Identitas Kader dan Sebuah Kurma

Ada kata-kata bijak kuno yang mengatakan bahwa : "Orang benar akan bertunas seperti pohon kurma." Pohon kurma lazim dijumpai di Timur Tengah, dengan kondisi tanah yang kering, gersang, tandus & kerap dihantam badai gurun yang dahsyat. 

Hanya pohon kurma yang bisa bertahan hidup, tak berlebihan kalau pohon kurma dianggap sebagai pohon yang tahan banting. Kekuatan pohon kurma ada di akar-akarnya, petani di Timur Tengah menanam biji kurma ke dalam lubang pasir lalu ditutup dengan batu. Mengapa biji itu harus ditutup batu..???

Ternyata, batu tersebut memaksa pohon kurma berjuang untuk tumbuh ke atas. Justru karena pertumbuhan batang mengalami hambaran, hal tersebut membuat pertumbuhan akar ke dalam tanah menjadi maksimal. Setelah akarnya menjadi kuat, barulah biji pohon kurma itu tumbuh ke atas, bahkan bisa menggulingkan batu yang menekan diatasnya. Ditekan dari atas agar bisa mengakar kuat ke bawah. Bukankah itu sebuah prinsip kehidupan yang luar biasa..??? 

Sekarang kita tahu mengapa Allah SWT kerapkali mengijinkan tekanan hidup selalu datang. Bukan untuk melemahkan & menghancurkan kita, sebaliknya Allah SWT mengijinkan tekanan hidup itu untuk membuat kita berakar semakin kuat. Tak sekedar bertahan, tapi ada waktunya benih yang sudah mengakar kuat itu akan menjebol "Batu-batu Masalah" yang selama ini menekan kita. Kita akan keluar menjadi Pemenang Kehidupan (Peraih Reward).

Allah SWT sudah mendesain kita seperti pohon kurma. Sebab itu jadilah Leader yang Tangguh, Kuat & Tegar menghadapi beratnya kehidupan. Milikilah cara pandang positif (HPS-Positif) bahwa tekanan hidup tak akan pernah bisa melemahkan, justru tekanan hidup akan memunculkan kita menjadi pemenang-pemenang kehidupan. Semoga kita semua menjadi Leader yang sehat kaya & berkah..!!!. Satu kebaikan kita tabur di hari ini, akan membuat hari ini punya arti luar biasa untuk semua.

Kids Jaman Now: Remaja Labil

ABABIL? Kamu tahu apa itu? Burung ababil. Oke benar, tapi bukan itu. Abege labil. Itu maksudnya. Sebuah gelar kontemporer yang baru-baru ini mulai disematkan pada siapa saja yang masih labi. Tak peduli itu masih abege atau sudah dewasa tapi otak abege. Biasanya anak SMP, SMA atau awal bangku kuliyah. Dan ironisnya, mereka yang labil memiliki banyak segudang perilaku aneh bin nyeleneh yang ada di otak-otak mereka.

Kalau kita perhatikan anak-anak muda di perkuliyahan akan kita dapati mahasiswa yang bermacam-macam. Ada yang sok pintar, sok pandai , sok tahu, sok akrab maupun sok-sokan yang lain. Berikut ini adalah sifat orang yang masih tergolong ABABIL walau badannya gede dan usianya puluhan musim. Ini saya kutip dari tulisan penulis novel terkenal negeri ini bang Darwis Tere-Liye, silahkan simak sebagai berikut:

1.       Menjawab bukan hal yang ditanyakan
2.       Bertanya hal-hal yang sudah ada jawabannya
3.       Berseru untuk mencari perhatian
4.       Berkomentar tapi tidak mengerti maksudnya, bahkan tidak cocok dengan topiknya.

Nah, inilah yang marak dalam dunia akademis. Maka juga ada empat obatnya:

1.       Mendengar sebelum bicara
2.       Membaca sebelum menulis
3.       Mencatat sebelum menerangkan
4.       Melengkapi sebelum menilai

Semoga kita bukan termasuk golongan orang-orang yang badannya besar, tapi otaknya kelas anak-anak..


Belukar Rasa

Ketika kau sedang terpana dengan seseorang maka tidakkah kau merasa bahwa apa yang kau rasakan hanya sebuah ilusi. Ketika kau berkali-kali jatuh cinta maka tidakkah kau berani mencoba memastikannya dengan seluruh keberanianmu?. Ketika kau sedang dilanda kesedihan tidakkah kau merasa ada yang salah dengan jiwamu? Ketika kau merasa akan kealpaan suatu rasa maka tidakkah kau mencoba merefleksi diri dengan memastikan rasa?

