Opini: Titik Kritis "Pembelajaran Menyenangkan" ala Joyfull Pemahaman Awam
Ada satu istilah dalam dunia
pendidikan yang beberapa tahun terakhir semakin sering kita dengar: pembelajaran
yang menyenangkan. Istilah ini terdengar ideal. Anak senang, guru bahagia,
kelas hidup, suasana tidak tegang, dan belajar terasa seperti bermain.
Tidak ada yang salah dengan gagasan tersebut.
Masalahnya muncul ketika “menyenangkan” dipahami secara terlalu
sederhana: seolah-olah setiap pembelajaran harus diisi dengan ice
breaking, permainan, aktivitas yang seru, atau suasana yang selalu riang.
Seolah-olah ketika kelas mulai sunyi, anak mulai berpikir keras, menghadapi
soal sulit, menghafal sesuatu, atau merasa sedikit tegang, maka pembelajaran
tersebut dianggap gagal menjadi pembelajaran yang joyful.
Di titik inilah saya kira kita perlu berhenti sejenak dan bertanya:
Apakah pembelajaran yang menyenangkan benar-benar berarti pembelajaran yang
selalu membuat anak senang?
Saya kira tidak.
Bukan Berarti Setiap Pembelajaran Harus Games
Ice breaking itu
baik. Games juga baik. Keduanya bisa menjadi strategi pembelajaran yang efektif
untuk membangun perhatian, mencairkan suasana, meningkatkan motivasi, atau
memberikan jeda ketika konsentrasi peserta didik mulai menurun.
Tetapi, strategi bukanlah tujuan.
Kita perlu berhati-hati ketika ice breaking dan games
mulai diperlakukan seperti sebuah kewajiban dalam setiap pembelajaran.
Seolah-olah setiap kali masuk kelas harus ada permainan. Setiap materi harus
dibuat seperti perlombaan. Setiap aktivitas harus dikemas dalam bentuk yang
riuh dan menyenangkan.
Padahal, tidak semua materi membutuhkan permainan.
Ada saatnya anak perlu membaca dalam keheningan. Ada saatnya mereka perlu
menulis. Ada saatnya mereka harus menghafal. Ada saatnya mereka berdiskusi
serius. Ada saatnya mereka mengerjakan soal yang sulit. Ada saatnya guru
menjelaskan sesuatu yang memang membutuhkan konsentrasi tinggi.
Pembelajaran yang baik tidak selalu ditandai dengan kelas yang ramai.
Kadang-kadang pembelajaran terbaik justru terjadi ketika kelas sangat
tenang karena semua anak sedang berpikir.
Maka, jangan sampai kita terjebak pada logika:
Kalau anak tertawa berarti belajar berhasil. Kalau anak diam berarti
pembelajaran tidak menyenangkan.
Tidak sesederhana itu.
Ketika C1 Terlewati
Ada persoalan lain yang menurut saya cukup penting untuk kita
renungkan: fondasi pengetahuan peserta didik.
Dalam pengalaman saya, ada kecenderungan pembelajaran saat ini terlalu
cepat mendorong peserta didik untuk menalar, menganalisis, mengevaluasi, bahkan
mencipta. Kita ingin anak berpikir tingkat
tinggi. Kita ingin mereka kritis. Kita ingin mereka mampu memecahkan masalah.
Semua itu tentu baik.
Tetapi pertanyaannya: apakah pengetahuan dasarnya sudah cukup?
Dalam taksonomi kognitif, kita mengenal kemampuan mengingat (remembering)
sebagai salah satu fondasi awal sebelum seseorang dapat bergerak ke tingkat
kognitif yang lebih kompleks.
Saya melihat dalam beberapa pengalaman pembelajaran, C1 justru sering
terlewati. Anak belum memiliki cukup pengetahuan faktual, belum menguasai
istilah, belum memiliki hafalan yang memadai, tetapi sudah diminta menalar dan
memecahkan masalah.
Akibatnya, kita seperti meminta anak membangun lantai tiga ketika lantai
satunya belum selesai.
Anak diminta menganalisis, tetapi bahan yang harus dianalisis belum
dikuasai.
Diminta membandingkan, tetapi konsep dasarnya belum dipahami.
Diminta menyimpulkan, tetapi informasi yang menjadi dasar kesimpulan belum
tersimpan dengan baik dalam ingatan.
Diminta berpikir kritis, tetapi pengetahuan yang menjadi bahan bakar
berpikir masih sangat terbatas.
Penalaran tidak tumbuh di ruang kosong.
Anak membutuhkan pengetahuan untuk dapat berpikir.
Karena itu, saya tidak sedang mengatakan bahwa pembelajaran harus kembali
menjadi hafalan semata. Bukan. Yang saya persoalkan adalah kecenderungan
kita meremehkan pentingnya penguasaan pengetahuan dasar.
