Macam-macam Doa Iftitah atau Istiftah dalam Shalat



Iftitah/Istiftah, doa Iftitah/doa Istiftah adalah empat istilah yang menunjuk satu makna yaitu dzikir yang dibaca sebagai pembuka shalat yang biasanya dibaca setelah setelah takbiratul ihram dan sebelum membaca ta’awwudz dan surat Al-Fatihah, baik shalatnya sendirian ataupun berjamaah, menjadi imam ataupun menjadi makmum.

Mayoritas ulama menilai bahwa membaca doa Iftitah ini hukumnya sunnah, baik sekali untuk dibaca pada shalat wajib atau sunnah, bagi imam dan makmum, shalat sendirian atau berjamah, sedang musafir ataupun tidak, baik shalatnya berdiri, duduk, ataupun berbaring, dst, jika dibaca akan mendapat pahala disisi Allah swt, jika ditinggalkan baik dengan sengaja atau karena lupa maka  tidak berdosa dan shalatnya tetap sah, tanpa harus menggantinya dengan sujud sahwi diakhir shalat, jika setalah takbiratul ihram tidak sengaja langsung membaca Al-Fatihah tidak harus diulang dengan kembali membaca iftitah, Al-Fatihahnya boleh dilanjutkan saja. Kesunnahan membaca doa iftitah ini berdasarkan keterangan banyak hadits yang nanti akan kita tuliskan dibagian akhir, insya Allah.

Namun dalam penilaian madzahab Maliki (Al-Mudawwanah: 1/62 ), membaca doa Iftitah malah tidak dianjurkan, bahkan dinilai makruh karena sudah memisahkan antara takbiratul ihram dengan Al-Fatihah, padahal menurut keterangan yang didapat sahabat Anas bin Malik beliau pernah shalat dibelakang Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, juga pernah shalat dibelakang Abu Bakr, Umar, dan Utsman dan kesemuanya membuka shalatnya dengan “Alhamdulillahi rabbil alamin” (membaca Al-Fatihah).

Sehingga dari keterangan ini akhirnya disimpulkan dalam madzhab Maliki bahwa baik imam maupun makmum, ataupun mereka yang shalatnya munfarid/sendirian, maka hendaklah mereka semua setelah selesai dari takbiratu ihram langsung membaca surat Al-Fatihah, tidak harus membaca doa iftitah. (Al-Mudawwanah:1/62).

Lafaz Doa Iftitah
Ada banyak riwayat terkait lafazh doa iftitah, hanya saja ada tujuh lafaz doa Iftitah yang masyhur dan ma’tsur dengan riwayat yang dinisbahkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dimana kesemua lafaz doa ini bisa dipakai dan dibenarkan untuk dibaca pada shalat yang kita laksanakan, baik shalat wajib maupun sunnah, baik sendirian ataupun berjamaah.

Pertama: Dari Aisyah ra berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam ketika memulai shalat beliau membaca:
سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ وَتَبَارَكَ اسْمُكَ وَتَعَالَى جَدُّكَ وَلَا إلَهَ غَيْرُكَ
Subhanakallahumma wabihamdka watabarokasmuka wataala jadduka wala ilaha ghoiruka. (HR. Abu Daud, Tirmidzi dan Ad-Daru Quthni).

Kedua: Dari Abu Said Al-Khudri ra berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam ketika shalat malam beliau bertakbir kemudian membaca doa:
سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ وَتَبَارَكَ اسْمُكَ وَتَعَالَى جَدُّكَ وَلَا إلَهَ غَيْرُكَ
“Subhanakallahumma wabihamdka watabarokasmuka wataala jadduka wala ilaha ghoiruka”. Kemudian dilanjutkan dengan membaca:
 اللَّهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا
“Allahu Akbaru kabiro”. Kemudian dilanjutkan dengan membaca:
أَعُوذُ بِاَللَّهِ السَّمِيعِ الْعَلِيمِ مِنْ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ مِنْ هَمْزِهِ وَنَفْخِهِ وَنَفْثِهِ
A’udzubillahis sami’il alimi minas syaithonir rojim min hamzihi wanafkhihi wanaftsihi” (HR. Abu Daud, Tirmidzi, Nasa’i).

