Janji Atau Bukti?

Janji Atau Bukti?
Siapa yang suka makan maka bacalah ini. Siapa yang suka nonton film korea maka bacalah ini. Siapa yang suka mandi maka maka bacalah ini. Ckck

Oke, sekarang saya lanjutkan. Bila anda di kasih pilihan mau janji apa bukti? Tentu kita akan cepat mengnggapi dan memilih bukti. Betulkan?. Oke, itu wajar dan manusiawi. Manusia memang membutuhkan seuatu yang pasti tanpa adanya embel-embel janji-janji yang entah itu jelas atau tidak. Akan tetapi sudah tahukan kau bahwa asal bukti saja pun tak cukup.

Kenapa? Karena orang yang demikian itu tidak visioner, tidak punya rencana matang, ia hanya bertindak tiba masa tiba akal asal asalan, lalu tindakannya itu akan ia pamerkan "lihatlah, saya memberi bukti, bukan janji". 

Waspadalah pada orang orang yang tidak pernah berjanji tapi selalu menunjukan apa yg telah dikerjakannya sebagai bukti. Orang demikian itu tidak visioner, tidak punya rencana matang, ia hanya bertindak tiba masa tiba akal asal-asalan, lalu tindakannya itu akan ia pamerkan "lihatlah, saya memberi bukti, bukan janji". Orang yg cocok jadi pemimpin adalah yg pandai merangkai janji dan sanggup memberi bukti.

Jadi, mulai sekarang, jangan lagi bilang "kami butuh bukti, bukan janji" Tapi mintalah janjinya, analisa probabilitas janji itu, timbang baik-baik, dan kawal pembuktiannya. Itulah pemimpin sejati.

Lalu apakah membuat bukti itu salah? Jawabannya tidak sepenuhnya salah. Ia bisa saja benar, jika ia menyelenggarakan buktinya tersebut tidak asal-asalan. Dalam artian ia memang tidak mau berjanji dan mengobral jenji kepastian, tapi lebih banyak kerja dari pada janji atau omongan. Itu tak mengapa.
Yang benar adalah berikan janji dan laksanakanlah dalam sebuah pembuktian. Bukan hanya asal jual janji seperti tong kosong berbunyi nyaring. Pandai bernyanyi tapi tak ada isi. Pandai memberi nasehat, tapi tak pandai mengaplikasikannya. Pandai berceramah tapi tak pandai memberi bukti. Pandai beretorika tapi hatinya busuk dan tak tak ada bukti konkrit.

Filsafat Katro

Maaf mbah Tukul
Jika kita perhatikan apa yang ada di dunia akademis sekarang ini, terutama di kampus-kampus, entah itu di kampus-kampus yang berlabel pemerintah atau negeri bahkan berlabel islam sekalipun. Marak dan sudah menjamur ketika mulai masuk pertama di kampus tersebut sering dikasih materi yang namanya materi filsafat.
Sudah biasa kalau mau masuk kampus ada namanya kegiatan orientasi atau ospek atau sejenisnya. Ada yang dikasih materi militer atau tendang-tendangan ada yang materi pelecehan seksual ada juga materi penyesatan dan pembuangan jati diri. Bahkan ada juga organisasi yang mewajibkan anggota barunya untuk belajar materi filsafat. Tidak tanggung-tanggung, yang ngasih materi adalah instrukturnya langsung. Hebat nggak tuh instrukturnya. Yang lebih tak tangguh lagi, instrukturnya tersebut tidak lain adalah mahasiswa tingkat atas yang jurusannya bukan filsafat. Gimana, tambah hebat nggak tuh. Ahaha. Itulah hebatnya mahasiswa. Makanya bobrok tidaknya sebuah negeri sedikit banyak ditentukan juga oleh peran mahasiswanya.
Mengapa pada judul ini saya sebut sebagai filsafat katro? Oke. Akan saya jelaskan, biar nggak salah faham dengan istilah filsafat itu sendiri. Filsafat itu sendiri adalah istilah yang sangat bagus. Biasanya diidentikkan dengan kondisi fikiran, yakni berfikir secara mendalam, bahkan sedalam-dalamnya semampu akal kita. Filsafat dengan cara berfikir adalah filsafat yang dilakukan oleh para pendahulu kita seperti ariatoteles, plato, socrates dll yang dilanjutkan oleh para peneliti dan pemikir muslim seperti ibnu Sina, al-Farobi dll. Mereka berfilsafat dengan cara berfikir dan akhirnya mereka menemukan temuan-temuan berupa ilmu pengetahuan yang lebih maju, lebih dari yang ada pada masanya.
Saya sih nggak begitu tertarik sama filsafat ya. Tapi saya lebih terarik pada bagaimana pola yang dibangun oleh filsafat itu sendiri. Kalau kita perhatikan jauh sebelum maraknya filsafat ini, sebenarnya filsafat ini sudah berkembang jauh sebelum peradaban islam itu sendiri. Namun sepereti yang telah kita alami dan ketahui bersama, di perguruan tinggi sekarang pun ada mata kuliyah yanag namanya filsafat, tapi menurut hemat saya, filsafat yang mereka pelajari adalah filsafat yang hanya mengelaborasi filsafat secara teoritis belaka. Filsafat yang hanya berkutat pada hal-hal yang sudah umum. Bahkan berkutat pada hal-hal yang kurang dibutuhkan dan hanya bersifat teoritis semata.
Bisa kita bandingkan filsafat yang ada pada masanya ibnu Sina yang dia berfilsafat dengan berfikir dan akhirnya menemukan pengetahuan berupa ilmu kedokteran, alat-alat kedokteran, penelitian medis berupa penyakit-penyakit seperti cacar,bisul dll. Kalau di kampus-kampus sekarang yang dipelajari adalah filsafat pendidikan, filsafat ilmu, filsafat komunikasi dll, yang saya tanyakan apakah filsafat itu hanya berkutat pada hal-hal abstrak seperti itu. Apakah filsafat itu hanya berkutat pada pembahasan tentang Tuhan, mengapa Tuhan itu ada, Mengapa Tuhan itu tidak beranak, mengapa Tuhan itu satu dll?. Tidak, filsafat tidak hanya membahas hal-hal abstrak seperti itu, tapi seorang dokter yang meneliti penyakit di lab itu juga berfilsafat, seorang insinyur yang sedang menimbang-nimbang kekuatan bangunan jembatan itu juga baerfilsafat, seorang guru yang sedang meneliti perilaku jenius anak didiknya juga berfilsafat, seorang dosen yang sedang mengerjakan penelitian ilmiah juga berfilsafat.

