Modul dan Materi CPNS 2019 Terupdate

Sebagaimana surat yang sudah diumumkan oleh Pemerintah lewat BKN maupun portal SSCN bahwa Pengumuman CPNS telah resmi di buka di beberapa instansi pemerintahan. Untuk itu pasti pelamar CPNS tahun ini diperkirakan akan membeludak. Banyak yang mencari buku-buku dan modul modul CPNS 2019 bagi yang punya uang untuk membelinya.

Namun bagi anda yang sedikit uang untuk membeli modul-modul tersebut tidak perlu khawatir. Di website ini saya sediakan modul dan materi CPNS 2019 Terupdate secara lengkap.
Silahkan bisa di download materi dan modulnya di sini. Kebetulan saya juga daftrar CPNS. hehe.. Terimakasih. Semoga bermanfaat dan membantu anda ya temen-temen.

Sholat Sesuai Tuntunan Hadis Nabi SAW

Sholat merupakan ibadah yang fundamental dan penting. Sebagai Seorang Muslim kita diperintahkan untuk melaksanakan sholat sesuai tuntunan. Karena sebuah tuntunan ibadah termasuk sholat akan berbuah pahala jika memenuhi syarat:
1. Ikhlas
2. Sesuai tuntunan Nabi SAW

di bawah ini saya berikan file Tuntunan Sholat Sesuai Hadis Nabi SAW dalam bentuk dokumen ms.word. Silahkan bisa di download di sini

Film The Santri dan Kontroversi Hakiki di Hari Santri

Santri adalah sebutan bagi seseorang yang mengikuti pendidikan agama Islam di pesantren, biasanya menetap di tempat tersebut hingga pendidikannya selesai. Menurut bahasa, istilah santri berasal dari bahasa Sanskerta, "shastri" yang memiliki akar kata yang sama dengan kata sastra yang berarti kitab suci, agama dan pengetahuan. 

Dari definisi santri ini kita tahu bahwa  santri itu sarat dengan dunia pesantren, kitab kuning, dan ilmu agama Islam. Tidak ada ceritanya bahwa santri itu malah yang dibahas pacaran dan pergaulan antar jenis yang bukan mahram.

Film The Santri
Sejak Trailer Film The santri resmi dirilis sudah banyak kontroversinya. Film garapan Sutradara Livi Zheng dan Ken Zheng ini apakah layak dijadikan contoh sebagai film yang baik? Silahkan menilai sendiri. Darimana menilainya? Tentunya dari isi film itu sendiri. Dari kesinambungan judul film itu sendiri dan isi filmnya. Sebagaimana disebutkan tadi bahwa kata “santri” itu sangat identik dan berhubungan erat dengan Ilmu Agama dan akhlak yang baik, terutama dalam pergaulan dengan lawan jenis, akhlak kepada sang guru, akhlak kepada masyarakat dan tentunya adab-adab islami.

Film The Santri dan Hari Santri
Dalam sebuah pidato sambutannya, ketua PBNU Said Agil Siradj memberikan komentar dan mengapresiasi seandainya Film The Santri ini rilis sebelum hari santri nasional yang akan jatuh pada bulan oktober mendatang. Namun perlu diketahui bersama bahwa The Santri ini ternyata penuh dengan kontroversi. Alih-alih sebagai hadiah pada hari santri nasional justru sebaliknya akan menuai kontroversi dan memberikan stigma kurang pas kepada santri. Bukan masalah Sutradaranya yang bukan kalangan santri atau beragama islam, namun jangan sampai menggunakan tagline santri atau agama hanya untuk membidik pangsa pasar yang potensial semata. 

Silahkan membuat film Islami yang baik, silahkan membuat film-film yang bergenre islami. Film Santri silahkan. Tentunya dengan kultur dan budaya santri yang baik pula. Sesuaikan dengan budaya santri yang islami, tonjolkan sesuatu yang unik dan baik. Bukan sesuatu yang tidak sesuai dengan budaya pesantren. Di antara kontroversi yang ada adalah berikut:

Pertama, Dalam trailer resminya, terlihat cuplikan adegan santri perempuan dan santri laki-laki bisa berjalan bersama tanpa ada pemisahan. Terlihat pula Veve Zulfikar dan Wirda Mansur saling mencuri pandang dan tersenyum penuh makna. Kemudian ada juga adegan Veve Zulfikar tengah menemani Wirda Mansur yang sedang naik kuda, lalu memberi sebuah buku.

Apakah akhlak santri seperti itu? Jelas bukan !. Menurut saya penggambaran ini sangat disayangkan dan tidak mencerminkan kultur santri. Sungguh disayangkan jika memang terjadi demikian. Tidak ada bedanya antara santri dan yang bukan santri. Dengan penggambaran akhlak santri yang rusak seperti itu justru akan memberikan stigma yang buruk terhadap nama santri itu sendiri.

Pengaruh penggambaran santri yang rusak seperti itu akan berdampak buruk pada pendangan masyarakat umum terhadap santri. Kita tahu bersama bahwa effek dari film itu bisa jauh dan mempengaruhi masa. Dalam dunia komunikasi film bisa menjadi sarana persuasif dan penyebaran pemikiran, baik pemikiran yang lurus maupun yang rusak. Apakah film The Santri ini mempunyai motif? Saya yakin tentu pasti ada motif dibalik penayangan film ini. Terlepas dari ini itu, yang menjadi sorotan adalah pengaruh penggambaran akhlak santri yang demikian akan mengundang protes yang keras dari berbagai kalangan.

