Terima kasih Wahai Guruku

writingspedia: Guru
Tangan-tangan bersahaja
Menghantarkan dari persimpangan jalan
Siang malam berkelahi dengan waktu
Bercengkerama dengan kertas-kertas ujian
Gelisah, tiada henti menghantui
Akan anak-anakmu ini..
Terimakasih Guru..

Menari-nari dengan tarian perjuangan
Suara-suara berlian berucap
Dari mulut-mulut bersahaja
Langkah-langkah yang beranjak
Berderap-derap tangan bergetar
Membuka sepucuk surat tanda perjuangan
Purna sudah satu langkah
Membuka semangat perjalanan

Baru dimulai...

Kajian Misykat: Filsafat Agama

Misykat: Buku karya Hamid Fahmi Zarkasyi
Filsafat Agama
Baru-baru ini Kementerian Agama melalui Dirjen Diktis mencoret program studi (prodi) filsafat Islam menjadi filsafat agama. Padahal filsafat Islam ada dalam khazanah pemikiran Islam dan juga telah menjadi prodi di banyak perguruan tinggi Islam. Sedangkan filsafat agama merupakan produk dari kajian agama di Barat dan tidak ada dalam tradisi intelektual Islam.
Sejak zaman modern diskursus agama Di Barat berpindah dari tangan teolog ke tangan para filosof. Pernyataan theology was subservient to philosophy atau under the tutelage of philosophy adalah realitas yang tidak disesali.
Artinya, teologi menjadi bulan-bulanan para filosof. Untuk sekedar menyebut beberapa nama, Sartre, Heidegger, Jung, Ludwig Feurbach, William James, Nietzsche, Kant dan lain-lain adalah filosof-filosof yang bicara soal agama. Padahal mereka tidak punya otoritas untuk bicara teologi.
Para pakar sosiologi, psikologi, antropologi dan lain-lain pun ikut-ikutan membawa agama ke ranah disiplin mereka. Para sosiolog menggunakan teori evolusi Charles Darwin (1809-1882) untuk menjustifikasi adanya perubahan dalam agama. Herbert Spencer (1820-1904) juga mengikuti. Friedrich Max Muller (1794-1827), Emile Durkheim (1858-1917), Rudolf Otto (1869-1937) dan lain-lain mengaitkan agama dengan realitas sosial.
Akhirnya, wacana keagamaan mereka itu tidak lagi bisa disebut teologi, mereka lalu menciptakan apa yang mereka sebut philosophy of religion.
Filsafat Agama adalah suatu disiplin ilmu yang metode dan basis teorinya adalah filsafat Barat. Obyeknya adalah semua agama. Maka ketika filsafat membahas agama-agama itu, worldview Barat berada pada posisi bird-eye. Doktrin filsafat berada diatas doktrin agama-agama. Disini pembahasan agama berada pada zone bebas agama tapi tidak bebas dari worldview Barat.
Di era postmodern disiplin ilmu ini kemudian dikembangkan menjadi Filsafat Agama Lintas Kultural (Cross-Cultural Philosophy of Religion). Ini berarti bahwa obyek kajian filsafat agama diperluas dari sekedar agama yang ada dalam kultur Barat menjadi agama-agama dan kepercayaan yang berasal dari kultur lain.
Metode dan cara pandangnya tetap pemikiran filsafat, sosiologi dan antropologi Barat. Agama hanya dianggap sebagai produk dari kreatifitas manusia dan akan terus berubah sebagaimana makhluk hidup (living organism). Namanya pun dirubah menjadi sekedar penumpukan tradisi (cummulative tradition).
Namun, menurut Thomas Dean, benih-benih disiplin ilmu filsafat agama telah ada sejak tahun 1950an, ia berbuah pada tahun 1960an, membesar pada tahun 1970an dan menjadi buah masak pada tahun 1980an.
Benihnya adalah buku filsafat agama Ninian Smart (1958) Reason and Faith. Diikuti oleh karya Wilfred Cantwell Smith The Meaning and End of Religion (1960), yang membahas pemahaman agama lintas kultural dan kehidupan keagamaan sebagai sebuah dynamic historical continuum, dan bukan merupakan sistem tertutup. Periode pembesaran, ditandai oleh penerbitan esai analitis William Christian, Opposition of Religious Doctrines (1972). 
Ditambah lagi ketika karya “kroyokan” para filosof dan pakar sejarah agama yang berjudul Truth and Dialogue in World Religions: Conflicting Truth-Claim (1974) dan yang disunting John Hick terbit. Buah itu menjadi semakin besar ketika Raimundo Panikkar menerbitkan bukunya, The Intrareligious Dialogue (1978) dan Hick sendiri menulis buku Philosophy of Religion.
Sebagai titik kulminasi dari wacana ini adalah terbitnya karya Wilfred Smith yang berjudul Towards World Teology, dan karya John Hick berjudul Problems of Religious Pluralism (1985) dan Interpretation of Religion (Gifford Lecture, 1986-87). Didalam karyanya inilah Hick mendeklarasikan perlunya teologi global.
Jadi “buah masak” dari disiplin filsafat agama adalah pluralisme agama. Goal getter nya adalah Smith dan Hick. Jika seseorang memilih menjadi sarjana program studi filsafat agama di perguruan tinggi Islam boleh jadi ini hanya akan menambah barisan penggugat fatwa MUI. Artinya dari prodi ini akan lahir sarjana-sarjana pluralis yang akan percaya bahwa semua agama itu sama benarnya dan Islam bukan yang paling benar.