Tidakkah kau merasa semuanya itu kecuali dalam hatimu ada belukar. Belukar dengan akar-akar yang mengakar kuat dalam hatimu. Akar-akar yang mencoba menyerap seluruh sel hatimu. Akar-akar yang mencoba menelanjangi segala rasa jiwamu. Mereka mencoba menduplikat diri mereka seperti virus lalu mencoba membuat ilusi pikiranmu seolah itu memang ada.

Sebuah realitas yang tak jauh dari pikiran manusia, Belukar cinta.

Pernahkah kau merasakan jatuh cinta? Bagaimana rasanya jatuh cinta? apakah cinta itu cukup satu kali seumur hidup? Ataukah jiwa kau pernah merasakan jatuh cinta yang bertubi-tubi sehingga jiwamu merasa ada yang aneh. Lelah dengan rasa cinta bukan kerasa.

Ketika melihat elok rupamu menawan hati hatiku terpana. Ketika melihat begitu cerdas fikiranmu hatiku tergoda. Ketika mendengar betapa kuat dirimu menjalankan amanah diriku merasa terpaut. Ketika elok wajahmu tertutup niqob jiwaku seolah tersihir melihat betapa anggunnya. Ketika elok pandanganmu meneduhkan mata dengan pakaian syar’i atau merasa kau sempurna dan jadilah hatiku tergoda. Ketika bakat elokmu seprofesi elok bakatmu menawan hatiku. Ketika aktifitasmu memaksamu bersama denganku aku mulai merasa ada getaran lain yang tak bisa kujelaskan.

Belukar..
Belukar..
Belukar rasa...

Tidakkah kau tahu akan makna sebuah cinta. Kadang kau merasa cinta bisa merasa. Kadang kau merasa cinta hanya sebuah bencana. Cinta seperti hitam, kadang gelap gulita mengejutkan,,dark and deep. Cinta seperti putih,,dan cinta itu memang hitam putih,,tak jarang kau dapatkan dusta, tak ayal kau dapatkan bahagia.

Tragedi Kentut Pintar # bagian ll


Kejadian itu tak akan pernah kulupakan, mungkin selama hidupku. Bagaimana tidak, apa kata dunia nantinya. Entah apa yang terjadi denganku, toh padahal cuma gitu aja aku merasa tak berdaya menghadapi kejadian tadi.

Koniciwaa..koniciwaa..bunyi pesan di HP-ku berbunyi. Aku tidak tahu siapa yang mengirim SMS, tidak ada nama tercatat dalam kontak di HP-ku. Yang ada hanya tulisan pesan mengenai permohonan maaf tadi siang, dari laki-laki itu, ya darinya mungkin. Aku tak bisa berkata apa-apa, terasa malu untuk membalasnya walau hanya menuliskan kata iya. Bukan karena ingin tidak mau memaafkan, tapi..entahlah, aku tak faham akan rasa ini, mungkin hanya waktu yang kelak bisa menjawabnya.

Hari senin sekitar pukul 7 pagi aku buru-buru sambil lari-larian karena ada mata kuliah politik luar negeri yang diajar oleh dosen yang cukup killer. Bagaimana tidak, telat sedikit saja urusannya bisa runyam. Pernah salah seorang temanku terlambat tiga menit dari jam masuk, tanpa ba bi bu langsung dipersilahkan keluar atau dosennya yang keluar.

Buru-buru aku melihat jam tangan sambil berlarian ke kelas, tak kusangka jam menunjukkan pukul 7 tapat. Dari kejauhan kulihat pintu kelas masih tertutup, lega rasanya melihat aku tidak terlambat masuk. Semakin dekat kuperhatikan ke arah pintu terasa ada yang ganjil. Tak ada seorangpun yang berjubelan ke arah pintu, padahal biasanya banyak orang yang bergerombol di situ.

Semakin aku mendekati pintu kelas, keganjilan yang kufikirkan dari tadi semakin medakati kenyataan. Menjelma menjadi sebuah entitas yang mempunyai arti. Kulihat ke arah jam tanganku dan ternyata jam telah menunjukkan pukul 7 lebih 3 menit. Itu berarti Dosennya dapat dipastikan sudah berada di dalam kelas.

