Anak Cermin Orang Tua

Aku adalah Dirimu, Ayah Bunda.
Jangan terlalu menyalahkan anakmu, sifat dan sikap anakmu mengenalkan siapa dirimu.
Jika anakmu berbohong,itu karena engkau menghukumnya terlalu berat.
Jika anakmu tidak percaya diri, itu karena engkau tidak memberi dia semangat.
Jika anakmu kurang berbicara, itu karena engkau tidak mengajaknya berbicara.
Jika anakmu mencuri, itu karena engkau tidak mengajarinya memberi.
Jika anakmu pengecut, itu karena engkau selalu membelanya.
Jika anakmu tidak menghargai orang lain, itu karena engkau berbicara terlalu keras kepadanya.
Jika anakmu suka marah, itu karena engkau kurang memujinya.
Jika anakmu suka berbicara pedas, itu karena engkau tidak berbagi dengannya.
Jika anakmu mengkasari orang lain, itu karena engkau suka melakukan kekerasan terhadapnya.
Jika anakmu lemah, itu karena engkau suka mengancamnya.
Jika anakmu cemburu, itu karena engkau menelantarkannya.
Jika anakmu mengganggumu, itu karena engkau kurang mencium dan memeluknya.
Jika anakmu tidak mematuhimu, itu karena engkau menuntut terlalu banyak padanya.
Dan jika anakmu tertutup, itu karena engkau terlalu sibuk.

Seperti ini Bercanda yang Membinasakan Jika Tidak Tahu Adabnya

www.ziyad.web.id
Jangan sampai bercandamu ditumpangi curhatan setan.

 Sebelum anda membaca keseluruhan tulisan ini, alangkah lebih baiknya menonton video berikut ini:

Sering kita menemui di sekitar kita candaan atau kelakar, entah itu teman, saudara, guru baik dari kalangan rakyat jelata, da'i, pastur bahkan pejabat sekelas presiden pun. Ada yang tujuannya memang untuk menghibur orang lain, ada yang semata-mata mencari profit dengan profesi sebagai komedian, ada yang memang benar-benar sudah menjadi sifat dan karakter masing-masing individu. Terkadang kita akan menjumpai masing-masing individu berbeda dari yang lain. Ada yang memang suka bergurau dan berkelakar. Namun tak jarang ada pribadi yang sangat sulit bahkan tidak suka bercanda dengan alasannya masing-masing.

Yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana kita menyikapi permasalahan ini. Bagaimana adab-adab bercanda? Apa larangan-larangan ketika bercanda ria? Dengan siapa harus bercanda? dan apa yang tidak boleh dicandakan?

Di antara adab-adab ketika bercanda adalah:

1. Tidak boleh bercanda dengan berbohong atau dusta

2. Tidak tertawa secara berlebih-lebihan

3. Tidak menakut-nakuti

4. Tidak bercanda dengan menggunakan ayat-ayat al-Quran

5. Tidak mengolok-olok lewat candaan


Penjelasan mengenai adab-adab bercanda yang tepat dan sesuai tempatnya:

1. Tidak berbohong atau berdusta

Apabila seorang bercanda dengan kedustaan, ia telah keluar dari batasan mubah (boleh) kepada keharaman. Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
وَيْلٌ لِلَّذِى يُحَدِّثُ فَيَكْذِبُ لِيُضْحِكَ بِهِ الْقَوْمَ، وَيْلٌ لَهُ، وَيْلٌ لَهُ

“Celakalah orang yang bercerita lalu berdusta untuk membuat tawa manusia, celakalah ia, celakalah ia.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, at-Tirmidzi, dan al-Hakim dari Mu’awiyah bin Haidah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Asy-Syaikh al-Albani rahimahullah menyatakannya hasan dalam Shahih al-Jami’).

2. Tidak Tertawa Berlebihan

Rasulullah bersabda:

لاَ تُكْثِرِ الضَّحِكَ فَإِنَّ كَثْرَةَ الضَّحِكِ تُمِيْتُ الْقَلْبَ

“Janganlah engkau sering tertawa, karena sering tertawa akan mematikan hati.” (Shahih Sunan Ibnu Majah no. 3400)

Al – Imam an – Nawawi rahimahullah menerangkan, “Ketahuilah, bercanda yang dilarang adalah yang mengandung bentuk melampaui batas dan dilakukan secara terus-menerus. Sebab, hal ini bisa menimbulkan tawa (yang berlebihan), kerasnya hati, melalaikan dari mengingat Allah Subhanahu wata’ala dan memikirkan hal-hal penting dalam agama. Bahkan, seringnya berujung pada menyakiti orang, menimbulkan kedengkian, dan menjatuhkan kewibawaan. Adapun candaan yang jauh dari ini semua, dibolehkan, seperti yang pernah dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dahulu, namun tidak terlalu sering. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam melakukannya untuk sebuah maslahat, yaitu menyenangkan dan menenteramkan hati orang yang diajak bicara. Yang seperti ini sunnah. (Syarah ath-Thibi rahimahullah terhadap al-Misykat 10/3140).

3. Tidak boleh Menakut-nakuti
Fungsi dari candaan adalah untuk meringankan sesuatu yang berat. misalnya untuk menghibur teman yang sedang dirundung masalah ataupun sesuatu yang lain. Tentu menakut-nakuti merupakan sesuatu yang bertolak belakang dengan fungsi tersebut.

4. Tidak Bercanda dengan Ayat-ayat al-Quran


Tidak diperkenankan seseorang bermain-main dengan ayat-ayat al-Quran. Sehingga mengakibatkan bisa merendahkan ayat-ayat suci al-Quran yang mulia. Sedangkan ayat-ayat al-Quran adalah firman Allah SWT. Lalu bagaimana apabila mempermainkan firman-firman Allah? maka sama saja dengan mempermainkan yang pencipta alam semesta ini.

5. Tidak Mengolok-olok Lewat Candaan

Cukuplah satu firman Allah SWT dalam al-Quran ini sebagai dalil larangan mengolok-olok walaupun lewat candaan sehingga mengakibatkan adanya permusuhan dan pertengkaran antar sesama.

”Hai orang-orang yang beriman janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain, boleh jadi mereka (yang diolok-olok) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok) dan jangan pula wanita-wanita (mengolok-olok) wanita lain, boleh jadi wanita-wanita (yang diolok-olok) lebih baik dari wanita (yang mengolok-olok) dan janganlah kamu memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan ialah panggilan yang buruk sesudah beriman dan barangsiapa yang tidak bertaubat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim” (QS. Al Hujarat : 11).



Agenda Besar dibalik Isu LGBT

Binatang saja tidak ada yang kawin sesama betina atau sesama jantan
LGBT yang merupakan singkatan dari Lesbian Gay Bisexual dan Transgender akhir-akhir ini memang sedang hangat hangatnya diberitakan di media Indonesia. Namun sebenarnya isu-isu tentang LGBT di luar sudah merebak sejak lama. Puncaknya adalah ketika negara superior Amerika secara resmi melegalkan perkawinan sejenis ini. Sehingga hal ini berdakpak serius kepada negara-negara pengekor seperti Indonesia. Semua seolah diikuti entah itu baik ataupun buruk. Bahkan sesuatu yang bisa merendahkan serta menistakan adab-adab ketimuran bangsa Indonesia yang beradab dan berdaulat ini.