Hafalan bukan musuh berpikir.
Justru dalam banyak situasi, hafalan dan pengetahuan yang tersimpan
dalam ingatan menjadi bahan bakar bagi proses berpikir tingkat tinggi.
Maka, mungkin kita perlu mengembalikan keseimbangan: jangan hanya
bertanya, “Bagaimana anak bisa menalar?”, tetapi juga
bertanya, “Apa yang harus diketahui anak agar ia mampu menalar?”
Lalu, Apa Itu Joyful Learning ala SD
Aisyiyah Multilingual Lasem?
Di sinilah saya kira letak persoalan yang paling menarik.
Menurut saya, joyful learning tidak semestinya dipahami
sebagai belajar yang selalu menyenangkan secara emosional.
Joyful bukan
berarti anak harus selalu tertawa.
Joyful bukan
berarti kelas harus selalu penuh permainan.
Joyful juga
bukan berarti guru harus melonggarkan disiplin agar anak merasa nyaman.
Saya justru lebih tertarik memahami joyful learning sebagai munculnya
keterlibatan yang lahir dari rasa ingin tahu.
Anak ingin tahu.
Anak penasaran.
Anak ingin menemukan jawabannya.
Anak merasa tertantang.
Anak ingin mencoba lagi ketika gagal.
Anak merasa puas ketika akhirnya memahami sesuatu yang sebelumnya sulit.
Bukankah itu juga sebuah kegembiraan dalam belajar?
Bayangkan seorang anak sedang berhadapan dengan sebuah pertanyaan yang
tidak mudah.
Ia berpikir.
Mencoba.
Salah.
Mencoba lagi.
Bertanya.
Membaca.
Mencari.
Kemudian tiba-tiba ia menemukan jawabannya.
Ada kepuasan di sana.
Ada kegembiraan.
Bahkan mungkin ada rasa bangga.
Itulah joy yang tidak selalu berbentuk tawa.
Karena itu, tugas guru bukan sekadar membuat anak senang selama
pembelajaran. Tugas guru adalah menyalakan rasa ingin tahu anak sehingga
ia bersedia terlibat dalam proses belajar, bahkan ketika apa yang dipelajarinya
tidak mudah.
Menyulut Curiosity, Bukan Sekadar Membagi
Permen
Kita sering kali menginginkan anak engage dalam
pembelajaran.
Lalu kita mencari berbagai cara agar kelas menjadi menarik.
Games.
Kuis.
Hadiah.
Ice breaking.
Kompetisi.
Semua itu boleh.
Tetapi ada pertanyaan yang lebih mendasar:
Apakah yang membuat anak tertarik itu aktivitasnya atau pengetahuannya?
Anak bisa saja sangat antusias mengikuti sebuah games. Tetapi setelah games
selesai, apakah ia masih penasaran terhadap materi yang dipelajari?
Di sinilah curiosity menjadi penting.
Pembelajaran yang joyful mestinya mampu membuat anak
berkata:
“Saya ingin tahu jawabannya.”
Bukan sekadar:
“Kapan games-nya?”
Perbedaannya sangat besar.
Yang pertama menunjukkan dorongan intrinsik untuk belajar.
Yang kedua berpotensi membuat belajar bergantung pada rangsangan eksternal.
Maka, guru perlu belajar mendesain pertanyaan, fenomena, masalah, cerita,
eksperimen, atau pengalaman yang mampu menyulut rasa ingin tahu.
Bukan hanya membuat kelas ramai, tetapi membuat pikiran anak bekerja.
Bukan hanya membuat anak tertawa, tetapi membuat anak bertanya.
Bukan hanya membuat anak nyaman, tetapi membuat anak ingin mengetahui lebih
jauh.
Kehidupan Tidak Selalu Menyenangkan
Ada satu hal lagi yang menurut saya perlu kita renungkan.
Menganggap semua pembelajaran harus menyenangkan bisa jadi justru
menyederhanakan kehidupan itu sendiri.
Bukankah kehidupan tidak selalu menyenangkan?
Ada saat kita bahagia.
Ada saat kita sedih.
Ada saat kita bersemangat.
Ada saat kita bosan.
Ada saat kita takut.
Ada saat kita khawatir.
Ada saat kita menghadapi tekanan.
Ada saat kita harus bersabar.
Ada saat kita gagal.
Ada saat kita kecewa.
Ada saat kita harus melakukan sesuatu yang tidak kita sukai tetapi tetap
harus diselesaikan.
Lalu mengapa proses pendidikan harus selalu dipaksa berada dalam satu
spektrum emosi: menyenangkan?
Anak justru perlu belajar bahwa kehidupan memiliki banyak rasa.
Dan sekolah seharusnya menjadi ruang yang aman bagi anak untuk mengalami
berbagai dinamika tersebut dalam proses belajar.