Kajian Misykat: Agama

Misykat: Buku karya Hamid Fahmy Zarkasyi
Agama
Di pinggir jalan kota Manchester Inggris terdapat papan iklan besar bertuliskan kata-kata singkat “It’s like Religion”. Iklan itu tidak ada hubungannya dengan agama atau kepercayaan apapun. Disitu terpampang gambar seorang pemain bola dengan latar belakang ribuan supporternya yang fanatik. Saya baru tahu kalau itu iklan klub sepak bola setelah membaca tulisan dibawahnya Manchester United
Sepakbola dengan supporter fanatik itu biasa, tapi tulisan it’s like religion itu cukup mengusik pikiran saya. Kalau iklan itu di pasang di Jalan Thamrin Jakarta umat beragama pasti akan geger. Ini pelecehan terhadap agama.
Tapi, di Barat agama bisa dipahami seperti itu. Agama adalah fanatisme, kata para sosiolog. Bahkan ketika seorang selebritinya mengatakan My religion is song, sex, sand and champagne juga masih dianggap waras. Mungkin ini yang disinyalir al-Qur’an ara’ayta man ittakhadha ilaahahu hawaahu (QS. 25:43).
Pada dataran diskursus akademik, makna religion di Barat memang problematik. Bertahun-tahun mereka mencoba mendefinisikan religion tapi gagal.
Mereka tetap tidak mampu menjangkau hal-hal yang khusus. Jikapun mampu, mereka terpaksa menafikan agama lain. Ketika agama didefinisikan sebagai kepercayaan, atau kepercayaan kepada yang Maha Kuasa (Supreme Being), kepercayaan primitif di Asia menjadi bukan agama. Sebab agama primitif tidak punya kepercayaan formal, apalagi doktrin.
F. Schleiermacher kemudian mendefinisikan agama dengan tidak terlalu doktriner, agama adalah “Rasa ketergantungan yang absolut” (feeling of absolute dependence). Demikian pula Whithehead, agama adalah “Apa yang kita lakukan dalam kesendirian”.
Disini faktor-faktor terpentingnya adalah emosi, pengalaman, intuisi dan etika. Tapi definisi ini hanya sesuai untuk agama primitif yang punya tradisi penuh dengan ritus-ritus, dan tidak cocok untuk agama yang punya struktur keimanan, ide-ide dan doktrin-doktrin.
Tapi bagi sosiolog dan antropolog memang begitu. Bagi mereka religion sama sekali bukan seperangkat ide-ide, nilai atau pengalaman yang terpisah dari matriks kultural.
Bahkan, kata mereka, beberapa kepercayaan, adat istiadat atau ritus-ritus keagamaan tidak bisa dipahami kecuali dengan matriks kultural tersebut. Emile Durkheim malah yakin bahwa masyarakat itu sendiri sudah cukup sebagai faktor penting bagi lahirnya rasa berketuhanan dalam jiwa. (Lihat The Elementary Forms of the Religious Life, New York, 1926, p. 207).
Tapi bagi pakar psikologi agama justru harus diartikan dari faktor kekuatan kejiwaan manusia ketimbang faktor sosial dan intelektual. Para sosiolog Barat nampaknya trauma dengan makna agama yang doktriner, sehingga tidak peduli dengan aspek ekstrasosial, ekstrasosiologis atau pun ekstrapsikologis. Aspek imanensi lebih dipentingkan daripada aspek transendensi.  
Sejatinya, akar kebingungan Barat mendefinisikan religion karena konsep Tuhan yang bermasalah. Agama Barat - Kristen - kata Armstrong dalam History of God justru banyak bicara Yesus Kristus ketimbang Tuhan. Padahal, Yesus sendiri tidak pernah mengklaim dirinya suci, apalagi Tuhan.
Dalam hal ini kesimpulan Profesor al-Attas sangat jitu ‘Islam, sebagai agama, telah sempurna sejak diturunkan’. Konsep Tuhan, Agama, Ibadah, Manusia dan lain-lain dalam Islam telah jelas sejak awal. Para ulama kemudian hanya menjelaskan konsep-konsep itu tanpa merubah konsep asalnya. Sedang di Barat konsep Tuhan mereka sejak awal bermasalah sehingga perlu direkayasa agar bisa diterima akal manusia.
Kita mungkin akan tersenyum membaca judul buku yang baru terbit di Barat, Tomorrow’s God, (Tuhan Masa Depan), karya Neale Donald Walsch. Tuhan agama-agama yang ada tidak lagi cocok untuk masa kini. Tuhan haruslah seperti apa yang digambarkan oleh akal modern. Manusia makhluk berakal (rational animal) harus lebih dominan daripada manusia makhluk Tuhan.  Pada puncaknya nanti manusialah yang menciptakan Tuhan dengan akalnya.
Socrates pun pernah berkata: “Wahai warga Athena! aku percaya pada Tuhan, tapi tidak akan berhenti berfilsafat”. Artinya “Saya beriman tapi saya akan tetap menggambarkan Tuhan dengan akal saya sendiri”. Wilfred Cantwell Smith nampaknya setuju. Dalam makalahnya berjudul Philosophia as One of the Religious Tradition of Mankind, ia mengategorikan tradisi intelektual Yunani sebagai agama. Apa arti agama baginya tidak penting, malah kalau perlu istilah ini dibuang.
Akhirnya, sama juga mengamini Nietzche bahwa tuhan hanyalah realitas sobyektif dalam fikiran manusia, alias khayalan manusia yang tidak ada dalam realitas obyektif.  Konsep tuhan rasional inilah yang justru menjadi lahan subur bagi ateisme.  Sebab tuhan bisa dibunuh.
Jika Imam al-Ghazzali dikaruniai umur hingga abad ini mungkin ia sudah menulis berjilid-jilid Tahafut. Sekurang-kurangnya ia akan menolak jika Islam dimasukkan kedalam definisi religion versi Barat dan Allah disamakan dengan Tuhan spekulatif. Jika konsep Unmoved Mover Aristotle saja ditolak, kita bisa bayangkan apa reaksi al-Ghazzali ketika mengetahui tuhan di Barat kini is no longer Supreme Being (Tidak lagi Maha Kuasa).
Konsep Tuhan di Barat kini sudah hampir sepenuhnya rekayasa akal manusia. Buktinya tuhan ‘harus’ mengikuti peraturan akal manusia. Ia “tidak boleh” menjadi tiran, “tidak boleh” ikut campur dalam kebebasan dan kreativitas manusia. Tuhan yang ikut mengatur alam semesta dianggap absurd.
Tuhan yang personal dan tirani itulah yang pada abad ke 19 “dibunuh” Nietzche dari pikiran manusia. Tuhan Pencipta tidak wujud pada nalar manusia produk kebudayaan Barat. Agama disana akhirnya tanpa tuhan atau bahkan tuhan tanpa Tuhan. Disini kita baru paham mengapa Manchester United dengan penyokongnya itu like religion. Mungkin mereka hanya malu mengatakan it’s really religion but without god.
Kini di Indonesia dan di negeri-negeri Muslim lainnya cendekiawan Muslim mulai ikut-ikutan risih dengan konsep Allah Maha Kuasa (Supreme Being). Tuhan tidak lagi mengatur segala aspek kehidupan manusia. Bahkan kekuasaan Tuhan harus dibatasi. Benteng pemisah antara agama dan politik dibangun kokoh. Para kyai dan cendekiawan Muslim seperti berteriak “Politik Islam, No” tapi lalu berbisik “Berpolitik, Yes”….”Money Politik laa siyyama (apalagi)”.
Tapi ketika benteng pemisah agama dan politik dibangun, tiba-tiba tembok pemisah antar agama-agama dihancurkan. “Ini proyek besar bung”! kata fulan berbisik. “Ini zaman globalisasi dan kita harus akur” kata profesor pakar studi Islam. Santri-santri diajari berani bilang “Ya akhi tuhan semua agama itu sama, yang beda hanya namaNya”; “Gus! Maulud Nabi sama saja dengan maulud Isa atau Natalan”. Mahasiswa Muslim pun diajari logika relativis “Anda jangan menganggap agama anda paling benar”. Tak ketinggalan para ulama diperingati “Jangan mengatasnamakan Tuhan”.
Kini semua orang “harus” membiarkan pembongkaran batas antar agama, menerima pluralitas dan pluralisme sekaligus. Sebab, kata mereka, pluralisme seperti juga sekularisme, adalah hukum alam. Samar-samar seperti ada suara besar mengingatkan “Kalau anda  tidak pluralis anda pasti teroris”
Anehnya, untuk menjadi seorang pluralis kita tidak perlu meyakini kebenaran agama kita. Kata-kata Hamka “yang bilang semua agama sama berarti ia tidak beragama” mungkin dianggap kuno. Kini yang laris manis adalah konsep global theology-nya John Hick, atau kalau kurang kental pakai Transcendent Unity of Religions-nya F. Schuon.
Semua agama sama pada level esoteris. Di negeri Muslim terbesar di dunia ini, lagu-lagu lama Nietzche tentang relativisme dan nihilisme dinyanyikan mahasiswa Muslim dengan penuh emosi dan semangat. “Tidak ada yang absolut selain Allah” artinya ‘tidak ada yang tahu kebenaran selain Allah’. Syariat, fiqih, tafsir wahyu, ijtihad para ulama adalah hasil pemahaman manusia, maka  semua relatif.
Walhal, Tuhan tidak pernah meminta kita memahami yang absolut apalagi menjadi absolut. Dalam Islam Yang relatif pun bisa mengandung yang absolut. Secara kelakar seorang kawan membayangkan di Jakarta nanti ada papan iklan besar bergambar seorang kyai dengan latar belakang ribuan santri dengan tulisan singkat “Yesus Tuhan kita juga”.