Berikut tulisan dari Imam Shamsi Ali yang merupakan imam besar masjid Indonesia di New York Amerika Serikat dengan judul "LGBT: sebuah isu untuk tujuan besar"

Akhir-akhir ini tanah air tercinta dilanda demam. Biasa demam sebuah isu besar. Dan semoga demam itu tidak menipu perhatian umat. Bahwa demam itu adalah sebuah "tanda" dari akar permasalahan yang lebih akut.
Dengan demikian jangan sampai energi dan perhatian terkuras menangani tanda atau "symptom" (indikator), lalu terlupakan isu yang sesungguhya ingin dikembangkan.

LGBT didunia barat

Di dunia barat LGBT sudah demikian lama digemborkan, dan bahkan menjadi bagian dari pembahasan HAM dan kebebasan (Freedom & Human Rights). Kemenangan penggagas LGBT salah satunya adalah keberhasilan mereka menjadikan isu ini sebagai isu HAM dan Freedom.

Artinya menentang LGBT adalah penentangan terhadap hak asasi dan kebebasan manusia itu sendiri. Konsekwensinya adalah politisi atau agamawan atau siapapun yang punya pendapat yang berlawanan dengan para pendukung LGBT akan dianggap menentang HAM dan kebebasan, bahkan dianggap tidak sejalan dengan nilai-nilai demokrasi dan modernitas.

Lebih jauh lagi, menawarkan solusi atau apa yang biasa disebut "counseling" terhadap pengidap kecenderungan LGBT akan dianggap peperangan terhadap HAM dan kebebasan. Di sebagian negara bagian bahkan menawarkan counseling dapat dianggap kriminal.

Di Amerika sendiri dukungan terhadap LGBT ini meningkat drastis setelah menjadi bahasan hangat para politisi. Puncaknya ketika dua partai besar Amerika berbeda pendapat terhadap isu ini. Demokrat mendukung sepenuhnya dan Republikans, walau tidak sepenuhnya menilak LGBT, tapi menolak perkawinan sejenis.

Puncak dukungan kemudian terjadi ketika komunitas Hollywood turun tangan. Mereka secara massive mendukung LGBT, dan bahkan kampanye perkawinan sejenis. Dari statement, film-film, bahkan dukungan finansial mengalir ke para politisi yang mendukung LGBT.

Dukungan itu kemudian terakumulasi dalam bentuk lobby-lobby, baik di White House maupun Kongress, untuk meloloskan agenda-agenda mereka. Keberhasilan demi keberhasilan mereka raih, mulai dari tingkatan negara bagian (states) hingga puncaknya ketika mereka memenangkan kasus mereka di pengadilan tinggi Amerika (Supreme Court) beberapa bulan lalu.

Dengan kemenangan mereka di Supreme Court menjadikan Amerika, dan beberapa negara Eropa lainnya, menjadi negara yang resmi menghalalkan perkawinan sejenis (same sex marriage).

Agenda besar

Ada satu hal yang sering kita lupakan. Bahwa di dunia kita sekarang sedang terjadi pertarungan sengit (qitaal). Pertarungan itu bukan antara Muslim dan non Muslim, atau antara Sunni dan Syiah, apalagi antara Muhammadiyah dan NU, atau Syafi dan Hambali, Sufi dan Wahabi.

Sesungguhnya yang terjadi saat ini adalah peperangan sengit yang sedang terjadi antara kekuatan agama dan moralitas dan kekuatan sekuler dan anti agama. A war of secular and anti religious forces against religious and moral forces, dalam bahasa seorang ahli.

Kita ingat bahwa sejak beberapa dekade terakhir Tuhan atau agama kembali memainkan peranan krusial di kehidupan publik manusia. Pemain atau actors dan para pengambil kebijakan kerap kali kembali melibatkan agama, atau tepatnya pimpinan agama, dalam pengambilan keputusan untuk urusan publik.

Terakhir bahkan Sekejn PBB berencana untuk membentuk "religious advisory council" setelah sekian lama ada ECOSOC atau Economic Social Council. Presiden Amerika, bahkan di masa Bush membentuk apa yang disebut "Religious Initiative" untuk memberikan masukan-masukan kepada presiden dalam mengambil keputusan publiknya.

Kenyataan ini menjadikan kekuatan sekuker dan anti agama semakin agresif. Mereka yang pernah mendeklarasikan kematian tuhan (God is dead) semakin terusik dengan perkembangan agama dan semakin meluasnya peranan agama dalam kehidupan publik.

Seujurnya bahkan religiuisasi (mengagamakan) terorisme dan perang juga menjadi bagian dari monsterisasi agama. Dengan menculik agama sebagai sumber teror dan peperangan menjadikan agama sebagai momok yang semakin menakutkan.

Dengan demikian, agresifitas pengembangan LGBT harus dilihat dari perspektif yang lebih besar. Bersikukuh pada isu LGBT bisa jadi menjadikan kita terlupa akan agenda yang lebih besar. Yaitu memerangi agama dan moralitas dalam kehidupan manusia. Yang pada akhirnya memang bertujuan untuk membangun kehidupan yang "laa diiniyah wa laa khuluqiyah" (tanpa agama dan akhlak).

Komprehensif approach

Untuk itu menghadapi gencarnya kampanye dukungan terhadap LGBT diperlukan pendekatan yang menyeluruh. Jangan terpusat pada satu isu. Sebab boleh jadi kita masih sibuk dengan satu isu, mereka sudah mengembangkan ke isu lain dalam rangka agenda besar tadi.

Dimulai dari pembenahan sistim kekeluargaan, pendidikan anak, sistim kehidupan sosial, hingga kepada pengembangan kultur yang berasas religi dan moral.

Semua itu tentuny memerlukan dukungan politik dan kekuatan finansial.

Oleh karenanya para guru, asatidz, dan para pemain di sektor politik harus bergandengan tangan untuk membangun strategi yang pas dan solid. Tugas ini bukan sekedar tugas sepihak dari tatanan kebangsaan. Tapi tugas kolektif dari seluruh komponen bangsa.

Jangan terperangkap

Sekali lagi tujuan besar dari gerakan massive itu adalah mematikan peranan agama dan moralitas dalam kehidupan. Oleh karenanya jangan sampai dalam upaya menangkal lalu yang terjadi adalah justifikasi.

Maksudnya metode penangkalan terhadap LGBT itu jangan sampai menjadi justifikadi bahwa agama memang tidak sejalan dengan nilai-nilai peradaban modern (values of modern civilization). Dengan metode yang kurang tepat jangan sampai menjadi jsutifikasi bahwa agama itu memang benar anti HAM dan kebebasan.

Oleh karenanya perlu perumusan metode yang cerdik, manusia, tapi mengena dan efektif. Dan ini memerlukan keluasan visi, ketajaman analisa, dan kejelian dalam melihat peluang atau juga tantangan yang akan ditimbulkannya.

