Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Anak-anak dan Masa Depan Generasi Kita

Ketika kita membeli sebuah barang katakanlah sepeda motor. Pasti kita akan diberikan sebuah kartu servis dan buku petunjuk yang berisi panduan penggunaan sepeda motor tersebut. Jika ingin awet maka harus selalu dirawat dan diservis sesuai dengan alur standar yang telah ditetapkan oleh pabrik tempat memproduksi sepeda motor tersebut. Jika kita sebagai konsumen dan pemakai tidak pernah menservis atau tidak mau melakukan perawatan sepeda motor sesuai panduan yang diberikan oleh pabrik maka dapat dipastikan sepeda motor tersebut akan cepat rusak.

 

Ayah bunda, gambaran di atas hanyalah sebuah ilustrasi sederhana yang saya sampaikan sebelum membahas tema ini. Lain cerita, tersebarlah video tentang seorang anak yang sedang tidur. Namun ternyata bukan hanya sekedar tidur. Anak tersebut bukan hanya sekedar tidur layaknya tidurnya anak-anak. Dari gaya anak tersebut, orang sekarang akan tahu bahwa tidur anak tersebut dipastikan terindikasi pernah bahkan sering bermain tiktok ketika terjaga sehingga terbawa sampai tidurnya.

 

Ayah bunda, coba kita ingat-ingat ketika ayah bunda dahulu menikah. Salah satu yang ayah bunda cita-citakan adalah mempunyai anak yang akan melanjutkan estafet dan kalangsungan keturunan ayah bunda. Tentunya bukan hanya sekedar melangsungkan keturunan semata. Pasti juga berharap kebaikan dengan segudang keberkahan hidup yang lebih baik dari kehidupan yang ayah bunda alami. Sebagian bahkan menginginkan Ananda mendapatkan pendidikan terbaik, pendidikan agama dan umum yang seimbang agar kelak bisa mengaji tidak seperti orang tuanya dulu. Harapan yang sesederhana ini kelak akan tumbuh membesar seiring perkembangan pendidikan anak masa sekarang.

 

Saya sebagai orang tua juga berharap hal yang sama terhadap anak saya nanti. Saya kira pasti semua ayah bunda mengarapkan seperti itu. Harapan dan cita-cita untuk kebaikan anak-anak kita nantinya. Namun tanpa sadar kita sebagai orang tua ternyata lebih banyak mengabaikan anak kita, cita-cita dan harapan yang kita idam-idamkan kadang terlupa hanya terlena oleh pekerjaan dan kesibukan mencari penghidupan sementara. Saya tidak menyalahkan anda, saya katakan oke tidak mengapa. Itu pilihan masing-masing. Namun tahukan ayah bunda, di luar sana banyak sekali pasangan suami istri yang sudah menikah lama dan sangat mengarapkan karunia Tuhan berupa kehadiran anak dalam rahimnya. Mereka sudah mencoba dan berusaha untuk mendapatkan momongan sebagaimana anda mendapatkannya dengan mudah. Coba ayah bunda renungkan ini, kita sebagai orang tua dikaruniai anak oleh Tuhan adalah sebagai titipan juga sekaligus amanah langit yang luar biasa. Mohon jangan sia-siakan ini, suatu saat nikmat ini pun akan dicabut dari kita, Kelak pun akan dipertanggung jawabkan sebagai amanah kita.

 

Ayah Bunda, jika Tuhan memberikan kita amanah tersebut apakah pantas kita mengabaikannya dengan sesuatu yang diluar jalurnya. Ini menjadi catatan sendiri tentang pendidikan di keluarga. Sesuatu yang hilang dan akan berefek pada generasi selanjutnya adalah keteladan kita sebagai orang tua. MasyaAllah, saya sebagai orang tua sekaligus guru di sekolah merasa prihatin ketika melihat anak-anak belia yang pintar dan nyaris sempurna berjoget joget bermain TikTok layaknya para selebritis papan atas. Suatu saat saya bertanya kepada salah satu anak, “Nak, kamu bisa bermain seperti itu darimana belajarnya?”, “di HP Mama ada aplikasinya Pak, Mama juga kadang main TikTok-an bareng”, jawab salah satu anak dengan polosnya.  Sebuah fenomena yang nyaris biasa di zaman TikTok ini.