Jadi jangan anggap filsafat itu hanya berkutat pada teori tentang Tuhan dan hal-hal ghaib belaka. Filsafat yang seperti itu bahkan adalah filsafat yang katro dan tidak berkembang. Kenapa? Karena filsafat seperti itu sudah dibahas oleh orang-orang terdahulu dan sudah selesai. Mulai dari teori emanasinya Ibnu sina, teori akal faal dll. Semua itu sudah di bahas dan sudah terjawab. Sekarang tugas kita ketika mau berfilsafat tidak hanya berkutat pada masalah itu-itu saja, tapi cobalah membahas permasalahan lain, cabang ilmu lain, ilmu teknologi, ilmu kedokteran, ilmu fisika, ilmu ekonomi dll. Semua harus dielaborasi secara mendalam, semuanya harus diteliti secara lebih detail. Penelitian ataupun observasi yang dilakukan inilah filsafat yang dibutuhkan sekarang ini, bukan bagaimana kita memperdebatkan eksistensi Tuhan, mengapa Tuhan harus satu dll. Jadi berhentilah meng-obok-obok filsafat katro dan jadul itu, Berhentilah bersitegang dengan filsafat stagnan itu. Mulailah melakuakan elaborasi fikiran pada bidang-bidang lain. Inilah filsafat yang membuat maju, bukan pseudodinamis (seakan-akan maju atau dinamis, padahal hanya stagnan atau berkutat pada hal-hal sama).

Logika Ukhuwah

Logika Ukhuwwah
Dalam sebuah kesempatan yang sangat melelahkan, saya sempatkan membuka beberapa e-book dalam hardisk komputer saya yang sudah outupdate. Tiba-tiba saya mata saya terkerucutkan dalam sebuah nama file yang jarang sekali saya buka. Dalam file ebok kitab-kitab fikih, tepatnya e-book fikih Aulawi (fikih Prioritas) karya Syaikh Yusuf Qardhawi. Dalam salah satu barisnya, mata saya tertuju dalam sebuah kalimat cerita yang sangat mengesankan dan sangat menginspirasi pikiran saya ini. Ber-sanad dalam kitab ini Syaikh Yusuf Qardhawi menceritakan cerita tentang salah seorang pembaharu islam yang merupakan salah seorang pendiri sebuah gerakan islam di belahan timur nun jauh sana yaitu Ikhwanul Muslimin.