"Iqra' bismi Rabbik".

New York, 14 Pebruari 2016

* Imam masjid Indonesia di New York.

Apakah Harus Menempelkan Mata Kaki dalam Shaf Shalat?

Bukan hal yang aneh kalau sebelum shalat, pak imam mengingatkan para jamaah sambil memeriksa barisan, ”Mohon shafnya dirapat dan diluruskan”. Tapi pernahkan berdiri di samping Anda jamaah yang suka memepet-mepetkan kakinya ke kaki Anda? Bahkan hampir menginjak anda atau kaki jamaah lain?. Kalau Anda pernah mengalaminya, dan agak merasa risih, terus terang Penulis juga pernah mengalaminya. Dan ternyata tidak sedikit mereka yang mengalami dipepet-pepet seperti itu.

Sampai ada seorang jamaah di satu masjid curhat kepada penulis,”Pokoknya saya tidak mau shalat di samping dia!”, katanya. ”Kenapa?” tanya Penulis. ”Kakinya itu lho, masak saya dipepet-pepet terus sampai mau diinjak. Shalat saya malah jadi tidak khusyu’.”
Beberapa hari yang lalu, Penulis ditanya seseorang tentang hadits keharusan  saling menempelnya mata kaki, sebagai bentuk kesempurnaan shaf. Katanya haditsnya shahih diriwyatkan oleh Al-Bukhari dalam kitab Shahihnya. Dan ternyata memang hadits inilah yang disinyalir menjadi pijakan teman-teman yang beranggapan bahwa kaki harus benar-benar nempel dengan kaki jamaah lain.

Masalah ini mari kita bahas dengan kepala dingin, dengan merujuk ke kitab-kitab para ulama yang muktamad. Mari kita telusuri dan dengan seksama apa komentar para ulama dalam hal ini.

A. Nash Hadits

Tidak keliru kalau dikatakan bahwa keharusan menempel itu berdasarkan hadits-hadits yang shahih, bahkan diriwayatkan oleh Bukhari. Dan jumlahnya bukan hanya satu, tetapi cukup banyak kita temukan.

Namun kalau kita teliti di hulunya, rata-rata semuanya kembali kepada dua di level  shahabat; yaitu riwayat Anas bin Malik dan An-Nu’man bin Basyir radhiyallahuanhuma.

Sampai disini, kita semua sepakat bahwa urusan menempel ini memang ada haditsnya dan statusnya adalah hadits yang shahih.

Tetapi apakah kalau suatu hadits itu shahih, lantas bisa langsung menjadi dipastikan hukumnya jadi wajib? Dan apakah berdosa kalau tidak diamalkan?

Jawabnya tentu tidak sekedar bilang iya. Kita perlu lihat dulu apa dan bagaimana penjelasan dari para fuqaha dan ulama tentang urusan pengertian hadits ini.

Sebab kajian yang ilmiyah adalah kajian yang berciri hati-hati dan tidak terlalu terburu-buru mengambil kesimpulan. Mari kita bahas dahulu analisa para ulama.

1. Hadits Riwayat Anas bin Malik

حَدَّثَنَا عَمْرُو بْنُ خَالِدٍ قَالَ: حَدَّثَنَا زُهَيْرٌ عَنْ حُمَيْدٍ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: أَقِيمُوا صُفُوفَكُمْ فَإِنِّي أَرَاكُمْ مِنْ وَرَاءِ ظَهْرِي وَكَانَ أَحَدُنَا يُلْزِقُ مَنْكِبَهُ بِمَنْكِبِ صَاحِبِهِ وَقَدَمَهُ بِقَدَمِهِ»

Dari Anas bin Malik dari Nabi Muhammad shallaAllah alaih wasallam: ”Tegakkanlah shaf kalian, karena saya melihat kalian dari belakang pundakku.” ada diantara kami orang yang menempelkan bahunya dengan bahu temannya dan telapak kaki dengan telapak kakinya.(HR. Al-Bukhari)

Al-Imam Al-Bukhari mencantumkan teks hadits ini dalam kitab As-Shahih, pada Bab Merapatkan Pundak Dengan Pundak dan Telapak Kaki dengan Telapak Kaki, hal. 1/146.

Catatan

Riwayat dari Anas bin Malik radhiyallahuanhu menggunakan redaksi [القدم], sehingga Imam Bukhari pun mengawali hadits dengan judul merapatkan pundak dengan pundak dan telapak kaki dengan telapak kaki.

2. Hadits Riwayat an-Nu’man bin Basyir

وَقَالَ النُّعْمَانُ بْنُ بَشِيرٍ: رَأَيْتُ الرَّجُلَ مِنَّا يُلْزِقُ كَعْبَهُ بِكَعْبِ صَاحِبِهِ

An-Nu’man bin Basyir berkata: Saya melihat laki-laki diantara kami ada yang menempelkan mata kakinya dengan mata kaki temannya(HR. Bukhari)

Hadits kedua ini juga diriwayatkan oleh Al-Imam Al-Bukhari dalam kitab As-Shshahih, pada bab yang sama dengan hadits di atas.

Catatan

Hadits kedua ini mu’allaq dalam shahih Bukhari, hadits ini lengkapnya adalah:

حَدَّثَنَا وَكِيعٌ, حَدَّثَنَا زَكَرِيَّا, عَنْ أَبِي الْقَاسِمِ الْجَدَلِيِّ, قَالَ أَبِي: وحَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ هَارُونَ, أَخْبَرَنَا زَكَرِيَّا, عَنْ حُسَيْنِ بْنِ الْحَارِثِ أَبِي الْقَاسِمِ, أَنَّهُ سَمِعَ النُّعْمَانَ بْنَ بَشِيرٍ, قَالَ: أَقْبَلَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِوَجْهِهِ عَلَى النَّاسِ, فَقَالَ: " أَقِيمُوا صُفُوفَكُمْ, ثَلَاثًا وَاللهِ لَتُقِيمُنَّ صُفُوفَكُمْ أَوْ لَيُخَالِفَنَّ اللهُ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ " قَالَ: " فَرَأَيْتُ الرَّجُلَ يُلْزِقُ كَعْبَهُ بِكَعْبِ صَاحِبِهِ, وَرُكْبَتَهُ بِرُكْبَتِهِ وَمَنْكِبَهُ بِمَنْكِبِهِ

An-Nu’man bin Basyir berkata: Rasulullah menghadap kepada manusia, lalu berkata: Tegakkanlah shaf kalian!; tiga kali. Demi Allah, tegakkanlah shaf kalian, atau Allah akan membuat perselisihan diantara hati kalian. Lalu an-Nu’man bin Basyir berkata: Saya melihat laki-laki menempelkan mata kakinya dengan mata kaki temannya, dengkul dengan dengkul dan bahu dengan bahu.