Kedua, adegan pemberian tumpeng oleh dua orang santri putri kepada para pastur di sebuah gereja. Dalam adegan tersebut Wirda Mansur menyerahkan tumpeng sembari mengatakan ini adalah tanda cinta. Mungkin adegan ini yang menjadi sorotan publik berikutnya. Saya memahami bahwa film the santri ini ingin menggambarkan bahwa santri itu toleran. Namun toleran seperti apa yang diinginkan. Haruskah sampai seperti itu? Haruskah sampai ke gereja mengikuti acara? Mengapa tidak digambarkan pergaulan sahabat antara penganut islam dan non Islam dalam pendidikan misal. Pikiran saya akhirnya mengerti ketika dibalik pembuatan film ini ada tokoh Said Agil Siradj yang kontrevesial yang sangat kencang mengusung toleransi gereja. 

Terakhir: jika benar Film ini seperti yang ada dalam Trailernya maka “FILM THE SANTRI KURANG LAYAK DITONTON”.
Wallahu a’lam

Apakah Wanita Harus Khitan?

Khitan bagi anak perempuan tidak semasyhur khitan yang dilakukan pada anak laki-laki. Jika khitan pada anak laki-laki adalah menyunnat kulup dari batang dzakar (penis), maka tindakan khitan pada anak perempuan adalah menyunnat bagian 'clitoral hood'. Menurut Wikipedia: "Clitoral Hood atau disebut juga preputium clitoridis and clitoral prepuce adalah lipatan kulit yang mengelilingi dan melindungi clitoral glans [batang klitoris]. Berkembang sebagai bagian dari labia  [bibir]minora dan merupakan homolog dari kulup penis [biasa disebut preputium] pada kelamin laki-laki". 

Dalil yang menjadi dasar pensyariatan khitan adalah sebagai berikut:
  1. Kemudian kami wahyukan kepadamu untuk mengikuti millah Ibrahim yang lurus (QS. An-Nahl: 23).
  2. Dari Ibnu Abbas bahwa Rasulullah SAW, "Khitan itu sunnah buat laki-laki dan memuliakan buat wanita." (HR. Ahmad dan Baihaqi)
  3. Dari Abi Hurairah ra. Berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda : “Nabi Ibrahim as. Berkhitan saat berusia 80 tahun dengan qadur / kapak. (HR Bukhari dan muslim)
  4. Dari Aisyah ra, Rasulullah bersabda : “Potonglah rambut kufur darimu dan berkhitanlah” (HR. Muslim)
Dari dalil-dalil diatas, khitan bagi anak perempuan jelas disyariatkan. Namun jika ditinjau dari hukumnya, para ulama fiqih berbeda pendapat. Ada yang mengatakan wajib, tidak wajib, dan ada juga yang memandang itu pemuliaan atas perempuan.
1. Mazhab Al-Hanafiyah
Madzhab ini sepakat bahwa berkhitan tidak diwajibkan bagi perempuan, mayoritas ulama dari madzhab ini tidak memandangnya dari kacamata hukum taklifi, namun sebagai kemuliaan bagi perempuan.
Ibnul Humam (w. 681 H) salah satu ulama mazhab Al-Hanafiyah dalam kitab Fathul Qadir menuliskan sebagai berikut :

  الختانان موضع القطع من الذّكر والفرج وهو سنّةٌ للرّجل مكرمةٌ لها

Khitan itu memotong sebagian dari zakar (kemaluan laki-laki) dan farji (kemaluan perempuan). Hukumnya Sunnah bagi laki-laki, dan bagi perempuan merupakan sebuah kemuliaan.
Az-Zaila’i (w. 743 H) salah satu ulama mazhab Al-Hanafiyah dalam kitab Tabyin Al-Haqaiq Syarh Kanzu Ad-Daqaiq menuliskan sebagai berikut :

وختان المرأة ليس بسنة، وإنما هو مكرمة للرجال لأنه ألذ في الجماع

Tidaklah sunnah bagi perempuan berkhitan, tetapi sebuah kemuliaan bagi laki-laki, karena dapat menambah keintiman dalam berhubungan suami istri.[1]
2. Mazhab Al-Malikiyah
Al-Qarafi (684 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Malikiyah menuliskan dalam kitabnya Adz-Dzakhirah sebagai berikut :

كرهه مالك يوم الولادة ويوم السابع لأنه من فعل اليهود قال وحد الختان الأمر بالصلاة من سبع سنين إلى عشر قال ابن حبيب الختان سنة للرجال مكرمة للنساء

Makruh bagi imam Malik mengkhitan anak pada hari kelahiran ataupun hari ke tujuh, Karena itu perbuatannya orang-orang Yahudi. Dan membatasi usia khitan ketika anak berumur 7 tahun, sebagaimana diperintah untuk mereka shalat dari umur tujuh tahun hingga sepuluh tahun. Ibnu Hubaib mengatakan, berkhitan bagi laki-laki sunnah, sedangkan bagi perempuan merupakan kemuliaan.[2]
Al-Hathab Ar-Ru'aini (954 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Malikiyah menuliskan dalam kitabnya Mawahibul Jalil fi Syarhi Mukhtashar Khalil sebagai berikut :

وأما الخفاض فقال ابن عرفة والخفاض في النساء الرسالة مكرمة وروى

Adapun khitan bagi perempuan, Ibnu ‘Arafah mengatakan bahwa itu adalah syari’at yang mulia.[3]
2. Mazhab Asy-Syafi’i
Madzhab ini  memandang bahwa berkhitan bagi laki-laki dan perempuan itu hukumnya wajib. Sebagaimana penuturan di bawah ini:
An-Nawawi (w. 676 H) salah satu ulama dalam mazhab Asy-Syafi'iyah di dalam kitabnya Minhaj At-Thalibin wa Umdatu Al-Muftiin fi Al-Fiqh menuliskan sebagai berikut :

ويجب ختان المرأة بجزء من اللحمة بأعلى الفرج والرجل بقطع ما يغطي حشفته بعد البلوغ ويندب تعجيله في سابعة

Wajib bagi perempuan berkhitan, dengan memotong sebagian daging kecil yang berada di bagian atas kemaluan, dan bagi laki-laki dengan menghilangkan sebagian kulit penutup bagian depan dari kemaluan, dan disunnahkan bagi laki-laki untuk menyegerakan khitan di umur tujuh tahun.[4]
Zakaria Al-Anshari (w. 926 H) yang juga ulama mazhab Asy-syafi'iyah di dalam kitabnya Asnal Mathalib Syarah Raudhu Ath-Thalib menuliskan sebagai berikut.

