Belum Tentu Kamu Merasakan Tua !

Belum Tentu Kamu Merasakan Tua !
Apa kamu yakin menjadi tua?
Aku, Kamu dan Kita adalah kumpulan waktu. Kumpulan waktu yang menjelma menjadi bagian dari jiwa-jiwa manusia. Jiwa manusia adalah wadah dari waktu yang terus berjalan tanpa henti. Jika dia berhenti maka tak akan ada jiwa yang bercerita. Jika waktu tidak berjalan lagi di dalam jiwamu maka mata kamu akan berhenti pada kata ini- titik-.

Sebuah perjalanan hidup yang sederhana memang. Perjalanan hidup manusia memang tidak sebegitu rumitnya, yang membuat rumit adalah diri kita sendiri. Merumitkan segala bentuk cerita kehidupan dalam sebuah teori permasalahan yang berbelit. Jika kita memahami konsepsi hidup ini, niscaya kehidupan tidak akan sesulit yang dihadapai sekarang. Cukup dengan berusahan sekuat tenaga untuk menembus batas lalu menyerahkannya pada sang pembuatnya, selesai.

Coba kita perhatikan bagaimana seandainya kita berada di tengah lautan tanpa adanya air selain air laut. Jika kita meminumnya maka tidak akan menyelesaikan masalah kehausan kita. Bahkan justru bertambah haus dan haus. Jika kita meminumnya terus menerus maka tunggulah badan kita mejadi kering seperti ikan asin yang tidak bisa membusuk karena garam.

Begitu juga dengan kehidupan ini, kita akan senantiasa mencari kehidupan ini-padahal kita adalah kumpulan waktu- dengan keras. Namun jiwa kita ada masanya, tergantung seberapa lama kumpulan waktu tersebut berjalan di dalam jiwa kita. Yang perlu kita ketahui adalah kekerasan kita terhadap sesuatu yang telah ditentukan dalam hidup dan kelalaian kita terhadap sesuatu yang belum kita ketahui merupakan tanda hati kita rapuh.

Coba kita telisik, Allah menciptakan manusia beserta rizki masing-masing. Dia telah menetapkan rizki setiap manusia sebelum terlahir di dunia ini. Allah tidak akan memberhentikan kumpulan waktu dalam jiwa kita selama ketentuan rizki kita di dunia belum genap. Namun kewajiban kita sebagai hamba adalah menyembah dan berbuat baik kepada sesama, beramal dan menjaga lingkungan. Namun semua amal yang kita lakukan terkadang kita lalai untuk melakukannya. Padahal tidak ada yang bisa menjamin amal kita diterima oleh-Nya.

Menyoal Nama PUTM Muhammadiyah


Menyoal Nama PUTM
Asrama PUTM Putra
PUTM atau Pendidikan Ulama Tarjih Muhammadiyah adalah sebuah lembaga pengkaderan ulama Muhammadiyah yang orientasinya pada mencetak keder-keder ulama masa depan. Muhammadiyah sebagai gerakan dakwah amar makruf nahi mungkar tidak serta merta berdiam diri mengikuti aliran air yang mengalir. Pasalnya eksisitensi ulama di Indonesia kian hari kian terancam kalau tidak mau dikatakan kekurangan ulama.

Sebagai bentuk dari keprihatinan itu, Muhammadiyah berinisiatif mendirikan lembaga yang dinamai sebagai PUTM (Pendidikan Ulama Tarjih Muhammadiyah). Yaitu sebuah lembaga yang dibangun untuk mencetak ulama yang berwawasan luas juga sebagai kader persyarikatan Muhammadiyah.

Muhammadiyah sebagai salah satu ormas Islam yang besar di Indonesia memiliki perwakilan cabang-cabang hampir di seluruh pelosok negeri bahkan di luar negeri, untuk itu diharapkan para keder-kader ulama tersebut bisa mengisi kekosongan ulama yang ada di setiap cabang tersebut. Tujuannya tidak lain adalah untuk mengajarkan keislaman kepada seluruh lapisan masyarakat agar merata dan mengenal agama Islam.

