Cara Memilih Calon Istri Menurut Hadis Nabi SAW

Calon Istri Menurut Hadis Nabi
Dalam artikel sebelumnya telah kami sebutkan cara artikel tentang cara memilih calon suami menurut hadis Nabi SAW. Bila anda sempat silahkan baca terlebih dahulu. Baik, akan saya mulai. Terikatnya jalinan cinta dua orang insan dalam sebuah pernikahan adalah perkara yang sangat diperhatikan dalam syariat Islam yang mulia ini. Bahkan kita dianjurkan untuk serius dalam permasalahan ini dan dilarang menjadikan hal ini sebagai bahan  candaan atau main-main.


عنْ أبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلّمْ قَالَ: تُنْكَحُ المَرْأةُ لِأَرْبَعٍ: لمِالِهَا، وَلِحَسَبِهَا، وَلِجَمَالِهَا، وَلِدِيْنِهَا فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدِّيْنِ تَرِبَتْ يَدَاكْ
Dari Abu Hurairah ra dari Nabi Muhammad SAW, beliau bersabda: “Seorang perempuan dinikahi karena empat perkara, karena hartanya, karena kedudukannya, karena kecantikannya, (atau) karena agamanya....

Sedikin penjelasan dari hadist ini akan saya paparkan untuk kita semua,agar kita lebih memahami makna yang terkandung dari hadist tersebut (تُنْكَحُ المَرْأةُ لِأَرْبَعٍ), Seorang perempuan dinikahi karena empat perkara (لِأَرْبَعٍ):
Wanita itu ingin dinikahi oleh pria karena 4 alasan, jika tidak karena hartanya, pasti karena kedudukannya, atau karena kecantikannya, atau karena agamanya. Demikianlah pada umumnya, seseorang tidak terlepas dari keempat hal ini ketika hendak menikahi wanita.
1.      Karena Hartanya
Tidak dapat dipungkiri bahwa ada dari sebagian lelaki yang memilih pasangan dengan menempatkan harta sebagai kriterianya. Dia tidak ingin menikah kecuali dengan seorang wanita yang berpunya atau kaya raya. Lelaki seperti ini adalah lelaki yang kehilangan kegentleannya. Memilih wanita dengan melihat kekayaannya saja adalah sebuah kesalahan besar, kenapa? Karena wanita kaya tersebut boleh jadi shalihah atau tidak shalihah. Jika shalihah, beruntunglah lelaki yang memilihnya, namun pada umumnya yang terjadi tidak seperti itu, dalam kenyataan berapa banyak seorang lelaki yang menikah dengan wanita kaya “tak beragama” kemudian wanita tersebut – karena merasa semua harta adalah miliknya – lantas menyepelekan sang suami, angkuh dan tak mau taat kepada suaminya?
2.      Karena Kedudukannya
Para ulama memakruhkan seseorang untuk menikah dengan seseorang yang tidak dikenal asal-usulnya, tidak dikenal siapa ayahnya, dikhawatirkan asal-usulnya tidak baik, karena umumnya sifat seorang wanita tidak jauh dari induknya.
3.       Karena kecantikannya.
Manusia telah diciptakan dengan fitrah menyukai segala sesuatu yang indah, elok dan cantik. Sebaik-baik perempuan adalah yang membuat suaminya bergembira ketika memandangnya karena keelokan dan pesona wajahnya. Tidak masalah jika seorang lelaki menyukai wanita karena wanita tersebut cantik, yang tidak pantas adalah menyukai seorang wanita hanya karena kecantikannya. Dapat dibedakan? alasan yang pertama kita menyukai wanita karena memang wanita itu cantik, akan tetapi kita juga memandangnya dari sisi yang lain juga, apakah wanita tersebut baik sifat dan akhlaqnya? Apakah wanita tersebut menutup auratnya? Yang kedua, seorang lelaki hanya memandang kecantikan wanita itu sebagai patokan pilihannya. 
Hal seperti inilah yang sangat tidak dianjurkan. karena kalau hanya memandang sebuah kecantikan maka hal itu tidak akan berguna untuk kaum laki-laki di kemudian hari, karena bisa jadi wanita cantik tersebut malah menyusahkan kita, tidak dapat mendidik anak, menyebarkan aib suami, suka ghibah, dan bisa jadi kecantikannya tersebut dipergunakan untuk menggoda lelaki lainnya selain suaminya. Sungguh, kecantikannya malah membawa musibah buat kamu laki-laki. Semakin jauh usia pernikahan berjalan maka kecantikan/kegantengan pun akan semakin ditinggalkan, yang tersisa di kemudian hari adalah sifat dan akhlaq. Jika kecantikan habis ditelan waktu, maka agama yang akan tetap bertahan. Jika seorang wanita tidak memiliki agama, lalu apa yang dapat dibanggakan setelah kecantikannya memudar?
4.       Karena agamanya.
Agama di sini maksudnya adalah ketaatan bukan sekedar penampilan luar, bukan berarti jika tidak berjilbab juga tidak apa-apa asalkan shalihah (baik tingkah lakunya). 
Kenapa penyebutan agama dalam hadis tersebut diakhirkan?. Ini seharusnya kita pertanyakan, kenapa ? karena agama adalah hal terpenting yang harus diutamakan ketika memilih calon istri? Karena pada kenyataannya hanya sedikit dari kaum laki-laki yang memilih wanita dari agamanya. Rasulullah saw bersabda “Tidak ada hal yang paling bermanfaat bagi seorang mukmin setelah taqwa kepada Allah selain wanita shalihah, jika diperintah, ia menaatinya, jika dipandang, ia membuatnya bahagia/senang, jika bersumpah, ia memenuhi sumpahnya, jika ditinggal suaminya, ia menjaga diri dan harta suaminya.

