Tragedi Kentut Pintar # bagian ll


Kejadian itu tak akan pernah kulupakan, mungkin selama hidupku. Bagaimana tidak, apa kata dunia nantinya. Entah apa yang terjadi denganku, toh padahal cuma gitu aja aku merasa tak berdaya menghadapi kejadian tadi.

Koniciwaa..koniciwaa..bunyi pesan di HP-ku berbunyi. Aku tidak tahu siapa yang mengirim SMS, tidak ada nama tercatat dalam kontak di HP-ku. Yang ada hanya tulisan pesan mengenai permohonan maaf tadi siang, dari laki-laki itu, ya darinya mungkin. Aku tak bisa berkata apa-apa, terasa malu untuk membalasnya walau hanya menuliskan kata iya. Bukan karena ingin tidak mau memaafkan, tapi..entahlah, aku tak faham akan rasa ini, mungkin hanya waktu yang kelak bisa menjawabnya.

Hari senin sekitar pukul 7 pagi aku buru-buru sambil lari-larian karena ada mata kuliah politik luar negeri yang diajar oleh dosen yang cukup killer. Bagaimana tidak, telat sedikit saja urusannya bisa runyam. Pernah salah seorang temanku terlambat tiga menit dari jam masuk, tanpa ba bi bu langsung dipersilahkan keluar atau dosennya yang keluar.

Buru-buru aku melihat jam tangan sambil berlarian ke kelas, tak kusangka jam menunjukkan pukul 7 tapat. Dari kejauhan kulihat pintu kelas masih tertutup, lega rasanya melihat aku tidak terlambat masuk. Semakin dekat kuperhatikan ke arah pintu terasa ada yang ganjil. Tak ada seorangpun yang berjubelan ke arah pintu, padahal biasanya banyak orang yang bergerombol di situ.

Semakin aku mendekati pintu kelas, keganjilan yang kufikirkan dari tadi semakin medakati kenyataan. Menjelma menjadi sebuah entitas yang mempunyai arti. Kulihat ke arah jam tanganku dan ternyata jam telah menunjukkan pukul 7 lebih 3 menit. Itu berarti Dosennya dapat dipastikan sudah berada di dalam kelas.

Aku sedikit melangkah mundur, mencoba menenangkan diri untuk segera berfikir bahwa dosennya belum masuk kelas. Kucoba menguatkan hatiku, mencoba melangkah maju untuk sekedar mengetuk pintu memastikan.

Tok tok tok,,assalamualaikum..tok tok tok..
Sudah tiga kali ketukan kulakukan, namun tak ada sedikitpun jawaban. Sebagai  mahasiswa baru, Aku tidak tahu apakah itu tanda tidak adanya dosen ataukah memang itulah cara dosen kami kalau mengajar. Perasaanku menjadi tak karuan, dengan mengumpulkan seluruh keberanianku. Aku memutuskan untuk membuka pintu kelas. Sedikit demi sedikit kuputar gagang pintu lalu menggesernya ke depan perlahan-lahan. Tiba-tiba betapa kagetnya diriku..ternyata dari tadi tidak ada seorangpun di kelas. Lega rasanya.

Mengetahui dosen tidak ada di dalam, rasanya kepala terasa ringan seolah hilang semua beban. Buru-buru aku keluar menuju pintu sambil senyum-senyum aneh. Ketika langkah kakiku memasuki penghujung pintu, tiba-tiba datang dosen pengajar dengan seluruh mahasiswa di belakangnya. Dag dig dug jantungku berdebar kencang, kok?. Lama otakku merespon, mencoba berfikir membuat alur jalannya sebab akibat mengapa bisa terjadi hari ini.

Kulihat, pak dosen bersama semua mahasiswa satu kelasku berjalan cepat menuju pintu tampatku berdiri, hampir semuanya. Kulihat-lihat semuanya hampir genap, tapi tunggu. Ada dua mahasiswa yang belum hadir, aku dan laki-laki itu. Jantungku semakin keras berdetak, bibirku pucat menghembuskan matra mantra doa agar aku terhindar dari pembantaian kelas karna terlambat, oMG. Pak dosen semakin mendekat dan akhirnya masuk kelas.

Bagai tersambar petir di siang bolong, dengan lantang pak dosen menghantam segala rasa dan pikiranku, bahkan menghendtikan detak jantungku sesaat. Ucapan yang pertama keluar dari mulutnya adalah siapa yang tadi tidak mengikuti kuliah pagi sebelum jam 7?. Serentak diam menyelimuti suasana kelas, tidak ada obrolan, tidak ada jari yang bergerak. Semua terasa kaku walau hanya sekedar menggeser jemari.

Siapa yang tadi tidak mengikuti kuliah pagi sebelum jam 7? Pak dosen mengulangi pertanyaannya sekali lagi. Suasana masih seperti tadi, diam membisu, senyap merambah, keringat dingin segera membasahi dahi dan bajuku. Beruntung jilbabku yang besar menutupi pakaianku sehingga tak terlihat oleh para ikhwan.

Pak dosen mengulangi lagi pertanyaannya sekali lagi sekaligus pernyataan bahwa pak dosen tahu siapa-siapa yang tidak ikut kuliah tadi pagi. Barang siapa yang tidak mengangkat tangan maka hukumannya akan lebih kerasa lagi. Mendengar gertakan pak dosen yang seperti itu, tanganku terasa gatal, bukan gatal karena penyakit, tapi gatal karena memikirkan ancaman pak dosen.

