Catatan Hati Seorang Mahasiswa

Catatan Hati Seorang Mahasiswa Pas-pasan
Semua orang yang ingin memperoleh gelar akademik tinggi maka harus melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi. Secara normalnya seperti itu, walaupun ada pula yang mendapat gelar akademik karena hadiah atau penghargaan. Seperti HAMKA yang mendapat gelar honoris clausa sebagai profesor.  Saat ini , untuk melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi tersebut dinamakan kuliyah. Sebagai mahasiswa, yang namanya kuliyah adalah sesuatu yang biasa. Namun untuk sebagian orang, bisa melanjutkan kuliyah adalah sebuah prestasi yang luar biasa. Tidak hanya anak mahasiswanya yang merasa punya prestasi, akan tetapi keluarganya juga seperti itu. Orang tau bahkan  tetangga.

Bagi mahasiswa pas-pasan, kuliyah juga merupakan sebuah prestasi. Namun bukan berarti prestasi tersebut adalah sebuah kebanggan buat khalayak, tapi hanya untuk diri sendiri sebagai penghibur lara saja, Cuma itu. Yang saya amati di lapangan, ternyata ada anggapaan bahwa seorang yang sudah bergelar mahasiswa dan kuliyah pasti orangnya pinter, orang tuanya kaya dan lain sebagainya. Anggapan ini saya peroleh ketika saya pulang ke kampung  setelah liburan ujian. Padahal tidak demikian adanya. Ada mahasiswa yang memang pas-pasan tapi karna keinginan belajarnya tinggi dia rela bersusah-susah payah. Ada juga yang kuliyah hanya karna keinginan orang tua. Ada beberapa kategori mahasiswa yang saya perhatikan tentang hal ini.
  1. Mahasisawa yang kuliyah karna memeng semanagat belajarnya tinggi dan ia rela bersusah payah, walaupun orang tua di kampung juga pas-pasan.
  2. Mahasiswa yang kuliyah hanya karna keinginan orang tua.
  3. Mahasiswa yang kuliyah cuma sebagai formalitas mencari titel akademik atau gelar belaka.

Saya termasuk mahasiswa yang tipe pertama, entah kenapa memang itulah adanya. Saya anak orang pas-pasan, Namun dengan hal itu tidak membuat saya surut, saya membayangkan kerja keras orag tua di kampung yang membanting tulang kerja keras demi membiayai saya di sini, itu sudah cukup sebagai cambuk belati untuk menyemangati. Bahkan saya kadang tak kuasa memabayangkan hal itu.

Sebagai mahasiswa pas-pasan, ada beberapa hal yang bisanya terjadi pada mahasiswa kelas ini.

Pertama, Tingkat ke-Stresan Berbanding Lurus dengan Isi Dompet.
Ini sebuah realita bung, bagi mahasiswa yang pas-pasan, apalagi di tengah rantau tentu tidak semudah dan segampang di kota /daerah sendiri. Isi dompet sangat mendominasi tingkat keceriaan. Diakui atau tidak, kadang memang seperti itulah kenyataannya. Kadang juga susah membedakan antara sakit dengan tidak punya duit. Kadang juga sulit membedakan antara dompet isi dengan keceriaan. Semakin tebal isi dompet, tingkat kreatifitas meningkat. Hehe. Maksudnya bukan matrealistik, tapi itulah kebutuhan diperantauan. Bagi mahasisawa yang masih mengandalkan kucuran durian dari orang tua, tantu akan jadi momok yang menakutkan ketika dompet lagi sekarat.

Kedua, Pengeluaran Sedikit dengan Pendapatan Maksimum.
Ini seperti prinsip ekonomi, seharusnya prinsip inilah yang cocok diterapkan pada ekonomi. Sejatinya para mahasiswa pas-pasan ini telah menerapkan prinsip-prinsip ini. Sabagai contohnya dari penerapan prinsip ini bagi mahasiswa ialah ketika sedang ada tugas yang membutuhkan koneksi internet yang full. Untuk mensiasatinya, para mahasisaw pas-pasan ini biasanya pergi ke caffe atau suatu tempat yang menyediakan layanan Wi-Fi gratis. Kemudian memesan secangkir kopi dan duduk duduk di situ sambil membawa laptop dan charger. Tantunya secangkir kopi tak akan habis sekali minum, tapi dinikmati sedikit demi sedikit sampai waktu yang tak ditentukan. Haha, ini kenyataan dan sudah menjadi rahasia publik.

