Pendidikan: Menuju Generasi Utama


(Tulisan ini pernah di muat di Majalah Suara Muhammadiyah dalam bentuk Khutbah Jumat) Untuk mewujudkan generasi Rabbani sebagaimana yang dicita-citakan bersama maka harus dimulai dari lingkup yang paling kecil, yaitu keluarga. Tanpa adanya perbaikan dalam keluarga tidak akan mungkin generasi berikutnya akan terbentuk dan terpola sedemikian rupa menjadi baik. “Wahai orang-orang yang beriman, lindungilah diri kalian dan keluarga kalian dari api neraka…” (QS. At-Tahrim: 6). Allah gandengkan perintah ini dengan gelar iman, menunjukkan bahwa perintah tersebut merupakan tuntutan dan konsekwensi iman seseorang.

Allah memberikan beberapa tipologi anak-anak dalam Al-Quran yang kelak akan menjadi generasi penerus. Pertama, anak sebagai ujian atau cobaan (Qs at-Taghabun: 15); kedua, anak sebagai  sarana pelalai manusia (Qs al-Munafiqun: 9); ketiga, anak sebagai musuh (Qs at-Taghabun: 14); dan keempat, anak sebagai penyejuk pandangan (Qs al-Furqan: 74). Mau menjadi apa generasi kita kelak tergantung bagaimana orang tua mendidiknya dari sekarang. Tentunya anak sebagai qurrata a’yun (penyejuk pandangan) adalam pilihan terbaik orang tua dalam mendidik generasi selainjutnya.
              
Bagitu pentingnya pendidikan untuk generasi selanjutnya ini sampai Allah memberikan karunia rahmatnya kepada hamba yang beriman dengan janji-Nya:
وَالَّذِينَ آمَنُوا وَاتَّبَعَتْهُمْ ذُرِّيَّتُهُم بِإِيمَانٍ أَلْحَقْنَا بِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَمَا أَلَتْنَاهُم مِّنْ عَمَلِهِم مِّن شَيْءٍ ۚ كُلُّ امْرِئٍ بِمَا كَسَبَ رَهِينٌ [٥٢:٢١]
Dan orang-oranng yang beriman dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikitpun dari pahala amal mereka. Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya. (QS. At Tur: 21)
Setiap kita wajib hukumnya untuk bersama mewujudkan generasi Robbani yang dicita-citakan, di antaranya:

1. Tanamkan Ilmu Tauhid dengan Kokoh

Lukman Al-Hakim pernah memberikan pelajaran kepada putranya bahwa kesyirikan adalah kedholiman yang sangat besar. Bahkan Nabi Ya’qub ketika sudah merasakan ajal mendekat yang beliau wasiatkan kepada putra-putranya adalah tentang tauhid kepada Allah SWT.
أَمْ كُنتُمْ شُهَدَاءَ إِذْ حَضَرَ يَعْقُوبَ الْمَوْتُ إِذْ قَالَ لِبَنِيهِ مَا تَعْبُدُونَ مِن بَعْدِي قَالُوا نَعْبُدُ إِلَٰهَكَ وَإِلَٰهَ آبَائِكَ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ إِلَٰهًا وَاحِدًا وَنَحْنُ لَهُ مُسْلِمُونَ [٢:١٣٣]
Adakah kamu hadir ketika Ya'qub kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika ia berkata kepada anak-anaknya: "Apa yang kamu sembah sepeninggalku?" Mereka menjawab: "Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu, Ibrahim, Ismail dan Ishaq, (yaitu) Tuhan Yang Maha Esa dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya". (QS. Al-Baqarah: 133)


2. Ajarkan Anak-Anak dengan Kewajiban Shalat


Tanamkan dalam kehidupan anak-anak bahwa shalat adalah kewajiban bagi setiap muslim. Bahkan bukan hanya sekedar kewajiban namun sebuah kebutuhan yang tak terpisahkan dalam hidup. Perlu dipahamkan bahwa apabila manusia merasa bingung, gundah gulana  dan tidak tahu harus berbuat apa untuk mengatasi berbagai permasalahan dalam hidupnya maka hendaklah mulai memperbaiki shalatnya. Wastainu bisshobri was shalat (mintalah pertolongan kepada Allah dengan sabar dan shalat).
عَنْ عَمْرِو بْنِ شُعَيْبٍ عَنْ اَبِيْهِ عَنْ جَدّهِ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص. مُرُوْا صِبْيَانَكُم بِالصَّلاَةِ لِسَبْعِ سِنِيْنَ وَ اضْرِبُوْهُمْ عَلَيْهَا لِعَشْرِ سِنِيْنَ وَ فَرّقُوْا بَيْنَهُمْ فِى اْلمَضَاجِعِ. احمد و ابو داود، فى نيل الاوطار 1: 348
Dari ‘Amr bin Syu’aib, dari ayahnya, dari datuknya, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, “Suruhlah anak-anak kecilmu melakukan shalat pada (usia) tujuh tahun, dan pukullah mereka (bila lalai) atasnya pada (usia) sepuluh tahun, dan pisahkanlah mereka pada tempat-tempat tidur”. [HR. Ahmad dan Abu Dawud, dalam Nailul Authar juz 1, hal. 348].

3. Mengajarkan Sunnah dan Akhlak Qurani


Anak-anak perlu dipahamkan bahwa dalam kehidupan muslim hendaklah mencontoh suri tauladan manusia sepanjang zaman yaitu Rasulullah SAW. Dalam beribadah dan berkehidupan bermasyarakat. Mulailah mendidik dari sunnah-sunnah harian kecil seperti cara makan, cara tidur, memakai pakaian dan lain sebagainya. Tanamkan dalam fikirannnya untuk bangga di atas sunnah Nabinya. Selain itu hendaklah orang tua mengajarkan akhlak-akhlak yang baik kepada anaknya, seperti berbakti kepada kedua orang tua, menahan diri dari mengganggu dan menyakiti, menyebarkan salam, menjaga lisan, dan lain-lain.


4.      Perbanyak Doa Untuk Kebaikan Keluarga dan Keturunan
Sebagaimana telah dicontohkan oleh moyang para Nabi yaitu Nabi Ibrahim alaihissalam. Di antara Doa Nabi Ibrahim: “Ya Allah, jadikanlah diriku dan keturunanku orang yang bisa menegakkan shalat. Ya Allah, kabulkanlah do’a.” (QS. Ibrahim: 40). Demikian juga Nabi Muhammad SAW yang telah mengajarkan doa kepada ummatnya dalam setiap keadaan.
وَالَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا [٢٥:٧٤]
Dan orang orang yang berkata: “Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa. (QS. Al-Furqon: 74)

Perbanyaklah memohon doa kepada Allah karena kita tidak tahu doa mana yang diperkenankan oleh-Nya.


5.      Memilihkan Sekolah/Guru yang Terbaik
Di zaman sekarang, banyak orang tua yang memilih sekolah/guru sebagai alternatif pendidikan bagi putra-putrinya. Sehingga sudah menjadi kewajiban bagi orang tua untuk bisa lebih selektif dalam memilih sekolah atau lembaga pendidikan yang bisa mengarahkan anak-anaknya untuk mengerti pemahaman agama yang benar. Walaupun sekolah sudah diberikan wewenang untuk mengurusi pendidikan anak-anak bukan berarti kewajiban orang tua sudah selesai sebatas dititipkan ke sekolahan. Bantulah para guru dan pendidik dengan segala kemampuan dan tentunya doa dari kedua orang tuanya.