Perintah memilih yang beragama ini bukan berarti agama adalah pilihan terakhir, akan tetapi secara filosofis hal ini bisa di jelaskan bahwa agama bernilai 1, sedangkan yang lain bernilai nol. Jika kita memilih wanita karena hartanya maka berilah nilai 0, jika anda memilih wanita karena kedudukannya maka berilah nilai 0, jika karena kecantikannya berilah nilai 0, akan tetapi jika memilih wanita karena agamanya maka berilah nilai 1. Maka jadinya 0001. Jika agama menjadi prioritas pertama maka akan bernilai 1000. So, way not memilih yang beragama? Salam dari Langkah Berdebu :D
Wallah a’lam

Cara Memilih Calon Suami Menurut Hadis Nabi SAW

Dalam mendirikan sebuah keluarga yang baik, tentaram, sakinah, mawaddah dan rahmah harus didukung dengan kerjasama yang saling sinergi antara suami dan istri. Sehingga dengan kesinergian keduanyalah akan tercipta suasana yang tentaram, damai dan penuh dengan berkah dan lindungan Allah SWT. Diantara cara awal untuk mencapai hal demikian adalah dengan memilih bobot, bibit dan bebet dari calon pasangan hidup. Nabi SAW berwasiat mengenai cara memilih calon pasangan yang akan menjadikan lingkungan keluarga full barokah. Sebelumnya telah kami tulis artikel tentang Cara Memilih Calon Istri Menurut Hadis Nabi SAW. Silahkan baca bila anda sempat.

Nabi SAW bersabda dalam hadis yang driwayatkan oleh sahabat Abu Hurairah ra. di bawah ini meletakkan asas pertama yang kuat, dasar yang kukuh, prinsip yang sehat dan kaedah yang tepat dalam memilih suami.


إِذَا أَتَا كُمْ مَن تَرْضَوْنَ دِينَهُ وَخُلُقَهُ فَزَوِّجُوهُ، إِلاَّ تَفْعَلُوا تَكُن فِتْنَةٌ فِى اْلأَرْضِ وَفَسَادٌ عَرِيضٌ
“Jika ( seorang lelaki) datang ( untuk meminang anak perempuan kamu) dan kamu berpuas hati dengan agamanya serta akhlaknya, nikahkanlah ia ( dengan anak perempuan kamu). Jika hal itu tidak kamu lakukan maka akan terjadi fitnah di (muka) bumi.”

Beliau SAW menyeru supaya dalam hal memilih suami hendaklah lebih mendahulukan pertimbangan soal agama dan akhlak daripada pertimbangan-pertimbangan lainnya. Baginda SAW menekankan supaya kita rela menerima dua hal itu dalam memilih suami yang salih. Penolakan calon calon istri terhadap calon suami yang mempunyai kapasitas demikian akan dapat menimbulkan fitnah dan kerusakan yang luas di kalangan masyarakat. Kerusakan tersebut akan dapat menghancurkan nasib anak gadis yang shalih jika ia diserahkan sebagai isteri kepada seorang lelaki fasik dan durhaka. Islam bukan melarang seorang gadis/permpuan menikahi laki-laki yang berharta dan berpangkat tinggi, namun islam memberikan skala prioritas dalam menerapkannya. Agama dan akhlak calon suami di dahulukan dari pada pangkat dan jabatan bahkan harta.

Seorang lelaki datang menemui Al-Hasan bin Ali RA, meminta nasihat: dengan lelaki yang bagaimanakah yang layak dikawinkan dengan putrinyya. Ia berkata: “Anak perempuanku dipinang oleh beberapa orang lelaki, dengan siapakah yang sebaiknya aku mengawinkannya?” Al- Hasan menjawab: “Kawinkanlah dia dengan lelaki yang bertaqwa kepada Allah, sebab kalau ia mencintai isterinya ia pasti menghormatinya, tetapi kalau tidak menyukainya ia pasti tidak akan berlaku dzalim terhadapnya.” Salam dari Langkah Berdebu. Wallahu a’lam.