Beliau merupakan seorang syaikh, guru yangg cerdas nan cadas serta tangkas. Salah seorang pembaharu mesir yaitu Imam Syahid Hasan al-Banna. Beliau sangat memberikan perhatian yang besar untuk membentuk generasi muda Muslim yang istiqamah terhadap dirinya, Allah sebagai tujuannya, Islam jalannya, dan Muhammad sebagai teladannya. Generasi yang memahami Islam secara mendalam, memiliki iman yang kuat, menjalin hubungan (silah) yang erat satu sama lain, yang mengamalkan ajaran itu dalam dirinya sendiri, bekerja dan berjuang untuk mencapai kebangkitan Islam, serta berusaha mewujudkan kehidupan yang Islami di masyarakatnya. Untuk mencapai tujuan tersebut, dia harus menyatukan ummat dan tidak memecah belahnya. Oleh sebab itu, dia tidak memunculkan isu-isu yang dapat memecah belah barisan kaum Muslimin, memecah belah kalimatnya, dan membagi-bagi manusia menjadi berbagai kelompok dan golongan. Untuk itu, dalam pandangannya, ummat Islam harus disatukan dalam satu landasan Islam yang universal. 

Syaikh Yusuf Qardhawi menceritakan kisah dari Syaikh Hasan Al Banna dalam salah satu peristiwa sebagai berikut:
"Pada suatu hari saya merasakan adanya sesuatu yang aneh, suasana pertengkaran, keributan, dan perpecahan. Saya melihat para pendengar dalam ceramah yang saya sampaikan telah terpecah menjadi kelompok-kelompok, dan mengambil tempat sendiri-sendiri. Sehingga sebelum saya mulai ceramah, saya dikejutkan oleh satu pertanyaan, 'Bagaimanakah pendapat ustadz tentang tawassul?' Kemudian saya menjawabnya, 'Wahai saudaraku, saya kira Anda tidak hanya ingin bertanya kepadaku tentang masalah itu saja, tetapi Anda hendak bertanya kepadaku tentang masalah shalat, salam setelah adzan, membaca surat al-Kahfi pada hari Jum’at, penggunaan kata sayyid untuk Rasulullah saw dalam tasyahhud, tentang nasib kedua orangtua Nabi saw, di manakah tempat mereka, di surga atau neraka? Dan juga tentang bacaan al-Qur'an yang dikirimkan kepada orang yang meninggal dunia apakah pahalanya sampai kepadanya ataukah tidak? Juga pertemuan yang diadakan oleh para ahli tarikat, apakah itu kemaksiatan ataukah pendekatan kepada Allah SWT?

Masalah-masalah khilafiyah ini merupakan penyebar fitnah dan perselisihan pendapat yang sangat dahsyat di antara mereka.' Karenanya, orang yang bertanya itu merasa heran, lalu dia berkata, 'Ya, saya menginginkan jawaban untuk semua pertanyaan itu.'" Saya berkata kepada orang itu, "Aku bukanlah seorang ulama, akan tetapi aku adalah seorang guru yang terpelajar yang hafal beberapa ayat al-Qur'an, sebagian hadits Nabi saw, hukum-hukum agama yang saya peroleh dari beberapa buku, dan aku berbaik hati mengajarkannya kepada orang banyak. Apabila engkau keluar bersama diriku untuk membicarakan masalah-masalah itu, maka sesungguhnya engkau telah mengeluarkanku dari majelis ini. Dan siapa yang berkata bahwa dia tidak tahu berarti dia telah memberikan fatwa. Jika kamu merasa tertarik terhadap apa yang aku katakan, dan melihat ada kebaikan di dalamnya, maka dengarkanlah apa yang saya sampaikan dengan penuh rasa syukur, dan apabila engkau hendak memperluas lagi pengetahuan itu, maka bertanyalah kepada ulama-ulama selain diriku yang memiliki kelebihan dan spesialisasi. Mereka mungkin dapat memberikan kepuasan yang engkau cari, sedangkan diriku ini tidak lain hanyalah penyampai ilmu pengetahuan.

Sesungguhnya Allah tidak akan memberikan beban kepada seseorang kecuali sesuai dengan kemampuannya." Orang itu kemudian merasa terpukul dengan jawaban itu, dan tidak mendapatkan jawaban atas pertanyaan yang dia sampaikan. Begitulah cara yang sengaja saya lakukan dalam memberikan jawaban kepadanya, dengan berkelakar. Semua orang --atau kebanyakan --yang hadir pada pertemuan itu merasa puas hati dengan adanya penyelesaian seperti itu. Akan tetapi, saya tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan tersebut. Saya berpaling ke arah mereka sambil berkata, "Wahai saudara-saudaraku, aku menyadari sepenuhnya kepada saudara kita yang bertanya itu, dan kebanyakan saudara yang hadir di majelis ini. Menyadari sepenuhnya apa yang ada di balik itu, yaitu untuk mengetahui siapakah guru baru ini dan dari golongan manakah dia? Apakah dia termasuk golongan Syaikh Musa. ataukah dari golongan Syaikh Abd al-Sami'? Sesungguhnya pengetahuan tersebut sama sekali tidak akan bermanfaat untuk kamu semua, karena kamu telah bergelimang dalam fitnah selama delapan puluh tahun, dan itu sudah cukup. Pertanyaan-pertanyaan di atas telah diperselisihkan oleh kaum Muslimin selama ratusan tahun dan mereka hingga kini tetap berselisih pendapat.