Ketiga, interaksi karena tendensi
Ini sebenarnya kelakuan yang tidak baik, tapi apalah daya, zaman sekarng interaksi-interaksi yang ada tak lain hanyalah sebuah kumpulan tendensi-tendensi. Walaupun tidak demikian semua, ada juga interaksi yang memang benar-benar tulus. Silahkan kembangkan sendiri, saya tak akan menjelaskan yang ini.

Keempat, Kritis dan Peka Terhadap Keadaan
Sebagai mahasiswa pas-pasan tentunya untuk memenuhi kebutuhan hidup dengan duit yang pas-pasan harus peka terhadap keadaan. Inilah yang menuntut seorang mahasiswa kreatif. Sebagai contohnya sambil mengisi waktu luang bisa dengan jualan-jualan, entah apa saja, yang penting  halalan thayyiban. Itulah prinsipnya. Peka terhadap keadaan.

Kelima, Pengaruh dengan Tingkat Spiritualitas
Ini bukan realita yang pasti, tapi realita yang ada membuat keadaan menjadi terlihat sebuah kepastian. Mahasiswa yang pas-pasan cenderung memiliki tingkat spiritualitas yang baik. Tentu bila difikir secara logika memamg seharuasnya demikian. Pasalnya, untuk memenuhi kebutuhan hidup yang serba pas-pasan ia akan banyak berusaha, banyak beradoa, memohon kepada sang kuasa agar kebutuhannya terpenuhi dengan baik.

Keenam, Intelgency Influence
Saya tidak tahu istilahnya ini benar atau salah. Tapi hidup pas-pasan memang sangat berpengaruh pada perkembangan mental seseorang dan juga tingkat intelegensinya. Lihat saja orang-orang jepang. Mereka bisa pintar mensiasati rumah mereka yang anti gempa karna daerah mereka sering terjadi gampa. Begitu juga dengan mahasiswa pas-pasan, dengan hidupnya yang pas-pasan tersebut biasanya akan membuat ia termotovasi positif demi mempertahankan statusnya sebagai mahasiswa atau meraih cita-citanya atau merealisasikan keinginan orang tua dan lain sebagainya. Hal ini membuat otaknya main dan dengan sendirinya secara otomatis ia akan lebih memiliki kecenderungan intelegency yang memadai.

Sebenarnya masih banyak fakta-fakta dan perilaku keseharian tenang mahasiswa..silahkan refleksikan sendiri dan terima kasih.  :D

Transformasi Makna KIAI


Makna KIAI dalam perpektif

Di sebuah tempat di lereng bukit merapi hiduplah sekelompok anak-anak manusia yang entah bagaimana mereka hidup dan bertahan melewati arus postmodernisme. Dalam satu tujuan satu ukhuwwah seiya sekata sepersatuan seperjuangan. Kehidupan berjalan dengan indah dan bernuansa menyegarkan. Hingga suatu masa itu datang menyergap membendung indahnya energi positif itu. Dalam khasanah dialektika kebahasaan virologi, saya sebut dengan nama masa inkubasi endemik. Entah dari mana saya dapat istilah itu, sebenarnya hanya menebak-nebak. Tapi mungkin benar untuk menggambarkan beberapa aktifitas disana.

Oke. Tidak usah berlama-lama. Kiai dalam aspek historis merujuk dari bahasa jawa yang berakar kata dari kata “iki dan ae”. Jadi karena li ats-siqâl (berat dalam pengucapannya) maka menjadilah kata serapan baru yaitu “kiai”. Asal usul kata ini menurut sumber ahli (tentu saja orang Kudus punya) berawal dari penunjukan masyarakat yang menunjuk seseorang yang disuruh melakukan sesuatu. Karena mereka tidak menemukan seseorang yang di suruh, maka mereka dengan terpaksa menunjuk seorang lain sebagai gantinya. Nah lafadz yang mereka gunakan kira-kira “ wah ora ono wong liyo, wes nek ngunu iki ae”. (wah tidak ada orang lain,  kalau begitu kamu saja). Kemudian istilah ini menjadi ngetren dan digunakan secara khlayak.