Selain diriwayatkan oleh Al-Imam Al-Bukhari, hadits-hadits ini juga diriwayatkan oleh para ulama hadits, diantaranya

    Al-Imam Abu Daud dalam kitab Sunan-nya, 1/ 178,
    Al-Imam Ahmad bin Hanbal dalam kitab Musnad-nya, hal. 30/378,
    Al-Imam Ad-Daraquthni dalam kitab Sunan-nya hal. 2/28,
    Al-Imam Al-Baihaqi dalam kitab Sunan-nya hal. 1/123]

Catatan

Setelah Nabi memerintahkan menegakkan shaf, shahabat yang bernama An-Nu’man bin Basyir radhiyallahuanhu melihat seorang laki-laki yang menempelkan mata kaki, dengkul dan bahunya kepada temannya.

B. Kajian dan Pembahasan Hadits


Dalam pembahasan hadits kali ini, kita akan kemukakan dahulu komentar para ulama terkait implementasi hukum dari hadits ini.

Memang para ulama berbeda-beda dalam memberi komentar serta menarik kesimpulan hukum. Ada yang cenderung agak galak mengharuskan kita melihat tektualnya, dan dan ada juga yang melihat maqashidnya. Kita mulai dari yang cukup ”galak” dalam memahami hadits ini.

1. Komentar Syeikh Nashiruddin Al-Albani
Syeikh Nashiruddin al-Albani (w. 1420 H) dalam kitabnya, Silsilat al-Ahadits as-Shahihah, hal. 6/77 menuliskan :

وقد أنكر بعض الكاتبين في العصر الحاضر هذا الإلزاق, وزعم أنه هيئة زائدة على الوارد, فيها إيغال في تطبيق السنة! وزعم أن المراد بالإلزاق الحث على سد الخلل لا حقيقة الإلزاق, وهذا تعطيل للأحكام العملية, يشبه تماما تعطيل الصفات الإلهية, بل هذا أسوأ منه

Sebagian penulis zaman ini telah mengingkari adanya ilzaq (menempelkan mata kaki, dengkul, bahu) ini, hal ini bisa dikatakan menjauhkan dari menerapkan sunnah. Dia menyangka bahwa yang dimaksud dengan “ilzaq” adalah anjuran untuk merapatkan barisan saja, bukan benar-benar menempel. Hal tersebut merupakan ta’thil (pengingkaran) terhadap hukum-hukum yang bersifat alamiyyah, persis sebagaimana ta’thil (pengingkaran) dalam sifat Ilahiyyah. Bahkan lebih jelek dari itu.
Al-Albani secara tegas memandang bahwa yang dimaksud ilzaq dalam hadits adalah benar-benar menempel. Artinya, sesama mata kaki, sesama dengkul dan sesama bahu harus benar nempel dengan orang di sampingnya. Dan itulah yang dia katakan sebagai SUNNAH Nabi.

Tak hanya berhenti sampai disitu, Al-Albani dalam bukunya juga mengancam mereka yang tidak sependapat dengan pendapatnya, sebagai orang yang ingkar kepada sifat Allah.

Maksudnya kalau orang berpendapat bahwa ilzaq itu hanya sekedar anjuran untuk merapatkan barisan, dan bukan benar-benar saling menempelkan bahu dengan bahu, dengkul dengan dengkul , dan mata kaki dengan mata kaki, sebagai orang yang muatthil. Maksudnya orang itu dianggap telah ingkar terhadap sifat Allah, bahkan keadaanya lebih jelek dari itu.

Untuk itu pendapat Al-Albani ini didukung oleh murid-murid setianya. Dimana-mana mereka menegaskan bahwa ilzaq ini disebut sebagai sunnah mahjurah, yaitu sunnah yang telah banyak ditinggalkan oleh orang-orang. Oleh karena itu perlu untuk dihidup-hidupkan lag di masa sekarang.

Wah, pedas juga komentarnya. Kira-kira siapakah penulis abad ini yang dimaksud al-Albani ya?

2. Syeikh Bakr Abu Zaid  :  Imam Masjid An-Nabawi Anggota Hai'at Kibar Ulama Saudi Arabia

Syeikh Bakr Abu Zaid (w. 1429 H) adalah salah seorang ulama Saudi yang pernah menjadi Imam Masjid Nabawi, dan menjadi salah satu anggota Haiah Kibar Ulama Saudi. Beliau menulis kitab yang berjudul La Jadida fi Ahkam as-Shalat(Tidak Ada Yang Baru Dalam Hukum Shalat), hal. 13.  Dalam tulisannya Syiekh Bakr Abu Zaid agak berbeda dengan pendapat Al-Albani :

وإِلزاق الكتف بالكتف في كل قيام, تكلف ظاهر وإِلزاق الركبة بالركبة مستحيل وإِلزاق الكعب بالكعب فيه من التعذروالتكلف والمعاناة والتحفز والاشتغال به في كل ركعة ما هو بيِّن ظاهر.

Menempelkan bahu dengan bahu di setiap berdiri adalah takalluf (memberat-beratkan) yang nyata. Menempelkan dengkul dengan dengkul adalah sesuatu yang mustahil, menempelkan mata kaki dengan mata kaki adalah hal yang susah dilakukan.

Bakr Abu Zaid melanjutkan:

فهذا فَهْم الصحابي - رضي الله عنه - في التسوية: الاستقامة, وسد الخلل لا الإِلزاق وإِلصاق المناكب والكعاب. فظهر أَن المراد: الحث على سد الخلل واستقامة الصف وتعديله لا حقيقة الإِلزاق والإِلصاق

Inilah yang difahami para shahabat dalam taswiyah shaf: Istiqamah, menutup sela-sela. Bukan menempelkan bahu dan mata kaki. Maka dari itu, maksud sebenarnya adalah anjuran untuk menutup sela-sela, istiqamah dalam shaf, bukan benar-benar menempelkan.

Jadi, menurut Syeikh Bakr Abu Zaid (w. 1429 H) hadits itu bukan berarti dipahami harus benar-benar menempelkan mata mata kaki, dengkul dan bahu. Namun hadits ini hanya anjuran untuk merapatkan dan meluruskan shaf.

Haditsnya sama, tapi berbeda dalam memahaminya. Pendapat Bakr Abu Zaid ini berseberangan dengan pendapat Al-Albani. Hanya saja al-Albani cukup ”galak”, dengan mengatakan bahwa yang berbeda dengan pemahaman dia, dianggap lebih jelek daripada ta’thil/ inkar terhadap sifah Allah.

3. Komentar Muhammad bin Shalih al-Utsaimin

Mari kita telusuri lagi pendapat yang lain, kita temui ulama besar Saudi Arabia, Syeikh Shalih al-Utsaimin (w. 1421 H). Beliau ini juga  pernah ditanya tentang menempelkan mata kaki. Dan beliau pun menjawab saat itu dengan jawaban yang agak berseberangan dengan pendapat Al-Albani.

أن كل واحد منهم يلصق كعبه بكعب جاره لتحقق المحاذاة وتسوية الصف, فهو ليس مقصوداً لذاته لكنه مقصود لغيره كما ذكر بعض أهل العلم, ولهذا إذا تمت الصفوف وقام الناس ينبغي لكل واحد أن يلصق كعبه بكعب صاحبه لتحقق المساواة, وليس معنى ذلك أن يلازم هذا الإلصاق ويبقى ملازماً له في جميع الصلاة.