Sesungguhnya Allah akan rela kepada kita apabila kita saling mencintai dan bersatu, dan tidak suka kepada kita apabila berselisih pendapat dan berpecah belah. Saya berharap bahwa kamu semua sekarang ini mau berjanji kepada Allah SWT untuk meninggalkan perkara-perkara tersebut, dan berusaha keras untuk belajar pokok-pokok dan kaidah agama, mengamalkan akhlak, sifat-sifat yang baik, pengarahan yang menyatukan ummat, melakukan perkara-perkara yang difardukan dan disunnahkan kepada kita, dan kita tinggalkan mencari-cari masalah dan memperdalam masalah khilafiyah, sehingga jiwa semua kaum Muslimin menjadi jernih, dengan satu tujuan yang hendak kita capai, yaitu mencari kebenaran dan bukan sekadar mencari kemenangan berpendapat. Dengan cara seperti itu kita dapat belajar bersama-sama dalam suasana penuh rasa cinta, saling percaya, kesatuan dan keikhlasan. 

Saya juga berharap kamu semua dapat menerima pandangan saya ini, dan berjanji kepada saya untuk melakukan perkara di atas." "Hendaknya kita tidak keluar dari pelajaran ini kecuali kita masih memegang janji setia antara kita, dan hendaknya kita saling bekerja sama serta berkhidmat untuk Islam yang mulia, menyingkirkan segala bentuk perselisihan pendapat, menghormati pendapat kita masing-masing sehingga Allah memutuskan perkara yang mesti dilaksanakan." Pelajaran di sudut (zawiyah) masjid itu terus berlangsung dalam suasana yang jauh dari pereselisihan pendapat berkat taufiq dari Allah. Suasana pada majelis itu semakin baik, karena setiap topik dalam pengajian tersebut dikaitkan dengan makna persaudaraan antara orang-orang yang beriman, untuk memantapkan persaudaraan dalam jiwa mereka.

Di samping itu, masalah khilafiyah senantiasa ditekankan untuk tidak diperdalam dalam perdebatan di antara mereka. Dengan demikian timbul rasa untuk saling menghormati dan menghargai di antara mereka. Cara seperti itu saya pergunakan sebagai contoh dari para ulama salaf yang shaleh, yang wajib kita tiru dalam memberikan toleransi dan menghormati pendapat yang berbeda di antara kita. Saya sebutkan satu contoh yang sangat praktis, saya berkata kepada mereka, "Siapakah di antara kamu sekalian yang bermazhab Hanafi?" Kemudian ada salah seorang di antara mereka yang datang kepadaku. Lalu aku berkata lagi, "Siapakah di antara kamu yang bermazhab Syafi'i?" Ada seseorang yang maju kepadaku. Setelah itu aku berkata kepada mereka, "Aku akan shalat dan menjadi imam bagi kedua orang saudara kita ini. Bagaimana kamu membaca surat al-Fatihah wahai pengikut mazhab Hanafi?" Dia menjawab, "Aku diam dan tidak membacanya." Aku bertanya lagi, "Dan bagaimana engkau wahai kawan yang bermazhab Syafi'i?" Dia menjawab, "Aku harus membacanya." Kemudian aku berkata lagi, "Setelah kita selesai shalat, maka bagaimanakah pendapatmu wahai pengikut mazhab Syafi'i tentang shalat yang dilakukan oleh saudaramu yang bermazhab Hanafi?" Dia menjawab, "Batal, karena dia tidak membaca surat al-Fatihah, padahal membaca al-Fatihah termasuk salah satu rukun shalat." 