Ada materi yang mudah.
Ada materi yang sulit.
Ada pelajaran yang menarik.
Ada pelajaran yang mungkin terasa membosankan.
Ada tugas yang menyenangkan.
Ada tugas yang melelahkan.
Ada tantangan yang membuat frustrasi.
Ada keberhasilan yang membuat bahagia.
Semua itu bagian dari perjalanan belajar.
Yang perlu kita bangun bukan anak yang hanya mau belajar ketika belajar itu
menyenangkan, tetapi anak yang mampu mencintai belajar beserta suka dukanya.
Disiplin Juga Bagian dari Pendidikan
Karena itu, joyful learning juga tidak seharusnya
diterjemahkan sebagai melonggarkan standar dan disiplin.
Anak tetap perlu belajar datang tepat waktu.
Tetap perlu menyelesaikan tugas.
Tetap perlu menghafal sesuatu yang memang harus dihafal.
Tetap perlu membaca.
Tetap perlu berlatih.
Tetap perlu menerima koreksi.
Tetap perlu mengalami kegagalan.
Tetap perlu mengulang.
Tetap perlu bersabar.
Sebab dalam kehidupan nyata, keberhasilan tidak selalu lahir dari aktivitas
yang menyenangkan.
Ada banyak hal berharga yang justru lahir dari ketekunan melakukan
sesuatu yang pada awalnya terasa sulit.
Maka, pendidikan seharusnya tidak hanya mengajarkan “belajar itu
menyenangkan”, tetapi juga mengajarkan:
“Belajar itu berharga, bahkan ketika prosesnya tidak selalu menyenangkan.”
Ini dua kalimat yang berbeda.
Jangan Sampai Kita Menghibur Anak, tetapi Lupa
Mendidiknya
Saya kira inilah titik kritisnya.
Jangan sampai karena terlalu takut anak merasa bosan, kita akhirnya
mengubah pembelajaran menjadi hiburan.
Jangan sampai karena ingin membuat kelas menyenangkan, kita lupa bahwa ada
pengetahuan yang harus dikuasai.
Jangan sampai karena ingin anak selalu nyaman, kita takut memberikan
tantangan.
Jangan sampai karena ingin anak selalu bahagia, kita menghilangkan
kesempatan mereka untuk belajar tentang kesulitan, kegagalan, kesabaran, dan
ketekunan.
Guru bukan entertainer.
Guru adalah pendidik.
Tentu saja guru perlu membuat pembelajaran menarik. Guru perlu kreatif.
Guru perlu memahami psikologi peserta didik. Guru perlu menciptakan suasana
yang aman dan positif.
Tetapi lebih dari itu, guru perlu membawa anak menuju sesuatu yang
sebelumnya belum mereka ketahui, belum mereka pahami, atau belum mampu mereka
lakukan.
Dan perjalanan menuju sesuatu yang baru itu terkadang memang tidak nyaman.
Pada Akhirnya, Cintailah Belajar
Mungkin kita perlu sedikit mengubah cara pandang.
Bukan:
“Bagaimana membuat setiap pembelajaran menyenangkan?”
Tetapi:
“Bagaimana membuat anak menemukan kegembiraan dalam proses belajar,
termasuk ketika menghadapi sesuatu yang sulit?”
Perbedaannya mungkin terlihat kecil, tetapi dampaknya besar.
Karena tujuan akhir pendidikan bukan menciptakan anak yang hanya mau
belajar ketika suasananya menyenangkan.
Tujuan kita adalah menciptakan manusia yang memiliki rasa ingin tahu,
memiliki pengetahuan, mampu berpikir, memiliki disiplin, tahan menghadapi
kesulitan, dan terus mau belajar sepanjang hidupnya.
Joyful learning bukan
tentang membuat semua kesulitan menjadi mudah.
Joyful learning adalah
tentang menumbuhkan rasa ingin tahu yang membuat anak bersedia menghadapi
kesulitan untuk menemukan sesuatu yang baru.
Sebab pada akhirnya, belajar bukan hanya tentang tertawa di dalam kelas.
Belajar adalah tentang bertumbuh.
Dan pertumbuhan tidak selalu nyaman.
Kadang ada rasa penasaran.
Kadang ada kebingungan.
Kadang ada kebosanan.
Kadang ada kegagalan.
Kadang ada frustrasi.
Tetapi kemudian ada pemahaman.
Ada penemuan.
Ada kepuasan.
Ada rasa bangga.
Dan di sanalah mungkin letak joy yang sesungguhnya.
Mari tidak sekadar mengajarkan anak agar menikmati pembelajaran. Mari mengajarkan mereka untuk mencintai belajar—dengan
segala suka dan dukanya.

Post a Comment for "Opini: Titik Kritis "Pembelajaran Menyenangkan" ala Joyfull Pemahaman Awam"