Dee...Episode Petir

Dee, Episode Petir
Langkah Berdebu. Dee, Edpisode Petir. Oke. Mulai. Untuk kali ini saya akan sharing beberapa kalimat yang menurutku cukup bagus dan berkwalitas. Potongan-potongan kalimat ini saya dapatkan setelah membaca dan menamatkan novel "Petir" karya Dee. Untuk kali ini saya hanya mengambil  beberapa kata hikmah yang bermanfaat baik dari segi penulisan maupun dari kandungan maknanya. Yuk, silahkan di simak baik-baik.
  1. Sebuah kode, dimapankan oleh rutinitas waktu  yang artinya: satu complimentary iced tea, es sedikit dan saya akan memakai fasilitas internet gratis di kafe ini selama mungkin.
  2. Ternyata hidup tidak membiarkan satu orang pun lolos untuk cuma menjadi penonton. Semua harus mencicipi ombak.
  3. Rupanya tidak mudah mengubah sebuah pelarian yang sudah menjadi kebiasaan. Aku baru sadar bahwa kata-kata yang tersimpan dapat membusuk hingga kawanan belatung menggerogotimu dari dalam.
  4. Mengingatkanku pada kentut bisu, tak ada jejak hingga sulit menuduh siapa-siapa. Lewat tanpa hembusan angin yang terdeteksi syaraf kulit. Kau benar-benar cuma bisa menikmati bau busuknya.
  5. Pohon yang sudah berdiri entah sejak kapan itu. Tak ada yang menyadari keberadaannya. Mungkin pohon itu tak pernah berambisi jadi bonsai yang dipamer dan disayang-sayang, atau menjadi tanaman lain yang bisa ditumpangi ego manusia karena mencerminkan keahlian pemiliknya. Ia cukup dipelihara oleh alam.
  6. Pada saat engkau mengira telah berhasil menebak logika hidup, pada saat itulah ia kembali memutir dirinya kearah tak terduga dan jadilah kau objek lawakan semesta.
  7. Teror Sunyi
  8. Ia hanyalah bulan yang meminjam terang kepada matahari agar bersinar dimalam gelap, Cuma bisa memandangi iba kepada sang rembulan yang tanpa terelakkan harus berotasi memunggungi sumber cahaya.
  9. Untuk kali pertama aku menghayati makna dunia baru. Sekarang aku bagian dari bumi yang jarak geografisnya kian menyusut, dunia tanpa batas. Aku adalah penghuni alam virtual yang tumbuh terus setaip detik.
  10. Padahal kunci orang miskin dan sebatang kara itu cuma satu: jangan sampai sakit. Kalau sampai sakit maka matilah.
  11. Dirimu lebih besar dari pada yang kamu tahu.
  12. Mungkin saya bukanlah orang yang  paling sempurna untuk menjadi pembimbing kamu, tapi percayalah, setiap pertemuan pasti mempunyai maksud yang sempurna. Untuk kamu, saya ada. Dan untuk saya, kamu ada. Kita hadir untuk menyempurnakan satu sama lain.
  13. Akan tiba saatnya orang berhenti menilaimu dari wujud fisik, melainkan dari apa yang kamu lakukan.
  14. Banyak hal yang nggak perlu kedengaran bunyinya, tapi kelihatan tindakannya.
  15. Sebagai penyeimbang, dianugerakanlah kantong-kantong pergaulan yang berkembang teratur dan terpola cantik laksana sarang laba-laba. Orang-orang lama, orang-orang baru akan datang, terjalin rapi oleh benang-benang tak terlihat, tetapi dapat dirunuti begitu engkau menjejak d atasnya.

