Do’a Ketika Mengenakan Pakaian Sesuai Al-Quran dan Hadis

Do’a Ketika Mengenakan Pakaian
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ كَسَانِيْ هَذَا (الثَّوْبَ) وَرَزَقَنِيْهِ مِن ْ غَيْرِ حَوْلٍ مِنِّيْ وَلاَ قُوَّةٍ.
Segala puji bagi Allah Yang telah memberikan pakaian ini kepadaku sebagai rezeki dari-pada-Nya tanpa daya dan kekuatan dari-ku.”[1]




[1]. HR. seluruh penyusun kitab sunan, kecuali Nasa’i, lihat; Irwaa’ul ghalil: 4/47.

Doa dan Dzikir Ketika Bangun Tidur Sesuai Al-Quran dan Hadis Nabi

http://www.ziyad.web.id/2017/09/doa-dan-dzikir-ketika-bangun-tidur.html
Doa ketika bangun tidur sesuai Al-Quran dan Hadis Nabi
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَحْيَاناَ بَعْـدَ مَا أَمَاتَنَا وَإِلَيْهِ النُّشُوْرِ
“Segala puji bagi Allah Yang membangunkan kami setelah ditidurkan-Nya dan kepada-Nya kami dibangkitkan”.[1]
لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَـرِيْكَ لَهُ. لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ. سُبْحَانَ اللهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، وَلاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ رَبِّ اغْفِرْ ليِ.
“Tiada Tuhan selain Allah, Yang Maha Esa, tiada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya kerajaan dan pujian. Dia-lah Yang Maha Kuasa atas segala sesuatu. Maha suci Allah, segala puji bagi Allah, tiada Tuhan selain Allah, Allah Maha Besar, tiada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah yang Maha Tinggi dan Maha Agung. Ya Tuhanku, ampunilah dosaku”.[2]
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي عَافَانِي فِي جَسَدِيْ وَرَدَّ عَلَيَّ رُوْحِيْ وَأَذِنَ لِيْ بِذِكْرِهِ
“Segala puji bagi Allah Yang telah memberikan kesehatan kepada-ku, mengembalikan ruh dan merestuiku untuk berdzikir kepada-Nya”.[3]

