Ghibah dan Namimah, Bagaimana Menyikapinya Sesuai Hadis?

Ghibah dan Namimah, Bagaimana Menyikapinya Sesuai Hadis?
via langkahberdebu.com
Ghibah adalah membicarakan orang lain yang jika dia mengetahuinya dia akan marah baik itu berupa sifat yang ada dalam dirinya, agamanya, dunianya, bentuk tubuhnya, akhlaqnya, dan lain sebagainya. Sedangkan Namimah adalah mengadu domba antar sesama manusia, baik itu antar kelompok, suku, organisasi bahkan bangsa sekalipun. Menurut  al-Qur’an, As Sunnah dan Ijmak ulama kaum muslimin menyatakan bahwa ghibah dan namimah jelas haram hukumnya.

Hal ini dijelaskan dalam Q.S. Al Hujurat: 12, Q.S. Al-Qalam : 10-11, Q.S. Al Humazah: 1, bahkan dalam Q.S. Al-Masad: 2-4 para pelaku ghibah ini diibaratkan seperti para pembawa kayu bakar. Semakin lama mereka akan menebarkan gejolak api dan menebarkan permusuhan. Inilah yang dicela oleh Allah dan diancam dengan ancaman neraka yang menyala-nyala.

    Dalam sebuah hadis Rasulullah SAW mendefinisikan perihal ghibah ini: “Tahukah kalian apa itu ghibah?”, para Sahabat Rasulullah menjawab, “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui”. Rasulullah SAW bersabda, “(yakni) Engkau menyebut saudaramu dengan apa yang dia tidak suka”. Ada yang berkata: “Lantas bagaimana menurut Anda wahai Rasulullah jika pada diri saudaraku itu memang kenyataannya seperti yang aku katakan?”. Beliau SAW bersabda, “Jika pada saudaramu itu kenyataannya seperti yang engkau katakan, maka sungguh engkau telah berlaku ghibah, namun jika yang kamu katakan itu tidak ada, berarti engkau telah berbuat fitnah kepadanya.” (HR. Muslim). Dalam riwayat lain disebutkan, "Tidak akan masuk surga orang yang melakukan Namimah" (H.R. al-Bukhari-Muslim).

Gibah (menggosip) dan namimah (mengadu domba) merupakan perbuatan yang sangat merusak jiwa, tatanan akhlak bahkan peradaban manusia. Nabi SAW juga banyak menyebutkan ancaman tentang bahaya dari ghibah dan namimah ini. Menyebarkan berita orang lain yang tidak disukai olehnya bisa jadi adalah perbuatan ghibah tercela yang tanpa kita sadari. Oleh karena itu Rasulullah SAW memerintahkan kepada kaum muslimin untuk selalu menjaga lisan. Hal ini karena perbuatan ghibah sangat berbahaya, bahkan Rasulullah dalam salah satu sabdanya menyebutkan bahwa seandainya kalimat ghibah itu dicampur dengan air lautan niscaya akan merubah air laut itu (HR. Abu Dawud).

Sedangkan namimah misalnya seseorang berkata kepada kawannya, bahwa si Fulan telah mengatakan sesuatu tentang dirimu. Sehingga hal tersebut membuat kawannya marah dan tidak suka kepada si Fulan itu. Namun bentuk namimah tidak hanya sebatas provokasi saja, menyebarkan rahasia seseorang atau memberitahukan orang sesuatu yang tidak disukainya pun termasuk Namimah jika hal tersebut menyebabkan adu domba. Karena hal itu bisa menyebabkan pertengkaran dan permusuhan, maka Islam melarangnya dengan keras. Apabila mendapatkan informasi yang dirasa miring hendaknya disikapi dengan sikap yang bijak, yakni tidak menambah penyebaran berita itu, tetapi sebaiknya mendiamkan, kecuali pemberitaan sesuatu yang ada manfaat dan maslahatnya bagi kaum muslimin atau untuk mencegah bahayanya.

Untuk itu setiap ada berita hendaknya di-tabayyun (diklarifikasi), jika tidak maka akan berakibat fatal (Q.S. Al-Hujurat: 6). Perlu diketahui bersama bahwa setiap yang diperintahkan dalam Islam untuk menjauhinya tentu memiliki manfaat besar bagi Muslim dan non-muslim baik dalam kehidupan individu maupun kehidupan masyarakat. Karena perbuatan ghibah ini berkaitan erat dengan lisan yang mudah bergerak dan berbicara, maka hendaknya kita selalu memperhatikan apa yang kita ucapkan. Apakah ini mengandung ghibah atau bukan, jangan sampai tidak terasa telah terjatuh dalam perbuatan ghibah bahkan namimah. Bila kita bisa menjaga tangan dan lisan dari mengganggu atau menyakiti orang lain, insyaallah kita akan menjadi muslim sejati. Rasulullah SAW bersabda: “Seorang muslim sejati adalah bila kaum muslimin merasa selamat dari gangguan lisan dan tangannya.” (HR. Muslim).