Lembaga yang diusung untuk menangani permasalahan kelangkaan ulama di Muhammadiyah tersebut adalah PUTM atau pendidikan ulama tarjih Muhammadiyah. Dilihat dari segi kebahasaan nama PUTM tersebut terkesan rancu. Pasalnya bila lembaga atau ormas Islam lain yang juga melakukan pengkaderan ulama menamai lembaganya dengan sebutan pendidikan kader ulama, namun Muhammadiyah dengan berani mendidrikan pendidikan ulama.

Sebenarnya maksud dan tujuan Muhammadiyah mendirikan lembaga tersebut adalah sama, yaitu mencetak keder ulama. Akan tetapi –saya tidak tahu—mengapa lembaga tersebut dinamai dengan PUTM atau pendidikan ulama. Bukan sebuah persoalan jika memang apa yang menjadi tujuannya adalah langsung mencetak ulama. Namun perlu diketahui bahwa seorang ulama bukan langsung jadi seperti sulap tanpa ada sebuah proses. Ulama dibentuk dan muncul dari rahim masyarakat.

Artinya seorang kader dari Pendidikan Ulama tersebut sejatinya bukanlah langsung menjadi ulama. Namun masuk ke dalam sistem masyarakat dan menjalani ujian yang nyata dalam masyarakat sehingga mentalitas dan kualitas seorang ulama tampil terdepan sebagai seorang ulama. Karena sekali lagi seorang ulama lahir dari sebuah proses. Seorang ulama lahir dari rahim masyarakat.

Sesuatu yang ironis jika Muhammadiyah dengan bangga mendeklarasikan nama PUTM atau pendidikan Ulama namun kualifikasi hasilnya tidak sesuai namanya. Menurut penulis sebaiknya nama Pendidikan Ulama Tarjih tersebut diganti dengan nama Pendidikan Kader Ulama Tarjih Muhammadiyah sebagai lembaga pengkaderan ulama milik Muhammadiyah. Hal ini lebih terlihat tawadhu’ daripada nama PUTM yang terkesan ‘wah’.

Yang menjadi latar belakang mengapa penulis menulis artikel ini adalah kekhawatiran penulis jika ternyata Muhammadiyah yang menggadang-gadang kadernya dengan nama Pendidikan Ulama ternyata tidak mampu berkualifikasi sedemikian rupa seperti ulama yang diharapkan. Semoga tulisan yang singkat ini bisa menjadi pertimbangan untuk PUTM ke depannya.

Tombol Arab Rahasia dalam Ms. Word


Tombol arab rahasia pada Ms. Word
Tombol arab rahasia pada Ms. Word

Zaman sekarang rasa-rasanya tidak ada yang tidak mengetahui apa itu ms word. Bahkan anak setingkat SD pun sekarang sudah ada pelajaran komputer yang didalamnya diajarkan pelajaran tentang ms word. Memang banyak sekali manfaat dari ms word ini.

Bagi seoarang mahasiswa program ms word ini tidak akan ada yang mempertanyakannya, seolah sudah mendarah daging. Aplikasi ini ada banyak manfaat yang bisa diambil dan tentunya ada banyak tombol-tombol rahasia yang bisa digunakan secara sadar. Tombol-tombol rahasia ini sudah terinclud di dalam ms word itu sendiri.

Bagi kita mahasiswa muslim ada sedikit tambahan yang semoga dapat bermanfaat dan mudah dalam menggunakan ms word ini. Terutama ketika kita ingin menulis kalimat-kalimat arab secara cepat dan efisien.

Saya menemukan satu kombinasi tombol rahasia ini dari whatsapp dan setelah saya coba ternyata berhasil. Akhirnya saya mencoba untuk bereksplorasi sendiri dengan ms word yang saya punya dan menemukan beberapa hal baru yang selama ini belum saya ketahui. Baik, langsung saja saya akan memberikan tips-tips ini, khususnya yang muslim dan yang non-muslim juga boleh kok.