(و) من (قطع شيءٍ من بظر المرأة) (الخفاض) أي اللّحمة الّتي في أعلى الفرج فوق مخرج البول تشبه عرف الدّيك، وتقليله أفضل

Dengan memotong sebagian daging kecil -yang berada di bagian atas farji, letaknya diatas tempat keluarnya urin, dan bentuknya menyerupai jengger ayam-, itu hukumnya afdhal (utama).[5]
Ibnu Hajar Al-Haitami (w. 974 H) salah satu ulama mazhab Asy-Syafi'iyah di dalam kitab Tuhafatu Al-Muhtaj menuliskan sebagai berikut :
ويجب أيضًا (ختان) المرأة والرّجل
Diwajibkan juga berkhitan bagi perempuan dan laki-laki .[6]
Al-Khatib Asy-Syirbini (w. 977 H) salah satu ulama mazhab Asy-Syafi'iyah di dalam kitab Mughni Al-Muhtaj menuliskan sebagai berikut :

(ويجب ختان المرأة بجزءٍ) أي قطعه

Diwajibkan berkhitan bagi perempuan, dengan menghilangkan sebagian daging kecil di atas kemaluannya.[7]
3. Mazhab Al-Hanabilah
Adapun madzhab Al-Hanabilah, hukum berkhitan dibedakan antara laki-laki dan perempuan. Wajib bagi laki-laki, dan tidak wajib bagi perempuan.
Ibnu Qudamah (w. 620 H) ulama dari kalangan mazhab Al-Hanabilah di dalam kitabnya Al-Mughni menuliskan sebagai berikut :

فأمّا الختان فواجبٌ على الرّجال، ومكرمةٌ في حقّ النّساء، وليس بواجبٍ عليهنّ

Diwajibkan bagi laki-laki berkhitan, sedangkan bagi perempuan tidaklah diwajibkan, melainkan hanya sebuah kemuliaan bagi yang mengerjakannya.[8]
Kesimpulan

Demikian pemaparan para ulama dari empat madzhab. Madzhab Syafi’i mengatakan bahwa hukum khitan itu wajib atas laki-laki maupun perempuan. Sedangkan madzhab Hanafi, Maliki dan Hambali tidak memandang khitan atas perempuan dari sisi hukum taklifi, melainkan dari sisi afdhaliyyah (keutamaan). Ketiga madzhab tersebut mengatakan bahwa khitan yang dilakukan pada anak perempuan merupakan tindakan pemuliaan Islam atas perempuan.
Wallahu a’lam bishshawab
Aini Aryani, Lc
Referensi :
  1. Az-Zaila'i, Tabyin Al-Haqaiq Syarh Kanzu Ad-Daqaiq, jilid 1, hal 227
  2. Al-Qarafi, Adz-Dzakhirah, jilid 4, hal 167
  3. Al-Hathab Ar-Ru'aini, Mawahibul Jalil fi Syarhi Mukhtashar Khalil, jilid 3, hal 258
  4. An-Nawawi, Minhajut Thalibin Wa Umdatul Muftiin, jilid 1, hal 306
  5. Zakaria Al-Anshari, Asnal Mathalib Syarah Raudhu Ath-Thalib, jilid 4, hal 164
  6. Al-Haitami, Tuhfatul Muhtaj bi Syarhi Al-Minhaj, jilid 9, hal 198
  7. Al-Khatib Asy-Syirbini, Mughni Al-Muhtaj , jilid 5, hal 539
  8. Ibnu Qudamah, Al-Mughni, jilid 1, hal 64

Sumber: rumahfiqih.com

Pentingnya Belajar Fikih Wanita Sejak Dini

Setiap cabang ilmu tidak lah disusun dan dipelajari kecuali ada kepentingan dan urgensinya. Namun, jika boleh bertanya: Mengapa kita butuh ilmu fiqih wanita secara khusus? Bukankah Allah SWT menciptakan laki-laki dan wanita dalam kedudukan yang sama dan sederajat? Mengapa harus dibeda-bedakan antara fiqih secara umum dan fiqih wanita secara khusus? Lalu hal-hal apa saja yang bisa dijadikan bahan pertimbangan untuk membahas ilmu fiqih wanita secara khusus.

Ada begitu banyak alasan dan latar belakang mengapa kita membutuhkan kajian khusus ilmu fiqih wanita. Di antaranya karena Allah SWT tidak hanya menciptakan laki-laki tetapi juga menciptakan wanita dan disebutkan secara khusus dan tersendiri. Juga karena Allah SWT menciptakan wanita berbeda dengan laki-laki, baik secara fisik dan psikis. Dan pada akhirnya hukum-hukum yang Allah SWT turunkan juga banyak yang berbeda antara wanita dan laki-laki.

Mari kita bedah satu persatu alasan-alasannya berikut ini :

1. Al-Quran Banyak Sekali Bicara Tentang Wanita
Al-Quran yang merupakan kitab samawi terakhir dan menjadi mukjizat terbesar bagi Rasulullah SAW banyak sekali mengangkat masalah wanita. Hal itu bisa dengan mudah kita ketahui lewat nama-nama surat di dalamnya, dimana nama-nama surat biasanya mencerminkan perkara-perkara penting di dalam suatu surat.