Ketiga: Dari Jabir ra, bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam ketika memulai shalat beliau membaca:
سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ وَتَبَارَكَ اسْمُكَ وَتَعَالَى جَدُّكَ وَلَا إلَهَ غَيْرُكَ وَجَّهْتُ وَجْهِي لِلَّذِي فَطَرَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضَ حَنِيفًا وَمَا أَنَا مِنْ الْمُشْرِكِينَ إنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
“Subhanakallahumma wabihamdka watabarokasmuka wataala jadduka wala ilaha ghoiruka. Wajjahtu wajhiya lilladzi fatoros samawatiwal ardh, hanifan wama ana minal musyrikin, inna sholati wanusuki wamahyaya wamamati lillahi robbil ‘alamin” (HR. Al-Baihaqi).

Keempat: Dari Anas ra, ada seseorang yang masuk shaf shalat lalu dia membaca:
الْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيْهِ
“Alhamdulillahi hamdan katsiron mubarokan fihi”
Lalu setelah Rasulullah shallallhu alaihi wasallam selesai dari shalatnya, beliau bertanya siapakah tadi membaca kalimat doa seperti itu? Jamaah diam sejenak. Rasulullah shallallhu alaihi wasallam melanjutkan: “Siapa saja diantara kalian yang membaca doa tersebut maka sungguh dia tidaklah berkata yang sia-sia” …hingga akhir hadits. (HR. Muslim)

Kelima: Dari Ibnu Umar ra berkata: “Ketika kami tengah melaksankan shalat bersama Rasulullah shallahu alaihi wasallam tiba-tiba ada salah seoarang diantara kami berkata:
الله اَكْبَرُ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ لِلّهِ ِكَثِيْرًا وَ سُبْحَانَ اللَّهِ بُكْرَةً وَأَصِيلًا
“Allahu akbaru kabiro, walhamdu lillahi katsiro wa subhanllahi bukrotan wa ashila”
Lalu Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berkata (setelah selesai shalat): Siapakah tadi yang membaca ini dan itu?”. Salah seorang dari jamaah berkata: “Saya, wahai Rasulullah”. Rasul bersabda: “Saya ta’jub dengan doa itu, itu adalah doa yang dengannya pintu-pintu langit bisa terbuka”. Ibnu Umar berkata: “Saya tidak pernah meninggalkan doa itu semenjak saya mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mengatakan tentang (keutamaan) doa tersebut”. (HR. Muslim).

Keenam: Dari Abu Hurairah ra berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam diam pada waktu antara takbir dan Al-Fatihah, lalu saya bertanya kepada beliau: “Apakah yang Engkau baca diantara takbir dan Al-Fatihah itu, ya Rasulullah?” Rasulullah menjawab: “Saya membaca:
اللَّهُمَّ بَاعِدْ بَيْنِي وَبَيْنَ خَطَايَايَ كَمَا بَاعَدْتَ بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ اللَّهُمَّ نَقِّنِي مِنْ الْخَطَايَا كَمَا يُنَقَّى الثَّوْبُ الْأَبْيَضُ مِنْ الدَّنَسِ اللَّهُمَّ اغْسِلْ خَطَايَايَ بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ
“Allahumma ba’id baini wabaina khothoyaya kama ba’adta bainal masyriqi walmaghrib. Allahumma naqqini minal khotoya kama yunaqqos tsaubul abyadhu minad danas. Allahummaghsil khothoyaya bilma’i was tsalji walbarodi” (HR. Bukhari dan Muslim, dengan beberapa perbedaan kecil antara lafaz dari Bukhari dan Muslim).