Dalam perspektif budaya jawa khususnya dan indonesia pada umumnya kita dapati kata kiai ini banyak di gunakan sebagai panggilan kepada ulama atau sesepuh (orang yang di tuakan). Hal ini setara dengan istilah buya di Padang atau istilah Teungku di aceh. Akan tetapi akhir-akhir masa belakangan ada pergeseran makna ini yang mulanya digunakan sebagai julukan untuk manusia yang dimulyakan atau dituakan berubah menjadi sebutan untuk beberapa hal. Misalnya di jogja, ada pusaka keraton yang dinama kiai, ada juga di kota solo yang gelar ini bahkan di sandangkan kepada hewan kerbau yang dinamai dengan kiai selamet.

.....bersambung.

Ternyata Keajaiban Sedekah Itu BOHONG

Keajaiban Sedekah Itu BOHONG
Pertama-tama, biarkan saya menjawab pertanyaan teman - teman semua, Memang benar keajaiban sedekah itu adalah BOHONG.
(B): Benar-benar dibalas Tuhan
Tentunya anda tahu dan paham dengan konsep matematika Tuhan yang mengatakan bahwa 10-1= 19, sebab matematika ini berlandaskan pada konsep pembalasan yang diberikan Tuhan dari sedekah adalah 10 kali lipat. Anda tahu? Tuhan adalah satu-satunya di Semesta ini yang Maha Segala Maha, termasuk Maha menepati janji, maka anda tidak perlu ragu lagi atau mempertanyakan lagi konsep ini. 
Tuhan berjanji untuk membalas sedekah kita sepuluh kali lipat, tidak ada penekanan bahwa yang harus disedekahkan itu adalah uang, karena uang adalah objek ciptaan manusia dengan hasil kesepakatan yang hanya berfungsi sebagai alat pembayaran yang sah itupun dalam cakupan wilayah suatu negara. Apapun itu jika intinya adalah sedekah maka akan dibalas 10 kali lipat. ingat SEPULUH KALI LIPAT titik.
 (O): Optimalisasi daya kesuksesan yang penuh berkah
Untuk hal ini tidak perlu mengarahkan pikiran agar mencerna lebih detail, anda tadi sudah membahas tentang pembalasan sepuluh kali lipat, dan sedekah adalah tindakan berpahala. Rumus kehidupan ada yang namanya roda perjalanan nasib, jika anda ingin nasib anda berketerusan baik maka anda harus menjaga perputaran roda itu agar terus berputar dengan pemicunya juga perbuatan kebaikan. Salah satu sumber energi yang tiada habisnya adalah sedekah, dan ini merupakan energi terhebat yang mampu membuat perputaran roda nasib anda berputar dengan kecepatan tidak terjangka oleh alat pengukur manapun, karena yang bekerja dalam perputaran roda itu adalah langsung sentuhan dari Tuhan.
 (H): Hidup jadi lebih tenang karena bisa berbagi dengan mereka yang membutuhkan
Tenang adalah efek nyata kedua setelah rasa bahagia yang anda dapatkan dari bersedekah, karena sedekah juga merupakan alat pembersih harta terbaik dari kotoran-koran dosa yang nantinya akan kita gunakan untuk diri sendiri maupun keluarga dalam hal merajut perjalanan hidup. Tentu dapat dibayangkan bagaimana kebimbangan anda atas lisensi jaminan harta bersih dari dosa jika anda tidak melakukan sedekah? masih mau mengkonsumsi makanan enak tanpa label halal?, silahkan saja anda mencobanya dengan catatan anda siap lahir dan bathin atas efek samping yang bakalan anda dapatkan, begitulah kita umpamakan dengan sedekah.
 (O): Obat anti gagal yang sangat mujarab bagi kehidupan
Bagaimana anda bisa gagal hanya karena bersedekah? ini adalah pertanyaan yang sama sekali tidak masuk akal, karena selain dengan dibalas sepuluh kali lipat, anda juga mendapatkan bonus berupa doa-doa kebaikan atas diri anda dan kehidupan anda.
Jika didalam hidup ini hanya anda sendiri yang memohon dan negosiasi dengan Tuhan berharap kebaikan mungkin bisa saja Tuhan mengurungkan hak Istimewanya untuk mengabulkan doa anda dengan alasan tertentu atau tanpa alasan apapun sah-sah saja, sebab Tuhan adalah jabatan Esa tanpa ada yang mampu menyamainya. Lain halnya jika yang bermohon dan berdoa melakukan negosiasi atas diri anda itu dilakukan oleh banyak orang dengan segenap rasa tulusnya, apa mungkin Tuhan tetap menggagalkan terkabulnya doa?. Ketika anda bersedekah dan tetap gagal juga maka telitilah kembali dalam penataan niat, jangan-jangan ada terselip kesombongan atau riya' diantara niat tulus dan baik anda itu, sebab kalau kesalahannya dari Tuhan sama sekali tidak akan mungkin dan tidak pernah mungkin.
 (N): Nunggak dan hutang apapun bisa dilunasi dengan sedekah
Untuk yang ini, pembuktiannya banyak sekali, anda bisa memilihnya dari sekian banyak ragam dengan membaca tulisan-tulisan mereka yang mengalaminya di wisata hati asuhan ustd.Yusuf Mansur.
Bahasa yang mudah dicernanya begini, sedekah satu saja dibalasnya sepuluh kali lipat, nah satu itu sudah cukup untuk menyangkal darimana alasan anda tetap bisa nunggak dan tidak bisa melunasi hutang anda.
Tuhan itu Maha pemurah dan Maha Adil atas apapun yang diperbuat oleh umatnya, hanya saja terkadang umatnya ini saja yang tidak sadar diri atas kemurahan yang diberikan Tuhan.
 (G): Gampang dan dipermudahkan setiap langkah baik di dunia maupun di akhirat
Dengan sedekah maka anda secara tidak langsung melakukan serangkaian kebaikan dengan cara rapel plus mendapatkan bonus bonus spesial, mulai dari doa-doa penuh kebaikan dari yang menerima sedekah hingga balasan dari janji-janji yang sudah Tuhan firmankan. Orang seperti itu adalah orang-orang yang berada pada jalur yang penuh berkah dan hikmah, mana mungkin Tuhan mempersulit hidup dan kehidupan ummatnya, sebab ummat yang dekat dengan lingkungan penuh berkah adalah ummat yang sudah sterilisasi dari virus-virus negatif kehidupan.

