Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Jika Masih Sakit Hati Karena Tidak Dihormati, Kamu Belum Layak Menjadi Orang yang Terhormat !


“Jika masih sakit hati karena tidak dihormati, artinya kita belum layak menjadi orang yang terhormat.” Kalimat ini memang bagai batu keras yang jatuh ke telaga hati, mengusik ketenangan permukaan. Namun, di balik rasa perih yang ditimbulkannya, tersembunyi cermin yang paling jujur. Ia memantulkan bayangan di mana harga diri kita masih terikat pada tali pengakuan dari luar. Setiap rasa tersinggung adalah gema dari ruang kosong dalam diri, yang menunggu diisi oleh pujian atau sikap sopan orang lain. Inilah pelajaran pertama yang pahit namun perlu: kehormatan sejati tidak pernah dimulai dari penghormatan orang lain, tetapi dari keberanian untuk melihat refleksi diri yang paling jernih.

Orang yang benar-benar terhormat tidak membangun istananya di atas tanah rentan berupa pujian dan penghormatan sesaat. Ia mendirikan bentengnya di atas bukit integritas yang kokoh, di mana angin sikap manusia tidak mampu menggerakkan fondasinya. Ketika dunia berubah sikap dan tidak memberinya penghormatan yang ia terima sebelumnya, ia tidak goyah. Sebab, martabatnya bukanlah lentera yang dinyalakan oleh orang lain, melainkan matahari dalam dirinya yang tetap bersinar bahkan dalam gelap. Ketidakacuhan atau sikap tidak sopan dari luar hanya bagai kabut pagi yang akan lenyap ditelan terangnya kesadaran akan nilai diri yang sejati.

Rasa sakit hati itu sendiri bukanlah musuh yang harus dibunuh, melainkan seorang guru yang keras namun bijak. Ia adalah tanda bahwa ego kita masih merindukan validasi, seperti anak kecil yang merentangkan tangan menunggu pelukan. Jangan hakimi rasa ini, tetapi peluklah dengan penuh pengertian. Dari sanalah, di antara remuknya hati yang bergantung pada dunia luar, benih kedewasaan mulai bertunas. Kita belajar membedakan: mana harga diri yang sejati, yang lahir dari menghormati diri sendiri, dan mana sekadar gengsi yang ingin dipamerkan. Proses ini adalah metamorfosis, dari kepompong yang rapuh menjadi kupu-kupu yang merdeka, terbang dengan sayapnya sendiri tanpa menengok ke bawah untuk melihat siapa yang sedang menatap.

Akhirnya, kehormatan sejati berwujud ketenangan yang dalam. Ia adalah samudra yang tetap luas dan hening, sekalipun permukaannya dihantam badai ketidakpedulian. Orang yang terhormat tidak sibuk mengutuk angin yang tidak mengarahkan layarnya, karena ia tahu arah pelayaran ditentukan oleh kompas di dalam hatinya. Ia tetap tenang, sebab ia mengenal dirinya dengan intim, lebih dari sekadar citra yang dikenakan untuk dunia. Bahkan ketika seluruh dunia salah membaca peta jiwanya, ia tidak perlu berteriak membenarkan diri. Sebab, kehormatan yang sebenarnya adalah musik yang hanya bisa didengar dengan jelas dalam kesunyian jiwa yang telah berdamai dengan keberadaannya sendiri.

Post a Comment for "Jika Masih Sakit Hati Karena Tidak Dihormati, Kamu Belum Layak Menjadi Orang yang Terhormat !"