Kajian Misykat: Tuhan

Buku Misykat karya Hamid Fahmi Zarkasyi
Tuhan
Pada suatu hari saya naik bus dari Aston ke Universitas Birmingham Inggris. Disamping saya duduk seorang bule yang agak kusut. Ia melirik buku teologi yang sedang saya baca. Dan tiba-tiba: Hai mike! Ia menyapa dengan aksen khas Birmingham sambil senyum. Kemudian ia bertanya: Bisakah Tuhan menciptakan sesuatu yang Ia tidak dapat mengangkatnya?.
Saya tahu konsekuensi jawabannya. Baik jawaban positif maupun negatif hasilnya sama yaitu “Tuhan tidak berkuasa”. Ini pasti pertanyaan seorang sekuler atau ateis, pikir saya.
Ia bertanya dan tidak perlu jawaban. Untuk tidak memberi jawaban panjang kepadanya, saya melontarkan pertanyaan balik “Could you tell me what do you mean by God?” Benar saja sebelum menjawab pertanyaan saya dia sudah turun dari bus sambil meringis.
Pertanyaan apakah Tuhan bisa membuat lebih baik dari yang ada ini. pernah diajukan Peter Abelard. Dia sendiri bingung menjawabnya. Pertanyaan Bule itu mungkin hasil adopsi dari Peter. Tapi yang jelas bukan dari pikirannya sendiri. Apa makna Tuhan baginya kabur. Bertanya tanpa ilmu akhirnya menjadi seperti guyonan atau bahkan plesetan.
Di Barat diskursus tentang Tuhan memang marak dan terkadang mirip guyonan. Presedennya karena teologi bukan bagian dari tsawabit (permanen) tapi mutaghayyirat (berubah). Layaknya wacana furu’ dalam Fiqih. Ijtihad tentang Tuhan terbuka lebar untuk semua.
Siapa saja boleh bertanya apa saja. Akibatnya, para teolog pun kuwalahan. Pertanyaan-pertanyaan rasional dan protes-protes teologis gagal dijawab. Teolog kemudian digeser oleh doktrin Sola Scriptura. Kitab suci bisa dipahami tanpa otoritas teolog.
Sosiolog, psikolog, sejarawan, filosof, saintis dan bahkan orang awam pun berhak bicara tentang Tuhan. Hadis Nabi Idza wussida al-amru ila ghayri ahlihi fantadzir al-sa’ah, (Jika suatu perkara diberikan kepada yang bukan ahlinya, maka tunggulah waktu (kehancurannya) terbukti. Katholik pun terpolarisasi menjadi Protestan. Protestan menjadi Liberal dan al-Syiah itu barangkali lahirnya apa yang disebut dengan modern atheism.
Apa kata Michael Buckley dalam At The Origin of Modern Atheism meneguhkan sabda Nabi. Ateisme murni di awal era modern timbul karena otoritas teolog diambil alih oleh filosof dan saintis. Pemikir-pemikir yang ia juluki “Para pembela iman Kristiani baru yang rasionalistis” seperti Lessius, Mersenne, Descartes, Malebranche, Newton dan Clarke, itu justru melupakan realitas Yesus Kristus.
Dalam hal ini Newton tidak mau disalahkan, Trinitas telah merusak agama murni Yesus, katanya.  Descartes hanya percaya Tuhan filsafat, bukan Tuhan teolog, Lalu siapa yang bermasalah? Bisa kedua-duanya.
Ini membingungkan. Pernyataan eksplisit bahwa Yesus itu Tuhan memang absen dari Bible. Ia dipahami hanya dari implikasi, sebab bahasa Bible itu susah, kata Duane A. Priebe. Konsep Tuhan akhirnya harus dicari dengan hermeneutik dan kritik terhadap teks Bible.
Akan tetapi malangnya kritik terhadap Bible (Biblical Criticism), bukan tanpa konsekuensi. Biblical Criticism, kata Buckley, justru melahirkan ateisme modern. Alasannya lugas dan logis. Ketika orang ragu akan teks Bible ia juga ragu akan isinya, akan kebenaran hakikat Tuhan dan tentang kebenaran eksistensi Tuhan itu sendiri. Hasil akhirnya adalah ateisme. Bukan hanya Biblenya yang problematik, tapi perangkat teologisnya tidak siap. Inilah masalah teologi.
Tapi ateisme modern bukan mengkufuri Tuhan, tapi Tuhan para teolog tuhan agama-agama. Yang problematik, kata Voltaire bukan Tuhan tapi doktrin-doktrin tentang Tuhan. Tuhan Yahudi dan Kristen, kata Newton problematik karena itu ia ditolak sains.
Bahkan bagi Hegel Tuhan Yahudi itu tiran dan Tuhan Kristen itu barbar dan lalim. Tuhan, akhirnya harus dibunuh. Nietzche pada tahun 1882 mendeklarasikan bahwa Tuhan sudah mati. Tapi ia tidak sendiri. Bagi Feuerbach, Karl Marx, Charles Darwin, Sigmund Freud, jika Tuhan belum mati, tugas manusia rasional untuk membunuhNya. Tapi Voltaire (1694-1778) tidak setuju Tuhan dibunuh. Tuhan harus ada, seandainya Tuhan tidak ada kita wajib menciptakannya. Hanya saja Tuhan tidak boleh bertentangan dengan standar akal. Suatu guyonan yang menggelitik.