Di antara surat-surat itu adalah Surat An-Nisa', Maryam, An-Nur, Saba', Al-Hujurat, Al-Mujadalah, Al-Mumtahanah, At-Thalaq, dan At-Thahrim.

a. Surat An-Nisa'
Surah ini letaknya pada urutan keempat setelah Surat Al-Fatihah, Al-Baqarah dan Ali Imran. Di dalam surat yang berjumlah 176 ayat ini Allah SWT banyak mengupas masalah-masalah fiqih yang terkait dengan wanita. Setidaknya ada sepuluh tema terkait wanita di dalam surat ini, yaitu :
  • Penetapan bolehnya laki-laki menikahi empat orang wanita sekaligus adanya di dalam surat ini (ayat 3).
  • Kewajiban suami untuk memberikan mas kawin alias mahar juga di surat ini (ayat 4).
  • Menikahkan anak wanita yang sudah siap menikah (ayat 6).
  • Islam memberikan hak kepada wanita harta warisan (ayat 11-12).
  • Kasus istri yang selingkuh dan berzina juga dibahas di surat ini (ayat 15).
  • Siapa saja wanita yang haram untuk dinikahi juga ada di dalam surat ini (ayat 22-23)
  • Bila laki-laki tidak mampu menikahi wanita yang maharnya tinggi, maka silahkan menurunkan kriterianya dengan menikahi wanita yang maharnya lebih rendah (ayat 25).
  • Suami menjadi pemimpin wanita di dalam urusan domestik (ayat 34).
  • Meminta fatwa tentang wanita (ayat 127).
  • Masalah wanita yang nusyuz dari suaminya (ayat 128).

b. Surat Maryam
Selain itu juga ada surat Maryam yang berkisah tentang peran seorang ibunda Nabi Isa alaihissalam. Kisah bagaimana kesulitannya melahirkan anak yang atas kehendak Allah SWT tidak ada ayahnya dan cacian serta makian dari masyarakat sekitarnya. Kisah ini sekaligus juga memberikan peran besar kepada seorang wanita dalam agama Islam, salah satunya dalam hal menjaga kehormatan dan kemuliaan diri.

c. Surat An-Nur

Meski nama surat ini tidak ada kaitannya dengan urusan wanita, namun ketika kita mendalami ayat-ayat di dalamnya, kita akan menemukan banyak perkara yang terkait dengan masalah wanita.
  • Perkara wanita yang berzina dengan laki-laki yang bukan suaminya serta bagaimana hukumannya (ayat 2-10).
  • Kisah tentang fitnah dan tuduhan perselingkuhan yang dilakukan istri Rasulullah SAW Aisyah radhiyallahuanha yang disebarkan oleh orang munafiqin Madinah (ayat 11-20).
  • Hukuman bagi orang yang menuduh wanita baik-baik dengan tuduhan zina (ayat 23-26).
  • Kewajiban wanita menutup aurat kepada laki-laki yang bukan mahram, serta siapa sajakah mereka (ayat 31).
  • Kewajiban minta izin masuk ke kamar suami istri dalam tiga waktu (ayat 58).
d. Surat Al-Hujurat

Makna Al-Hujurat adalah kamar-kamar. Maksudnya adalah kamar-kamar yang dihuni oleh para istri Rasulullah SAW. Meski ayat ini tidak membahas secara langsung tentang masalah wanita, namun penggunaan istilah hujurat yang berarti kamar-kamar para istri Nabi terkait dengan ganggungan para shahabat ketika Nabi SAW sedang berada di kamar para istrinya.

Dan ini menjadi persoalan penting dalam adab bersama Rasulullah SAW ketika beliau sedang berada di dalam kamar.

e. Surat Al-Mujadalah

Inti surat ini menceritakan adanya wanita yang melakukan perdebatan atau dialog dengan Rasulullah SAW terkait dengan hak-haknya yang diambil oleh suaminya dengan cara dsiihar. Wanita itu adalah Khaulah binti Tsa'labah yang mengadukan nasibnya kepada Allah SWT lalu dari langit yang tujuh Allah SWT menjawab pengaduannya.

f. Surat Al-Mumtahanah

Surat ini bicara tentang kisah Rasulullah SAW bersama para istri beliau dalam lika-liku rumah tangganya. Salah satunya ketika Rasulllah SAW menguji para istrinya itu.

g. At-Thalaq

Surat ini bicara tentang talak, yaitu pemutusan hubungan ikatan pernikahan antara suami dan istri. Surat ini juga menjelaskan ketentuan-ketenuan bagi wanita yang menjalankan masa iddah pasca terjadinya perceraian atau kematian suaminya.

h. At-Thahrim

Surat ini bicara tentang sikap Rasulullah SAW ketika mengharamkan dirinya bagi istri-istrinya, yang kemudian ditegur oleh Allah.

2. Karena Allah SWT Tidak Hanya Menciptakan Laki-laki Tetapi Juga Menciptakan Wanita
Allah SWT berfirman :
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُواْ رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيرًا وَنِسَاء

Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu, dan daripadanya Allah menciptakan istrinya; dan daripada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak.
(QS. An-Nisa : 1)

Kita mendapatkan sebuah penekanan tersendiri dari ayat ini atas keberadaan, jati diri dan eksistensi para wanita. Allah SWT secara khusus menyebutkan adanya para wanita dengan disebutkannya laki-laki dan perempuan yang banyak.

Walaupun asal muasalnya Allah hanya menciptakan satu orang saja, yang dalam hal ini maksudnya adalah Nabi Adam alaihissalam yang nota bene adalah laki-laki, namun dari satu orang laki-laki ini Allah kemudian menciptakan banyak laki-laki dan perempuan.

Maka penyebutan wanita secara khusus di awal penciptaan ini telah memberikan isyarat yang kuat tentang keberadaan para wanita, yang secara khusus mereka ada. Keberadaan yang khusus dan tidak bisa diabaikan begitu saja. Dan untuk itu kita butuh kajian khusus tentang ilmu fiqih wanita.