Perang Peradaban

Perang Peradaban
Dulu, ketika Nabi menerima laporan bahwa ajakannya kepada Kaisar Romawi, Heraclius untuk berpegang pada keyakinan yang sama (Kalimatin sawaa') ditolak dengan halus, Nabi hanya berkomentar pendek "Sa ukhjim al-rum min uqri baitii" (Akan saya perangi Romawi dari dalam rumahku).
Ucapan Nabi ini bukan genderang perang atau teror, ia hanya berdiplomasi. Tidak ada ancaman fisik dan juga tidak menyakitkan pihak lawan. Ucapan itu justru menunjukkan keagungan risalah yang dibawanya, bahwa dari suatu komunitas kecil di jazirah Arab yang tandus, Nabi yakin Islam akan berkembang menjadi peradaban yang kelak akan mengalahkan Romawi.
Pada tahun 632, ketika Nabi Muhammad SAW wafat, beliau telah melaksanakan berbagai tugas besar yaitu yang pertama-tama adalah menyampaikan risalah (al-Qur’an), kemudian membentuk komunitas Muslim dan menyatukan suku-suku Arabia menjadi sebuah bangsa yang homogen dan kuat sehingga berdiri institusi negara Madinah dan akhirnya mendirikan institusi pendidikan yang kemudian menjadi cikal bakal tradisi intelektual Islam.
Di masa Khulafa' al-Rasyidin Islam mulai menyebar keluar dari jazirah Arabia. Diawali pada masa Abu Bakar dan mencapai titik tertingginya pada masa Umar Ibn Khattab dan boleh dikatakan terhenti pada zaman Ali ibn Abi Thalib.
Pada masa Khulafa' al-Rasyidin umat Islam telah menguasai kawasan-kawasan di sekitar jazirah Arabia seperti Persia, Mesir, Syria dan sebagainya. Dari sejak itu umat Islam sudah tidak terbendung lagi untuk keluar dari jazirah Arabia. Pada abad ke 7 kekhalifahan Umayyah berdiri dan beribukota di Damaskus (661-750), kemudian kekhalifahan Abbasiyah berdiri pada abad ke 8 dan beribukota di Baghdad (750-1258).
Selain itu pada abad ke 10 di Kairo berdiri kekhalifahan Fatimiyyah (909-1171), sedangkan di Kordoba (Qurtubah) Spanyol pada abad yang sama berdiri kekhalifahan Umayyah (929-1031).
Dengan berakhirnya kekhalifahan Umayyah, Abbasiyah dan Fatimiyyah ternyata pada abad ke 16 masih berdiri kekhalifahan yang lebih besar lagi yang bukan dari bangsa Arab, yaitu kekhalifahan Turki Utsmani di Konstantinopel yang berlangsung sejak 1517 hingga 1924.
Dengan berdirinya kekhalifahan Umayyah (tahun 661 M), Damaskus telah berubah menjadi pusat pemerintahan Islam membawahi wilayah terpenting kerajaan Byzantium lainnya seperti Palestina, Suriah, Persia,  (635-640 M), Mesir (641 M), Siprus (649 M), Iskandariyah (652 M), Transoxiana, kawasan Asia Barat dan Afrika Utara, dua kawasan yang dulunya jatuh ke tangan Alexander the Great.
Pada tahun 700an, tidak lebih dari setengah abad sesudah wafatnya Nabi Muhammad (632 M), umat Islam telah tersebar ke kawasan Asia Barat dan Afrika Utara, dua kawasan yang dulunya jatuh ke tangan Alexander the Great.
Selanjutnya Muslim memasuki kawasan yang telah lama dikuasai oleh Kristen dengan tanpa perlawanan yang berarti. Menurut William R. Cook pada tahun 711 - 713 M kerajaan Kristen di kawasan Laut Tengah jatuh ke tangan Muslim dengan tanpa pertempuran, meskipun pada abad ke-7 kawasan itu cukup makmur.
Bahkan selama kurang lebih 300 tahun hampir keseluruhan kawasan itu dapat menjadi Muslim. Baru pada abad ke 11 kerajaan Kristen di kawasan itu mulai melawan Muslim.
Demitri Gutas dengan jelas mengakui: Bahwa pada tahun 732 M kekuasaan dan peradaban baru didirikan dan disusun sesuai dengan agama yang diwahyukan kepada Muhammad, Islam, yang berkembang seluas Asia Tengah dan anak benua India hingga Spanyol dan Pyrennes.
Gutas bahkan menyatakan bahwa dengan munculnya peradaban Islam, Mesir untuk pertama kalinya, sejak penaklukan Alexander the Great, dapat dipersatukan secara politis, administratif dan ekonomis dengan Persia dan India dalam jangka waktu yang cukup lama. Perbedaan ekonomi dan kultural yang memisahkan dua dunia yang berperadaban, Timur dan Barat, sebelum Islam datang yang dibatasi oleh dua sungai besar dengan mudahnya lenyap begitu saja.
Mungkin orang mencari-cari kaitan antara metaforika Nabi “Menyerang Romawi dari dalam rumahku” dengan kenyataan sejarah. Memang proses kejatuhan Romawi tidak disebabkan oleh faktor tunggal.
Edward Gibbon dalam The Decline And Fall Of The Roman Empire menyatakan bahwa periode kedua dari merosot dan jatuhnya Kekaisaran Romawi disebabkan oleh lima faktor: Pertama, Di era kekuasaan Justinian banyak memberi wewenang kepada Imperium Romawi di Timur. Kedua, Adanya invasi Italia oleh Lombards. Ketiga, Penaklukan beberapa provinsi Asia dan Afrika oleh orang Arab yang beragama Islam dan Keempat, Pemberontakan rakyat Romawi sendiri terhadap raja-raja Konstantinopel yang lemah. Yang terakhir adalah munculnya Charlemagne yang pada tahun 800 M mendirikan Kekaisaran Jerman di Barat.
Jadi, penyebab kejatuhan Romawi merupakan kombinasi dari berbagai faktor, seperti problem agama Kristen, dekadensi moral, krisis kepemimpinan, keuangan dan militer. Dan diantara faktor terpenting penyebab kejatuhan Romawi adalah datangnya Islam.
Inilah sebenarnya kaitan pernyataan Nabi yang metaforis itu. Nabi tidak pernah pergi menyerang Romawi Barat maupun Timur, tapi datangnya gelombang peradaban Islam telah benar-benar menjadi faktor penyebab kejatuhan Romawi.
Namun ini tidak bisa ditafsiri bahwa Islam itu datang membawa kehancuran peradaban lain. Islam justru harus ditafsiri sebagai penyelamatnya, sebab Islam adalah din yang menghasilkan tamaddun yang diterima oleh bangsa-bangsa selain bangsa Arab sebagai pembebas dari ketidakadilan dan penindasan.