Setiap masing-masing jamaah hendaknya menempelkan mata kaki dengan jamaah sampingnya, agar shaf benar-benar lurus. Tapi menempelkan mata kaki itu bukan tujuan intinya, tapi ada tujuan lain. Maka dari itu, jika telah sempurna shaf dan para jamaah telah berdiri, hendaklah jamaah itu menempelkan mata kaki dengan jamaah lain agar shafnya lurus. Maksudnya bukan terus menerus menempel sampai selesai shalat.

Lihat : Muhammad bin Shalih al-Utsaimin; w. 1421 H, Fatawa Arkan al-Iman, hal. 1/ 311

Ternyata Syiekh Al-Utsaimin sendiri memandang bahwa menempelkan mata kaki itu bukan tujuan inti. Menempelkan kaki itu hanyalah suatu sarana bagaimaan agar shaf shalat bisa benar-benar lurus.

Jadi menempelkan mata kaki dilakukan hanya di awal sebelum shalat saja. Dan begitu shalat sudah mulai berjalan, sudah tidak perlu lagi. Maka tidak perlu sepanjang shalat seseorang terus berupaya menempel-nempelkna kakinya ke kaki orang lain, yang membuat jadi tidak khusyu' shalatnya.

4. Komentar Ibnu Rajab al-Hanbali

Ibnu Rajab al-Hanbali (w. 795 H) termasuk ulama besar yang menulis kitab penjelasan dari Kitab Shahih Bukhari. Ibnu Rajab menuliskan:

حديث أنس هذا: يدل على أن تسوية الصفوف: محاذاة المناكب والأقدام.

Hadits Anas ini menunjukkan bahwa yang dimaksud meluruskan shaf adalah lurusnya bahu dan telapak kaki.

lihat : Ibnu Rajab al-Hanbali; w. 795 H, Fathu al-Bari, hal.6/ 282.

Nampaknya Ibnu Rajab lebih memandang bahwa maksud hadits Anas adalah meluruskan barisan, yaitu dengan lurusnya bahu dan telapak kaki. Komentar Ibnu Hajar (w. 852 H)

Ibnu Hajar al-Asqalani menuliskan:

الْمُرَادُ بِذَلِكَ الْمُبَالَغَةُ فِي تَعْدِيلِ الصَّفِّ وَسَدِّ خَلَلِهِ

Maksud hadits ”ilzaq” adalah berlebih-lebihan dalam meluruskan shaf dan menutup celah. [Ibnu Hajar, Fathu al-Bari, hal. 2/211]

Memang disini beliau tidak secara spesifik menjelaskan harus menempelkan mata kaki, dengkul dan bahu. Karena maksud haditsnya adalah untuk berlebih-belihan dalam meluruskan shaf dan menutup celahnya.

C. Point-Point Penting

Diatas sudah dipaparkan beberapa pemahaman ulama terkait haruskah mata kaki selalu ditempel-tempelkan dengan sesama jamaah dalam satu shaf.

Sekarang mari kita lanjutkan dengan nalar dan penelitian kita sendiri. Pertanyaannya adalah : apakah menempelkan mata kaki itu sunnah Nabi SAW atau bukan? Dalam arti apakah hal itu merupakan contoh langsung dari Nabi SAW atau bentuk perintah yang secara nash beliau SAW menyebut : HARUS MENEMPEL, kalau tidak nanti masuk neraka?

1. Menempelkan Mata Kaki Dalam Shaf Bukan Tindakan Atau Anjuran Nabi SAW

Bukankah haditsnya jelas Shahih dalam Shahih Bukhari dan Abu Daud?

Iya sekilas memang terkesan bahwa menempelkan itu perintah beliau SAW. Tapi keshahihan hadits saja belum cukup tanpa pemahaman yang benar terhadap hadits shahih.

Jika kita baca seksama teks hadits dua riwayat diatas, kita dapati bahwa ternyata yang Nabi SAW anjurkan adalah menegakkan shaf. Perhatikan redaksinya :

أَقِيمُوا صُفُوفَكُمْ

Tegakkah barisan kalian

Itu yang beliau SAW katakan. Sama sekali beliau SAW tidak berkata, ”Tempelkanlah mata kaki kalian!”. Dan beliau juga tidak main ancam siapa yang tidak melakukannya dianggap telah kafir atau ingkar dengan sifat-sifat Allah. Yang bilang seperti itu hanya Al-Albani seorang. Para ulama sepanjang zaman tidak pernah berkata seperti itu, kecuali murid-murid pendukungnya saja.

Dan Nabi SAW sendiri dalam shalatnya juga tidak pernah melakukan hal itu.

2. Menempelkan Mata Kaki Adalah Pemahaman Salah Satu Dari Shahabat

Coba kita baca lagi haditsnya dengan seksama. Dalam riwayatnya disebutkan:

    [وَكَانَ أَحَدُنَا] dan salah satu dari kami

    [رَأَيْتُ الرَّجُلَ مِنَّا] saya melihat seorang laki-laki dari kami

    [فَرَأَيْتُ الرَّجُلَ] saya melihat seorang laki-laki

Meskipun dengan redaksi yang berbeda, tetapi kesemuanya merujuk pada makna bahwa ”salah satu” sahabat Nabi ada yang melakukan hal itu. Maka hal itu adalah perbuatan dari salah satu sahabat Nabi, hasil dari pemahamannya setelah mendengar perintah Nabi agar menegakkan shaf.
Terkait ucapan atau perbuatan shahabat, Al-Amidi (w. 631 H) salah seorang pakar Ushul Fiqih menyebutkan:

ويدل على مذهب الأكثرين أن الظاهر من الصحابي أنه إنما أورد ذلك في معرض الاحتجاج وإنما يكون ذلك حجة إن لو كان ما نقله مستندا إلى فعل الجميع لأن فعل البعض لا يكون حجة على البعض الآخر ولا على غيرهم

Menurut madzhab kebanyakan ulama’, perbuatan shahabi menjadi hujjah jika didasarkan pada perbuatan semua shahabat. Karena perbuatan sebagian tidak menjadi hujjah bagi sebagian yang lain, ataupun bagi orang lain.

Lihat  :Al-Amidi; w. 631 H, Al-Ihkam fi Ushul al-Ahkam, hal. 2/99

Jadi, menempelkan mata kaki itu bisa menjadi hujjah jika dilakukan semua shahabat. Dari redaksi hadits, kita dapati bahwa menempelkan mata kaki dilakukan oleh seorang laki-laki pada zaman Nabi. Kita tidak tahu siapakah lelaki itu. Lantas bagaimana dengan Anas yang telah meriwayatkan hadits?

3. Anas tidak melakukan hal itu


Jika kita baca teks hadits dari Anas bin Malik dan An-Nu’man bin Basyir di atas, sebagai dua periwayat hadits, ternyata mereka berdua hanya melihat saja. Mereka malah tidak melakukan apa yang mereka lihat.

Kenapa?