3. Karena Allah SWT Menciptakan Wanita Dengan Laki-laki Berbeda


Banyak kalangan yang berpandangan bahwa laki-laki dan perempuan itu sama saja. Padahal dalam kenyataannya, baik laki-laki ataupun perempuan Allah ciptakan dengan segala perbedaan dan keunikannya. Intinya jelas dan pasti, bahwa laki-laki dan perempuan itu tidak sama. Dalam hal ini Allah SWT berfirman :
وَلَيْسَ الذَّكَرُ كَالأُنثَى
Dan laki-laki tidaklah seperti perempuan. (QS. Ali Imran : 36)

Bahkan dalam hal pembagian harta warisan, Allah SWT menetapkan bahwa bagian yang diterima anak laki-laki setara dengan bagian dari dua anak perempuan.

يُوصِيكُمُ اللّهُ فِي أَوْلاَدِكُمْ لِلذَّكَرِ مِثْلُ حَظِّ الأُنثَيَيْنِ

Allah mensyariatkan bagimu tentang (pembagian pusaka untuk) anak-anakmu. Bagian untuk anak lelaki sama dengan dua bagian untuk anak perempuan. (QS. An-Nisa : 11)

Maka kajian khusus terkait dengan ilmu fiqih wanita adalah hal yang tidak bisa dipungkiri keberadaannya.

4. Secara Fisik Wanita Berbeda Dengan Laki-laki

Dalam kenyataannya Allah SWT memang menciptakan wanita berbeda dengan laki-laki.  Sejak kelahirannya pertama kali di dunia ini, bahkan sejak masih di dalam kandungan ibu, Allah SWT sudah menciptakan janin bayi yang secara biologis berbeda antara janin laki-laki dan janin wanita.

Meskipun belum berfungsi, namun semua organ kewanitaan sudah diciptakan, termasuk organ-organ untuk reproduksi seperti rahim, saluran indung telur dan lain-lainnya. Semua itu secara biologis dan faal tubuh, sudah Allah ciptakan meski baru akan berfungsi pada waktunya nanti.

Dengan perbedaan secara biologis sejak sebelum lahirnya wanita di dunia, maka sudah bisa dipastikan seorang wanita itu pasti berbeda dengan laki-laki.
  • Wanita pada usianya akan secara sunnatullah mendapatkan darah haidh yang keluar bulanan, dimana laki-laki tidak akan pernah mengalaminya.
  • Bentuk tubuh seorang wanita dipastikan akan tubuh berbeda dengan bentuk tubuh laki-laki. Dan semua itu akan ikut berpengaruh pada peran dan fungsinya.
5. Secara Pisikis Wanita Berbeda Dengan Laki-laki
Ketika secara biologis Allah SWT menciptakan wanita berbeda dengan laki-laki, maka otomatis secara psikis pun wanita punya kondisi yang sudah pasti berbeda juga. Secara psikis wanita tidak boleh disamakan begitu saja dengan laki-laki.

Oleh karena itulah maka dalam syariat Islam dibedakan peran dan fungsinya. Salah satunya dalam hal perkara untuk menjadi saksi, kesaksian seorang wanita harus dikuatkan dengan wanita yang lain, sehingga minimal ada dua wanita. Hal ini sebagaimana Allah SWT sebutkan di dalam Al-Quran :

وَاسْتَشْهِدُواْ شَهِيدَيْنِ من رِّجَالِكُمْ فَإِن لَّمْ يَكُونَا رَجُلَيْنِ فَرَجُلٌ وَامْرَأَتَانِ مِمَّن تَرْضَوْنَ مِنَ الشُّهَدَاء أَن تَضِلَّ إْحْدَاهُمَا فَتُذَكِّرَ إِحْدَاهُمَا الأُخْرَى
Dan persaksikanlah dengan dua orang saksi dari orang-orang lelaki di antaramu). Jika tak ada dua orang lelaki, maka (boleh) seorang lelaki dan dua orang perempuan dari saksi-saksi yang kamu ridai, supaya jika seorang lupa maka seorang lagi mengingatkannya. (QS. Al-Baqarah : 282)

6. Hukum-hukum Yang Allah Turunkan Berbeda Antara Wanita dan Laki-laki
Tidak bisa dipungkiri bahwa dalam kenyataannya ada begitu banyak ayat Al-Quran dan hadits-hadits nabawi yang memperlakukan para wanita dengan perlakuan hukum yang berbeda. Apa yang halal untuk wanita belum tentu halal bagi laki-laki dan berlaku sebaliknya. Apa yang wajib bagi wanita belum tentu wajib bagi laki-laki dan begitu pula sebaliknya.

Sebutlah yang mudah saja dalam ketentuan batasan aurat wanita dan aurat laki-laki. Sejak awal Allah SWT telah membuat batasannya yang berbeda, dimana aurat wanita di hadapan laki-laki yang tidak halal baginya adalah seluruh tubuhnya, kecuali wajah dan kedua telapak tangan.


يَا أَسْمَاء إِنَّ المَرْأَةَ إِذَا بَلَغَتِ المَحِيضُ لاَ يَصْلُحُ أَنْ يُرِيَ مِنْهَا إِلاَّ هَذاَ وَهَذَا وَأَشَارَ إِلَى وَجْهِهِ وَكَفَّيْهِ
Dari Aisyah radhiyallahu‘anha bahwa Rasulullah SAW bersabda,"Wahai Asma', bila seorang wanita sudah mendapat haidh maka dia tidak boleh terlihat kecuali ini dan ini". Lalu beliau SAW menunjuk kepada wajah dan kedua tapak tangannya. (HR. Abu Daud).
Sedangkan batasan aurat laki-laki tidak seperti wanita, cuma antara pusat dan lutut, sebagaimana hadits berikut ini :
مَا تَحْتَ السُّرَّةِ إِلىَ الرُّكْبَةِ عَوْرَةٌ
Bagian tubuh yang di bawah pusar hingga lutut adalah aurat. (HR. Ahmad)
الرُّكْبَةُ مِنَ الْعَوْرَةِ
Lutut termasuk aurat. (HR. Ad-Daruquthny)
مَا فَوْقَ الرُّكْبَتَيْنِ مِنَ الْعَوْرَةِ وَمَا أَسْفَل السُّرَّةِ وَفَوْقَ الرُّكْبَتَيْنِ مِنَ الْعَوْرَةِ
Bagian tubuh yang berada di atas kedua lutut termasuk aurat, dan yang di bawah pusar juga termasuk aurat. (HR. Ad-Daruquthny)
Jadi intinya tidak bisa dipungkiri bahwa ketentuan syariah yang Allah SWT tetapkan buat wanita tidak selalu sama dengan laki-laki. Sehingga kajian khusus tentang ilmu fiqih wanita adalah hal yang mutlak dibutuhkan.