Sumber : Mind Power Generation

Tips Meningkatkan dan Menjaga Konsentrasi

Meningkatkan Konsentrasi
Oke sobat Langkah Berdebu. Hal terpenting dalam proses belajar adalah konsentrasi belaja.. Seseorang akan mudah menangkap materi pelajaran jika ia merasa nyaman dan dapat berkonsentrasi dalam belajar. Pertanyaannya, Bagaimana cara meningkatkan konsentrasi belajar? Berikut tips-tips ringan yang dapat saya bagikan kepada anda untuk menjaga daya konsentrasi serta melatih dan meningkatkannya , yuk disimak tips-tips berikut:
  1. Disiplinlah dengan jadwal belajar dan buatlah menjadi rutinitas. Caranya, dengan membuat jadwal belajar secara teratur. Hal ini akan membuat pola belajar Anda lebih efisien.
  2. Belajar di tempat yang tenang.
  3. Pada saat jeda atau istirahat belajar, coba lakukan sesuatu yang berbeda dari yang biasa Anda lakukan. Misalnya, berjalan-jalan (jika sebelumnya Anda duduk) ke sebuah tempat yang lain, di luar lokasi belajar.
  4. Selalu ajukan pertanyaan untuk materi-materi yang telah Anda pelajari. Jangan melamun selama belajar!
  5. Sebelum perkuliahan, lihat lagi catatan sebelumnya dan baca bahan belajar selanjutnya untuk mempersiapkan segala ide atau materi yang akan disampaikan pengajar.
  6. Tunjukkan minat yang besar selama mengikuti perkuliahan atau pelajaran. Hal ini penting untuk memotivasi diri.
  7. Hindari gangguan-gangguan kecil yang bisa mengganggu konsentrasi Anda saat mengikuti perkuliahan, dengan memilih duduk di bagian depan dan jauh dari teman yang biasanya bersama Anda. Dengan demikian, Anda akan fokus mendengarkan pengajar dan mencatat apa yang disampaikannya.