Aku sedikit melangkah mundur, mencoba menenangkan diri untuk segera berfikir bahwa dosennya belum masuk kelas. Kucoba menguatkan hatiku, mencoba melangkah maju untuk sekedar mengetuk pintu memastikan.

Tok tok tok,,assalamualaikum..tok tok tok..
Sudah tiga kali ketukan kulakukan, namun tak ada sedikitpun jawaban. Sebagai  mahasiswa baru, Aku tidak tahu apakah itu tanda tidak adanya dosen ataukah memang itulah cara dosen kami kalau mengajar. Perasaanku menjadi tak karuan, dengan mengumpulkan seluruh keberanianku. Aku memutuskan untuk membuka pintu kelas. Sedikit demi sedikit kuputar gagang pintu lalu menggesernya ke depan perlahan-lahan. Tiba-tiba betapa kagetnya diriku..ternyata dari tadi tidak ada seorangpun di kelas. Lega rasanya.

Mengetahui dosen tidak ada di dalam, rasanya kepala terasa ringan seolah hilang semua beban. Buru-buru aku keluar menuju pintu sambil senyum-senyum aneh. Ketika langkah kakiku memasuki penghujung pintu, tiba-tiba datang dosen pengajar dengan seluruh mahasiswa di belakangnya. Dag dig dug jantungku berdebar kencang, kok?. Lama otakku merespon, mencoba berfikir membuat alur jalannya sebab akibat mengapa bisa terjadi hari ini.

Kulihat, pak dosen bersama semua mahasiswa satu kelasku berjalan cepat menuju pintu tampatku berdiri, hampir semuanya. Kulihat-lihat semuanya hampir genap, tapi tunggu. Ada dua mahasiswa yang belum hadir, aku dan laki-laki itu. Jantungku semakin keras berdetak, bibirku pucat menghembuskan matra mantra doa agar aku terhindar dari pembantaian kelas karna terlambat, oMG. Pak dosen semakin mendekat dan akhirnya masuk kelas.

Bagai tersambar petir di siang bolong, dengan lantang pak dosen menghantam segala rasa dan pikiranku, bahkan menghendtikan detak jantungku sesaat. Ucapan yang pertama keluar dari mulutnya adalah siapa yang tadi tidak mengikuti kuliah pagi sebelum jam 7?. Serentak diam menyelimuti suasana kelas, tidak ada obrolan, tidak ada jari yang bergerak. Semua terasa kaku walau hanya sekedar menggeser jemari.

Siapa yang tadi tidak mengikuti kuliah pagi sebelum jam 7? Pak dosen mengulangi pertanyaannya sekali lagi. Suasana masih seperti tadi, diam membisu, senyap merambah, keringat dingin segera membasahi dahi dan bajuku. Beruntung jilbabku yang besar menutupi pakaianku sehingga tak terlihat oleh para ikhwan.

Pak dosen mengulangi lagi pertanyaannya sekali lagi sekaligus pernyataan bahwa pak dosen tahu siapa-siapa yang tidak ikut kuliah tadi pagi. Barang siapa yang tidak mengangkat tangan maka hukumannya akan lebih kerasa lagi. Mendengar gertakan pak dosen yang seperti itu, tanganku terasa gatal, bukan gatal karena penyakit, tapi gatal karena memikirkan ancaman pak dosen.

Aku mencoba menenangkan diri, memikirkan apa akibat terburuk jika aku mengaku. Aku coba realistis dan akan bertanggung jawab. Kupejamkan mata sambil mencoba mengangkat jariku lebih tinggi, lebih tinggi dan lebih tinggi lagi. Akhirnya...aku mendengar teriakan pak dosen dengan lantang...

Kamuu,,silahkan maju, cepaaat !!

Baik pak,,

Pikiranku panik, apakah itu aku? Darahku sudah mengalir naik ke kepala dari tadi.,,,mataku masih terpejam saat itu, kucoba untuk sedikit membuka mata dan apa yang aku dapat. Ternyata tidak. Ada seseorang yang mengangkat jarinya di kursi depan. Aku coba untuk memberanikan diri melihat ke arah depan. Ternyata lelaki itu.

Dan juga kamu, yang dibelakang !!


Pak dosen menatap ke arahku, pasrah sudah aku mengaku...

Bersambung....