7. Islam Turun Untuk Mengangkat Harkat Wanita
Di masa jahiliyyah, wanita diperlakukan mirip dengan harta benda. Dahulu, seorang wanita dapat diwariskan. Artinya, jika seorang ayah menikahi seorang wanita, kemudian si ayah ini meninggal dunia, maka wanita yang pernah dinikahinya itu dapat diwariskan kepada anak lelakinya.
Dalam Islam, wanita diperlakukan dengan terhormat. Ia dapat memiliki harta eksklusif dimana ia dapat mengelolanya sendiri tanpa harus ada intervensi dan paksaan dari orang lain. Ia juga punya hak untuk memilih lelaki mana yang ia kehendaki untuk jadi suaminya. Sebagai wali, ayahnya punya kewajiban untuk menikahkan anak gadisnya dengan lelaki yang diridhai.
Dalam tradisi kaum jahiliyyah ada pernikahan yang disebut 'nikah syighar', wanita diperlakukan layaknya benda yang dijadikan mahar. Contoh nikah syighar misalnya : Seorang ayah menikahkan anak gadisnya dengan seorang pemuda, dimana pemuda itu memiliki adik perempuan lajang. Si ayah ini setuju untuk menikahkan anak gadisnya dengan si pemuda, dengan syarat bahwa si pemuda mau menikahkan adik perempuannya dengan dirinya sebagai pengganti mahar.
Dalam islam, pihak yang paling berhak atas mahar adalah calon mempelai wanita. Dan setekah akad nikah dilaksanakan dan resmi menjadi isteri, mahar itu adalah milik isteri sepenuhnya. Suaminya tak boleh mengambilnya kembali tanpa seizinnya. Maka dalam Islam, seorang wanita tidak bisa dijadikan mahar. Justeru dialah yang berhak menentukan dan menerima mahar.

Di zaman jahiliyyah, orang Arab terbiasa menikahi banyak wanita. Bahkan jumlahnya belasan dan puluhan. Kebiasaan tersebut juga menjadi lumrah di kalangan laki-laki non-arab, dimana raja atau kaisar memiliki banyak selir yang diposisikan hampir sama dengan isteri. Kemudian Islam datang membatasi menjadi maksimal 4 orang sebagaimana disebutkan dalam surah an-Nisa.

Penutup
Tujuan poin diatas hanyalah sebagian dari alasan pentingnya mempelajari Fiqih Wanita. Adapun ruang lingkup pembahasannya, dan juga sub tema yang masuk dalam ranah Fiqih Wanita insyaa Allah akan disampaikan di artikel berikutnya.

Wallahu a'lam bishshowab.
Aini Aryani, Lc
Sumber: rumahfiqih.com

Peran Wanita dalam Sejarah Islam

Sebelum kedatangan Islam, wanita hampir tak memiliki peran. Keberadaannya tidak begitu diperhitungkan. Abu al-Hasan al-Nadawi, ulama kenamaan asal India, dalam buku masyhurnya Mādza Khasira al-`Ālāma binkhiṭāti al-Muslimīn (h. 55) menggambarkan kondisi wanita di masa memilukan itu: “Pada masyarakat jahiliah perempuan rentan (mendapat perlakuan) tak adil dan zalim, hak-haknya dirampas, hartanya diambil, tak mendapat warisan, setelah talak atau ditinggal mati suaminya mereka dihalangi menikah dengan lelaki yang disukai, serta dijadikan sebagai warisan sebagaimana barang atau hewan.”

Saat Islam datang, kegelapan yang menyelimuti wanita menjadi sirna. Mereka seakan terlahir kembali. Hak-haknya dipenuhi, keberadaannya diperhitungkan, bahkan memiliki peran-peran yang tidak kecil..

Ada dua fase penting yang menjadi latar untuk menjelaskan peran mereka di masa nabi. Pertama, Fase Makkah. Kedua, Fase Madinah. Bila ditinjau dari sirah nabawiah, pada kedua fase tersebut, wanita sangat berperan aktif.

Fase Makkah
Pada fase Makkah beberapa wanita yang bisa dijadikan contoh adalah:
Pertama, Khadijah binti Khuwailid: di samping sebagai wanita pertama yang masuk Islam, ia juga memainkan peran penting sebagai istri shalihah yang mampu menjadi pendukung (materi maupun rohani), penentram jiwa, penenang hati, mitra dialog asyik, serta pendidik hebat bagi anak-anak nabi. Kehidupannya adalah contoh ideal bagi setiap Muslimah yang berperan sebagai seorang istri.

Kedua, Samiyyah : Ibunda Ammar bin Yasir memerankan peran penting sebagai wanita mujahidah pertama yang dengan ketabahan, kesabaran, dan keyakinannya mengantarkannya pada kemulian syahid. Ia adalah wanita Muslim pertama yang mati fi sabilillah. Darinya Muslimah bisa belajar kemulian wanita bukan berada pada kedudukan dan harta, tetapi pada seberapa tabah memperjuangkan keimanan.