Islam membawa sistem kehidupan yang teratur dan bermartabat, sehingga mampu membawa kemakmuran dan kesejahteraan masyarakat. Jadi Islam diterima oleh bangsa-bangsa non Arab karena universalitas ajarannya yang tidak lain adalah kekuatan pancaran pandangan hidupnya (Worldview)

Ruang Download Aplikasi Bermanfaat


  • Download Aplikasi untuk Belajar"
Silahkan Klik saja nama aplikasinya dan akan langsung masuk ke halaman download secara otomatis
1. Kamus Bahasa Arab v.3
2. KBBI v.1.5.1
3. Kunci USB
4. Quran in Word
5. Smadav Versi Pro
6. WinHisab

Temaram Senja dengan Debu-debu Tuhan

Temaram Senja dengan Debu-debu Tuhan
Temaram senja di Kaliurang
Berawal dari sebuah sore menjelang magrib di teras depan. Tatkala kegelapan malam mulai menerjang menghempaskan terangnya siang. Tatkala angin-angin sore mulai berisik bergantian bekerja. Bertukar sambil bertasbih kepada Tuhannya. Tatkala dinginnya udara yang menusuk dinginnya kulit, menyibak rambut badan yang mulai bertingkah, menjerit, tertusuk hawa dingin di kaliurang. 