Karena yang melakukannya bukan Rasulullah SAW sendiri. Dan para shahabat yang lain juga tidak melakukannya. Yang melakukannya hanya satu orang saja. Itupun namanya tidak pernah disebutkan alias anonim.

Hal itu diperkuat dengan keterangan Ibnu Hajar al-Asqalani (w. 852 H) melanjutkan riwayat Anas bin Malik:

وَزَادَ مَعْمَرٌ فِي رِوَايَتِهِ وَلَوْ فَعَلْتُ ذَلِكَ بِأَحَدِهِمُ الْيَوْمَ لَنَفَرَ كَأَنَّهُ بغل شموس

Ma’mar menambahkan dalam riwayatnya dari Anas; jika saja hal itu saya lakukan sekarang dengan salah satu dari mereka saat ini, maka mereka akan lari sebagaimana keledai yang lepas. [Ibnu Hajar, Fathu al-Bari, hal. 2/211]

Jika menempelkan mata kaki itu sungguh-sungguh anjuran Nabi, maka mereka sebagai salaf yang shalih tidak akan lari dari hal itu dan meninggalkannya.

Perkataan Anas bin Malik, ”jika saja hal itu saya lakukan sekarang” memberikan pengertian bahwa Anas sendiri tidak melakukannya saat ini.

4. Bukankah Itu Sunnah Taqririyyah?

Barangkali para pembela pendapat tempe-menempel matakaki itu berhujjah, jika ada suatu perbuatan yang dilakukan di hadapan Nabi SAW, sedang beliau SAW diam saja dan tidak melarangnya, maka perbuatan itu disebut sunnah taqririyyah. Jadi termasuk sunnah juga.

Jawabnya, tentu benar sekali bahwa hal itu merupakan sunnah taqririyah. Tapi perlu diingat, bahwa diamnya Nabi ketika ada suatu perbuatan dilakukan dihadapannya itu tidak berfaedah kecuali hanya menunjukkan bolehnya hal itu.

Contoh sunnah taqririyyah adalah makan daging dhab dan ’azl yaitu mengeluarkan sperma diluar kemaluan istri. Meskipun keduanya sunnah taqririyyah, tapi secara hukum berhenti sampai kita sekedar dibolehkan melakukannya.

Dan sunnah taqririyah itu tidak pernah sampai kepada hukum sunnah yang dianjurkan, dan tentu tidak bisa menjadi kewajiban. Apalagi sampai main ancam bahwa orang yang tidak melakukannya, dianggap telah ingkar kepada sifat-sifat Allah. Ini adalah sebuah fatwa yang agak emosional dan memaksakan diri. Dan yang pasti fatwa seperti ini sifatnya menyendiri tanpa ada yang pernah mendukungnya.

Tidak bisa kita bayangkan, cuma gara-gara ada shahabat makan daging dhab dan melakukan azal, dan kebetulan memang Nabi SAW tidak melarangnya, lantas kita berfatwa seenaknya untuk mewajibkan umat Islam sedunia sepanjang zaman sering-sering makan daging biawak. Yang tidak doyan makan daging biawak divonis telah ingkar kepada sifat-sifat Allah.

5. Susah Dalam Prakteknya

Penulis kira, jika pun dianggap menempelkan mata kaki itu sebagai anjuran, tak ada diantara kita yang bisa mempraktekannya.

Jika tidak percaya, silahkan saja dicoba sendiri menempelkan mata kaki, dengkul dan bahu dalam shaf.

D. Kesimpulan

Berangkat dari pertanyaan awal, apakah mata kaki ”harus” menempel dalam shaf shalat?

Ada dua pendapat; pertama yang mengatakan harus menempel. Ini adalah pendapat Nashiruddin al-Albani (w. 1420 H). Bahkan beliau mengatakan bahwa yang mengatakan tidak menempel secara hakiki itu lebih jelek dari faham ta’thil sifat Allah.

Pendapat kedua, yang mengatakan bahwa menempelkan mata kaki itu bukan tujuan utama dan tidak harus. Tujuan intinya adalah meluruskan shaf. Jikapun menempelkan mata kaki, hal itu dilakukan sebelum shalat, tidak terus menerus dalam shalat. Ini adalah pendapat Utsaimin. Dikuatkan dengan pendapat Bakr Abu Zaid.

Sampai saat ini, penulis belum menemukan pendapat ulama madzhab empat yang mengharuskan menempelkan mata kaki dalam shaf shalat.

Merapatkan dan meluruskan shaf tentu anjuran Nabi. Tapi jika dengan menempelkan mata kaki, malah shalat tidak khusyu’ dan mengganggu tetangga shaf juga tidak baik.

Wallahu a’lam

Sumber: Rumah Fikih Indonesia

Mengapa Ahli Hadis Berbeda dalam Menilai Suatu Hadis?

Sebenarnya banyak hadits yang ulama sepakat akan keshahihannya, sebagaimana banyak juga hadits yang ulama sepakat juga ke-dhaif-annya. Diantara itu, ada hadits yang memang masih diperselisihkan derajatnya. Sangat penting mengetahui sebab perbedaan ulama muhaddits dalam menetapkan suatu hadits. Agar taklidnya tidak begitu parah.

Diantara sebab-sebab perbedaan itu adalah:
1. Perbedaan penerapan kaidah minor.

Para Muhadditsin, disamping berpegang kepada kaidah-kadiah umum yang disepakati (kaidah mayor), mempunyai visi dan kekhasan tersendiri dalam operasionalnya (kaidah minor). Operasional ketersambungan sanad (ittishal as-Sanad) misalnya, antara al-Bukhari dan Muslim terdapat perbedaan. Al-Bukhari mensyaratkan seorang murid (rawi kedua) pernah bertemu langsung dengan guru (rawi pertama) walaupun hanya sekali [1].

Sedangkan menurut Muslim, sanad dinilai bersambung jika terdapat indikasi bahwa kedua rawi itu pernah bertemu, karena ditemukan bukti bahwa keduanya hidup sezaman (Mu’asharah). Dengan demikian, konsep hadits mu’an’an (hadits yang diterima menggunakan lafadz ‘an) antara al-Bukhari dan Muslim berbeda. Perbedaan ini akan terlihat lebih jelas, dengan adanya statement dalam ilmu Hadits ‘ala Syarth al-Bukhari dan ‘ala Syarth Muslim.

2. Perbedaan al-Jarh dan at-Ta’dil

Syarat rawi hadits shahih haruslah ‘adil dan dhabith. Tetapi pertanyaannya, siapakah yang berhak menilai keadilan seorang rawi? Siapakah yang berhak memberikan test hafalan seorang rawi? Apakah ada tes masuk bagi calon rawi sebagaimana fit and propertest?. Semua itu adalah ijtihad ulama al-Jarh wa at-Ta’dil. Al-Imam at-Tirmidzi (w. 279 H) berkata [2]:

وَقد اخْتلف الْأَئِمَّة من أهل الْعلم فِي تَضْعِيف الرِّجَال كَمَا اخْتلفُوا فِي سوى ذَلِك من الْعلم

Ulama telah berbeda pendapat dalam menilai lemah seseorang, sebagaimana mereka juga berbeda pendapat dalam Ilmu lainnya. Perbedaan pendapat dalam al-Jarh wa at-Ta’dil ini sangat mempengaruhi dalam penilain suatu hadits.