Ketujuh: Dari Ali bin Abi Thalib ra dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bahwa sanya beliau ketika shalat membaca:
وَجَّهْتُ وَجْهِي لِلَّذِي فَطَرَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضَ حَنِيفًا وَمَا أَنَا مِنْ الْمُشْرِكِينَ إنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَاىَ وَمَمَاتِيْ لِلّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ لاَ شَرِيْكَ لَهُ  وَبِذَلِكَ اُمِرْتُ وَاَنَا مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ. اَللّهُمَّ اَنْتَ الْمَلِكُُ لاَ اِلَهَ إِلاَّّ اَنْتَ رَبِّىْ وَاَنَا عَبْدُكَ ظَلَمْتُ نَفْسِيْ وَاعْتَرَفْتُ بِذَنْبِيْ فَاغْفِرْ لِيْ ذُنُوْبِيْ جَمِيْعًا لاَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ اِلاَّ اَنْتَ وَاهْدِنِىْ لِاَحْسَنِِِ الْاَخْلَاقِ لاَ يَهْدِيْ لِاَحْسَنِهَا إِلاََّ اَنْتَ وَاصْرِفْ عَنِّيْ سَيِّئَهَا لاَ يَصْرِفُ عَنِّيْ سَيِّئَهَا اِلاَّ اَنْتَ لَبَّيْكَ وَسَعْدَيْكَ وَالْخَيُْر كُلُّهُ بِيَدَيْكَ وََالشَّرُّ لَيْسَ اِلَيْكَ اَنَا بِكَ وَاِلَيْكَ تَبَارَكْتَ وَتَعَالَيْتَ اَسْتَغْفِرُكَ وَاَتُوْبُ اِلَيْكَ
“Wajjahtu wajhiya lilladzi fatoros samawati wal ardh, hanifan wama ana minal musyrikin, inna sholati wanusuki wamahyaya wamamati lillahi robbil alamin, la syarikalahu wabidzalika umirtu wa ana minal muslimin. Allahumma antal malik, la ilaha illa anta robbi wa ana ‘abduka, zholamtu nafzi wa’taroftu bidzanbi, faghfirli dzunubi jami’a, la yaghfiruz dzunuba illa anta, wahdini liahsanil akhlaq la yahdi li ahsaniha illa anta, washrif ‘anni sayyi’aha la yashrifu ‘anni sayyi’aha illa anta, labbaika wa sa’daika, wal khoiru kulluhu biyadaika, was syarru laisa ilaika, ana bika wa ilaika, tabarokta wa ta’alaita, astaghfiruka wa atubu ilaika”.

Madzhab Ulama Tentang Lafazh Doa Ifititah
Diantara tujuh lafazh doa iftitah tersebut diatas yang masyhur, maka dalam pandangan madzhab Hanafi dan Hanbali, dan ini yang sering dipakai oleh Umar, Ibnu Mas’ud, Al-Auza’i, Ats-Tsauri bahwa lafazh doa iftitah yang mereka pilih adalah lafazh doa yang diriwayatkan oleh Aisyah ra, yang berbunyi:
سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ وَتَبَارَكَ اسْمُكَ وَتَعَالَى جَدُّكَ وَلَا إلَهَ غَيْرُكَ
Subhanakallahumma wabihamdka watabarokasmuka wataala jadduka wala ilaha ghoiruka.
Sedangkan dalam panilaian madzhab Syafi’i (Al-Majmu”; 3/321), walaupun semua redaksi doa tersebut bisa dibenarkan, namun mereka lebih memilih bahwa lafaz doa iftitah terbaik itu adalah seperti yang diriwayatkan oleh sahabat Ali bin Abi Thalib yang berbunyi:

وَجَّهْتُ وَجْهِي لِلَّذِي فَطَرَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضَ حَنِيفًا وَمَا أَنَا مِنْ الْمُشْرِكِينَ إنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَاىَ وَمَمَاتِيْ لِلّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ لاَ شَرِيْكَ لَهُ  وَبِذَلِكَ اُمِرْتُ وَاَنَا مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ. اَللّهُمَّ اَنْتَ الْمَلِكُُ لاَ اِلَهَ إِلاَّّ اَنْتَ رَبِّىْ وَاَنَا عَبْدُكَ ظَلَمْتُ نَفْسِيْ وَاعْتَرَفْتُ بِذَنْبِيْ فَاغْفِرْ لِيْ ذُنُوْبِيْ جَمِيْعًا لاَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ اِلاَّ اَنْتَ وَاهْدِنِىْ لِاَحْسَنِِِ الْاَخْلَاقِ لاَ يَهْدِيْ لِاَحْسَنِهَا إِلاََّ اَنْتَ وَاصْرِفْ عَنِّيْ سَيِّئَهَا لاَ يَصْرِفُ عَنِّيْ سَيِّئَهَا اِلاَّ اَنْتَ لَبَّيْكَ وَسَعْدَيْكَ وَالْخَيُْر كُلُّهُ بِيَدَيْكَ وََالشَّرُّ لَيْسَ اِلَيْكَ اَنَا بِكَ وَاِلَيْكَ تَبَارَكْتَ وَتَعَالَيْتَ اَسْتَغْفِرُكَ وَاَتُوْبُ اِلَيْكَ
“Wajjahtu wajhiya lilladzi fatoros samawati wal ardh, hanifan wama ana minal musyrikin, inna sholati wanusuki wamahyaya wamamati lillahi robbil alamin, la syarikalahu wabidzalika umirtu wa ana minal muslimin. Allahumma antal malik, la ilaha illa anta robbi wa ana ‘abduka, zholamtu nafzi wa’taroftu bidzanbi, faghfirli dzunubi jami’a, la yaghfiruz dzunuba illa anta, wahdini liahsanil akhlaq la yahdi li ahsaniha illa anta, washrif ‘anni sayyi’aha la yashrifu ‘anni sayyi’aha illa anta, labbaika wa sa’daika, wal khoiru kulluhu biyadaika, was syarru laisa ilaika, ana bika wa ilaika, tabarokta wa ta’alaita, astaghfiruka wa atubu ilaika”.

Dan ada juga sebagian ulama yang membolehkan untuk menggabungkan banyak doa ifitah dalam satu waktu, semua lebih flexibel untuk dilakukan, sesuai dengan keinginan dan kondisi yang ada.

Iftitah Imam dan Makmum
Siapa saja yang ingin melaksanakan shalat maka kesunnahan membaca doa iftitah ini berlaku baginya, demikian menurut jumhur/mayoritas ulama, khusus untuk imam maka membaca doa iftitah ini disesuaikan dengan kondisi makmum sehingga panjang dan pendek bacaan iftitah yang dipilih oleh imam disesuaikan demi kemudahan untuk jamaah, akan tetapi jika semua makmum rela dan memang sudah terbiasa dengan shalat yang lama dengan bacaan-bacaan yang panjang, maka pendapat madzahab Syafii dengan membaca lengkap bacaan iftitah dari awal samapai akhir bisa menjadi pilihan, sesuai dengan riwayat Ali bin Abi Tholib, dan bisa juga ditambah dengan doa iftitah yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah; Allahumma ba’id baini… (Al-Majmu’: 3/321)

Begitu juga bagi makmum, disunnahkan hukumnya untuk membaca doa iftitah persis setelah selesai dari takbiratul ihram, pilihan panjang dan pendeknya doa yang dibaca diserahkan kepada makmum dengan menyesuaikan kondisi imam agar supaya ketika imam sudah mulai membaca Al-Fatihah, semua makmum sudah selesai membaca doa iftitahnya. Dalam kondisi dimana imam sudah membaca Al-Fatihah dan makmum belum membaca atau belum selesai dari doa iftitah, maka dalam hal ini para ulama berbeda pendapat:
 
Para ulama dari madzhab Hanafi (Ad-Dur Al-Mukhtar:1/328 ) menilai bahwa jika imam sudah membaca Al-Fatihah maka sudah cukup berhenti dari membaca iftitah dan fokus mendengarkan bacaan imam, utamanya ketika shalat jahriyyah (shalat dimana bacaan imamnya keras). 