Dalam koran Republika edisi hari ini, Munggu, 04 Mei 2014. Debu-debu Tuhan menghentikan langkah mataku di deretan huruf-huruf yang mulai menari-nari dalam kening di dahiku. Sebuah realitas keadaan dengan dibungkus temaramnya senja langit yang kelabu. Dirundung sedih dikala senja, dengan perangai debu-debu Tuhan yang menyibakkan gelapnya malam. Penuh dengan kenestapaan melihat debu-debu yang menutupi rangkaian keseharian. Menjalar menyibakkan terangnya siang dengan kegelapan dosa yang temaram remang. Dalam hati yang penuh dengan kenastapaan.

Kuingat sekali sebuah tragedi nyata beberapa bulan yang lalu. Ketika debu-debu Tuhan meradang menetapkan nasib kenestapaan dalam keluargaku. Atap rumahku roboh, ya. Roboh sebagian. Terasa panas hati ini mengingat-ingat kejadian disana. Ketika adik kecilku sedang bersendau senang dalam rumah reot itu. Rumah yang penuh dengan saksi lika-liku kehidupan keluarga. 

Rumah tua dengan tipe joglo kuno beratap tinggi menjulang. Persis seperti bangunan benteng yang telah lapuk dimakan usia. Dan debu-debu Tuhan itu mengingatkanku kesana. Ketempat dimana aku dibesarkan. Ku tak sanggup membayangkan apabaila kejadian serupa mengenai kelurgaku. Ku tak bisa. Yang hanya adalah sebuah penolakan histeris dan gagap keadaan. Rasa bersalah yang terakumulasi dalam dada ini begitu besar.

Begitu besar rasanya hingga tak sanggup ku memikul beban berat. Karna aku, adik-adikku terabaikan. Karna aku, ayah ibuku merana, karna aku rumah kami berantakan tak karuan. Kelak aku bertekat untuk membangun, membangun peradaban keluarga. Kupasrahkan raga ini untuk keluarga, kedua orang tuaku dan kepada adik-adikku semata. Aku ingin berkhidmat kepada pemilik sang waktu, aku ingin berkhidmat kepada kedua orang tuaku . 

Orang Tua is Pahlawan
Ayah, Ibu tunggulah, doakanlah. Kelak anakmu akan membantumu memikul beban keluarga ini, insyaallah. Walau sempoyongan kelak anakmu ini akan menjunjung tinggi pelajaran hidup dari kalian, insyaallah.  Kelak anakmu ini akan menceritakan kisah pahlawan kalian kepada anak turunmu. Ya Allah kabulkanlah,,

“Ayah, bagaimana nanti masa depanku?” Tanyaku kepada ayah.
“Tak usah khawatir, kamu belajarkah yang serius, yang pinter saja. Untuk biaya sekolahmu tenang saja, tak usah dipikirkan”, jawab ayah dengan tegap.
Beliau memang selalu seperti itu. Tentu saat itu aku tak mengerti apa-apa. Seolah mengiyakan apa yang dikatakan oleh ayah. Semakin kesini aku menyadari dan bertanya dalam hati, tentu namanya orang tua pasti tak akan membiarkan anaknya susah. Bahkan kalau bisa seluruh hidupnya akan diberikan kepada anaknya dengan rasa bangga. Apapun keadaannya. 

Orang tua tak akan memberitahu kesusahannya kepada anaknya. Sebagai anak, aku tak tahu menahu darimana ayah mendapatkan biaya sekolahku. Sedangkan untuk makan keseharian saja pas-pasan. Ayah pasti bekerja keras. Banting tulang siang malam untukku dan untuk keluarga. Semua itu demi kehidupanku dan adik-adikku kelak.

Bersambung...


