad, at-Tirmidzi, an-Nasa’i, Abu Dawud, dan Ibnu Majah.
  4. Ketika dikatakan kata “Rawaahu as-Sab’ah” maka yang dimaksud adalah riwayat Imam al-Bukhari, imam Muslim, Imam Ahmad, Imam at-Tirmidzi, Imam an-Nasa’i, Imam Abu-Dawud dan Imam Ibnu majah. Riwayat Rawaahu as-Sab’ah disini juga sama artinya dengan istilah rawaahu al-jamaah, yaitu riwayat yang diriwayatkan oleh jamaah ahlul hadis.
  5. Ketika menyebutkan suatu riwayat yang banyak, misalnya beliau menyebutkan riwayat dari imam at-Tirmidzi, Ibnu Majah dan abuDawud. Maka penyebutannya beliau urutkan sesuai tahun wafatnya. Jadi urutannya adalah “Rawaahu Abu Dawud Wa at-tirmidzi Wa Ibnu majah”.
  6. Dalam mensyarah dan merajihkan suatu pendapat beliau menggunakan kata-kata khusus. Misalnya beliau sering menggunakan kata “al-Haqqu” atau “as-Shahihu” atau “az-zhaahiru” atau menggunakan kalimat perajihan langsung misalnya dengan kata “Ar-Raajihu”.
Sumber: Muqaddimah Kitab Nailul Authar.


Mengapa Saya Menentang Syiah?

Syiah adalah aliran dalam islam yang menyempal jauh dari aqidah islam yang sebenarnya. Awal mula faham syiah terjadi pada akhir masa kekhalifahan Utsman bin Affan atau pada masa awal kepemimpinan Ali bin Abi Thalib. Pada masa itu terjadi pemberontakan besar-besaran terhadap khalifah Utsman bin Affan dan berakhir dengan syahidnya Utsman bin Affan. Kemudian naiklah Ali bin Abi Thalib menggantikan Utsman bin Affan sebagai khalifah atas desakan umat islam.

Namun pendapat yang lebih populer ialah syiah muncul setelah gagalnya perundingan antara pasukan Ali bin Abi Thalib dengan pasukan Muawiyyah bin Abu sufyan di shiffin yang lazim disebut dengan tahkim. Akibat kegagalan perundingan tersebut, sejumlah pendukung Ali menentang kepemimpinan Ali bin Abi Thalib dan keluar dari pasukan Ali. Mereka ini disebut khawarij. Kemudian sebagian besar orang yang tetap mendukung dan setia dengan pasukan Ali inilah yang disebut Syiah Ali (pengikut Ali).

Pada awalnya syiah yang menjadi pengikut setia Ali bin abi Thalib ini hanyalah sebatas pendukung politik Ali bin Abi Thalib. Mereka belum bermain pada ranah aqidah dan teologis. Karena sebagian besar mereka adalah para sahabat-sahabat dan para tabi’in yang teguh dan teguh dalam islam. Akan tetapi pada masa-masa selanjutnya ternyata halauan mereka berubah. Pada akhirnya mereka meyakini bahwa Ali lebih utama dan lebih berhak terhadadap kepemimpinan kekhalifahan dari pada Abu bakar dan Umar bin khattab. Akan tetapi kemudian mereka justru meyakini bahwa Ali lebih berhak terhadap kekhalifahan setelah Rasul. Bahkan sebagian dari syiah ekstrim menganggap bahwa Jibril salah dalam menyampaikan wahyu kepada Muhammad yang seharusnya kepada Ali. Padahal Ali sendiri mengatakan dalam khutbahnya bahwa “ Sebaik-baik ummat islam setelah Nabi Muhammad adalah Abu bakar dan Umar”. (lihat shahih Bukhari  jus 5/7, sunan Abu Dawud jus 4/288, sunan ibnu majah jus 1/39).