Berbeda dengan pandangan para ulama dalam madzhab Syafii, baik pada shalat sirriyyah maupun jahriyyah semua makmum tetap disunnah membacanya, hanya saja ketika imam sudah mulai membaca Al-Fatihah hendaknya makmum segera mempercepat bacaan agar sesegera mungkin selesai dari doa iftitahnya. (Nihayah Al-Muhtaj: 1/454 ).

Dalam padangan ulama dari madzhab Hanbali hampir sama dengan madzahab Syafii, hukumnya sunnah bagi makmum untuk membaca doa iftitah jika memang ada kesempatan untuk membaca doa iftitah, dimana imam belum memulai bacaan Al-Fatihanya, namun jika imam dalam shalat jahriyyah langsung membaca Al-Fatihah setelah takbiratul ihram tanpa memberikan jedah diam sebentar untuk doa iftitah maka pendapat para ulama dalam madzhab ini baiknya makmum tidak membaca iftitah dan diam saja mendengarkan bacaan Al-Fatihah imam. (Al-Mughni: 1/607).

Iftitah Masbuq
Dalam kondisi seorang yang shalat berjamaah dalam kondisi masbuq, maka dalam hal ini para ulama juga berbeda pendapat, apakah tetap sunnah membaca doa iftitah atau tidak:

Para ulama dari madzhab Hanafi berpendapat bahwa jika masbuq pada shalat jahriyyah dan imam sedang membaca Al-Fatihah/surat lainnya, maka yang terbaik bagi makmum adalah mendenagarkan bacaan imam, akan tetapi nanti setelah  berdiri lagi untuk menyempurnakan rakaat yang tertinggal, maka kesunnahan membaca doa iftitah tadi boleh dibaca, namun jika masbuq pada shalat sirriyyah maka kesunnahan iftitah masih tetap ada walau sudah tertingal lebih dari satu rakaat.

Dalam madzhab Syafii (Al-Adzkar: 44), jika seseorang yang masbuq mendapati imam dalam kondisi masih berdiri, baik dalam keadaan shalat jahriyyah maupun sirriyyah, maka kesunnahan membaca doa iftitah tetap ada, jika memang yakin bahwa membaca Al-Fatihah tetap bisa selesai sebelum imam rukuk, jika tidak maka baiknya doa iftitah ditinggalkan saja dan segera membaca Al-Fatihah, dengan demikian tidak ada lagi waktu untuk membaca iftitah setelahnya hingga selesai shalat.  

Sedangkan dalam pandangan madzhab Hanbali (Al-Mughi: 2/265), jika sudah terlewatkan rakaat pertama, maka mereka yang masbuq boleh-boleh saja membaca doa iftitah pada saat berdiri saat dia pertama masuk kedalam shaf shalat, pendapat membaca doa iftitah dan tidak membaca keduanya ada riwayat dari imam Ahmad bin Hanbal. 

Wallahu A’lam Bisshawab
Via: rumahfikih.com

Cara Membuat Anak Senang di Pesantren, Begini Caranya

Pesantren, mengapa tidak?
Menjadi guru asrama atau pembina asrama/musyrif tentu tidak mudah dilakukan sembarang orang. Namun juga tidak sulit jika memang punya caranya. Satu yang pasti adalah semuanya ada plus minusnya dan hikmah dibalik itu semua. Pengalaman saya yang sempat menjadi musyrif di madrasah mu’alllimin yogyakarta setidaknya memberikan pengalaman bagi saya pribadi dan sekitar saya. Pengalaman tersebut sangatlah berarti karena belajar tidak harus berada di ruang kelas atau di sekolah. Belajar secara real tentu bisa membangun pengalaman yang tidak ternilai harganya. Experince the best teacher. Itu yang saya rasakan.