Special For Our Parent

Gurat-gurat di wajah tua itu
Semakin jelas saja
Menyiratkan tanda usia,
Lapuk dimakan oleh temaramnya senja

Bukan tak menerima takdir Tuhan
Tapi terlampau kasih hati ini meradang
Dibungkus keadaan dalam bingkai kasing sayang

Ayah dan Bunda.
Karna sesuap nasi engkau memeras keringat
Membuat dahaga, membakar lemak dan membanting tangan.
Demi anak-anakmu ini
Tidakkah kalian memikirkan diri kalian?

Senjapun sepakat kalian sudah terlalu lama berlalu lalang
Sudah saatnya kalian menuai panen
Dari anak-anak manusia yang kalian besarkan.

Rehatlah sejenak
Anak-anakmu akan baik-baik saja
Tak usahlah kau pikirkan sekali
Kehidupan ini  terlalu rumit dijelaskan oleh pikiran kalian
Kelak anakmu akan tahu
Seperti itulah orang tua.
Lereng Merapi

Yogyakarta, 04 Mei 2014

10 Imam Ahli Qira’at dan Riwayat-riwayatnya

10 Imam Ahli Qiraat dan Riwayatnya
Sebagaimana telah kami jelaskan pada artikel sebelumnya bahwa bacaan (qiraat) al-Quran telah banyak diriwayatkan oleh para sahabat dan tabi’in sebelum kita. Untuk lebih jelasnya tentang siapa saja para sahabat dan tabi'in yang ahli dalam bacaan al-Quran bisa dilihat di sini. Mereka meriwayatkan qiraat tersebut dengan berbagai macam warna bacaan. Artinya setiap orang bisa saja berbeda-beda dalam membacanya. Namun tentunya harus sesuai dengan kaidahnya. Ahli qiraat yang terkenal dan masyhur ada tujuh macam. Namun pada kali ini akan saya sebutkan 10 macam qiraah yang diriwayatkan oleh para imam ahli qiraat.