Belakangan Sartre (1905-1980) seorang filosof eksistensialis mencoba menetralisir, Tuhan bukan tidak hidup lagi atau tidak ada, Tuhan ada tapi tidak bersama manusia. “Tuhan telah berbicara pada kita tapi kini Ia diam”. Sartre lalu menuai kritik dari Martin Buber (1878-1965) seorang teolog Yahudi. Anggapan Sartre itu hanyalah kilah seorang eksistensialis. Tuhan tidak diam, kata Buber, tapi di zaman ini manusia memang jarang mendengar. Manusia terlalu banyak bicara dan sangat sedikit merasa. Filsafat hanya bermain dengan image dan metafora sehingga gagal mengenal Tuhan, katanya.
Itulah akibat memahami Tuhan tanpa pengetahuan agama, tulisnya geram. Filosof berkomunikasi dengan Tuhan hanya dengan pikiran, tapi tanpa rasa keimanan. Martin lalu menggambarkan “nasib” Tuhan di Barat melalui bukunya berjudul Eclipse of God. Saat Blaise Pascal (1623-1662) ilmuwan muda brilian dari Perancis meninggal, dibalik jaketnya ditemukan tulisan “Tuhan Abraham, Tuhan Ishak, Tuhan Yakub, bukan Tuhan para filosof dan ilmuwan.” Kesimpulan yang sangat cerdas. Inilah masalah bagi para filosof itu.
Begitulah, Barat akhirnya menjadi peradaban yang “maju” tanpa teks (kitab suci), tanpa otoritas teolog, dan last but not least tanpa Tuhan. Barat adalah peradaban yang meninggalkan Tuhan dari wacana keilmuan, wacana filsafat, wacana peradaban bahkan dari kehidupan publik. Tuhan, kata Diderot, tidak bisa jadi pengalaman sobyektif. Meskipun bisa bagi Kant (1724-1804) juga tidak menjadikan Tuhan “ada”. Berpikir dan beriman pada tuhan hasilnya sama. Kant gagal menemukan Tuhan. Kant mengaku sering ke gereja, tapi tidak masuk. Ia seumur-umur hanya dua kali masuk gereja : waktu dibaptis dan saat menikah. Maka dari itu Tuhan tidak bisa hadir dalam alam pikiran filsafatnya.
Muridnya, Herman Cohen pun berpikir sama. “Tuhan hanya sekedar ide”, katanya. Tuhan hanya nampak dalam bentuk mitos yang tidak pernah wujud. Tapi anehnya ia mengaku mencintai Tuhan. Lebih aneh lagi ia bilang “Kalau saya mencintai Tuhan”, katanya, “maka saya tidak memikirkanNya lagi.” Hatinya ke kanan pikirannya ke kiri. Pikirannya tidak membimbing hatinya, dan cintanya tidak melibatkan pikirannya.
Tuhan dalam perhelatan peradaban Barat memang problematik. Sejak awal era modern Francis Bacon (1561-1626) menggambarkan mindset manusia Barat begini : Theology is known by faith but philosophy should depend only upon reason. Maknanya, teologi di Barat tidak masuk akal dan berfilsafat tidak bisa melibatkan keimanan pada Tuhan.
Filsafat dan sains di Barat memang area non-teologis alias bebas Tuhan. Tuhan tidak lagi berkaitan dengan ilmu, dunia empiris. Tuhan menjadi seperti mitologi dalam khayalan. Akhirnya Barat kini, dalam bahasa Nietzche, sedang “menempuh ketiadaan yang tanpa batas”.
Tapi anehnya, kita tiba-tiba mendengar mahasiswa Muslim “mengusir” Tuhan dari kampusnya dan membuat plesetan tentang Allah gaya-gaya filosof Barat. Ini guyonan yang tidak lucu, dan wacana intelektual yang wagu. Seperti santri sarungan tapi di kepalanya topi cowboy Alaska yang kedodoran. Tidak bisa sujud tapi juga tidak bisa lari. Bagaikan parodi dalam drama kolosal yang berunsur western-tainment.   
Konsep Tuhan dalam tradisi intelektual Islam tidak begitu. Konsep itu telah sempurna sejak selesainya tanzil. Bagi seorang pluralis ini jelas supremacy claim. Tapi faktanya Kalam dan falsafah tidak pernah lepas dari Tuhan. Mutakallim dan faylosof juga tidak mencari Tuhan baru, tapi sekedar menjelaskan. Penjelasan al-Qu’ran dan Hadis cukup untuk membangun peradaban.
Ketika Islam berhadapan dengan peradaban dunia saat itu, konsep Tuhan, dan teks al-Qur’an tidak bermasalah. Hermeneutika allegoris Plato maupun literal Aristotle pun tidak diperlukan. Hujatan terhadap teks dan pelucutan otoritas teolog juga tidak terjadi. Justru kekuatan konsep-konsepnya secara sistemik membentuk suatu pandangan hidup (worldview).
Islam tidak ditinggalkan oleh peradaban yang dibangunnya sendiri. Itulah sebabnya ia berkembang menjadi peradaban yang tangguh. Roger Garaudy yang juga bule itu paham, Islam adalah pandangan terhadap Tuhan, terhadap alam dan terhadap manusia yang membentuk sains, seni, individu dan masyarakat. Islam membentuk dunia yang bersifat ketuhanan dan kemanusiaan sekaligus. Jika peradaban Islam dibangun dengan gaya-gaya Barat menghujat Tuhan itu berarti mencampur yang al-haq dengan yang al-batil alias sunt bona mixtra malis.