Tips ini adalah pengalaman saya sekaligus tips dari orang tua wali yang mengajarkan saya sikap dalam mengerti dunia anak. Di antara pengalaman dan hikmah itu adalah sebagai berikut:

Bagaimana caranya agar anak-anak siap tinggal di pondok pesantren?
  1. Orang tua harus mengenalkan dunia pondok kepada anak sejak dini. Ini terkait motivasi kedepannya dari anak yang bersangkutan. Berikan pengertian mengapa ia harus dipondokkan. 
  2. Carilah informasi sebanyak-banyaknya tentang pondok. Kemudian alangkah baiknya informasi informasi tersebut dikumpulkan beserta foto-foto pondok dan kegiatannya agar anak bisa memilihnya. Tidak hanya satu versi pondok, namun berilah kebebasan kepada anak untuk memilih pondok yang ia sukai. Akan tetapi kebebasan tersebut masih tetap dalam koridor pengarahan dari orang tua.
  3. Ajarkan kemandirian sejak dini sehingga benar-benar anak mampu untuk mengurusi dirinya sendiri dan tidak bergantung kepada orang lain. Kemandirian di pesantren sangat ditekankan. 
  4. Jangan hanya memberitahukan yang enak-enak saja tentang permasalahan kehidupan. Ajarkan kepada anak bagaimana rasanya hidup, tentu ada bahagia ada duka. Anak harus faham akan euforia kehidupan ini karena terkait masalah mental anak untuk bisa menghadapi kesulitan-kesulitan yang mungkin akan ia hadapi di pondok. 
  5. Latihlah anak-anak kita untuk hidup sederhana sejak dini.
Lalu Tips-tips Agar Anak-anak Betah di Pesantren?

  1. Biasakan anak-anak mandiri sejak dini, sehingga ketika sudah di pesantren sudah bisa mengerjakan sesuatu sendiri.
  2. Percaya diri sangatlah penting untuk ke depannya. Percaya diri atau dengan istilah tren nya Pede, dibutuhkan didalam mengikuti kegiatan-kegiatan yang ada di Pesantren. Misalkan Latihan Pidato (muhadoroh), latihan Pramuka, latihan berbahasa Arab dan Inggris, dan lain sebagainya.
  3. Bisa bergaul adalah salah satu kunci sukses untuk bisa betah di pesantren.
  4. Terbisasa disiplin. yang namanya pesantren bukan penitipan anak, bukan pula kos-kosan yang hanya digunakan untuk tempat ditidur saja. Pesantren ada aturan dan norma-normanya yang harus ditaati.
  5.  Tidak usah terlalu sering dikunjungi. Santri baru tidak harus sering-sering dikunjungi karena alasan tertentu. Akibat jika sering-sering dikunjungi justru mengakibatkan anak malas dan merasa punya banyak waktu..
  6. Keinginan anak untuk masuk ke pesantren harus lebih besar...... 

Oke, ini yang saya perhatikan dari anak-anak saya dan beberapa teman guru yang lain. 
  1. Orang tua murid jangan sampai lupa untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan yang dibutuhkan anak di pesantren. Misalnya peralatan mandi, peralatan makan, peralatan shalat dan keperluan sehari-hari siswa.
  2. Jangan lupa mencatat no. HP musyrif, atau pamong asrama. Jangan lupa juga untuk mencatat no. HP anda di belakang almari anak dengan keterangan yang jelas agar anak mudah mengenalinya. Selain itu tinggalkan pesan dibalik pintu almari anak kata-kata motivasi untuk penyemangat hidup. 
  3. Untuk kebaikan bersama beritahukan karakter dan sifat-sifat anak anda kepada musyrif atau pamong asrama. Selain itu jangan lupa beritahukan juga penyakit-penyakit anak jika ada dan diperlukan.
  4. Terakhir, berilah kepercayaan secara penuh kepada musyrif dan pamong untuk mendidik anak anda secara maksimal. Selain itu jagalah komunikasi secara baik dengan pengurus asrama.
Demikian pengalaman sedikit yang bisa saya share sebagai ilmu agar bisa dimanfaatkan oleh sesama.