1. Nafi’ Al Madani
Beliau adalah Abu Ruwaim Nafi’ bin ‘Abdirrahaman bin Abi Nu’aim Al Laitsiy, berasal dari Ashfahan, dan wafat di Madinah tahun 199 H. Dua orang yang meriwayatkan Qira’at darinya adalah:
a.    Qaaluun, adapun Qaaluun dia adalah ‘Isa bin Mainaa bin Wardaan bin ‘Isa bin Abd  al-Shamad. Diriwayatkan bahwa Nafi’ menjulukinya dengan julukan tersebut karena bagusnya bacaannya. Sedangkan Warasy dia adalah ‘Utsman bin Sa’id bin Al Mishri rahimahullah, memiliki nama kunyah Abu Sa’id.
b.    Warasy, adapun Warasy adalah nama julukannya. Dia dijuluki dengan julukan tersebut ada yang mengatakan karena kulitnya yang sangat putih. Dia wafat di Mesir tahun 197 H pad usia 87 tahun.
2    2. Ibnu Katsir (bukan Ibnu Katsir ahli tafsir).
Beliau adalah ‘Abdullah bin Katsir bin Umar bin Abdullah bin Zaadzaan bin Fairuuz bin Hurmuuz Al Makkiy. Dia adalah salah seorang Tabi’in, dan wafat di Makkah tahun 120 H. Dua orang yang meriwayatkan Qira’at darinya adalah: 
a.       Al-Bazzi, adapun Al Bazziyy dia adalah Ahmad bin Muhammad bin ‘Abdillah bin al-Qaasim bin Naafi’ bin Abi Bazzah. Beliau memiliki nama kunyah Abul Hasan, wafat du Makkah tahun 250 H pada usia 80 tahun.
b.    Qunbul, adapun Qunbul dia adalah Muhammad bin ‘Abdirrahman bin Muhammad bin Khalid bin Sa’id Al-Makhzumi. Beliau memiliki nama kunyah Abu ‘Amr, dan dijuluki Qunbul. Ada yang mengatakan:”Mereka adalah Ahlul Bait di Makkah yang dikenal dengan Al Qanabilah.”. Dia (Qunbul) wafat di Mekah tahun 291H pad usia 96 tahun.
3    3. Abu Amr al-Bashri
Dia adalah Yuban bin Al ‘Alaa’ bin ‘Ammar bin al-Iryaan al-Mazini at-Tamimi al-Bashri. Ada yang mengatakan bahwa namanya adalah Yahya. Dia wafat di Kufah pada tahun 154 H. Dan dua orang yang meriwayatkan Qira’at darinya adalah: 
a.    Ad-Duuriyy, adapun ad-Duuriyy dia adalah Hafsh bin ‘Amr bin ‘Abdil ‘Aziz Ad Duuriyy al-Azdi. Ad Duur adalah nama sebuah tempat di Baghdad. Dia wafat pada tahun 246 H.
b.   As-Suusiyy Sedangkan As Suusiyy adalah Shalih bin Ziyad bin ‘Abdillah bin Isma’il nin al-jaarud. As Suusiyy  wafat sekitar tahun 261 H.
4    4. Ibnu ‘Amir Asy Syaami
Dia adalah ‘Abdullah bin ‘Amir bin Yazid bin Tamim bin Rabi’ah. Dia wafat di Dimasyq tahun 128 H. Dua orang yang meriwayatkan Qira’at darinya adalah:
a.      Hisyam, Adapun Hisyam dia adalah Hisyam bin ‘Ammaar bin Nashir Al Qaadhi Ad Dimasyqi, beliau wafat di sana pada tahun 245 H.
b.  Ibnu Dzakwan Sedangkan Ibnu Dzakwan dia adalah ‘Abdullah bin Ahmad bin Basyir bin Zakwan bin Amr Al Qurasi Ad Dimasyqi, beliau diberi nama kunyah Abu ‘Amr. Beliau wafat di Dimasyq (Damaskus) tahun 242 H.
5    5. ‘Ashim Al Kuufi
Dia adalah ‘Ashim bin Abi An Najuud, Wafat di Kufah tahun 127 H. Dua orang yang meriwayatkan Qira’at darinya adalah:
a.     Syu’bah, adapun Syu’bah dia adalah Syu’bah bin iyasy bin Salim Al Kuufiyrahimahullah, wafat di Kufah pada tahun 193 H.
b.    Hafsh, dia adalah Hafsh Sulaiman bin Al Mughirah Al Bazzaz, diberi nama kunyah Abu ‘Amr, dan dia adalah orang yang tsiqah (kredibel). Ibnu Ma’in berkata:”Dia lebih menguasai qira’at dibandingkan dengan Abu Bakr”. Dia wafat tahun 180 H.
6    6. Hamzah Al Kuufi
Dia adalah Hamzah bin Habib bin ‘Imarah bin Ismail al-Kufi, beliau adalah salah satu imam qiraah as-sab’ah. Beliau wafat pada tahun 156 H di Bahlawan. Dua orang yang meriwayatkan Qira’at darinya adalah:
a.   Khalaf, adapun Khalaf dia adalah Khalaf bin Hisyam bin tsa’lab al-Asadi al-Bagdadi, diberi nama kunyah Abu Muhammad, lahir pada tahun 150 H dan wafat di Baghdad pada tahun 229 H.
b.      Khallad, dia adalah Khallad bin Khalid asy-Syaibaani ash-Shairafi Al Kuufi, diberi nama kunyah Abu ‘Isa, dan wafat di sana tahun 220 H.
7    7.  Al-Kisaa’i Al Kuufi
Dia adalah ‘Ali bin Hamzah, Imam ahli Nahwu (tata bahasa Arab) kalangan Kufiyun, diberi nama kunyah Abul Hasan. Beliau dijuluki dengan laqab al-Kissaa’i karena dia ihram memakai Kisaa’ (kain penutup Ka’bah). Beliau wafat tahun 189 H. Dua orang yang meriwayatkan Qira’at darinya adalah:
a.       Al-Laits, dia adalah al-Laits bin Khalid al-Marwazi al-Bagdadi. Beliau wafat pada tahun 240 H.
b.      Hafsh ad-Duuri dia adalah perawi (yang meriwayatkan Qira’at) dari Abi ‘Amr dan al-Kisaa’i. Penjelasannya telah kami jelaskan.
8    8.  Abu Ja’far Al Madaniy
Dia adalah Yazid bin al-Qa’qa’ al-Makhzuumi al-Madini, wafat  pada tahun 130 H. Dua orang yang meriwayatkan Qira’at darinya adalah:
a.   ‘Isa bin Wardan, adapun Wardan dia adalah ‘Isa bin Wardan al-Madini, beliau wafat di Madinah sekitar tahun 160 H.
b.  Ibnu Jammaaz dia adalah Sulaiman bin Muhammad bin Muslim bin Jammaaz al-Zuhri al- Madaniy, wafat di sana (Madinah) tidak lama setelah tahun 170 H.
9    9.  Ya’qub Al Bashriy
Dia adalah Ya’qub bin Ishaq bin Zaid bin Abdillah bin Abi Ishaq al-Hadrami al-Bashri, wafat di Bashrah pada tahun 205 H pad abulan dzulhijjah. Dua orang yang meriwayatkan Qira’at darinya adalah:
a.    Ruwais, adapun Ruwais dia adalah Muhammad bin al-Mutawakkil al-Lu’lu al-Bashri Kunyahnya adalah Abu Abdillah. Beliau wafat di Bashrah pada tahun 238 H.
b.  Rauh dia adalah Rauh bin ‘Abdil Mu’min al-Hadzli al-Bashri An-Nahwiy. Kunyahnya adalah Abul Hasan. Beliau wafat tahun 235 H.
    10. Khalaf al-‘Aasr, dia adalah Khalaf bin Hisyam al-Bazzaar al- Baghdadiy. Tahun kematiannya tidak diketahui. Dua orang yang meriwayatkan Qira’at darinya adalah:
a.   Ishaq, adapun Ishaq dia adalah Ishaq bin Ibrahim bin ’Utsman bin Abdillah al- Marwazi al-Baghdadiy. Kunyahnya adalah Abu Ya’qub, beliau wafat pada tahun 286 H.
b.    Idris dia adalah Idris bin ‘Abdil Karim al-Haddaad al-Baghdadi. Dia wafat pada tahun 292 H pada usia 93 tahun.