Tragedi Kentut Pintar # bagian l

Tragedi Kentut Pintar

Detik berlalu menghambat peredaran darahku yang entah kenapa tiba-tiba berhenti begitu saja. Membuat nafasku sesak karena peredaran darah tidak beredar secara normal.  Membayangkannya saja aku tak mampu. Entahlah, aku tidak kuasa benar. Bagaimana kalau dia tahu aku dalam keadaan memalukan seperti ini. Memalukan sekali. Wajah memerah hanya karena tak sanggup menahan debaran perasaan saja. Ah, tidak tidak. Ini hanya perasaan saja. Aku harus memastikannya. Tapi, kenapa dia melihatku? Ah, semoga dia tidak tahu.

Padahal sebagai perempuan, Aku harus bersikap anggun, lembut dan mempesona. Perempuan harus terlihat kalem. Aku harus menjiwai seluruh pergerakanku. Tak sempurna jikalau hanya menodongkan sikap kalem, tapi harus juga anggun dan menawan. Termasuk menawan hatinya.

Saat itu kelas kita hanya dihuni beberapa orang. Entahlah, aku tidak tahu mereka satu persatu, tapi hanya sebagian saja, ada rifki, ada denis, ada rahma, fara, elsa, anna. Cuma itu yang aku kenal karena dari akademi yang sama dulu sejak SMA.

Saat ini memang masa kuliyahku yang pertama, jadi tak banyak teman yang kudapat. Hanya beberapa orang, itupun yang sejak dulu aku kenal. Aku termasuk wanita yang pendiam. Tidak banyak omong, tidak banyak bicara. Kalau ingin berbicara hanya sebatas keperluan saja. Sebagai manusia biasa aku pun layaknya teman-teman lain. Bisa sedih dan bahagia. Tapi bahagia ala aku pun tak perlu diungkapkan dengan simbol-simbol seperti tertawa lebar dan ngobrol sendiri menebar obrolan hanya supaya temanku tahu kalau aku bahagia. Tidak, aku bukan tipe orang seperti itu.

Layaknya manusia lain, aku pun jatuh cinta, akupun merasa suka pada lawan jenis. Tapi itu hanya sebatas hati saja. Tak mampu rasanya getaran hati itu mengungkap lidah untuk meresonansi getaran hati. Lidahku itu tak seperti lidah teman-temanku yang biasa mengumbar geteran perasaan mereka kepada orang lain. Tapi aku beda. Aku tak bisa seperti itu. Inilah aku, ya, inilah aku.

Saat itu, Aku merasa ada mata-mata yang mengintai aku di kampus. Entah itu di kantin, di parkiran bahkan di kelas. Entah siapa, tapi perasanku mengatakan seperti itu. Entah itu hanya perasaanku saja ataukah memang seperti itu. Tapi setahuku secara psikologis memang seperti itu. Ketika kita di mata-matai atau diintai oleh orang lain, secara refleks kita pasti akan tahu. Entah itu melalui perasaan atau hanya sekedar lintasan otak. Sepereti djavu.

Aku masuk ke kantin dan memesan seporsi makanan untuk makan siang, tentu saja aku lapar. Dari tadi pagi aku tidak makan. Entah ada kilat menyambar atau tidak, entah ada guntur yang bedendang atau tidak. Saat aku mengangkat nampan tempat seporsi makanan mau kuangkat. Sebuah tangan mengenai nampanku dan tiaar, suara bunyi pecahan mangkuk berserta seluruh isi nampan berjatuhan.
“Ah maaf ukhti,,maaf. Sekali lagi maaf. Biar Ana yang bersihin.” Ukhti duduk saja, biar ana nanti yang pesankan lagi. Sekali lagi ana minta maaf atas kejadian ini.

Betapa kagetnya aku ketika melihat ini. Wajahku merah merona, bukan..bukan karena marah, tapi karena malu. Bukan..bukan. Bukan malu karena nampan saya jatuh berdebam ke lantai, tapi orang yang bertatapan denganku tadi yang membuatku malu. Tanpa berfikir panjang aku langsung duduk di bangku pojok.


Bersambung........

Membangun Sikap Kritis Bukan Ngeksis

Membangun Sikap Kritis Bukan Ngeksis
Sikap Kritis Bukan Ngeksis
Selamat Pagi Sobat ziyad.web.id. Menarik sekali apa yang saya hadapi barusan. Ketika asyik-asyik membaca koran KR yang berjejer di dapan lobi asrama kampus. Saat itu saya membaca tentang berita jokowi yang disandingkan dengan Mark (Owner Facebook), sengaja saya keraskan dalam membaca dengan nada “hei ada berita tentang Jokowek”, maka tiba-tiba salah seorang satpam yang ada di depan saya nyeletuk. “kamu pendukung Prabowo ya?”