Akhir-akhir ini merebak kabar yang sangat kuat tentang syiah. Kalau kita mau mencermati lebih dalam maka kita akan menemukan kecacatan-kecacatan yang sangat fatal dalam tubuh syiah itu sendiri. Diantara kesesatan-kesesatan mereka ialah:

1.      Kaum Syi’ah Menambah dan Mengurangi  Al Quran
Al-Quran Al-Karim semestinya menjadi rujukan penyatu antara kita dan mereka dalam upaya pendekatan diri kepada persatuan. Akan tetapi ternyata prinsip-prinsip agama mereka tegak di atas penakwilan ayat-ayatnya dan memalingkan artinya kepada pemahaman yang tidak pernah dipahami oleh para sahabat radhiallahu ‘anhum dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam.

Bahkan salah seorang ulama terkemuka kota Najef, yaitu Haji Mirza Husain bin Muhammad Taqi An Nuri At Thobarsy, seorang figur yang mereka agungkan sampai-sampai ketika ia wafat pada tahun 1320 H menuliskan sebuah buku yang ia beri judul: “Fashlul Khithab Fi Itsbati Tahrifi Kitab Rabbil Arbaab.” (Keterangan Tuntas Seputar Pembuktian Terjadinya Penyelewengan Pada Kitab Tuhan Para Raja). Ia mengumpulkan beratus-ratus nukilan dari ulama-ulama dan para mujtahid Syi’ah di sepanjang masa yang menegaskan bahwa Al Quran Al-Karim telah ditambah dan dikurangi.

Buku karya At Thobarsy ini telah diterbitkan di Iran pada tahun 1289 H. Pada masa itu buku ini memancing terjadinya kontroversi. Hal ini karena dahulu mereka menginginkan agar upaya menimbulkan keraguan tentang keaslian Al Quran hanya diketahui secara terbatas oleh kalangan tertentu dari mereka. Akhirnya kumpulan-kumpulan tersebut di bukukan dalam satu buku yang dicetak secara masif dan dibaca oleh musuh-musuh mereka. Akhirnya justru bukunya tersebut menjdi bumereng baginya sendiri. Tatkala para tokoh mereka menyampaikan kritikan ini, penyusun kitab ini menentang mereka, dan kemudian ia menuliskan kitab lain yang ia beri judul: Raddu Ba’dhis Syubhaat ‘An Fashlil Khithab Fi Itsbati Tahrifi Kitab Rabbil Arbaab (Bantahan Terhadap Sebagian Kritikan Kepada kitab “Keterangan Tuntas seputar pembuktian terjadinya penyelewengan pada kitab Tuhan para raja”. Ia menuliskan pembelaan ini pada akhir hayatnya, yaitu dua tahun sebelum ia wafat.

Akan tetapi justru kaum Syi’ah telah memberikan penghargaan kepadanya atas jasanya membuktikan bahwa Al Quran telah mengalami penyelewengan, yaitu dengan menguburkannya di tempat istimewa dari kompleks pemakaman keturunan Ali di kota Najef. Dan di antara hal yang dijadikan bukti oleh tokoh kota Najef ini bahwa telah terjadi kekurangan pada Al Quran, ialah pada hal: 180, ia menyebutkan satu surat yang oleh kaum Syi’ah disebut dengan nama “Surat Al-Wilayah”, pada surat ini ditegaskan kewalian sahabat Ali:

يأيها الذي آمنوا آمنوا بالنبي والولي اللذين بعثناهما يهديانكم إلى الصِّراط المستقيم …إلخ
“Wahai orang-orang yang beriman, berimanlah engkau dengan seorang nabi dan wali yang telah Kami utus guna menunjukkan kepadamu jalan yang lurus…dst.”

Demikianlah surat Syi’ah, gaya bahasanya buruk, lucu dan tidak fasih. Ditambah lagi kesalahan fatal dalam ilmu nahwu, membuktikan bahwa itu adalah surat non Arab, hasil rekayasa orang-orang non Arab Iran, sehingga mereka mempermalukan diri sendiri dengan menambahkan surat ini. Inilah “Al Quran” yang dimiliki kaum Syi’ah, terdapat kesalahan, dengan gaya bahasa non Arab dan menyalahi ilmu nahwu.