Selamat mencoba!


Ilmu Falak: Kalender Masehi

KALENDER MASEHI

 1.    Dasar Perhitungan
Perhitungan kalender Masehi didasarkan kepada peredaran semu tahunan Matahari. Peredaran ini
Ilmu Falak
diakibatkan oleh adanya gerak rotasi bumi mengelilingi Matahari. Peredaran semu Matahari mulai dari suatu titik pangkal tertentu hingga kembali lagi ke titik pangkal itu disebut satu tahun. Untuk menentukan lama waktu dalam satu tahun tersebut tergantung kepada titik pangkal yang dipergunakan.
Dalam dunia astronomi dikenal ada dua (2) jenis tahun yang didasarkan kepada peredaran semu tahunan matahari, yaitu:
a.    Tahun Sideris
Dalam bahasa Arab tahun ini dikenal dengan istilah as-Sanah an-Nujumiy (sidereal Year, Inggris). Tahun sideris adalah periode revolusi bumi mengelilingi matahari satu putaran ellips penuh yang lamanya 365,25636 hari atau 365 hari 6 jam 9 menit 10 detik.
b.   Tahun Tropis
Dalam bahasa Arab tahun ini dikenal dengan istilah as-sanah asy-syamsiyah (tropical year, Inggris). Tahun tropis adalah periode revolusi bumi mengelilingi matahari relatif terhadap titik musim semi yang lamanya 365,242199 hari (365 hari 5 jam 48 menit 46 detik).
Dari dua jenis tahun di atas yang dijadikan dasar perhitungan kalender Masehi adalah tahun tropis. Kenapa satu tahun tropis lebih pendek daripada satu tahun siderik? Karena matahari menjalani peredaran semu tahunan pada ekliptika dengan arah negatif, sedangkan titik Aries menjalani ekliptika pada arah positif. Akibatnya periode yang diperlukan Matahari untuk bertemu dengan titik Aries lebih pendek daripada satu tahun siderik.   

2.    Kalender Yulian
Perhitungan kalender Masehi atau Miladi diciptakan oleh Numa Pompilius. Tahun pertama ditetapkan pada tahun berdirinya kerajaan Roma yaitu tahun 753 sebelum lahir Nabi Isa a.s.. Pada tahun 45 SM ternyata menurut hitungan itu sudah bulan Juni, tetapi kalau dilihat dari posisi Matahari pada waktu itu baru bulan Maret. Dengan demikian ada pelompatan selama 3 bulan.
Kemudian oleh Julius Caesar ± (100-44 SM) diperintahkan agar dirubah dan disesuaikan dengan posisi Matahari yang sebenarnya, yaitu dengan memotong penanggalan yang sedang berjalan sebanyak 90 hari (3 bulan) dan menetapkan sistem kalender baru.
Adapun ketentuan perhitungan kalender Yulian adalah sebagai berikut:
a.    Satu tahun ditetapkan rata-rata 365,25 hari atau 365 hari 6 jam.
b.    Untuk membulatkan angka 0,25 hari di atas, yakni dengan cara menjadikan setiap empat tahun ada satu tahun kabisat[1] dan tiga tahun basithah.[2]
c.    Satu tahun kabisat (leap year) berumur 366 hari dan satu tahun basithah (common year) berumur 365 hari.
d.   Penambahan satu hari dalam tahun kabisat dimasukkan ke dalam bulan Februari[3] dengan ketentuan untuk tahun basithah berumur 28 hari dan tahun kabisat berumur 29 hari.
e.    Satu daur/siklus ditetapkan selama empat (4) tahun yang berjumlah 1.461 hari.
f.     Permulaan tahun ditetapkan tanggal 1 januari dengan ketentuan urutan bulan dan umurnya sebagaimana tercantum dalam kalender masehi. (Januari: 31 hari, Februari: 28/29 hari Maret: 31 hari, April: 30 hari, Mei: 31 hari, Juni: 3 hari, Juli: 31 hari, Agustus: 31 hari, September: 30 hari, Oktober: 31 hari, November: 30 hari dan Desember: 31 hari).
g.    Titik permulaan musim bunga (Aries) pada saat ditetapkan kalender ini jatuh pada tanggal 25 Maret.
h.    Pada tahun 44 SM bulan kelima (Quintilis) dirubah namamnya menjadi “Juli” dan bulan keenam (Sextilis) menjadi “Agustus”.
i.      Untuk keperluan hari permulaan (1 Januari) tahun 45 SM, maka tahun 46 SM diperpanjang menjadi 445 hari. Tahun ini kemudian dikenal dengan istilah "The Last Years of Confusion".  
Kalender yang diciptakan oleh Julius Caesar ini kemudian dikenal dengan "Kalender Yulian". Kalender Yulian yang umurnya rata-rata 365,25 hari ini masih menimbulkan perbedaan dengan tahun tropis sebanyak 0,007801 hari (365,25- 365,242199), yakni 11 menit 14 detik setiap tahun.
Pada tahun 325 M sewaktu diadakan rapat Dewan Gereja (Konsili) di Nicaea perbedaan itu telah mencapai empat (4) hari. Titik permulaan "musim bunga" yang semula jatuh pada tanggal 25 Maret pada saat konsili tersebut jatuh pada tanggal 21 Maret.