 

Lain hari saya bertanya dengan anak yang sama dan beberapa anak lainnya. “Nak, kalian shudah sholat belum tadi?”, “Belum Pak, lha Mama nya tadi nggak bangunin”, jawab salah satu anak. Anak lain ada yang menjawab “Aku nggak sholat Pak, Bapak Ibu nggak di rumah tadi”. Anak yang lain menjawab “Aku tadi ndak sholat Pak, bangunnya telat”, lha kalau pagi apa kamu nggak pernah sholat Subuh? “Enggak Pak, Mama nggak pernah bangunin aku sholat subuh, banguninnya kalau sudah jam 6 buat sekolah” Jawab anak tersebut dengan polosnya. Lain kesempatan saat lihat satu anak sedang sholat saya melihat anak tersebut hanya diam atau hanya komat kamit entah apa yang dibaca. Setelah selesai saya tanya “Nak tadi kamu baca apa?” dia hanya tertawa dan nggak mau jawab. Saya tahu anak tersebut hanya komat kamit tanpa tahu apa yang harus dibaca ketika sholat.

 

Fenomena ini seharusnya menjadi pukulan berat bagi kita orang tua. Sebagai madrasah atau sekolah pertama buat anak-anak kita. Apakah sejatinya yang kita harapkan. Apakah itu yang kita mau? Anak-anak yang kualitasnya seperti itu? Bagaimana kabarnya dengan harapan kita, apakah sudah pupus begitu saja, semoga tidak. Jangan sampai gerakan tarian TikTok anak kita lebih sempurna dan lebih keren daripada gerakan shalat anak kita.

 

Ketika melihat fenomena demikian seakan rasanya harapan itu pudar. Namun Ayah Bunda, mari lebih bijak dalam menyikapi fenomena ini. Hal yang perlu diperbaiki sekarang adalah pertama, menghadirkan niat dan recharging kembali harapan kita yang sempat terbengkalai oleh waktu. Hadirkan kembali harapan itu dan berkomitmen untuk kembali dan berusaha untuk memperbaikinya.

 

Kedua, mari hadirkan kembali keteladanan yang sempat tertunda karena kesibukan kita. Kesibukan yang menghanguskan keberadaan kita ditengah-tengah keluarga kita. Anak-anak membutuhkan sosok yang perlu diteladani sebagai wujud tali pancang yang menjadi pengikatnya. Setidaknya dengan keteladanan yang sedikit dapat kita wujudkan harapan itu sedikit demi sedikit akan bersemi kembali. Mulailah dari memperbaiki sholat ayah bunda, berjamaah bersama. Hadirkan kebersamaan yang dekat dengan anak-anak. Seiring berjalannya waktu anak akan terbiasa dengan sholat 5 waktu.

 

Ketiga, hal yang tidak bisa lepas dari kehidupan keluarga adalah bagaimana agar ilmu kita bisa terus terupdate. Yaitu dengan memperbanyak menimba ilmu-ilmu agama maupun parenting. Menghadiri mejelis-mejelis taklim bukan hanya sekedar formalitas belaka namun juga sebagai recharging ruhani manusia bahkan sejatinya jiwa-jiwa kita butuh akan makanan layaknya jasmani yang membutuhkan asupan makanan.

 

InsyaAllah ketiga hal ini jika dilaksanakan akan menghasilkan power yang hebat dalam membentuk generasi kita di masa depan. Semoga sedikit renungan ini bisa menjadi perhatian kita sebagai orang tua. Salam hebat untuk generasi kita dan masa depan generasi anak cucu kita. Fastabiqul khoirot…

@ziyadquds


Post a comment for "Anak-anak dan Masa Depan Generasi Kita"