Dalam hati saya berujar, pak satpam ini pinter sekali menebak. Akan tetapi otak saya tidak langsung mengiyakan pernyataan pak satpam barusan. Otak saya mikir apakah memang saya pendukung prabowo?. Akhirnya setelah saya dalami pikiran dan hati saya bersitatap mencoba menyatukan impuls-impuls isyarat itu, ternyata jawabannya saya tidak juga mendukung prabowo dan juga tidak mendukung dua-duanya. Lalu pak satpam tadi mendesak saya, “Kamu tidak jokowi, pasti kamu prabowo kan”. Saya bilang tidak juga, karna saya tidak milih pada pemilu kemarin. Lalu pak satpam tadi mendesak lagi, tapi dalam hati kamu prabowo kan. Dalam hati saya berujar, pak satpam ini maksa banget. Seakan mau menerkam saya dari segala sisi.

Mungkin pak satpam punya mata sinigami kwalitas terbaru setelah di upgrade ke versi mata  sinigami tingkat dewa. (Mana Sinigami; red: Serial Death Note) Tapi mata itupun tidak mempan kepada saya. Haha. Lalu saya berujar lirih sambil pura-pura membaca biar nggak ketahuan kalau saya medengarkan pak satpam yang sudah berbusa mulutnya karna berkoar-koar dari tadi. “kalau Bapak pasti jokowi kan”. Lantas pak satpam mengiyakan dengan ucapan yang seakan keluar dari dalam hati. “Iya, terus terang saya mendukung jokowi, tapi saya juga tidak milih”. Dalam hati saya berfikir, pak satpam ini pernyataannya kontradiktif dan nggak konsisten. Pak satpam meneruskan pembicaraan, kadang ada yang mendukung mati-matian tapi setelah yang didukung itu melakukan kesalahan maka dia tidak mengakui kesalahan yang didukungnya tersebut, itu namanya politik buta. Kalau saya mendukung jokowi, tapi saya mau mengkritisi jokowi.

“Saya merasa jokowi itu masih muslim. Tapi kenapa banyak orang yang berkata jika jokowi itu kafir, jokowi itu antek-antek komunis dll. Saya prihatin, maka dari itu saya justru mendukung jokowi. Saya kasihan sama dia, dia itu masih sholat, dia itu masih beragama kok pada di bilang komunis, kafir dll. Coba mas bayangkan calon yang satunya, apakah sholatnya sudah bener?. “, kata pak satpam dengan semangat membuncah.

Dari cerita tersebut saya jadi berfikir untuk mengambil perlajaran Hikmah Today versi saya. Pertama, terkadang orang akan menafsirkan perilaku kita sesuai dengan apa yang difikirkannya saat itu. Tidak peduli apa yang kita lakukan itu berasal dari hati dan fikiran kita atau hanya kebetulan saja. Akan tetapi penafsiran dan paradigma yang orang lain bangun terhadap kita hanya berjangkau pada pengetahuan mereka saat itu. Artinya orang lain seolah berada dalam kotak pengetahuan yang mereka kotak-kotak sendiri dalam imajinasi pengetahuan dan pengalaman mereka. Mereka tidak mendapatkan impuls lain kecuali dari paradigma pikiran mereka saja, sehingga gambaran apa yang dilihatnya itu merefleksikan paradigma mereka.

Kedua, setidaknya kita harus berhati-hati dalam melakukan sesuatu, seperti kasus saya tadi. Bukan maksud saya mejelekkan jokowi atau prabowo. Saya hanya membaca dan sedikit keras dalam membacanya walaupun tulisan jokowi saya baca jokowek akan tetapi hal itu bukan berarti saya merendahkan jokowi. Itu hanya kebiasaan membaca saya. Artinya,  kita seharusnya mempunyai filter bahwa tidak semua orang mampu menerima apa yang kita lakukan apalagi di tengah khalayak.

Ketiga, kekritisan yang dibangun atas dasar pembelaan, kependukungan kefanatikan secara membabi buta akan ketahuan dari cara ia menyampaikan dan rona serta ekspresi wajah. Walaupun mulut berkata lain, tapi kepastian hati meresonansi ekspresi  wajah dan mata. Seperti pak satpam tadi, walaupun dia tidak memilih, walaupun dia tidak mengakui, tapi jika ada yang mengolok-olok jokowi dia marah besar. Sekali lagi, kekritisan harus dibangun atas dasar kebaikan, sikap kristis yang rasional-intelektual bukan hanya kritis atas dasar kepentingan semata, apalagi kritis dalam rangka ngeksis. Ini akan mengakibatkan salah dalam penerapan sikap kritis itu sendiri.