Ayat dari surah Ali Imran: 190-200
إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآيَاتٍ لِّأُولِي الْأَلْبَابِ ﴿١٩٠﴾
الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَٰذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ ﴿١٩١﴾
رَبَّنَا إِنَّكَ مَن تُدْخِلِ النَّارَ فَقَدْ أَخْزَيْتَهُ ۖ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنصَارٍ ﴿١٩٢﴾
رَّبَّنَا إِنَّنَا سَمِعْنَا مُنَادِيًا يُنَادِي لِلْإِيمَانِ أَنْ آمِنُوا بِرَبِّكُمْ فَآمَنَّا ۚ رَبَّنَا فَاغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَكَفِّرْ عَنَّا سَيِّئَاتِنَا وَتَوَفَّنَا مَعَ الْأَبْرَارِ ﴿١٩٣﴾
رَبَّنَا وَآتِنَا مَا وَعَدتَّنَا عَلَىٰ رُسُلِكَ وَلَا تُخْزِنَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ ۗ إِنَّكَ لَا تُخْلِفُ الْمِيعَادَ ﴿١٩٤﴾
فَاسْتَجَابَ لَهُمْ رَبُّهُمْ أَنِّي لَا أُضِيعُ عَمَلَ عَامِلٍ مِّنكُم مِّن ذَكَرٍ أَوْ أُنثَىٰ ۖ بَعْضُكُم مِّن بَعْضٍ ۖ فَالَّذِينَ هَاجَرُوا وَأُخْرِجُوا مِن دِيَارِهِمْ وَأُوذُوا فِي سَبِيلِي وَقَاتَلُوا وَقُتِلُوا لَأُكَفِّرَنَّ عَنْهُمْ سَيِّئَاتِهِمْ وَلَأُدْخِلَنَّهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ ثَوَابًا مِّنْ عِندِ اللَّهِ ۗ وَاللَّهُ عِندَهُ حُسْنُ الثَّوَابِ ﴿١٩٥﴾
لَا يَغُرَّنَّكَ تَقَلُّبُ الَّذِينَ كَفَرُوا فِي الْبِلَادِ ﴿١٩٦﴾
مَتَاعٌ قَلِيلٌ ثُمَّ مَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ ۚ وَبِئْسَ الْمِهَادُ ﴿١٩٧﴾
لَٰكِنِ الَّذِينَ اتَّقَوْا رَبَّهُمْ لَهُمْ جَنَّاتٌ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا نُزُلًا مِّنْ عِندِ اللَّهِ ۗ وَمَا عِندَ اللَّهِ خَيْرٌ لِّلْأَبْرَارِ ﴿١٩٨﴾
وَإِنَّ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ لَمَن يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَمَا أُنزِلَ إِلَيْكُمْ وَمَا أُنزِلَ إِلَيْهِمْ خَاشِعِينَ لِلَّهِ لَا يَشْتَرُونَ بِآيَاتِ اللَّهِ ثَمَنًا قَلِيلًا ۗ أُولَٰئِكَ لَهُمْ أَجْرُهُمْ عِندَ رَبِّهِمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ سَرِيعُ الْحِسَابِ ﴿١٩٩﴾
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اصْبِرُوا وَصَابِرُوا وَرَابِطُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ ﴿٢٠٠﴾
“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang yang berakal. (Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka. Ya Tuhan kami, sesungguhnya barang siapa yang Engkau masukkan ke dalam neraka, maka sungguh telah Engkau hinakan dia dan tidak ada bagi orang-orang yang zalim seorang penolongpun. Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami mendengar seruan yang menyeru kepada iman, (yaitu): “Berimanlah kamu kepada Tuhanmu”, maka kamipun beriman. Ya Tuhan kami, ampunilah bagi kami dosa-dosa kami dan hapuskanlah bagi kami kesalahan-kesalahan kami, dan wafatkanlah kami beserta orang-orang yang berbakti. Ya Tuhan kami, berilah kami apa yang telah Engkau janjikan kepada kami dengan perantaraan rasul-rasul Engkau. Dan janganlah Engkau hinakan kami di hari kiamat. Sesungguhnya Engkau tidak menyalahi janji. Maka Tuhan mereka memperkenankan permohonannya (dengan berfirman): “Sesungguhnya Aku tidak menyia-nyiakan amal orang yang beramal di antara kamu, baik laki-laki atau perempuan, (karena) sebagian kamu adalah turunan dari sebagian yang lain. Maka orang-orang yang berhijrah, yang diusir dari kampung halamannya, yang disakiti pada jalan-Ku, yang berperang dan yang dibunuh, pastilah akan Aku hapuskan kesalahan-kesalahan mereka dan pastilah Aku masukkan mereka ke dalam syurga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya. Sebagai pahala di sisi Allah. Dan Allah pada sisi-Nya pahala yang baik. Janganlah sekali-kali kamu terpedaya oleh kebebasan orang-orang kafir bergerak di dalam negri. Itu hanyalah kesenangan sementara, kemudian tempat tinggal mereka adalah Jahannam, dan Jahannam itu adalah tempat tinggal yang seburuk-buruknya. Akan tetapi orang-orang yang bertakwa kepada Tuhannya, bagi mereka surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya, sedang mereka kekal di dalamnya sebagai tempat tinggal (anugerah) dari sisi Allah dan apa yang di sisi Allah adalah lebih baik bagi orang-orang yang berbakti. Dan sesungguhnya di antara ahli kitab ada orang yang beriman kepada Allah dan kepada apa yang diturunkan kepada kamu dan yang diturunkan kepada mereka sedang mereka berendah hati kepada Allah dan mereka tidak menukarkan ayat-ayat Allah dengan harga yang sedikit. Mereka memperoleh pahala di sisi Tuhan-nya. Sesungguhnya Allah amat cepat perhitungan-Nya.  Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (diperbatasan negrimu) dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu beruntung ”.[4]




[1]. HR. Bukhari dalam Fathul Bari: 11/113 dan Muslim: 4/2083.
[2]. Siapa yang membacanya akan diampuni, jika dia berdo’a akan dikabulkan, dan jika dia bangun untuk berwudhu’ lalu shalat, maka shalatnya diterima, Imam Bukhari dalam Fathul Bari: 3/39 dan lainnya. Lafadz diatas dari Ibnu Majah, lihat Shahih Ibnu Majah: 2/335.
[3]. H.R: Tirmidzi: 5/473, lihat Shahih Tirmidzi: 3/144.
[4]. Ayat dari surah Ali Imran: 190-200, shahih Bukhari dalam Fathul Bari 8/237, Muslim 1/530.