Aku bertanya lagi, "Dan bagaimana pula pendapatmu wahai kawan yang bermazhab Hanafi tentang shalat yang dilakukan oleh saudara kita yang bermazhab Syafi'i?" Dia menjawab, "Dia telah melakukan sesuatu yang makruh dan mendekati haram, karena sesungguhnya membaca surat al-Fatihah pada saat seseorang menjadi ma'mum adalah makruh tahrimi." Lalu aku berkata, "Apakah salah seorang di antara kamu berdua memungkiri yang lain?" Kedua orang itu menjawab, "Tidak." Kemudian aku bertanya kepada orang-orang yang hadir di situ, "Apakah kamu memungkiri salah seorang di antara mereka berdua?" Mereka menjawab, "Tidak." Lalu aku berkata, "Subhanallah, kamu semua dapat diam dalam menghadapi masalah seperti ini, padahal ini adalah perkara yang berkaitan dengan batal dan sahnya shalat. Pada saat yang sama kamu tidak dapat memberikan toleransi kepada orang yang dalam shalatnya membaca "Allahumma shalli ala Muhammad" atau "Allahumma shalli 'ala sayyidina Muhammad" dalam tasyahud, serta menjadikannya sebagai bahan perselisihan pendapat yang sangat dahsyat."


Itulah sepintas cerita yang saya peroleh dalam kitab Fiqih Aulawi (Fikih Prioritas) buah karya Syaikh Yusuf Qardhawi. Dialog singkat dan padat serta mengena. Beginilah seharusnya kita sebagai seorang muslim yang tau tentang agama. Tidak seharusnya kita memperkeruh keadaan dengan memperselisihkan perbedaan yang sifatnya hanya perbedaan pendapat yang ringan. Sebut saja sebagai contoh ringannya saja tentang bacaan-bacaan sholat seperti do’a iftitah, do’a sujud dan rukuk dalam sholat dan lain sebagainya. Begitu pula masalah khilafiyah dewasa ini yang sering terjadi di indonesia seperti perbedaan penentuan awal ramadhan dan akhir ramadhan yang dilakukan oleh sebagian masyarakat indonesia. Tidak seharusnya hal tersebut dipertentangkan sehingga mengikis persaudaraan yang telah lama dibangun dengan susah payah. Bila kita tilik kembali dan kita proyeksikan ke masa lalu para sahabat pun sebenarnya banyak sekali perbedaan diantara mereka. Terlebih mereka sudah tersebar luas di daerah yang luas. Namun hal tersebut tidak mereka perselisihkan dan tidak menjadi problema yang akut mengikis ukhuwah diantara sahabat. Maka begitu pula seharusnya kita sebagai umat islam sekarang yang mengaku sebagai pengikut Nabi dan para sahabatnya yang mulia. Mereka memahami khilafiyah itu, begitu juga kita seharusnya memahami khilafiyah tersebut dan tidak malah mempertajamnya. Salam Ukhuwah Untuk Kita Semua.

Jilboobs, Terima Kasih ya..

Berbicara mengenai jilboobs adalah berbicara mengenai masalah yang cukup sensitif. Sedikit saja menyinggung atau nyerempet sedikit maka akan membuyar kemana-mana. Istilah Jilboobs memang tergolong istilah baru. Namun sebenarnya secara realnya istilah ini sudah lama dalam dunia nyata, sama dengan kentut, walaupun baunya baru diketahui setelah beberapa waktu, tapi sebenarnya dia telah keluar lebih dulu sebelum baunya menyerebak keluar.

Membaca judul di atas, mungkin sebagian pembaca ada yang bertanya-tanya, kok malah bilang terima kasih. Padahal istilah jilboobs itu kan menghinakan wanita muslimah. Kok malah di kasih ucapan terima kasih sih. Sebentar, mengapa saya ucapkan terima kasih karena jilboobs ini cukup menginspirasi. Menginspirasi untuk apa? Menginspirasi untuk instrospeksi diri, introspeksi dan muhasabah bahwa jilbab bukanlah seperti itu. Fungsi jilbab bukanlah fasyen belaka, namun sebagai penutup aurat dan pelindung serta identitas wanita muslimah.

Jikalau kita cermati, jilbab yang dipakai wanita muslimah sekarang bermacam-macam. Bisa kita bagi secara umum menjadi 3 macam, yaitu:
- Jilbab besar, yaitu yang menutupi kepala dan dijulurkan sampai menutupi dada dan bagian tubuh yang termasuk aurat. Inilah jilbab syar’i yang diperintahkan.
- Jilbab biasa atau lebih sering disebut kerudung.
- Jilbab gaul atau jilbab “funky bin jilbab nyekek leher” saja. Inilah model jilbab gaul yang kemungkinan bertransformasi sebagai jilboobs.


Kita tidak akan membahas lebih lama tentang perkara jilboobs itu apa, saya kira sudah jelas kalau dijelakan dari sisi kebahasaan. Yang menarik adalah istilah ini menurut hemat penulis tidak usah disikapi dengan aneh-aneh. Kita sudah tahu bahwa model jilbab seperti ini bukanlah jilbab yang diperintahkan Allah dalam al-Quran. Kalau kita mau tahu, sebenarnya jilboobs adalah transformasi dari fesyen dan pergaulan. 