Ketiga, Asma binti Abu Bakar, Dzun Nithaqaini: Berperan penting dalam suksesi hijrah nabi. Ia adalah sosok wanita tangguh. Dalam kondisi hamil tua, menempuh jarak perjalanan sekitar delapan kilo dari Makkah sampai gua Tsur, mendaki gunung, bolak-balik sendirian selama tiga hari berturut-turut untuk mengantarkan bekal makan dan minum, penjaga rahasia, serta menyampaikan kabar terkini terkait perkembangan Makkah. Sosok sepertinya sangat layak untuk diteladani.

Keempat, Istri `Amir bin Rabi`ah: Di samping ikut hijrah ke Habasyah, ia juga memiliki firasat kuat tentang keislaman Umar bin Khattab yang waktu itu masih kafir

 Kelima, Ummu Salamah dan Ruqayyah binti Muhammad Shallallahu `alaihi wasallam: dengan kesabaran tinggi ia mampu berperan baik dalam hijrah ke Habasyah. Dengan begitu telaten dan sabar mereka mampu menjadi teladan bagi setiap Muslimah yang menghendaki kemulian.

Keenam, Fathimah binti Khattab: Wanita tabah dan pemberani, saudara Umar yang mempu mempertahankan keimanannya. Ia berperan besar dalam mengajak suami serta saudaranya dalam memeluk Islam. Sebagai wanita ia pemberani dan gigih dalam perjuangan.

Fase Madinah
Fase Madinah juga tak sepi dari peran wanita. Sebagai contoh: Pertama, Aisyah binti Abu Bakar: Di samping sebagai seorang istri ia juga berperan aktif dalam bidang kelimuan. Hafalan yang begitu kuat memungkinkannya menceritakan peristiwa yang ia alami sejak di Makkah hingga ihwal Rasulullallah. Hadits yang diriwayatkan begitu banyak (2210 hadits. Baca: Taisir Musṭalah al-Hadits, 107), pemahaman terkait fikih begitu mendalam, kemampuanya dalam memahami, menganalisa, dan mengambil faidah dari teks al-Qur`an dan Hadits begitu tinggi.

Kedua, Pada Perang Khandaq mereka menyiapkan makanan bagi para sahabat yang sedang menggali parit. Umayyah menceritakan bahwa ada perempuan muda dari Bani Ghifar yang turut serta dalam Perang Khaibar, ia bertugas mengobati luka dan memberi bantuan sesuai kadar kemampuan.

Ketiga, Ummu `Imarah Nasibah binti Ka`ab al-Maziniyah: Saat darurat berpartisipasi dalam medan jihad perang. Dalam perang Uhud ia turut berperang melindungi Rasulullah. Ia bertugas memberi minum para mujahid, bahkan sempat berperang. Dhimrah bin Sa`id –cucu Nasibah- pernah menghitung lukanya sekitar dua belas atau tiga belas luka tusukan (Sirah Nabawiah, Muhammad Shallabi).

Kelima, Ummu Salamah: Pasca perjanjian Hudaibiah berperan penting dalam memberikan pendapatnya kepada nabi terkait para sahabat yang tak segera menjalankan titah nabi. Di sini wanita juga berperan sebagai pihak yang bisa diajak musyawarah dengan suami untuk memecahkan masalah.

Keenam, ada riwayat dari Bukhari dan Muslim yang menjelaskan adanya seorang wanita  (ada yang berpendapat: Ummu Sulaim, sebagaimana penjelasan Ibnu Hajar di Fath al-bari) yang mengusulkan agar ada bagi wanita waktu khusus untuk ta`lim.  Para istri nabi pun berperan efektif dalam menjelaskan ihwal internal nabi yang perlu diketahui oleh umat. Mereka berperan aktif dalam pemberdayaan wanita.

Bila dirangkum, beberapa peran wanita dalam sirah nabawiah ialah: sebagai istri shalihah, penyokong dakwah, pendidik bagi anak-anaknnya, jihad di medan laga sesuai dengan bidang yang dikuasai, mitra musyawarah suami, dan pemberdayaan wanita sesuai dengan kodratnya. Demikianlah salah satu gambaran penting mengenai peran wanita di sirah nabawiah. Semoga setiap wanita Muslimah, mampu meneladani peran mereka.

Sebagai penutup perlu kiranya dibaca kembali hadits nabi: “Wanita adalah saudara kandung laki-laki.” (HR. Abu Daud, Tirmidzi). Mereka sama-sama memiliki peluang sama dalam berperan aktif mengaktualisasikan ketaatan pada Allah sesuai dengan kodrat masing-masing. Lantas apa peran kita?

Sumber Bacaan:
Muhammad Shallabi. Sirah Nabawiah.
Mahmud Budi Setiawan, Peran Wanita dalam Sirah Nabawiyah.