Resensi: Buku Ayat-Ayat Semesta, Sisi Al Quran Yang Terlupakan

Judul              : Ayat-Ayat Semesta, Sisi-sisi Al-Qur’an Yang Terlupakan
Penulis           : Agus Purwanto, D.Sc
Penerbit         : Mizan, Bandung; Januari 2016
Tebal              : 450 hal
Mengomentari judul dari buku ini Ayat-Ayat Semesta, Sisi Al Quran Yang Terlupakan. Tentu judul tersebut sekaligus menyindir dengan keras ternyata umat Islam khususnya para ilmuan dan ulama serta para pemimpin di pemerintahan sudah terbuai dengan hal-hal lain yang seoalah ilmiah. Pseudo-ilmiah. Sementara di dalam kitab Al-Quran yang ilmiah sebagai wahyu yang diturunkan oleh Allah justru sudah terukir dimensi-dimensi semesta yang tak terhingga. Namun justru manusia lupa akan hal itu.

Syaikh Jauhari Thanthawi, Guru Besar Cairo University dalam tafsirnya, Al Jawahir, menulis bahwa di dalam kitab suci Al Quran terdapat lebih dari 750 ayat kauniyah, ayat tentang alam semesta dan hanya 150 ayat tentang fiqih. Anehnya, para ulama telah menulis ribuan kitab fiqih, tetapi nyaris tidak memperhatikan serta menulis kitab tentang alam raya dan isinya. (Agus purwanto, Dsc dalam Ayat-Ayat Semesta, sisi-sisi al Quran yang terlupakan, hal. 22)

Keprihatinan dan gugatan Syaikh Thanthowi telah dilontarkan sekitar tujuh dasawarsa lalu, tetapi keadaan sains di kalangan umat dan Dunia Islam tidak mengalami perubahan yang berarti. Umat tetap abai terhadap ayat-ayat kauniyah dan fenomena alam.

Dalam buku setebal 450 halaman ini, penulis yang akrab dipanggil Gus Pur merupakan Kepala Laboratorium Fisika Teori dan Filsafat Alam (LaFTiFA) ITS. Ia mencoba mengangkat kembali dunia Islam terutama sains Islam, dengan mengkaji ayat-ayat kauniyah yang berada dalam Al Quran. Dari sekitar 1.108 ayat-ayat kauniyah yang telah dikumpulkan oleh penulis. Dan setelah di kaji ulang hanya ada 800 ayat-ayat Kauniyah yang mengandung informasi dinamis.

Tentang penulis, Agus Purwanto, D.Sc (Doctor of Science). Dosen Fisika Teori pada Fakultas MIPA ITS Surabaya. Lulusan Hiroshima University, Jepang (S3, jurusan Fisika) dengan bidang minat sesuatu yang benak Anda dan saya pasti langsung dipenuhi tanda tanya: neutrino, teori medan temperatur hingga, dimensi ekstra dan kelahiran jagad raya asimetrik atau baryogenesis.

Terus terang ketika saya pertama membaca buku ini saya agak bingung karena ada beberapa istilah-istilah asing khas fisikawan. Beliau banyak sekali membahas tentang netrino dan konco-konconya yang membuat dahi saya berkerut. Opo iku neutrino? Teleportasi?. Ternyata memang latar belakang penulis yang konsentrasi jurusannya tentang neutrino dan konco-konconya itu. Baru tahu deh :). ehehe

Di bab pertama buku ini penulis memaparkan temuan sekitar 800 AAS tersebut. Baru kemudian menceritakan tentang semesta mengalir. Buku ini tidak seperti buku teks  fisika teori yang rumit, tetapi sudah diubahnya menjadi cerita yang mengalir, bisa diikuti dan dimengerti -tetapi tetap nggak mudah lho!- sehingga bahkan membuat kita seperti enggan meletakkannya kecuali sudah sampai halaman terakhir. Inilah ilmuwan sejati: membuat yang sulit menjadi mudah dimengerti.