Perbedaan kriteria orang yang memberikan penilaian (al-Mujarrih dan al-Mu’addil), perbedaan sikap dalam al-Jarh wa at-Ta’dil antara ulama satu dengan lainnya, perbedaan shighat antar ulama al-Jarh wa at-Ta’dil, turut menyumbang perbedaan dalam penilaian terhadap seorang rawi.

Sebagai contoh, Sebagaimana dikatakan oleh Abu Hatim ar-Razi (w. 227 H), dinukil dalam kitab Tahrir Ulum al-Hadits [3]:

ونقل أبو حاتم الرازي عن هشام بن يوسف الصنعاني قوله في (عبد الله بن معاذ بن نشيط صاحب معمر): " هو صدوق، وكان عبد الرزاق يكذبه " ثم قال أبو حاتم: " أقول: هو أوثق من عبد الرزاق

Dinukil dari Abu Hatim ar-Razi dari Hisyam bin Yusuf as-Shan’ani dalam penilaiannya terhadap Abdullah bin Mu’adz: Dia orang yang shaduq. Sedangkan Abdurrazaq menilai: Dia seorang yang bohong. Abu Hatim menjawab: (justru) Dia (Abdullah bin Mu’adz) itu lebih tsiqah daripada Abdurrazaq [4].

Maka, para ulama al-Jarh wa at-Ta’dil ada yang bersifat tasyaddud, tawasuth dan tasahul [5] . Cukup banyak perbedaan ulama al-Jarh dan at-Ta’dil dalam menilai satu rawi. Kadang satu rawi dianggap lemah oleh ulama, tapi oleh ulama lain dianggap tsiqah atau shaduq.

Disinilah seorang yang akan meneliti derajat suatu hadits dituntut ketelitian, keluasan ilmu, pemahaman yang mendalam terhadap istilah-istilah yang dipakai oleh para ulama, juga terbebas dirinya dari hawa nafsu dan kepentingan tertentu.

Jangan sampai seorang peneliti hadits, jika matan hadits itu sesuai dengan keinginan dan pendapatnya, maka dicarilah penilain yang baik terhadap rawi-rawinya. Tapi jika matan hadits bertentangan dengan pendapatnya, maka akan dicari penilaian yang negatif terhadap rawi.

3. Perbedaan dalam menerima ‘an’anah dalam Sanad

Imam Nawawi dalam Mukaddimah Syarah Shahih Muslim, menjelaskan bahwa Hadits mu’an’an [6] oleh jumhur ulama dihukumi muttashil/ tersambung sanadnya, meskipun ada juga yang menganggap bahwa hadits mu’an’an masuk kategori mursal. Syaratnya Hadits mu’an’an tidak diriwayatkan oleh rawi mudallis dan dimungkinkan bertemu antara rawi pertama dengan rawi kedua[7] .

Sedangkan untuk mengetahui dimungkinkannya bertemu, muhaddits berbeda pendapat. Sebagaian muhaddits hanya mensyaratkan pernah bertemu saja, Imam Nawawi (w. 676 H) menyebutkan bahwa ini pendapat Ali bin Madini, al-Bukhari, Abu Bakar as-Shairafi. Sebagian muhaddits mensyaratkan thul as-Shuhbah/ lama dalam berguru, ini adalah pendapat Abu al-Mudhaffar as-Syafi’i. Ada sebagian Muhaddits yang mensyaratkan rawi kedua itu sudah terkenal banyak meriwayatkan dari rawi pertama, ini adalah pendapat Abu Umar al-Muqri.

Rawi mudallis jika terbukti seorang rawi melakukan tadlis dalam Isnad [8] , maka para ulama’ berbeda pendapat tentang status rawi tersebut. Sebagian ulama’ Ahli Hadits menolak periwayatan orang tersebut secara muthlak. Tetapi yang lebih shahih menurut al-Imam an-Nawawi [9] (w. 676 H) dan diikuti oleh al-Imam as-Suyuthi [10] (w. 911 H) adalah ditafshil/diperinci.

Ibnu Hajar al-Asqalani (w. 852 H) dalam kitab Thabaqat al-Mudallisin membagi tingkatan mudallis menjadi 5 tingkatan. Pada tingkatan ketiga, yaitu Orang-orang yang sering melakukan tadlis, maka para ulama tidak mengambil hadits darinya kecuali jika orang tersebut menjelaskan bahwa dia mendengar langsung dari rawi atasnya (Tahammul dan Ada’ dengan shighat sama’/mendengar). Seperti: Abu az-Zubair al-Makkiy [11].

Tentu masih ada beberapa sebab perbedaan lain para muhaddits dalam menilai suatu hadits.
Khilafiyyah Dalam Menilai Derajat Hadits. Semua sepakat bahwa hadits yang shahih menjadi salah satu sumber utama dalam penetapan hukum Islam. Iya, semua sepakat. Tapi dalam menetapkan keshahihan suatu hadits, para muhaddits pun mereka berbeda pendapat. Karena penetapan derajat hadits sifatnya ijtihady, dan ijtihad seorang ulama itu bisa benar dan bisa saja salah.

Salah satu faktor perbedaan para ulama dalam suatu hukum syariat adalah perbedaan mereka dalam menilai derajat suatu hadits. Ibnu Rusyd (w. 595 H) mencontohkan: perbedaan masalah gaji muadzin [12], Ijtihad dalam menetapkan arah qiblat[13],sutrah/ pembatas dalam shalat [14], berhenti sebentar setelah membaca surat dalam shalat [15], sah tidaknya shalat sendirian di belakang shaf [16], zakat madu [17], hukuman orang yang berkhianat dalam harta rampasan perang [18], sembelihan janin dalam perut hewan [19] dan lain sebagainya.

Perbedaan ini masih dalam tataran tsubut tidaknya suatu hadits. Setelah suatu hadits sudah benar-benar berasal dari Nabi, maka selanjutnya masuk kepada dalalah-nya; apakah qath’iy ataukah dzanniy, am dan khashnya, muthlaq dan muqayyadnya, nasikh dan mansukhnya, asbab wurud-nya. Disinilah peran Ushul Fiqih bermain.

Sayangnya, kita temui ada beberapa kalangan yang baru tahu hadits shahih dari pengajian mingguan, sudah berani menyalah-nyalahkan ijtihad Imam Abu Hanifah, Imam Syafi’i, Imam Malik, dan imam-imam yang lainnya, dengan berdalih kembali kepada sunnah. Memangnya Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafi’i tidak tahu sunnah? Maka, Ahli Hadits tidak boleh buta ushul fiqih. WaAllahua’lam bis shawab..