3.    Kalender Gregorian

Sistem kalender Yulian ini terus berlanjut hingga tahun 1582 Masehi. Pada tahun itu ada seorang astronom, Clavius namanya, dalam perhitungan untuk menentukan hari Paskah menjumpai ketidakcocokan, sebab pada tahun tersebut titik Aries jatuh pada tanggal 11 Maret. Dengan demikian sudah berbeda selama  10 hari dengan yang ditetapkan  oleh Julius Caesar (21 Maret). Untuk mengatasi hal itu, maka Paus Gregorius XIII mengambil dua langkah.
Pertama, ia memutuskan bahwa tanggal 4 Oktober tahun 1582 akan langsung diikuti dengan tanggal 15 Oktober 1582, bukan tanggal 5 Oktober 1582. Kedua, untuk mencegah ketidaksesuaian dengan musim ini kembali terjadi, ia juga menetapkan bahwa tiga dari empat tahun abad (tahun yang berakhiran dengan 00, misalnya tahun 1600, 1700, dst) bukanlah tahun kabisat.
Dengan peraturan tahun kabisat yang dulu, setiap empat tahun sekali, tahun yang habis dibagi empat akan menjadi tahun kabisat. Tetapi, dengan peraturan yang dikeluarkan oleh Paus Gregorius ini maka tahun abad yang tidak habis dibagi 400 tidak akan menjadi tahun kabisat. Dengan demikian, tahun 1700, 1800, 1900 bukan tahun kabisat, sedangkan tahun 2000, yang habis dibagi 400, merupakan tahun kabisat.

Keterangan
Berdasarkan kalender Gregorian,[4] jumlah hari dalam satu tahun adalah 365,2425 hari dan Yulian menetapkan 365,25 hari. Dengan demikian ada perbedaan/selisih jumlah hari yaitu 365,25 – 365,2425 = 0,0075 hari dalam setiap tahunnya dan akan menjadi 3 hari dalam jangka waktu empat abad. Perbedaan 3 hari itu sebagai konsekuensi dari perhitungan 365,25 x 400 = 146.100 hari (menurut Yulian) dan 365,2425 x 400 = 146.097 hari (menurut Gregorian).
Untuk mengatasi hal itu, maka Gregorian tidak menghitung tahun panjang (kabisat) pada bilangan abad yang tidak habis dibagi 400 dan bilangan abad yang habis dibagi 400 ditetapkan sebagai tahun kabisat. Dengan demikian, selain dikurangi 10 hari juga harus dikurangi 3 hari, berarti jumlah pengurangannya ialah 10 hari + 3 hari  = 13 hari (angka ini bisa berubah sesuai dengan perubahan bilangan abad).
Untuk lebih menjelaskan umur masing-masing bulan dan jumlah hari pada setiap akhir bulan menurut kalender Gregorian dapat dilihat pada tabel 1 berikut ini:
 Tabel 1
Nama-Nama Bulan Masehi, Umur Bulan
dan Jumlah Hari