Penulis membiacarakan banyak hal dalam buku ini. Fenomena siang malam, garis edar, berpasang-pasangan, Tuhan yang supersibuk, ketidakkekalan materi, menghunjam ke bumi, menembus langit, Isra’ Mi’raj, teleportasi, hingga bahasa makhluk (lain) sebagaimana dimengerti Nabi Sulaiman as. Semuanya berangkat dari ayat di dalam Al-Qur’an. Semuanya bermuara pada satu hal: bahwa sungguh Allah telah meletakkan dasar-dasar sains di dalam kitab-Nya yang telah diturunkan-Nya 14 abad silam!

Dengan bukunya ini, Gus Pur berharap sederhana: masyarakat muslim berbondong-bondong mempelajari, mengembangkan, menguasai sains eksakta sebagai bagian dari tugas kekhalifahan manusia di atas bumi. Selain itu juga, penulis mengajak pembaca untuk dapat membangun dunia Islam terutama sains Islam dengan cara memotivasi ilmuwam muslim khususnya untuk mendukung riset dengan ayat-ayat kauniyah ang kini banyak diambil orang Barat.

Tuhan tidak pensiun. Melainkan terus menerus mencipta, menghancurkan dan mengulangi aksi penciptaan makhluk-Nya. Tuhan tidak mati, melainkan terus menerus, bahkan sangat sibuk dengan penyelenggaraan tatanan ciptaan-Nya. Apa artinya? Para pemuda Muslim tidak perlu terlalu risau dengan subjek yang akan digeluti. Sepanjang hati bersih dan tulus, Allah tidak akan membiarkan hambanya tersesat. (Agus purwanto, Dsc dalam Ayat-Ayat Semesta, sisi-sisi al Quran yang terlupakan, hal. 194)

Itulah yang seharusnya perlu menjadi motivasi kita. Saya yakin Gus Pur ketika menuangkan ide untuk menggarap buku ayat-ayat semesta ini juga pasti didukung dengan keberanian dan semangat yang ekstra tinggi. Tidak takut salah dan selalu berusaha untuk menjadi yang terbaik. Ini salah satu wujud ikhtiar beliu sebagai seorang ilmuan muslim. Memotivasi generasi muda muslim untuk bersama membangun sains Islam dari dasar-dasar wahyu ilahi. Al-Quran. Di tengah kesibukannya sebagai dosen ITS, Ilmuan bahkan Da’i beliau masih sempat-sempatnya membuat gebrakan baru sebagai creator berdirinya Trensain (Pesantren Sains) yang kini sudah berdiri di tiga tempat. Di Sambung Macan-Sragen, Tebu Ireng-Jombang dan di Madrasah Muallimin Yogyakarta. Saya doakan semoga kelak menjadi universitas Sains Indonesia. Aamiin.

Catatan terakhir saya, secara pribadi bisa saya katakan bahwa buku ini hanyalah pendahuluan/muqaddimah dari upaya untuk memahami sains lewat bimbingan Al-Quran. Upaya memotivasi dari penulis untuk memahami sains dari Al-Quran inilah yang sangat penting untuk ditiru dan viralkan lewat media. Agar sains Al-Quran semakin diperbincangkan orang dan akhirnya dikaji ramai-ramai.

Namun sayang seribu sayang, namanya manusia pasti ada kekurangan. Saya melihat bahwa Al-Quran merupakan segala pokok ilmu pengetahuan. Artinya, pasti segala pengetahuan ada dalam Al-Quran, hanya ilmu manusia saja yang terbatas. Sehingga untuk menambal kekurangan dalam pembahasan dalam buku ini alangkah baiknya penulis bekerjasama dengan ilmuan lain dengan konsentrasi pembahasan yang berbeda, bukan hanya dari sudud pandang fisika, tetapi juga biologi, psikologi, kedokteran, virologi, patologi maupun ilmu-ilmu eksakta yang lain.

Mari kita tiru sesuatu yang baik dari buku ini. Nasehat Imam Al-Ghozali, “langkah mula terbaik bagi pencari kebenaran adalah meniru orang-orang terbaik, terpandai, serta terdalam pengetahuannya”. (hal. 205).