Do’a Ketika Mengenakan Pakaian Sesuai Al-Quran dan Hadis

Do’a Ketika Mengenakan Pakaian
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ كَسَانِيْ هَذَا (الثَّوْبَ) وَرَزَقَنِيْهِ مِن ْ غَيْرِ حَوْلٍ مِنِّيْ وَلاَ قُوَّةٍ.
Segala puji bagi Allah Yang telah memberikan pakaian ini kepadaku sebagai rezeki dari-pada-Nya tanpa daya dan kekuatan dari-ku.”[1]




[1]. HR. seluruh penyusun kitab sunan, kecuali Nasa’i, lihat; Irwaa’ul ghalil: 4/47.

Doa dan Dzikir Ketika Bangun Tidur Sesuai Al-Quran dan Hadis Nabi

http://www.ziyad.web.id/2017/09/doa-dan-dzikir-ketika-bangun-tidur.html
Doa ketika bangun tidur sesuai Al-Quran dan Hadis Nabi
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَحْيَاناَ بَعْـدَ مَا أَمَاتَنَا وَإِلَيْهِ النُّشُوْرِ
“Segala puji bagi Allah Yang membangunkan kami setelah ditidurkan-Nya dan kepada-Nya kami dibangkitkan”.[1]
لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَـرِيْكَ لَهُ. لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ. سُبْحَانَ اللهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، وَلاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ رَبِّ اغْفِرْ ليِ.
“Tiada Tuhan selain Allah, Yang Maha Esa, tiada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya kerajaan dan pujian. Dia-lah Yang Maha Kuasa atas segala sesuatu. Maha suci Allah, segala puji bagi Allah, tiada Tuhan selain Allah, Allah Maha Besar, tiada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah yang Maha Tinggi dan Maha Agung. Ya Tuhanku, ampunilah dosaku”.[2]
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي عَافَانِي فِي جَسَدِيْ وَرَدَّ عَلَيَّ رُوْحِيْ وَأَذِنَ لِيْ بِذِكْرِهِ
“Segala puji bagi Allah Yang telah memberikan kesehatan kepada-ku, mengembalikan ruh dan merestuiku untuk berdzikir kepada-Nya”.[3]

Ayat dari surah Ali Imran: 190-200
إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآيَاتٍ لِّأُولِي الْأَلْبَابِ ﴿١٩٠﴾
الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَٰذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ ﴿١٩١﴾
رَبَّنَا إِنَّكَ مَن تُدْخِلِ النَّارَ فَقَدْ أَخْزَيْتَهُ ۖ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنصَارٍ ﴿١٩٢﴾
رَّبَّنَا إِنَّنَا سَمِعْنَا مُنَادِيًا يُنَادِي لِلْإِيمَانِ أَنْ آمِنُوا بِرَبِّكُمْ فَآمَنَّا ۚ رَبَّنَا فَاغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَكَفِّرْ عَنَّا سَيِّئَاتِنَا وَتَوَفَّنَا مَعَ الْأَبْرَارِ ﴿١٩٣﴾
رَبَّنَا وَآتِنَا مَا وَعَدتَّنَا عَلَىٰ رُسُلِكَ وَلَا تُخْزِنَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ ۗ إِنَّكَ لَا تُخْلِفُ الْمِيعَادَ ﴿١٩٤﴾
فَاسْتَجَابَ لَهُمْ رَبُّهُمْ أَنِّي لَا أُضِيعُ عَمَلَ عَامِلٍ مِّنكُم مِّن ذَكَرٍ أَوْ أُنثَىٰ ۖ بَعْضُكُم مِّن بَعْضٍ ۖ فَالَّذِينَ هَاجَرُوا وَأُخْرِجُوا مِن دِيَارِهِمْ وَأُوذُوا فِي سَبِيلِي وَقَاتَلُوا وَقُتِلُوا لَأُكَفِّرَنَّ عَنْهُمْ سَيِّئَاتِهِمْ وَلَأُدْخِلَنَّهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ ثَوَابًا مِّنْ عِندِ اللَّهِ ۗ وَاللَّهُ عِندَهُ حُسْنُ الثَّوَابِ ﴿١٩٥﴾
لَا يَغُرَّنَّكَ تَقَلُّبُ الَّذِينَ كَفَرُوا فِي الْبِلَادِ ﴿١٩٦﴾
مَتَاعٌ قَلِيلٌ ثُمَّ مَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ ۚ وَبِئْسَ الْمِهَادُ ﴿١٩٧﴾
لَٰكِنِ الَّذِينَ اتَّقَوْا رَبَّهُمْ لَهُمْ جَنَّاتٌ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا نُزُلًا مِّنْ عِندِ اللَّهِ ۗ وَمَا عِندَ اللَّهِ خَيْرٌ لِّلْأَبْرَارِ ﴿١٩٨﴾
وَإِنَّ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ لَمَن يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَمَا أُنزِلَ إِلَيْكُمْ وَمَا أُنزِلَ إِلَيْهِمْ خَاشِعِينَ لِلَّهِ لَا يَشْتَرُونَ بِآيَاتِ اللَّهِ ثَمَنًا قَلِيلًا ۗ أُولَٰئِكَ لَهُمْ أَجْرُهُمْ عِندَ رَبِّهِمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ سَرِيعُ الْحِسَابِ ﴿١٩٩﴾
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اصْبِرُوا وَصَابِرُوا وَرَابِطُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ ﴿٢٠٠﴾
“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang yang berakal. (Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka. Ya Tuhan kami, sesungguhnya barang siapa yang Engkau masukkan ke dalam neraka, maka sungguh telah Engkau hinakan dia dan tidak ada bagi orang-orang yang zalim seorang penolongpun. Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami mendengar seruan yang menyeru kepada iman, (yaitu): “Berimanlah kamu kepada Tuhanmu”, maka kamipun beriman. Ya Tuhan kami, ampunilah bagi kami dosa-dosa kami dan hapuskanlah bagi kami kesalahan-kesalahan kami, dan wafatkanlah kami beserta orang-orang yang berbakti. Ya Tuhan kami, berilah kami apa yang telah Engkau janjikan kepada kami dengan perantaraan rasul-rasul Engkau. Dan janganlah Engkau hinakan kami di hari kiamat. Sesungguhnya Engkau tidak menyalahi janji. Maka Tuhan mereka memperkenankan permohonannya (dengan berfirman): “Sesungguhnya Aku tidak menyia-nyiakan amal orang yang beramal di antara kamu, baik laki-laki atau perempuan, (karena) sebagian kamu adalah turunan dari sebagian yang lain. Maka orang-orang yang berhijrah, yang diusir dari kampung halamannya, yang disakiti pada jalan-Ku, yang berperang dan yang dibunuh, pastilah akan Aku hapuskan kesalahan-kesalahan mereka dan pastilah Aku masukkan mereka ke dalam syurga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya. Sebagai pahala di sisi Allah. Dan Allah pada sisi-Nya pahala yang baik. Janganlah sekali-kali kamu terpedaya oleh kebebasan orang-orang kafir bergerak di dalam negri. Itu hanyalah kesenangan sementara, kemudian tempat tinggal mereka adalah Jahannam, dan Jahannam itu adalah tempat tinggal yang seburuk-buruknya. Akan tetapi orang-orang yang bertakwa kepada Tuhannya, bagi mereka surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya, sedang mereka kekal di dalamnya sebagai tempat tinggal (anugerah) dari sisi Allah dan apa yang di sisi Allah adalah lebih baik bagi orang-orang yang berbakti. Dan sesungguhnya di antara ahli kitab ada orang yang beriman kepada Allah dan kepada apa yang diturunkan kepada kamu dan yang diturunkan kepada mereka sedang mereka berendah hati kepada Allah dan mereka tidak menukarkan ayat-ayat Allah dengan harga yang sedikit. Mereka memperoleh pahala di sisi Tuhan-nya. Sesungguhnya Allah amat cepat perhitungan-Nya.  Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (diperbatasan negrimu) dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu beruntung ”.[4]




[1]. HR. Bukhari dalam Fathul Bari: 11/113 dan Muslim: 4/2083.
[2]. Siapa yang membacanya akan diampuni, jika dia berdo’a akan dikabulkan, dan jika dia bangun untuk berwudhu’ lalu shalat, maka shalatnya diterima, Imam Bukhari dalam Fathul Bari: 3/39 dan lainnya. Lafadz diatas dari Ibnu Majah, lihat Shahih Ibnu Majah: 2/335.
[3]. H.R: Tirmidzi: 5/473, lihat Shahih Tirmidzi: 3/144.
[4]. Ayat dari surah Ali Imran: 190-200, shahih Bukhari dalam Fathul Bari 8/237, Muslim 1/530.