Tak pelak, kita dapatkan seorang wanita muslimah mengenakan kerudung yang menutupi kepala dan rambutnya, namun berpakaian tipis dan transparan, atau ketat sehingga menampakkan lekuk tubuhnya. Contohnya, kepala dibalut kerudung (saya tak rela istilah jilbab di alamatkan untuk fesyen style seperti itu, saya lebih setuju di sebut kerudung. Pengertian jilbab itu menutupi seluruh aurat, pent.), tapi berbaju atau berkaos ketat, bercelana jeans atau legging yang mencetak lekuk tubuhnya.
Sekarang pertanyaannya adalah sudahkah kamu, iya kamu mengenakan jilbab dengan benar? Jilbab syar’i. 

Bagaimana jilbab syar’i itu? Silahkan tanyakan pada ustadz kamu yang lebih tahu. Yang pasti namanya jilbab itu bukan seperti pakaian ketat yang menampakkan lekukan tubuh wanita. Bagaikan telanjang saja. Istilah jilboobs, dari kata jilbab dan boobs alias dada, lebih merupakan sindiran untuk mereka yang berjilbab tapi masih menampakkan auratnya.

Dalam hadis Nabi disebutkan
Ada dua golongan penghuni Neraka yang belum pernah kulihat sebelumnya, sekelompok lelaki dengan cemeti laksana ekor sapi, mereka mencambuk orang-orang dengannya; dan wanita-wanita yang berpakaian namun telanjang, mereka lenggak-lenggok ketika berjalan. Di kepala mereka ada sesuatu mirip punuk unta. Mereka tidak masuk surga dan tidak pula mencium baunya, sedangkan baunya tercium dari jarak yang jauh. (HR. Muslim no 2128).

Ngapain Kuliyah di PUTM? (Pendidikan Ulama Tarjih Muhammadiyah)

PUTM (Pendidikan Ulama Tarjih Muhammadiyah)
Langkah Berdebu. Pertanyaan ini adalah pertanyaan yang harus kamu jawab bila kamu mau masuk berlajar ke PUTM (Pendidikan Ulama Tarjih Muhammadiyah). Mengapa harus dijawab? Karena ini bukanlah sekedar pertanyaan biasa. Ini menyangkut dunia-akhirat.  Percuma ke PUTM (Pendidikan Ulama Tarjih Muhammadiyah) kalau hanya untuk coba-coba, buat anak jangan coba-coba bung !!. Karena konsekuensinya jika kamu hanya coba-coba kulih di PUTM (Pendidikan Ulama Tarjih Muhammadiyah) maka kamu hanya akan mendapatkan penyesalah-penyesalah yang tiada berujung.  Ketika kamu sudah masuk di PUTM (Pendidikan Ulama Tarjih Muhammadiyah) kamu tak akan bisa keluar. Tidak percaya? Buktikan saja.

Jika kamu ingin keluar maka bersiap-siaplah untuk membayar ganti rugi selama kamu berada di PUTM (Pendidikan Ulama Tarjih Muhammadiyah). Jadi saya tegaskan sekali lagi, jika ingin masuk ke PUTM (Pendidikan Ulama Tarjih Muhammadiyah) maka masuklah, Jika hanya coba-coba maka tak usahlah, sebelum kamu menyesal lebih jauh. Pertanyaan tadi adalah pertanyaan yang akhirnya menghujam dalam hati kamu yang mau masuk belajar ke PUTM (Pendidikan Ulama Tarjih Muhammadiyah). Jika kamu tidak bisa menjawab pertanyaan tadi, silahkan saja keluar dan tak usah masuk ke PUTM (Pendidikan Ulama Tarjih Muhammadiyah). Silahkan tidak usah melanjutkan membaca tulisan ini.

Belajar ke PUTM (Pendidikan Ulama Tarjih Muhammadiyah) bukanlah main-main. Kuliah di PUTM (Pendidikan Ulama Tarjih Muhammadiyah) bukanlah senda gurau. Kuliah PUTM (Pendidikan Ulama Tarjih Muhammadiyah) bukan untuk mencari pacar. Ke PUTM (Pendidikan Ulama Tarjih Muhammadiyah) bukanlah mencari titel untuk pekerjaan kelak. Ke PUTM (Pendidikan Ulama Tarjih Muhammadiyah) bukanlah biar mudah mencari pekerjaan di Muhammadiyah. Bukan..bukan..dan bukan.