Tulisan ini pernah dikirim ke harian republika pada kolom Hikmah Republika tahun 2014

Menyikapi Fitnah Ala Rasulullah SAW

Menyikapi Fitnah al Rasulullah SAW
Menyikapi Fitnah al Rasulullah SAW
Tidak ada orang yang suka difitnah dan dijelek-jelekkan. Kabar fitnah tidak memandang orang, suku atau bangsa sekalipun. Bahkan keluarga Rasulullah pun pernah mendapat cobaan berupa fitnah. Dalam sebuah riwayat hadis disebutkan bahwa ketika itu kota Madinah gempar dengan kasak-kusuk dari mulut ke mulut, dari rumah ke rumah dan lain sebagainya. Di kalangan masyarakat Madinah terdengar kabar burung bahwa Aisyah istri Rasulullah SAW berbuat serong.

Aisyah menceritakan bahwa kabar itu bermula ketika Ia ketinggalan rombongan setelah selesai peperangan dengan Bani Musthaliq. Ketika itu Aisyah pergi mencari kalungnya yang hilang, setelah ketemu Ia segera kembali dan alangkah terkejutnya ketika Ia melihat rombongan telah pergi meninggalkannya. Akhirnya Ia memutuskan untuk tetap menunggu di tempatnya semula karena Ia fikir bila rombongan tidak menemukannya tentu mereka akan kembali mencarinya.

Ketika Aisyah duduk menunggu rombongan kembali di tempat itu, Ia mengantuk dan tertidur. Kebetulan Shafwan bin Mu’aththal as-Sulami Zakwani yang berjalan di belakang pasukan sampai di tempat Aisyah menunggu. Dia segera menyuruh untanya merunduk dan Aisyah dipersilahkan untuk menaiki kendaraan itu. Sedangkan Shafwan sendiri berjalan kaki menuntun unta sampai dapat menyusul pasukan yang di depannya. Singkat cerita, setelah peristiwa tersebut di Madinah tersebar isu bahwa Aisyah Ummul Mukminin telah berselingkuh.

Rasulullah SAW sebagai orang yang paling bijaksana tidak lantas terperdaya dengan desas-desus yang beredar di masyarakat. Dalam menyikapi fitnah itu Rasulullah SAW mengambil sikap bijaksana dan tidak terprofokasi oleh fitnah yang begitu menusuk tersebut. Lalu, apa yang dilakukan Nabi SAW mengatasi fitnah ini? Lembaran sejarah mengajarkan kepada kita, bagaimana beliau memberantas fenomena ini sampai ke akarnya. Sebuah sikap yang sangat perlu diteladani oleh kaum Muslimin dalam menyikapi semacam ini.

Pertama, melakukan konfirmasi dan klarifikasi. Beliau memanggil sahabat Ali bin Abi Thalib dan Usamah bin Zaid sebagai kerabat dekat untuk dimintai pertimbangan dan konfirmasi tanpa langsung membuat keputusan sepihak.

Kedua, dalam menanggulangi merebaknya fitnah ini, Rasulullah SAW menyibukkan diri dengan para sahabat dari membicarakan fitnah itu. Sebab, masyarakat yang tidak sibuk, biasanya tadak ada yang mereka bicarakan selain fitnah dan gosip. Apabila mereka sibuk dapat dipastikan tidak akan terjadi fitnah atau minimal mengurangi fitnah menyebar pesat.

Ketiga, bersabar. Beliau sangat sabar dalam menyikapi kabar bohong tersebut. Hal ini dapat diamati dari perilaku Rasulullah yang tidak terprofokasi dan selalu bersikap baik kepada Aisyah meskipun mendengar kabar tersebut. Peristiwa ini juga sekaligus ujian bagi kaum muslimin yang benar-benar beriman untuk mengetahui sejauh mana tingkat keimanannya.

Allah SWT yang Maha Mengetahui berfirman setelah orang-orang beriman terombang-ambing dalam musibah dari peristiwa ini selama hampir lima puluh hari. Akhirnya Allah SWT membersihkan ibunda Aisyah ra dari tuduhan tersebut. “…..janganlah kamu kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kamu bahkan ia adalah baik bagi kamu,…” (QS an-Nur: 11). Wallahua’lam.

Tulisan ini pernah dikirim ke harian republika pada kolom Hikmah Republika tahun 2014