Sebelum kedatangan Islam, wanita hampir tak memiliki peran. Keberadaannya tidak begitu diperhitungkan. Abu al-Hasan al-Nadawi, ulama kenamaan asal India, dalam buku masyhurnya Mādza Khasira al-`Ālāma binkhiṭāti al-Muslimīn (h. 55) menggambarkan kondisi wanita di masa memilukan itu: “Pada masyarakat jahiliah perempuan rentan (mendapat perlakuan) tak adil dan zalim, hak-haknya dirampas, hartanya diambil, tak mendapat warisan, setelah talak atau ditinggal mati suaminya mereka dihalangi menikah dengan lelaki yang disukai, serta dijadikan sebagai warisan sebagaimana barang atau hewan.”
Saat Islam datang, kegelapan yang menyelimuti wanita menjadi sirna. Mereka seakan terlahir kembali. Hak-haknya dipenuhi, keberadaannya diperhitungkan, bahkan memiliki peran-peran yang tidak kecil..
Ada dua fase penting yang menjadi latar untuk menjelaskan peran mereka di masa nabi. Pertama, Fase Makkah. Kedua, Fase Madinah. Bila ditinjau dari sirah nabawiah, pada kedua fase tersebut, wanita sangat berperan aktif.
Fase Makkah
Pada fase Makkah beberapa wanita yang bisa dijadikan contoh adalah:
Pertama, Khadijah binti Khuwailid: di samping sebagai wanita pertama yang masuk Islam, ia juga memainkan peran penting sebagai istri shalihah yang mampu menjadi pendukung (materi maupun rohani), penentram jiwa, penenang hati, mitra dialog asyik, serta pendidik hebat bagi anak-anak nabi. Kehidupannya adalah contoh ideal bagi setiap Muslimah yang berperan sebagai seorang istri.
Kedua, Samiyyah : Ibunda Ammar bin Yasir memerankan peran penting sebagai wanita mujahidah pertama yang dengan ketabahan, kesabaran, dan keyakinannya mengantarkannya pada kemulian syahid. Ia adalah wanita Muslim pertama yang mati fi sabilillah. Darinya Muslimah bisa belajar kemulian wanita bukan berada pada kedudukan dan harta, tetapi pada seberapa tabah memperjuangkan keimanan.
Ketiga, Asma binti Abu Bakar, Dzun Nithaqaini: Berperan penting dalam suksesi hijrah nabi. Ia adalah sosok wanita tangguh. Dalam kondisi hamil tua, menempuh jarak perjalanan sekitar delapan kilo dari Makkah sampai gua Tsur, mendaki gunung, bolak-balik sendirian selama tiga hari berturut-turut untuk mengantarkan bekal makan dan minum, penjaga rahasia, serta menyampaikan kabar terkini terkait perkembangan Makkah. Sosok sepertinya sangat layak untuk diteladani.
Keempat, Istri `Amir bin Rabi`ah: Di samping ikut hijrah ke Habasyah, ia juga memiliki firasat kuat tentang keislaman Umar bin Khattab yang waktu itu masih kafir
 Kelima, Ummu Salamah dan Ruqayyah binti Muhammad Shallallahu `alaihi wasallam: dengan kesabaran tinggi ia mampu berperan baik dalam hijrah ke Habasyah. Dengan begitu telaten dan sabar mereka mampu menjadi teladan bagi setiap Muslimah yang menghendaki kemulian.
Keenam, Fathimah binti Khattab: Wanita tabah dan pemberani, saudara Umar yang mempu mempertahankan keimanannya. Ia berperan besar dalam mengajak suami serta saudaranya dalam memeluk Islam. Sebagai wanita ia pemberani dan gigih dalam perjuangan.
Fase Madinah
Fase Madinah juga tak sepi dari peran wanita. Sebagai contoh: Pertama, Aisyah binti Abu Bakar: Di samping sebagai seorang istri ia juga berperan aktif dalam bidang kelimuan. Hafalan yang begitu kuat memungkinkannya menceritakan peristiwa yang ia alami sejak di Makkah hingga ihwal Rasulullallah. Hadits yang diriwayatkan begitu banyak (2210 hadits. Baca: Taisir Musṭalah al-Hadits, 107), pemahaman terkait fikih begitu mendalam, kemampuanya dalam memahami, menganalisa, dan mengambil faidah dari teks al-Qur`an dan Hadits begitu tinggi.
Kedua, Pada Perang Khandaq mereka menyiapkan makanan bagi para sahabat yang sedang menggali parit. Umayyah menceritakan bahwa ada perempuan muda dari Bani Ghifar yang turut serta dalam Perang Khaibar, ia bertugas mengobati luka dan memberi bantuan sesuai kadar kemampuan.
Ketiga, Ummu `Imarah Nasibah binti Ka`ab al-Maziniyah: Saat darurat berpartisipasi dalam medan jihad perang. Dalam perang Uhud ia turut berperang melindungi Rasulullah. Ia bertugas memberi minum para mujahid, bahkan sempat berperang. Dhimrah bin Sa`id –cucu Nasibah- pernah menghitung lukanya sekitar dua belas atau tiga belas luka tusukan (Sirah Nabawiah, Muhammad Shallabi).
Kelima, Ummu Salamah: Pasca perjanjian Hudaibiah berperan penting dalam memberikan pendapatnya kepada nabi terkait para sahabat yang tak segera menjalankan titah nabi. Di sini wanita juga berperan sebagai pihak yang bisa diajak musyawarah dengan suami untuk memecahkan masalah.
Keenam, ada riwayat dari Bukhari dan Muslim yang menjelaskan adanya seorang wanita  (ada yang berpendapat: Ummu Sulaim, sebagaimana penjelasan Ibnu Hajar di Fath al-bari) yang mengusulkan agar ada bagi wanita waktu khusus untuk ta`lim.  Para istri nabi pun berperan efektif dalam menjelaskan ihwal internal nabi yang perlu diketahui oleh umat. Mereka berperan aktif dalam pemberdayaan wanita.
Bila dirangkum, beberapa peran wanita dalam sirah nabawiah ialah: sebagai istri shalihah, penyokong dakwah, pendidik bagi anak-anaknnya, jihad di medan laga sesuai dengan bidang yang dikuasai, mitra musyawarah suami, dan pemberdayaan wanita sesuai dengan kodratnya. Demikianlah salah satu gambaran penting mengenai peran wanita di sirah nabawiah. Semoga setiap wanita Muslimah, mampu meneladani peran mereka.
Sebagai penutup perlu kiranya dibaca kembali hadits nabi: “Wanita adalah saudara kandung laki-laki.” (HR. Abu Daud, Tirmidzi). Mereka sama-sama memiliki peluang sama dalam berperan aktif mengaktualisasikan ketaatan pada Allah sesuai dengan kodrat masing-masing. Lantas apa peran kita?
Sumber Bacaan:
Muhammad Shallabi. Sirah Nabawiah.
Mahmud Budi Setiawan, Peran Wanita dalam Sirah Nabawiyah.
Sumber dari: https://wahdah.or.id/peran-wanita-dalam-sirah-nabawiyah/