1.      Silahkan teman-teman buka ms word
2.      Ketikkan kata “fdfa” (tanpa tanda petik)
3.      Kemudian tekan tombol alt+x
4.      Silahkan lihat hasilnya

Berikut hasil dari eksplorasi saya, silahkan kembangkan sendiri dan temukan kombinasi tombol-tombol rahasia yang ada di komputer teman-teman.
fdfa =
fdfb =
fdfc=
fdfd=
fdf1=
fdf2=
fdf3=
fdf4=
fdf5=
fdf6=
fdf7=
fdf8=
fdf9=
fdf0=

Relasi Pendidikan dan Korupsi


“Belalang menjadi burung elang.
Kutu menjadi kura-kura, dan
Ulat berubah menjadi naga
Bahkan seorang yang hina dan bodoh dapat pandai dan terhormat,
Jika memiliki harta. Sedangkan orang miskin tidak dipandang walaupun pandai dan terhormat”.
Syair ini adalah syair yang ditulis oleh seorang pujangga Abdullah Abdul Qadir al-Munsyi, ditulis pertengahan abad 19. Sekilas ia seperti sedang bicara evolusi Darwin, atau cerita bim salabim ala Herry Potter. Tapi sejatinya ia sedang bicara tentang perubahan yang aneh. Munsyi tentu paham belalang mustahil jadi burung elang, kutu jadi kura-kura. Ia juga paham mengapa Tuhan mengizinkan kepompong bisa jadi kupu-kupu yang cantik. 
Kita menjadi lebih paham setelah membaca bait berikutnya. Letak kesalahannya, menurutnya ada pada lembaga pendidikan. Lembaga pendidikan yang hanya mencetak para intelektual semata. Lembaga pendidikan yang seharusnya sebagai wadah tempat menghasilkan generasi-generasi pilihan masa depan justru memutar arah tujuan yang semestinya.  
Lihatlah media baik cetak maupun digital, kasus korupsi seakan tidak ada habisnya di negari kita. Dari mulai kasus Hambalang sampai perseteruan yang hangat-hangatnya antara KPK dan BG maupun Ahok dan DPRD kemarin. Semua itu adalah kasus yang berujung pada kata korupsi. Seakan korupsi di Indonesia sudah menjadi sistem yang terstruktur, masif dan berjalan sistematis. Yang menjadi pertanyaan besar adalah mengapa hal ini bisa terjadi?
Pendidikan kita kurang menanamkan adab. Adab adalah ilmu yang berdimensi iman, ilmu yang mendorong amal dan yang bermuatan moral. Banyaknya masyarakat berpendidikan yang tidak mempunyai adab justru akan merusak bangsa. Merusak tatanan moral dengan peraturan yang dibuat sesuai kepentingan diri atau kelompoknya. Ritual pendidikan memang terus berjalan, tapi tujuannya tidak tercapai. Sementara tujuan dari pendidikan sendiri adalah memanusiakan manusia yang secara fitrahnya adalah makhluk yang beradab tinggi. Lembaga pendidikan Indonesia bisa menghasilkan SDM yang kaya dalam bidang tehnik, ekonomi, kedokteran, manajemen dan lain sebagainya, namun miskin SDM yang beradab.
Bukti konkritnya adalah tidak sedikit pejabat-pejabat maupun para pemegang tampuk pimpinan yang masih mempraktekkan korupsi baik sadar maupun tidak sadar. Tanda-tanda hilangnya adab sekurang-kurangnya ada 3 sebagaimana dikatakan oleh Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi dalam Misykatnya: Kezaliman, Kebodohan dan Kegilaan. Zalim kebalikan adil artinya tidak dapat meletakkan sesuatu pada tempatnya. Dalam adab kesopanan orang Jawa disebut tidak empan papan.
Jelasnya tidak bisa memahami dan menerapkan konsep secara proporsional. Seperti menyampur keimanan dengan kemusyrikan, mewarnai amal dengan kemaksiatan dan kesombongan, menginfakkan harta dari hasil korupsi dan sebagainya. Bodoh dalam artian tentang cara mencapai tujuan. Karena tidak tahu apa tujuan hidupnya, seseorang jadi bodoh tentang cara mencapainya. Sedangkan gila artinya salah tujuan, salah menentukan arah dan tujuan hidup serta salah arah perjuangan.
Pendidikan seharusnya harus bisa mencerminkan bangunan pandangan hidup. Pendidikan  diharapkan tidak hanya menjadi sarana pengembangan ilmu. Tapi juga merupakan jalan terbaik menuju gerakan moral dan sosial untuk menciptakan manusia-manusia yang adil dan beradab agar dapat membangun peradaban yang bermartabat.