NO
NAMA BULAN
TAHUN BASITHAH
TAHUN KABISAT
UMUR
JML
UMUR
JML
1
Januari
31
31
31
31
2
Februari
28
59
29
60
3
Maret
31
90
31
91
4
April
30
120
30
121
5
Mei
31
151
31
152
6
Juni
30
181
30
182
7
Juli
31
212
31
213
8
Agustus
31
243
31
244
9
September
30
273
30
274
10
Oktober
31
304
31
305
11
November
30
334
30
335
12
Desember
31
365
31
366


Tabel 2
Bilangan Abad

NO
BILANGAN ABAD
YULIAN
GREGORIAN
1
1600
Kabisat
Kabisat
2
1700
Kabisat
Basithah
3
1800
Kabisat
Basithah
4
1900
Kabisat
Basithah




5
2000
Kabisat
Kabisat
6
2100
Kabisat
Basithah
7
2200
Kabisat
Basithah
8
2300
Kabisat
Basithah

Peraturan dari Paus Gregorius ini tidak langsung diterapkan. Memang negara-negara dengan mayoritas umat Katholik dengan segera mengubah penanggalannya ke sistem penanggalan yang telah direformasi Paus Gregorius, tetapi tidak demikian pada negara-negara dengan mayoritas umat Kriten Protestan dan lainnya. Pada banyak negara kalender Julian masih digunakan, bahkan sampai tahun 1918 masih digunakan oleh Rusia. Sehingga dalam kurun waktu 1582-1918 tersebut, harus jelas penanggalan yang mana yang digunakan, yang Julian atau Gregorian. Demikianlah kisah kalender yang kita gunakan sehari-hari kini. Menarik mengetahui bahwa manusia dapat “mensiasati waktu”.



[1]Tahun kabisat adalah setiap tahun yang angka tahunnya habis dibagi empat. Misalnya tahun 2000, 2004, 2008 dll.
[2]Tahun basithah adalah setiap tahun yang angka tahunnya tidak habis dibagi empat. Misalnya tahun 2001, 2002, 2003 dll.
[3]Februari yang kita kenal sekarang terdiri dari 28 hari. Terdapat cerita menarik mengenai perubahan Februari dari 29 hari menjadi 28 hari, meskipun tidak diyakini kebenarannya. Tahun 8 SM bulan Sextilis diganti namanya menjadi Augustus untuk menghormati kaisar Augustus yang memerintah Romawi setelah Julius Caesar. Pada masa kekuasaannya, ia mengambil satu hari dari bulan Februari untuk ditambahkan ke bulan Agustus, sehingga bulan Agustus pun kemudian terdiri dari 31 hari, bukan 30 hari lagi seperti sebelumnya. Dengan jumlah hari yang sama antara Juli dan Agustus, walaupun namanya dijadikan nama bulan setelah bulan Juli, ia tidak lagi merasa inferior terhadap Julius Caesar.
[4]Kalender Gregorian pada mulanya adalah kalender yang digunakan oleh bangsa Romawi kuno dan bukan berdasarkan pada siklus Matahari (solar calendar) seperti sekarang ini. Kalender aslinya dulu tidak terdiri dari duabelas bulan seperti sekarang, tetapi terdiri dari sepuluh bulan (Martius, Aprilis, Maius, Junius, Quintilis, Sextilis, September, October, November, December) dengan jumlah hari sepanjang tahun adalah 304 hari. Permulaan tahun dalam kalender Romawi kuno dihitung sejak pendirian kota Roma pertama kalinya atau “from the founding of the city (of Rome)”, yang diterjemahkan dari bahasa Romawi “ab urbe condita”. Selain itu awal tahun atau tahun baru dirayakan setiap tanggal 1 Maret, bukan 1 Januari seperti sekarang.