2.      Permasalahan Taqiyyah
Penghalang pertama bagi terwujudnya solidaritas yang benar dan tulus antara kita dan mereka ialah apa yang mereka sebut dengan Taqiyyah. Taqiyyah ialah seseorang menampakkan sikap yang tidak sesuai dengan isi batinnya. Mereka dalam hal ini berdalilkan dengan beberapa hadits, di antaranya hadits yang mereka sebut-sebut dari Ali bin Abi Tholib radhiallahu ‘anhu yang pada hadits ini -menurut anggapan kaum syiah- beliau berkata: “Taqiyyah termasuk amalan seorang mukmin yang paling utama, dengannya ia menjaga diri dan saudaranya dari tindakan orang-orang jahat.” (Baca: Tafsir Al Askari, hal: 162 Pustaka Ja’fary, India).

Taqiyyah merupakan suatu keyakinan dalam agama syiah yang membolehkan bagi mereka untuk berpenampilan di hadapan kita dengan penampilan yang menyelisihi hati nurani mereka. Dengan demikian orang yang lugu dari kalangan kita (Ahlusunnah) akan tertipu dengan penampilan mereka yang mengesankan ingin mengadakan solidaritas dan pendekatan. Padahal sebenarnya mereka tidaklah menginginkan, tidak rela, dan tidak akan menerapkan hal itu, kecuali bila hal itu hanya dilakukan oleh satu pihak saja (yaitu pihak Ahlusunnah).

Di antaranya hadits yang mereka yakini bahwa Imam kelima mereka, yaitu Muhammad Al Baqir meriwayatkan suatu hadits yang di antara bunyinya:
“At Taqiyyah ialah kebiasaanku dan kebiasaan bapak-bapakku, dan tidak beriman orang yang tidak bertaqiyyah.” (Al Ushul Minal Kafi, bab: At Taqiyyah jilid: 2 hal: 219).

Syaikh ahli hadits mereka Muhammad bin Ali bin Al Hasan bin Babuyah Al Kummi telah menyebutkan dalam sebuah risalahnya yang berjudul Al I’tiqadaat:
“Bertaqiyyah wajib hukumnya, barang siapa yang meninggalkannya, maka ia bagaikan orang yang meninggalkan sholat.” Ia juga berkata: “Bertaqiyyah wajib hukumnya, dan tidak boleh dihapuskan hingga datang sang penegak keadilan (imam mahdi -pent), dan barang siapa yang meninggalkannya sebelum ia datang, maka ia telah keluar dari agama Allah Ta’ala, dan dari agama Al Imamiyyah, serta menentang Allah, Rasul-Nya dan para Imam.” (Baca risalah Al I’tiqadaat, pasal At Taqiyyah, terbitan Iran tahun: 1374 H).

3.      Celaan Syi’ah Kepada Sahabat Nabi
Al-Jibtu & At-Thoghut: Abu Bakar & Umar (menurut Syiah –laknatullahi alaihim)
Ucapan itu adalah ucapan mereka. Oleh karena itulah kaum Syi’ah senantiasa mengutuk sahabat Abu Bakar, Umar dan Utsman radhiallahu ‘anhum dan setiap orang yang menjadi penguasa dalam sejarah Islam selain sahabat Ali bin Abi Tholib radhiallahu ‘anhu. Mereka (kaum syiah) telah berdusta atas nama Imam Abul Hasan Ali bin Muhammad bin Ali bin Musa, bahwa beliau telah membenarkan para pengikutnya menjuluki Abu Bakar dan Umar dengan sebutan “Al Jibtu & At Thoghut.” (Al Jibtu dan At Thoghut ialah segala sesuatu yang disembah atau menjadikan manusia menyeleweng dari agama Allah).