Resensi: Buku Ayat-Ayat Semesta, Sisi Al Quran Yang Terlupakan

Judul              : Ayat-Ayat Semesta, Sisi-sisi Al-Qur’an Yang Terlupakan
Penulis           : Agus Purwanto, D.Sc
Penerbit         : Mizan, Bandung; Januari 2016
Tebal              : 450 hal
Mengomentari judul dari buku ini Ayat-Ayat Semesta, Sisi Al Quran Yang Terlupakan. Tentu judul tersebut sekaligus menyindir dengan keras ternyata umat Islam khususnya para ilmuan dan ulama serta para pemimpin di pemerintahan sudah terbuai dengan hal-hal lain yang seoalah ilmiah. Pseudo-ilmiah. Sementara di dalam kitab Al-Quran yang ilmiah sebagai wahyu yang diturunkan oleh Allah justru sudah terukir dimensi-dimensi semesta yang tak terhingga. Namun justru manusia lupa akan hal itu.

Syaikh Jauhari Thanthawi, Guru Besar Cairo University dalam tafsirnya, Al Jawahir, menulis bahwa di dalam kitab suci Al Quran terdapat lebih dari 750 ayat kauniyah, ayat tentang alam semesta dan hanya 150 ayat tentang fiqih. Anehnya, para ulama telah menulis ribuan kitab fiqih, tetapi nyaris tidak memperhatikan serta menulis kitab tentang alam raya dan isinya. (Agus purwanto, Dsc dalam Ayat-Ayat Semesta, sisi-sisi al Quran yang terlupakan, hal. 22)

Keprihatinan dan gugatan Syaikh Thanthowi telah dilontarkan sekitar tujuh dasawarsa lalu, tetapi keadaan sains di kalangan umat dan Dunia Islam tidak mengalami perubahan yang berarti. Umat tetap abai terhadap ayat-ayat kauniyah dan fenomena alam.

Dalam buku setebal 450 halaman ini, penulis yang akrab dipanggil Gus Pur merupakan Kepala Laboratorium Fisika Teori dan Filsafat Alam (LaFTiFA) ITS. Ia mencoba mengangkat kembali dunia Islam terutama sains Islam, dengan mengkaji ayat-ayat kauniyah yang berada dalam Al Quran. Dari sekitar 1.108 ayat-ayat kauniyah yang telah dikumpulkan oleh penulis. Dan setelah di kaji ulang hanya ada 800 ayat-ayat Kauniyah yang mengandung informasi dinamis.

Tentang penulis, Agus Purwanto, D.Sc (Doctor of Science). Dosen Fisika Teori pada Fakultas MIPA ITS Surabaya. Lulusan Hiroshima University, Jepang (S3, jurusan Fisika) dengan bidang minat sesuatu yang benak Anda dan saya pasti langsung dipenuhi tanda tanya: neutrino, teori medan temperatur hingga, dimensi ekstra dan kelahiran jagad raya asimetrik atau baryogenesis.

Terus terang ketika saya pertama membaca buku ini saya agak bingung karena ada beberapa istilah-istilah asing khas fisikawan. Beliau banyak sekali membahas tentang netrino dan konco-konconya yang membuat dahi saya berkerut. Opo iku neutrino? Teleportasi?. Ternyata memang latar belakang penulis yang konsentrasi jurusannya tentang neutrino dan konco-konconya itu. Baru tahu deh :). ehehe

Di bab pertama buku ini penulis memaparkan temuan sekitar 800 AAS tersebut. Baru kemudian menceritakan tentang semesta mengalir. Buku ini tidak seperti buku teks  fisika teori yang rumit, tetapi sudah diubahnya menjadi cerita yang mengalir, bisa diikuti dan dimengerti -tetapi tetap nggak mudah lho!- sehingga bahkan membuat kita seperti enggan meletakkannya kecuali sudah sampai halaman terakhir. Inilah ilmuwan sejati: membuat yang sulit menjadi mudah dimengerti.

Penulis membiacarakan banyak hal dalam buku ini. Fenomena siang malam, garis edar, berpasang-pasangan, Tuhan yang supersibuk, ketidakkekalan materi, menghunjam ke bumi, menembus langit, Isra’ Mi’raj, teleportasi, hingga bahasa makhluk (lain) sebagaimana dimengerti Nabi Sulaiman as. Semuanya berangkat dari ayat di dalam Al-Qur’an. Semuanya bermuara pada satu hal: bahwa sungguh Allah telah meletakkan dasar-dasar sains di dalam kitab-Nya yang telah diturunkan-Nya 14 abad silam!

Dengan bukunya ini, Gus Pur berharap sederhana: masyarakat muslim berbondong-bondong mempelajari, mengembangkan, menguasai sains eksakta sebagai bagian dari tugas kekhalifahan manusia di atas bumi. Selain itu juga, penulis mengajak pembaca untuk dapat membangun dunia Islam terutama sains Islam dengan cara memotivasi ilmuwam muslim khususnya untuk mendukung riset dengan ayat-ayat kauniyah ang kini banyak diambil orang Barat.

Tuhan tidak pensiun. Melainkan terus menerus mencipta, menghancurkan dan mengulangi aksi penciptaan makhluk-Nya. Tuhan tidak mati, melainkan terus menerus, bahkan sangat sibuk dengan penyelenggaraan tatanan ciptaan-Nya. Apa artinya? Para pemuda Muslim tidak perlu terlalu risau dengan subjek yang akan digeluti. Sepanjang hati bersih dan tulus, Allah tidak akan membiarkan hambanya tersesat. (Agus purwanto, Dsc dalam Ayat-Ayat Semesta, sisi-sisi al Quran yang terlupakan, hal. 194)

Itulah yang seharusnya perlu menjadi motivasi kita. Saya yakin Gus Pur ketika menuangkan ide untuk menggarap buku ayat-ayat semesta ini juga pasti didukung dengan keberanian dan semangat yang ekstra tinggi. Tidak takut salah dan selalu berusaha untuk menjadi yang terbaik. Ini salah satu wujud ikhtiar beliu sebagai seorang ilmuan muslim. Memotivasi generasi muda muslim untuk bersama membangun sains Islam dari dasar-dasar wahyu ilahi. Al-Quran. Di tengah kesibukannya sebagai dosen ITS, Ilmuan bahkan Da’i beliau masih sempat-sempatnya membuat gebrakan baru sebagai creator berdirinya Trensain (Pesantren Sains) yang kini sudah berdiri di tiga tempat. Di Sambung Macan-Sragen, Tebu Ireng-Jombang dan di Madrasah Muallimin Yogyakarta. Saya doakan semoga kelak menjadi universitas Sains Indonesia. Aamiin.