Sumber bacaan dlam kitab al-Ithaaf Fudholaai al-Basyar bi al-Qiraati al-Arba’ah asyr karangan  al-‘Allamah al-Syaikh Ahmad bin Muhammad al-Banna halaman 19-32.

Nama-Nama Ahli Qiraat dari Kalangan Sahabat dan Tabi’in.

Nama-Nama Sahabat dan Tabi'in  Ahli Qiraat
Al-Quran adalah kitab yang agung yang Allah SWT turunkan kepada Nabi Muhammad dengan bahwa arab dan dengan berbagai huruf. Dalam sebuah hadis ada yang mengatakan bahwa al-Quran diturunkan dalam tujuh huruf. Rasulullah SAW kemudian mengajarkan al-Quran tersebut kepada para sahabat dengan bacaan qiraah yang telah diturunkan Allah kepada Nabi.

Diantara para sahabat yang masyhur banyak meriwayatkan qiraat al-Quran al-Karim dan riwayatnya adalah sebagai berikut:

1. Utsman bin ‘Affan ra. Yaitu khulafaurrasidin yang ke tiga dan salah seorang yang pertama masuk islam. Murid beliau cukup banyak, diantara mereka adalah al-Mughirah bin Abi Syihab al-Makhzuumi (w. 91 H).