Disebutkan dalam kitab Al Jarhu wa At Ta’dil (yaitu salah satu disiplin ilmu hadits yang membahas tentang kredibilitas dan biografi para perawi hadits dan tarikh) terbesar dan terlengkap yang mereka miliki, yaitu buku “Tanqih Al Maqal Fi Ahwal Ar Rijaal” karya pemimpin sekte Ja’fariyyah Ayatullah al-Mamaqani, pada juz 1 hal: 207, edisi Pustaka Al-Murtadhowiyyah, Najef tahun 1352 H ada suatu kisah yang dinukilkan oleh Syaikh besar Muhammad Idris Al Hilli pada akhir kitab “As Sara’ir” dari kitab “Masa’il Ar Rijal Wa Mukatabaatihim” kepada Maulana Abil Hasan Ali bin Muhammad bin Ali bin Musa ‘alaihissalaam dari sebagian pertanyaan Muhammad bin Ali bin ‘Isa, ia berkata: Aku menulis surat kepadanya menanyakan perihal seseorang yang memusuhi keluarga Nabi, apakah ketika mengujinya diperlukan kepada hal-hal lain selain sikapnya yang lebih mendahulukan Al Jibtu & At Thoghut?.

Maksudnya ia mendahulukan dua orang pemimpin dan sekaligus dua sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam  dan dua pembantu kepercayaan beliau, yaitu Abu Bakar dan Umar radhaiallahu ‘anhuma. Kemudian jawabannya datang sebagai berikut: “Barang siapa yang meyakini hal ini, maka ia adalah seorang yang memusuhi keluarga Nabi.” Maksudnya: cukup bagi seseorang untuk disebut sebagai orang yang memusuhi keluarga Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam , bila ia mendahulukan Abu Bakar dan Umar (dibanding sahabat Ali bin Abi Thalib) dan meyakini keabsahan kepemimpinan mereka berdua.

Kata-kata “Al Jibtu” dan “At Thoghut” senantiasa digunakan oleh kaum Syi’ah dalam bacaan doa mereka yang disebut dengan “Doa Dua Berhala Quraisy”. Yang mereka maksudkan dari dua berhala dan dari kata “Al Jibtu” dan “At Thoghut” ialah Abu Bakar dan Umar radhiallahu ‘anhuma. Doa ini disebutkan dalam kitab mereka yang berjudul “Mafatihul Jinaan” hal: 114, kedudukan kitab ini bagaikan kitab “Dalaa’ilul Khairaat” yang telah menyebar luas di tengah-tengah berbagai negeri Islam. Bunyi doa ini sebagai berikut:

“Ya Allah, limpahkanlah sholawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad, dan kutuklah dua berhala, dua sesembahan, dua tukang sihir Quraisy dan kedua anak wanita mereka berdua……” Yang mereka maksud dengan kedua anak wanita mereka ialah Ummul Mukminin ‘Aisyah dan Ummul Mukminin Hafshah semoga Allah meridhai mereka dan seluruh sahabat.

4.      Hari Pembunuhan Al-Faruq Sebagai Hari ‘Ied Terbesar
Kebencian mereka kepada tokoh yang berhasil memadamkan api kaum majusi di Iran dan yang berhasil mengislamkan nenek moyang penduduknya, yaitu Sayyidina Umar bin Al Khatthab radhiallahu ‘anhu tiada batas, sampai-sampai mereka menamakan pembunuhnya, yaitu Abu Lulu’ah Al Majusi dengan sebutan: “Baba Syuja’uddin” (Ayah Sang Pemberani). Ali bin Muzhohir -salah seorang tokoh mereka- meriwayatkan dari Ahmad bin Ishaq Al Kummi Al Ahwash, Syaikh kaum Syi’ah dan pemuka mereka, bahwa hari pembunuhan Umar bin Al Khatthab adalah hari ‘ied terbesar, hari kebesaran, hari pengagungan, hari kesucian terbesar, hari keberkahan, dan hari hiburan.