Aku mencoba menenangkan diri, memikirkan apa akibat terburuk jika aku mengaku. Aku coba realistis dan akan bertanggung jawab. Kupejamkan mata sambil mencoba mengangkat jariku lebih tinggi, lebih tinggi dan lebih tinggi lagi. Akhirnya...aku mendengar teriakan pak dosen dengan lantang...

Kamuu,,silahkan maju, cepaaat !!

Baik pak,,

Pikiranku panik, apakah itu aku? Darahku sudah mengalir naik ke kepala dari tadi.,,,mataku masih terpejam saat itu, kucoba untuk sedikit membuka mata dan apa yang aku dapat. Ternyata tidak. Ada seseorang yang mengangkat jarinya di kursi depan. Aku coba untuk memberanikan diri melihat ke arah depan. Ternyata lelaki itu.

Dan juga kamu, yang dibelakang !!


Pak dosen menatap ke arahku, pasrah sudah aku mengaku...

Bersambung....

Tragedi Kentut Pintar # bagian l

Tragedi Kentut Pintar

Detik berlalu menghambat peredaran darahku yang entah kenapa tiba-tiba berhenti begitu saja. Membuat nafasku sesak karena peredaran darah tidak beredar secara normal.  Membayangkannya saja aku tak mampu. Entahlah, aku tidak kuasa benar. Bagaimana kalau dia tahu aku dalam keadaan memalukan seperti ini. Memalukan sekali. Wajah memerah hanya karena tak sanggup menahan debaran perasaan saja. Ah, tidak tidak. Ini hanya perasaan saja. Aku harus memastikannya. Tapi, kenapa dia melihatku? Ah, semoga dia tidak tahu.

Padahal sebagai perempuan, Aku harus bersikap anggun, lembut dan mempesona. Perempuan harus terlihat kalem. Aku harus menjiwai seluruh pergerakanku. Tak sempurna jikalau hanya menodongkan sikap kalem, tapi harus juga anggun dan menawan. Termasuk menawan hatinya.

Saat itu kelas kita hanya dihuni beberapa orang. Entahlah, aku tidak tahu mereka satu persatu, tapi hanya sebagian saja, ada rifki, ada denis, ada rahma, fara, elsa, anna. Cuma itu yang aku kenal karena dari akademi yang sama dulu sejak SMA.

Saat ini memang masa kuliyahku yang pertama, jadi tak banyak teman yang kudapat. Hanya beberapa orang, itupun yang sejak dulu aku kenal. Aku termasuk wanita yang pendiam. Tidak banyak omong, tidak banyak bicara. Kalau ingin berbicara hanya sebatas keperluan saja. Sebagai manusia biasa aku pun layaknya teman-teman lain. Bisa sedih dan bahagia. Tapi bahagia ala aku pun tak perlu diungkapkan dengan simbol-simbol seperti tertawa lebar dan ngobrol sendiri menebar obrolan hanya supaya temanku tahu kalau aku bahagia. Tidak, aku bukan tipe orang seperti itu.

Layaknya manusia lain, aku pun jatuh cinta, akupun merasa suka pada lawan jenis. Tapi itu hanya sebatas hati saja. Tak mampu rasanya getaran hati itu mengungkap lidah untuk meresonansi getaran hati. Lidahku itu tak seperti lidah teman-temanku yang biasa mengumbar geteran perasaan mereka kepada orang lain. Tapi aku beda. Aku tak bisa seperti itu. Inilah aku, ya, inilah aku.

Saat itu, Aku merasa ada mata-mata yang mengintai aku di kampus. Entah itu di kantin, di parkiran bahkan di kelas. Entah siapa, tapi perasanku mengatakan seperti itu. Entah itu hanya perasaanku saja ataukah memang seperti itu. Tapi setahuku secara psikologis memang seperti itu. Ketika kita di mata-matai atau diintai oleh orang lain, secara refleks kita pasti akan tahu. Entah itu melalui perasaan atau hanya sekedar lintasan otak. Sepereti djavu.

Aku masuk ke kantin dan memesan seporsi makanan untuk makan siang, tentu saja aku lapar. Dari tadi pagi aku tidak makan. Entah ada kilat menyambar atau tidak, entah ada guntur yang bedendang atau tidak. Saat aku mengangkat nampan tempat seporsi makanan mau kuangkat. Sebuah tangan mengenai nampanku dan tiaar, suara bunyi pecahan mangkuk berserta seluruh isi nampan berjatuhan.
“Ah maaf ukhti,,maaf. Sekali lagi maaf. Biar Ana yang bersihin.” Ukhti duduk saja, biar ana nanti yang pesankan lagi. Sekali lagi ana minta maaf atas kejadian ini.

Betapa kagetnya aku ketika melihat ini. Wajahku merah merona, bukan..bukan karena marah, tapi karena malu. Bukan..bukan. Bukan malu karena nampan saya jatuh berdebam ke lantai, tapi orang yang bertatapan denganku tadi yang membuatku malu. Tanpa berfikir panjang aku langsung duduk di bangku pojok.


Bersambung........