Catatan terakhir saya, secara pribadi bisa saya katakan bahwa buku ini hanyalah pendahuluan/muqaddimah dari upaya untuk memahami sains lewat bimbingan Al-Quran. Upaya memotivasi dari penulis untuk memahami sains dari Al-Quran inilah yang sangat penting untuk ditiru dan viralkan lewat media. Agar sains Al-Quran semakin diperbincangkan orang dan akhirnya dikaji ramai-ramai.

Namun sayang seribu sayang, namanya manusia pasti ada kekurangan. Saya melihat bahwa Al-Quran merupakan segala pokok ilmu pengetahuan. Artinya, pasti segala pengetahuan ada dalam Al-Quran, hanya ilmu manusia saja yang terbatas. Sehingga untuk menambal kekurangan dalam pembahasan dalam buku ini alangkah baiknya penulis bekerjasama dengan ilmuan lain dengan konsentrasi pembahasan yang berbeda, bukan hanya dari sudud pandang fisika, tetapi juga biologi, psikologi, kedokteran, virologi, patologi maupun ilmu-ilmu eksakta yang lain.

Mari kita tiru sesuatu yang baik dari buku ini. Nasehat Imam Al-Ghozali, “langkah mula terbaik bagi pencari kebenaran adalah meniru orang-orang terbaik, terpandai, serta terdalam pengetahuannya”. (hal. 205).

Jangan Semangat Menulis Hangat-hangat Tahi Ayam !

semnagat menulis hangat-hangat tahi ayam !
Saya pernah membaca sebuah buku yang cukup fenomenal dan menurut saya cukup berkesan. Ayat-ayat semesta judulnya. Karya masterpiece dari Agus Purwanto, Dsc, seorang ahli fisika teori lulusan Hirosima University. Beliau menulis dalam suatu baris dalam bukunya, bahwa seorang ilmuan yang tidak punya motivasi yang ekstra maka dia bukanlah seorang ilmuan. Tetapi hanya Pseudoscientist. Ilmuan seolah olah. Ilmuan semu. Anda tercengang? Kalau saya tidak. Biasa saja.

Oke, saya tidak akan membahas mengenai pesudo, lain kali saja.
Jika kita membahas mengenai profesi penulis. Seorang penulis pemula biasanya akan mempunyai semangat yang membuncah. Bahkan saking semangatnya justru cenderang agak kelihatan lebay. Pasalnya semangat untuk menulis tak ubahnya kehangatan kotoran ayam yang baru keluar dari dubur ayam. Masih fresh dan hangat. Namun setelah beberapa saat, akan cepat dingin menyesuaikan dengan udara sekitar.

Maaf kalau analogi ini agak aneh. Tapi saya rasa cukup pas dan masuk akal. Seorang yang mengatakan dirinya penulis atau hobi menulis sudah selayaknya juga harus hobi membaca. Kalau ada orang yang mengatakan hobi menulis namun tidak mau membaca atau jarang sekali membaca maka bisa dipastikan dia bohong atau hanya seolah-olah hobi menulis, seolah-olah seorang penulis. Pseudo-writer.

Ketika seseorang yang mengatakan dirinya sebagai penulis, setelah beberapa hari, beberapa minggu bahkan beberapa bulan begadang untuk melembur tulisannya. Setelah selesai dan dikirim ke penerbit ternyata tidak ada penerbit yang mau menerima. Beberapa saat kemudian pupuslah harapan dan hilang semangat menulis sama sekali. Pseudo-writer. Tidak punya semangat, hanya semangat hangat-hangat tahi ayam.
Ketika seseorang mengatakan dirinya sebagai penulis atau hobi menulis namun tidak pernah menuliskan apa yang ada dibenaknya. Baik melalui pena, blog, website atau sebuah karya buku lainnya. Maka jangan percaya dengan semangat seperti itu. Itu hanya Pseudo. Jika benar ada keinginan untuk menulis maka menulislah dengan rutin dan teratur. Mungkin setiap hari empat lembar HVS. Atau dengan cara apapun yang penting menulis. Cara termudah bisa dengan menulisnya di blog atau web.

Karena cara terbaik untuk belajar menulis adalah dengan menulis

Jika ada seorang guru yang jarang membaca dan hanya sebatas pada ketrampilan yang pas-pasan. Sekedar memenuhi beban tanggung jawab mengajar tanpa meng-update pengetahuan terbaru dan meng-up grade ketrampilannya maka bolehlah juga dikatakan pseudo-teacher. Seolah-olah guru, hanya guru semu.


Jadi buat kamu-kamu yang merasa seperti itu, maka tersinggunglah sebelum tersinggung itu dilarang. Bukan hanya tersinggung, tapi responlah tulisan ini dengan tulisan juga sebagai bukti kamu bukan pseudo. (www.ziyad.web.id)

Jangan Putus Sekolah Nak !