Mereka mengkafirkan semua orang. Dimulai dari sahabat Abu Bakar, Umar sampai Shalahuddin Al-Ayyuby rahimahullah dan seluruh tokoh yang telah berhasil menundukkan berbagai dinasti dunia sebagai penghuni neraka. Bahkan ada sebagian imam mereka yang beujar dengan sombongnya bahwa semua sahabat Nabi yang sepuluh yang dijamin masuk surga akan masuk neraka seluruhnya kecuali Ali bin Abi Thalib.

5.      Keyakinan Nyeleneh Syi’ah Tentang Imam Mahdi
Di antara prinsip dasar dalam ideologi mereka ialah: Bila suatu saat nanti Imam Mahdi telah bangkit, yaitu Imam mereka yang ke dua belas, yang menurut mereka saat ini sudah hidup dan sedang menanti saat kebangkitannya / revolusinya agar mereka ikut andil bersamanya menjalankan revolusi tersebut. Bila mereka menyebutkannya dalam buku-buku mereka, mereka senantiasa menuliskan di sebelah nama, atau julukan atau panggilannya dua huruf (عج) kependekan dari:
عجَّل الله فرجه
“Semoga Allah menyegerakan kebangkitannya.”
(Tatkala Imam Mahdi ini telah bangkit dari tidurnya yang amat panjang yang telah melebihi seribu seratus tahun) Allah akan menghidupkan kembali seluruh penguasa umat Islam yang telah lalu bersama-sama para penguasa yang ada pada masa kebangkitannya terutama yang mereka sebut dengan Al Jibtu & At Thoghut yaitu Abu Bakar dan Umar dan para pemimpin setelah keduanya. Kemudian Imam Mahdi ini akan menghukumi mereka atas perbuatan mereka merampas kekuasaan dari dirinya dan dari kesebelas nenek moyangnya. Karena -menurut mereka- kekuasaan itu sepeninggal Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam hanyalah hak mereka semata sebagai karunia Allah kepada mereka, dan tidak ada hak sedikit pun bagi selain mereka.

Setelah mengadili para thoghut tersebut, ia membalas mereka semua, sehingga ia memerintahkan untuk membunuh dan memusnahkan setiap lima ratus orang secara bersama-sama, hingga akhirnya ia genap membunuh sebanyak 3000 penguasa Islam sepanjang sejarah. Hukuman ini terjadi di dunia sebelum kebangkitan terakhir mereka, kelak di hari kiamat. Kemudian setelah mereka semua mati serta binasa, terjadilah kebangkitan terbesar, kemudian manusia masuk surga atau neraka. Surga bagi keluarga Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam  dan setiap orang yang berkeyakinan demikian ini tentang mereka dan neraka bagi setiap orang yang tidak termasuk kelompok Syi’ah.

Kaum Syi’ah menamakan penghidupan kembali, pengadilan dan pembalasan ini dengan sebutan “Ar Raj’ah”, dan hal ini merupakan bagian dari ideologi kaum Syi’ah yang tidak seorang Syi’ah pun yang meragukannya. Mereka saat ini terbagi menjadi dua kelompok: orang-orang yang meyakini ideologi-ideologi tersebut dengan utuh dan orang-orang yang berpendidikan modern sehingga mereka menyeleweng dari berbagai khurofat ini kepada paham komunis. Penganut paham komunis di Irak dan Partai Tawaddah (Partai Kasih Sayang) di Iran, anggotanya ialah kaum Syi’ah yang telah menyadari kesalahan berbagai dongeng palsu mereka, sehingga mereka menganut paham komunis setelah sebelumnya menganut ajaran Syi’ah. Di masyarakat mereka tidak ada kelompok atau partai yang moderat, kecuali orang-orang yang menerapkan ajaran taqiyyah guna mencapai tujuan kelompok atau diplomasi atau partai atau pribadi, padahal ia menyembunyikan selain dari yang ia nampakkan.

Catatan: Tulisan ini disarikan dari tulisan Syaikh Muhibbuddin Al Khatiib dengan tambahan.