Sumber: Rumah Fikih Indonesia

Catatan dan Referensi:
[1] Ibnu Hajar Abu al-Fadhl Ahmad bin Ali bin Muhammad bin Ahmad bin Hajar, Nuzhat an-Nadzar fi Taudhih Nukhbat al-Fikr, (Damskus: Mathba’ah as-Shabah, 1421 H), hal. 63

[2] At-Tirmidzi Muhammad bin Isa bin Saurah bin Musa bin Dhahhak Abu Isa (w. 279 H), al-Ilal as-Shaghir, (Baerut: Daar Ihya at-Turats al-Arabi, t.t), hal. 756

[3] Abdullah bin Yusuf al-Judai’, Tahrir Ulum al-Hadits, (Baerut: Muassasah ar-Rayyan, 1424 H), juz 1, hal. 519

[4] Lebih lengkapnya, baca: Abu Muhammad Abdurrahman bin Muhammad bin Idris bin al-Mundzir at-Tamimi al-Handzali ar-Razi ibn Abi Hatim (w. 327 H), al-Jarh wa at-Ta’dil, (India: Majlis Dairat al-Ma’arif al-Utsmaniyyah, 1271 H), juz 5, hal. 173

[5] Tasyaddud, tawasuth dan tasahul merupakan sikap Ulama’ dalam menilai periwayat (rijal). Tasyaddud artinya keras atau ketat,tawasuth artinya sedang atau moderat, tasahul artinya mudah atau longgar. Bahkan dalam menilai Ulama’ tergolongmutasyaddid, mutawasith ataupun mutasahil, terjadi perbedaan pendapat. Diantara Ulama’ yang terknela mutasyaddin adalah Abu Zakariyya Yahya bin Ma’in (w. 233 H), Abu Hatim ar-Razi (w. 277 H), yang terkenal mutasahil diantaranya al-Hakim an-Naisaburi (w. 405 H), Abdullah bin Shalih bin Muslim al-Ajili. Ulama’ yang terkenal mutawasith diantaranya: Ahmad bin Muhammad bin Hanbal (w. 241 H), ad-Daraquthni (w. 385 H), Malik bin Anas (w. 179 H)

[6] Hadits Mu’an’an adalah hadits yang menggunakan shighat ‘an dalam tahammul dan ada’nya. Lihat: Zainuddin Abu Yahya Zakariyya bin Muhammad bin Zakariyya al-Anshari (w. 926 H), Fathu al-Baqi bi Syarhi Alfiyati al-Iraqi, (Baerut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1422 H), Tahqiq Abdullathif Hamim, juz 1. Hal. 208

[7] An-Nawawi Abu Zakariyya Yahya bin Syaraf (w. 676 H), Muqaddimah al-Minhaj Syarah Shahih Muslim bin Hajjaj, (Baerut: Daar Ihya’ at-Turats al-Arabi, 1392 H), hal. 32

[8] Tadlis menurut bahasa artinya menyembunyika aib dalam dagangan. Dalam Ilmu Mushtalah Hadits diartikan bahwa menyembunyikan aib dalam sanad dan menampilkan kebaikannnya saja. Tadlis dibagi menjadi dua; tadlis Isnad dan tadlis Syuyukh.

Tadlis Isnad adalah jika seorang Rawi meriwayatkan hadits dari orang yang hidup sezaman dengannya, padahal hadits itu tidak ia dapatkan darinya, dengan lafadz yang seolah-olah menandakan ittishal/bersambung, seperti “عَنْ”, dan “أَنَّ” atau dengan lafadz “قال” Tadlis Isnad adalah jika seorang Rawi meriwayatkan hadits dari orang yang hidup sezaman dengannya, padahal hadits itu tidak ia dapatkan darinya, dengan lafadz yang seolah-olah menandakan ittishal/bersambung, seperti “عَنْ”, dan “أَنَّ” atau dengan lafadz “قال”. Lihat: Abu Hafsh Mahmud bin Ahmad bin Mahmud at-Thahhan an-Nu’aimi, Taisir Mushtalah Hadits, (Kairo: Maktabah al-Ma’arif, 1425 H), hal. 96

[9] Yahya bin Syarah an-Nawawi (w. 676 H), at-Taqrib wa at-Taisir li Ma’rifati Sunani al-Basyir an-Nadzir, hal. 4

[10] Abdurrahman bin Abu Bakar as-Suyuthi (w. 911 H), Tadribu ar-Rawi fi Syarhi Taqribi an-Nawawi, hal. 164

[11] Ahmad bin Ali bin Hajar Abu al-Fadhl al-Asqalani as-Syafi’i (w. 852 H), Thabaqat al-Mudallisin, (Umman: Maktabah al-Manar, 1983 M), Cetakan I, Tahqiq Dr. Ashim bin Abdullah al-Quryuti, hal. 13

[12] Ibnu Rusyd Abu al-Walid Muhammad bin Ahmad bin Muhammad bin Ahmad bin Rusyd al-Qurthubi (w. 595 H), Bidayat al-Mujtahid, (Kairo: Daar al-Hadits, 1425 H), juz 1, hal. 116

[13] Ibnu Rusyd, juz 1, hal. 119

[14] Ibnu Rusyd, juz 1, hal. 121

[15] Ibnu Rusyd, juz 1, hal. 132

[16] Ibnu Rusyd, juz 1, hal. 159

[17] Ibnu Rusyd, juz 2, hal. 14

[18] Ibnu Rusyd, juz 2, hal. 158

[19] Ibnu Rusyd, juz 2, hal. 205

Merasakan Sensasi Punya Banyak Anak Sebelum Menikah

Mempunyai anak adalah sebuah kebahagiaan tersendiri bagi pasangan suami istri. Bahkan anak adalah anugerah terindah yang dimikili oleh suatu pasangan. Namun bagaimana jadinya kalau belum menikah tetapi sudah punya banyak anak. Berbeda-beda karakter pula. Ada yang masih suka nangis, ada yang suka jahilin yang lain maupun yang baik banget dan penurut.

Sensasi menjadi orang tua sungguh luar biasa, ada responsibility yang harus ditanggung dan dijawab dengan pikiran, hati dan perasaan yang tulus. Tubuh dipaksa untuk bisa bertanggung jawab dengan segala konsekuensi yang ada. Namun itulah hidup, tidak ada yang begitu saja terlewat di depan mata kita tanpa adanya sebuah harapan, tanggung jawab, ketakutan ataupun keyakinan. Semua itu ada dalam diri orang tua.

Namun apa jadinya kalau kamu belum menikaha sementara ingin belajar dan merasakan sensasi punya anak dengan segala keasyikan dan tanggung jawabnya? Jawabnya ada di dalam #Quote ini

    “Jika anda belum menemukan pasangan hidup tapi ingin merasakan sensasi memiliki dan mendidik banyak anak maka jadilah guru”. #Quote Ust Taj Nashr

Berikut foto-foto keren anak-anak saya...

http://www.ziyad.web.id/
Gayanya minta ampun kalau lagi foto-foto, padahal kalau lagi kangen ortu bisa nengis seharian

muallimin yogyakarta
Ceritanya mau berangkat sekolah...hati hati yang nak... :D


Ini ceritanya lagi belajar berorganisasi


Yang ini pagi-pagi buta sudah baca buku...semoga kelak jadi TNI ya nak