foto anak-anak sedang berangkat sekolah pagi hari
Namaku Fahri Aditya. Teman-temankku biasa memanggilku Fahri. Aku lahir dari keluarga yang pas-pasan. Ayah hanya seorang buruh bangunan dengan gaji yang tak seberapa. Sedangkan Ibu hanya seorang buruh jahit biasa di kampungku. Walaupun hanya berbekal gaji yang tak seberapa ayah tak henti-hentinya menyemangatiku untuk tak berhenti belajar. Menyemangatiku untuk melanjutkan pendidikan walaupun harus membanting tulang. Bertaruh cucuran keringat.
Pernah suatu hari, ketika aku mau berangkat sekolah untuk minta uang saku tak sengaja mendengar percakapan ayah dan ibu di kamar.
“Yah, masih ada uang ndak untuk beli lauk hari ini?” Ucap ibu lirih.
“Alhamdulillah Ayah masih punya 15 rb untuk hari ini. Yang 7 rb bisa ibu gunakan untuk memasak hari ini, yang 5 rb untuk ayah buat beli lauk di tempat kerja dan sisanya biar buat saku fahri ke sekolah”
Mendengar percakapan itu tiba-tiba kakiku tersendat untuk melangkahkan kaki meminta uang saku ke ayah. Bagaimana mungkin aku meminta uang saku dalam kondisi seperti itu. Tanpa pikir panjang segera aku putar arah dan kembali ke ruang tamu untuk bersiap-siap berangkat sekolah. Tak apalah tak punya uang saku yang penting masih ada air untuk bekal minum selama di perjalanan ke sekolah.
Aku ingat kemarin masih menyimpan beberapa permen dari temanku ketika di sekolah. Setidaknya bisa untuk mengganjal perutku yang kosong. Aku bersyukur masih diberi kesehatan oleh Allah sehingga masih bisa pergi ke sekolah. Beberapa temanku malah banyak yang sakit sehingga tidak bisa pergi ke sekolah.
Kebetulan jarak sekolah dari rumah cukup dekat. Sekitar 30 menit dengan jarak tempuh menggunakan sepeda miniku. Sehingga pukul 6.20 menit aku sudah harus tancap pedal untuk mengayuh sepeda ke sekolah.
Aku lihat teman-teman seusiaku di kampung banyak yang tidak melanjutkan sekolah. Entah apa alasannya, beberapa temanku ketika SD banyak yang sudah bekerja jadi kuli bangunan. Sedangkan sisanya meneruskan ke bangku SMP. Namun setelah lulus SMP hampir bisa dihitung jari yang mau melanjutkan ke jenjang SMA. Beberapa di antaranya termasuk aku yang melanjutkan ke jenjang SMA. Padahal orang tuanya sangat mampu untuk membiayai.
Bukan tanpa alasan Ayah bersikeras untuk menyekolahkanku hingga jenjang perguruan tinggi sekalipun. Jika urusan itu terkait dengan pendidikan anaknya Ayah memang tergolong yang paling keras kepala. Ayah punya impian kelak akulah yang dicadangkan untuk mengangkat derajat keluargaku.
Pernah aku mengajukan permintaan agar Ayah tidak usah repot-repot menyekolahkanku ke SMA. Tentu alasanku cukup beralasan. Bagaimana mungkin ayah bisa membiayai sekolahku. Bagaimana dengan adik-adikku yang pastinya juga perlu pendidikan. Hanya karena alasan itu aku beranikan diri bicara masalah sekolah.
Namun sebelum aku menjelaskan dengan segudang alasan yang telah aku susun malam tadi, aku dibuat tercengang dan tak sanggup berkata apa-apa dengan satu ucapan ayah.
“Ayah tidak ingin kamu bernasib sama seperti kedua orang tuamu kelak !”.
“Tapi yah...”
“Sudahlah..lanjutkan saja, Ayah akan berusaha semaksimal mungkin”.
Biarpun hidup kadang kekurangan tidak menyurutkan langkah Ayah untuk terus menyekolahkan anak-anaknya. Keputusan itu sudah mendarah daging di tubuh Ayah. Rasanya sudah tidak bisa dicabut lagi. Kalau urusan pendidikan anak-anaknya apapun dipertaruhkan.
“Lalu bagaimana dengan sekolah adik kalau aku melanjutkan sekolah yah?”, tanyaku pada ayah.
“sudahlah Fahri, kamu tidak usah memikirkan biaya sekolah. Cukup kamu belajar yang rajin sehingga menjadi anak yang pintar. Kelak kamu yang bisa mengangkat martabat keluarga kita. Kamulah harapan ayah. Jadilah orang yang bermanfaat bagi sesama. Kelak kamu akan merasakan betapa yang selama ini ayah perjuangkan adalah untuk memperbaiki peradaban kita”, kata ayah tegas.
Nasehat itu selalu aku pegang. Sebuah nasehat berharga yang sampai detik ini masih mengiang-ngiang di benakku. Betapa nasehat ini sangat berharga. Ayah sudah memikirkan jauh-jauh hari tentang masa depanku yang aku sendiri tak tahu jadi apa kelak. Itulah ayah, beliau selalu saja semangat dan tanpa putus asa menjalani hidup.
Tentu sebagai anak dari keluarga yang pas pasan aku harus tahu diri. Tidak bisa seperti temen-temanku yang sepulang sekolah bisa melakukan apa yang disuka. Aku berbeda. Sepulang sekolah aku gunakan untuk membantu ibuku menjahit, kebetulan orang tuaku mendapatkan warisan mesin jahit dari nenek. Mesin jahit tua yang sudah menjadi turun temurun di keluargaku. Tak ada rasa sesal di hatiku, semangat ayah mengobar dalam ingatanku. Kehidupan yang keras telah mendidikku menjadi pribadi yang berani menderita.
Ketika ujian kelulusan SMA sudah di depan mata. Pikiranku dihadapkan pada dua pilihan yang sulit. Meneruskan cita-cita Ayah atau membenamkan cita-cita itu jauh di lubuk hati. Dua hal yang sulit kuputuskan waktu itu.
Di satu sisi, orang orang terdekatku memberi saran, “sudahlah tidak usah sekolah tinggi tinggi, tidak ada gunanya sekolah tinggi-tinggi, lulus SMA pun kamu sudah hebat di kampung”. Yang lain mengatakan “tidak usah sekolah tinggi-tinggi, kerja saja, bantu orang tuamu dan adik-adikmu, kamu itu anak pertama. Bagaimana mungkin kamu membiarkan adik-adikmu terlantar?”.
Namun semua bisikan-bisikan itu rasanya hilang seketika setelah suara Ayah bergemuruh dalam setiap detak jantungku. “jangan putus sekolah nak, kamulah nanti yang bisa mengangkat harkat martabat keluargamu”. Amat berat rasanya. Ucapan Ayah bukan hanya cita-citanya. Namun sudah menjadi amanah Ayah kepadaku. Amanah yang harus aku pikul. Amat berat rasanya.
Ibulah yang selalu menasehatiku dikala aku dirundung duka, entah bagaimana ibu selalu tahu kondisi batinku. Padahal tak pernah kuceritakan kepada siapapun. Ayah dan ibu, begitu dekat ikatanku kepada mereka berdua.
Setelah memutuskan dan shalat istikharah, aku memutuskan untuk mendaftar beasiswa ke perguruan tinggi. Namun karena memang sudah takdir Allah demikian. Aku tak lolos dimanapun.
Saat itu, seluruh tubuh terasa lemas dan tidak berdaya. Aku ayunkan kaki ini ke masjid dipinggir jalan raya yang aku lewati. Hanya shalat yang menjadi sandaranku. Aku ingat nasehat ibu, “berusahalah sekuat tenaga untuk menembus batas lalu serahkanlah semuanya pada sang pembuatnya”.
Belum ada orang di masjid karena dzuhur masih agak lama. Hanya ada dua mobil yang parkir di depan masjid. Mungkin penumpangnya juga berada di dalam masjid. Beberapa saat telah berdatangan para jamaah karena suara adzan yang kumandangkan memanggil manggil.
Beberapa saat setelah selesai adzan, tiba-tiba datang menghampiriku dua orang, satu orang arab dengan pakaian khas berjubah dan orang indonesia menghampiriku. Mungkin pemilik mobil yang parkir di depan masjid.
“assalamualaikum...”
“waalaikumussalam warahmatullah wabarakatuh”, jawabku. “Adik namanya siapa?” tanya seseorang yang berwajah indonesia. “Akhirnya aku jelaskan tentang asal muasalnya secara panjang lebar, termasuk tentang sekolahku”. Orang itu terus menerus menanyaiku. Entah apa tujuannya, akupun tak tahu. Aku lihat seseorang yang berwajah arab di sampingnya berkomat kamit menggunakan bahasa arab, lalu temannya menerjemahkan. “Ini Syaikh Khori beliau kebangsaan Arab Saudi. Beliau sangat tertarik dengan keindahan suara adzan yang adik kumandangkan tadi, jika adik berkenan Syaikh Khori mau membiayai adik untuk melanjutkan sekolah ke luar negeri. Semuanya full gratis.”
Aku terperangah. Tidak bisa keluar sepatah katapun dari mulut. Setengah berbisik aku mengucapkan “Alhamdulillah, Allahu Akbar”.