PUTM (Pendidikan Ulama terjih Muhammadiyah) bukanlah kampus biasa seperti layaknya kampus-kampus di luar sana yang hanya masuk- dengarin kuliyah di kelas-keluar dan akhirnya dapat titel sarjana. PUTM bukanlah kampus yang mencetak mahasiswanya menjadi mahaiswa yang hanya mampu sebagai akademisi saja, namaun lebih dari itu. PUTM mencetak mahasiswanya sebagai orang yang menguasai akademisi dan bekal-bekal ke-Ulamaa-an. Percaya?

Kalau memang kamu percaya, kalau memang kamu sudah membulatkan tekat dan berani menjawab pertanyaan di atas, Untuk apa kamu ke PUTM? Maka masuklah dan PUTM akan menerima kamu dan mendidik kamu menjadi orang yang berguna dan faham akan bekal sebagai Ulama. Insyaallah.

PUTM adalah Pendidikan Ulam Tarjih Muhammadiyah yang orientasinya adalah mencetak kader-kader ulama yang siap untuk diterjunkan ke masyarakat dalam rangka mengisi kekurangan ulama dalam muhammadiyah. Untuk mengemban amanah sebagai ulama tidaklah mudah. Saya sendiri juga heran, mengapa namanya Pendidikan Ulama. Padahal yang paling berat dari huruf-huruf tersebut adalah huruf U (Ulama). Setahu saya pendidikan yang menamai dirinya dengan pendidikan ulma hanya satu ini. Selain itu adalah pendidikan kader ulama. Oleh karena itu, pendidikan disini terlalu pede dengan namanya. Semoga kita dihindarkan Allah SWT dari pendidikan instan yang hanya menghasilkan ulama-ulama akademisi layaknya sarjana pada umumnya. Semoga kita dihindarkan dari yang namanya ulama karbitan (sebutan untuk artis sekaligus dari televisi atau media). Semoga PUTM dapat menghasilkan alumni-alumni yang punya kualitas bukan hanya kuantitas. Aamiin.

Mengapa Cap Teroris dan Radikallisme pada Gerakan ISLAM?