2. Ali bin Abi Thalib ra. Yaitu khulafaurrasidin yang ke empat dan orang yang pertama kali masuk islam dari kalangan anak-anak dan termasuk salah seorang dari sepuluh orang yang dijamin masuk surga. Dintara muridnya ialah:
a. Abu Abdurrahman al-Salami (w. 73 H)
b. Abu Aswad ad-Duali (w. 969 H)
c. Abdurrahman bin Abi Laila (83 H)

3. Ubay bin Ka’ab ra. termasuk salah seorang sahabat yang telah lanjut, salah satu penulis wahyu Rasulullah SAW, beliau membaca al-Quran untuk Rasulullah dan telah menyempurnakan hafalan al-Qurannya dalam hidupnya. dianta murid-muridnya ialah:
a. Abdullah bin Abbas
b. Abu Hurairah
c. Abu Abdurrahman as-Salami, dan lain-lain dari kalangan sahabat.

4. Zaid bin Tsabit al-Anshari ra. Beliau adalah salah seorang penulis wahyu Rasulullah dan beliau merupakan pengumpul al-Quran pada masa dua khalifah, yaitu Abu Bakr ra. dan Utsman ra. Diantara murid-muridnya ialah:
a. Abu Hurairah
b. Abdullah bin Abbas
c. Abdullah bin Umar
d. Anas bin Malik

5. Abdullah bin Masud ra. termasuk sahabat yang telah lanjut dan salah satu orang yang pertama masuk islam, beliau telah halaf al-Quran semasa Nabi masih hidup. Nabi SAW bersabda: “Barang siapa yang mencintai mambaca al-Quran saebagaimana al-Quran diturunkan maka hendaklah ia membaca dengan qiraah Ibn Ummi Abd.”. Diantara murid-murid beliau adalah:
a. Alqamah bin Qais
b. Al-Aswad bin Yazid al-Nakha’i
c. Masruq bin al-Ajda’
d. Abu Abdurrahman al-Salami.

6. Abu Musa al-Asy’ari ra. termasuk sahabata yang telah lanjut pula. Beliau adalah salah seorang sahbat yang telah lanjt usia. Termasuk sahabat yang paling bagus suaranya dalam mambaca al-Quran. Murid-murid beliau diantaranya:
a. Sa’id bin Musayyab
b. Hatthan al-Raqaasyi
c. Abu Rajaa’ al-‘Atharidy

Selain dari kalangan sahabat, ada juga para ahli qiraat pada masa tabi’in, diantara para tabi’in yang paling terkenal mengenai bancaan qiraahnya ialah sebagai berikut:

1. Di Madinah
Para sahabat yang ahli qiraah di wilayah Madinah al-Munawwarah adalah Ibn al-Musayyab, ‘Urwah bin Zubair, Umar bin Abdul Aziz, Sulaiman bin Yasar, Zaid bin Aslam, Ibnu Syihab az-Zuhri, Abdurrahman bin Hurmuz dan Mu;ada bin al-Haris.

2. Di Makkah
Para sahabat yang ahli qiraah di makkah diantaranya: Mujahid, Thawus, Ikrimah, Ibn Abi Mulaikah Ubaid bin Umair dan lainnya.

3. Di Basrah
Amir bin Abdul Qais, Abul ‘Aliyah, Nasr bin ‘Asim, Yahya bin Ya;mar, Jabir bin al-Hasan, Ibn Sirin dan lainnya.

4. DI Kuffah
‘Alqamah bin Qais an-Nakha’i, Abu Abdurrahman al-Salami, al-Aswad bin Zaid al-Nakha’i, Sa’id bin Jubair, Amru bin Maimun, al-Haris bin Qais dan lain-lain.

5. Di Syam
Al-Mughirah bin Abi Syihab al-Makhzuumi, Abu al-Dardaa’, Khalid bin Sa’id-sahabatnya Abi Dardaa’ dan lain sebagainya.

(Sumber: Kitab al-ithaaf Fudhalaai al-Basyar b al-Qira’ati al-‘Arbaah ‘Asyar karya al-Allaamah al-Syaikh Ahmad bin Muhammad al-Banna, Juz I, halaman 13-18