Belum lama ini beredar video-video dan berita-berita tentang ISIS (Islamic State of Irak Suriah) yang sedang digencar-gencarkan oleh media. Saya tidak hendak membela ISIS, saya juga bukan pendukung ISIS. Tapi saya prihatin dengan perhatian media yang sangat getol memproklamirkan dan mengkaitkan ISIS dengan Islam yang katanya radikall dan fundamentalis. Memang tidak salah jika dikatakan ISIS sebagai gerakan yang mengatasnamakan Islam. Akan tetapi tidak pantas jika sebuah gerakan kecil yang dianggap  separatis ini membuat claim-claim yang membesar dan menghegemoni hingga menjadi kekuatan phobia anti Islam berkat bantuan media.
Mengapa gerakan Islam yang menjadi sasaran? Jawabnnya mudah, karena umat Islam adalah sasaran yang paling empuk. Ibarat kata, umat Islam bagaikan singa sakit yang sudah roboh dan mau bangkit dalam kandang anjing dan srigala. Secara otomatis sang Anjing dan Srigala tidak akan rela Singa sakit tersebut bangkit dan melawan anjing dan srigala tersebut. Oleh karen itu sebisa mungkin sang anjing dan srigala akan mejatuhkan gajah tersebut sampai tak bisa apa-apa.
Predikat radikall, terorism, fundamentalis maupun gerakan separatis ini sekarang dilekatkan pada gerakan-gerakan Islam dengan konotasi negataif, bahkan lebih dari sekedar negatif. Media menyebutnya sebagai gerakan radikall, garis keras bahkan separatis. Cap negatif ini di tujukan kepada umat yang tengah mencoba mengaplikasikan ajaran agamanya dalam kehidupan sehari-hari.
Istilah radikall, terorism, fundamentalis ini sangat efektif, sehingga orang-orang akan melekatkan citra negatif untuk setiap gerakan-gerakan Islam yang secara konsisten berani menerapkan ajaran-ajaran agamanya. Mengapa ini bisa terjadi? Hanya ada satu jawabannya. Cap ini dibuat suatu kepentingan politik yang besar dan tersistematis dengan peralatan media untuk membentuk opini yang dibungkus fakta. Bisa dikatakan sebagai pseudofaktual yang sebenarnya bukan fakta tapi disebut-sebut sebagai fakta. Informasi-informasi dari media bukanlah sebagai acuan utama, bisa benar, tapi juga tak jarang sering bohong.
Media sangat berperan besar dalam penyebaran aktifitas informasi yang ada. Bisa jadi berita kecil tapi dianggap oleh penguasa media menguntungkan pihaknya akan diekspos besar-besaran. Tak lupa juga dibumbui dan dikompor-kompori dengan dongengan dan bualan bahkan fitnah yang nyata. Bisa jadi berieta tersebut besar, akan tetapi bila dipandang tidak menguntungkan pihaknya makan akan dibungkam habis-habisan dan tak pernah diekspos. Sebut saja berita israel yang mengggempur habis-habisan rakyat palestina. Media barat yang notabene mendukung israel seolah bungkam dan tak ada apa-apa. Akan tetapi ketika Hamas melancarkan rudalnya untuk membalas serangan Israel yang menghancurkan ribuan banguanan dan membuanuh puluhan ribu warga sipil, wanita dan anak-anak mereka sebut hamas sebagai pembunuh anak-anak israel. Isreal is the real terorism. Israel go to hell. Israel laknatullahualaihim.
Cap teror, radikall, fundamentalis maupun lainnya sangat tidak adil jika dialamatkan kepada orang-orang yang ingin mengaplikasikan ajaran agamanya dalam kehidupan sehari-hari. Siapa di balik ini? Sudah barang tentu ini ada dalang yang mengontrol konspirasi global ini. Bukan, bahkan ini lebih tepatnya bisa saja menjadi sebuah konspirasi peradaban global. Mengapa? Karena konspirasi ini menjadi bibit unggul untuk ditanamkan dalam kancah global dan internasional, tidak hanya dalam kurun waktu singkat, tapi akan menghujam lama di kolong langit internasional. Naudzubillah.
Pertanyaan selanjutnya, mengapa harus ada konspirasi ini?. Sangat jelas kiranya. Konspirasi ini adalah bukti adanya cengkraman musuh-musuh Islam bahkan musuh-musuh manusia seluruhnya. Siapa itu? ZIONISME dunia, Israel. Ya. Kalau kita mau putar kembali sejarah masa lalu, maka kita akan mengetahui bahwa hegemoni israel sangatlah kuat mencengkeram. Lobi-lobi Yahudi di amerika sangat kuat dan mempengaruhi keputusan politik Amerika. Lobi Yahudi ini merupakan bagian tak terpisahkan dari upaya zionis internasional untuk menancapkan kuku-kukunya sehingga bisa melangengkan tujuannya untuk menanamkan pengaruh Yahudi pada tingkat global. Sekarang kita telah merasakan bahwa lobi-lobi Yahudi sudah menjangkiti pemerintahan global, dibawah komando Amerika yang katanya sebagai Polisi dunia. Buat apa ada PBB kalau kerjanya hanya bisa mengecam tanpa aksi. Palestina bukan butuh bantuan kecaman, tapi butuh bantuan dana berupa senjata dan makanan utnuk melawan zionis isreal.
Hemat saya, kebangkitan dunia Islam sangat berpotensi besar untuk menguasai global sehingga akan membebaskan kuku-kuku zionis yahudi. Inilah yang ditakutkan oleh mereka, sehingga konspirasi ini dibuat untuk memojokkan umat Islam, membuat cap dan citra negatif di kancah global. Coba anda tanyakan kepada orang tua yang masih awam dengan ajaran Islam di desa atau dusun. Ketika mereka di tanya siapakah teroris itu? Mereka akan menjawab teroris ya orang Islam yang pake senjata, jenggotnya tebal dan celana congklang, istrinya cadaran dll. Ketika ada kelompok atau gerakan yang ingin mengaplikasikan ajaran Islam dalam kehidupan sehari-harinya maka ia akan disebut garis keras atau teroris. Ketika ada orang yang memelihara jenggot dan celana diatas mata kaki maka di sebut sebagai teroris.  Lalu apa bedanya dengan Yesus? Dia berjenggot tebal, apakah Dia itu teroris? Bukan, bahkan di dianggap Tuhan.
Lalu bagaimana kita melawan media ini? Pertanyaan yang mudah tapi sulit dijawab. Sebagai orang muslim, kita harus membantu pembentukan opini oleh media asing dengan cara jangan ikut-ikutan menyebut kata-kata terorism yang dialamatkan kepada Islam, membuat tulisan-tulisan atau buku atau segala sesuatu yang bisa membungkam media asing tersebut atau minimal membendung ocehan mereka. Bisa dengan membuatnya di sosmed atau blog atau yang lainnya. Misalnya di twitter anda bisa membuat hastag #Israeltherealterorism #TerorISISrael #Israelisworldteror dll. Yak kita bantu membentuk informasi publik sebisa dan semampu kita.