Berbeda dengan orang yang kritis hanya karena ingin ngeksis. Artinya ia tidak tahu makna sikap kritis itu sendiri. Sikap kritis tidak hanya dibangun dengan kekritisan semata tapi lebih dari itu mencakup kekritisan dalam memberikan solusi atau alternatif baru. Inilah yang sering tidak difahami oleh kita bersama.

Menemui Seseorang dalam Tulisan itu Menyenangkan

Burlian. Begitu penulis memberi karakter nama pada tokoh cerita ini. Nama yang sangat tegas menggambarkan karakter anak ini. Burlian secemerlang sifatnya dan pikirannya yang brilian. Tegas dan tangkas sesuai dengan
ceritanya pada serial burlian. Dibalut dengan cerita yang menggambarkan pemandangan dan sosok kehidupan kampung. Jauh dari kota, hanya bersahabat dengan hutan, sungai, pegunungan dan rimba.

Kisah ini intinya menceritakan tentang kehidupan sehari-hari anak kampung pedalaman dari mulai mereka SD, SMP, dan setelah besar tentunya disertai dengan kenakalan-kenakalan anak kecil. Bahasanya sederhana, mengalir, tanpa bumbu hiperbolis, seperti kita berbicara non-formal sehari-hari. Yang saya kagumi lagi dari buku-buku ini (bukunya Tere Liye) adalah sarat dengan NASIHAT. Karena ini Serial Anak-Anak Mamak, maka, nasihat yang banyak adalah Nasihat dari Orang Tua kepada anak-anaknya yang tidak akan kita lupa dan tidak akan kita hilangkan, meskipun kita sudah beranjak dewasa.

Kehidupan yang sederhana meski tak sesederhana seperti kenyataanya. Pada kisah ini diceritakan kisah yang menurut saya sangat-sangat menarik. Seolah mengaduk-aduk perasaan dan terlihat nyata dalam imajinasi saya sebagai pembacanya. Bang Tere-Liye sungguh indah dalam merangkai kata, mengikatnya dalam wujud kalimat sehingga imajinasi seakan mengalir dalam fikiran masing-masing pembaca. Menemukan setitik kebijaksanaan , Meretas buhul-buhul kekalutan yang menari-nari tidak jelas dalam kekalutan pikiran. Setidaknya itulah yang terjadi pada saya.

Burlian adalah satu dari empat anak-anak mamak yang dalam kisah ini adalh anak ke-tiga dari empat bersaudara. Eliana, Pukat, Burlian dan Amelia. Empat anak-anak mamak putra putri dari pak Syahdan. Saya kira kisah ini sangat baik untuk di tiru. Ah, bukan. Bukan untuk di tiru. Tapi diambil hikmahnya. Kisah yang sangat apik untuk dapat diambil pelajarannya. Sebuah keluarga yang sangat special. Yang perlu kita tahu sebagai orang tua adalah anak mempunyai dunianya masing-masing. Jadi kita tak seharusnya merebut kebahagiaan mereka dengan semena-mena.

Eliana si Pemberani, Pukat si Anak Pintar, Burlian si Anak Spesial, Amelia si anak kuat. Setiap anak mempunyai julukan masing-masing. Setiap anak mempunyai kelebihan dan kalimat pendorong yang dihujamkan orang tua mereka sejak dini. Inilah kiranya yang perlu kita tiru dari kisah ini. Kisah ini memberikan inspirasi bagi penulis resensi ini untuk bisa menerapkan hal-hal yang bijak ini kelak ketika sudah mempunyai anak. Tak ada salahnya kan. Apalagi yang orang tua harapkan dari anak-anak mereka selain kebahagiaan mereka?. Semua kehidupan akan-anak tentu spesial dan terlalu spesial untuk dilupakan.

Kemudian yang tak kalah menarik adalah ketika penulis menceritakan kisah Nakamura-san dengan Keiko-Chan. Bahkan saya sangat menyukai alur cerita ini. Melakukan korespondensi dengan orang lain yang kita belum tahu orangnya akan tetapi kita merasa dekat itu sangatlah menyenangkan. Apalagi dengan dibalut kisah cinta. Entah itu kisah cinta sesama manusia atau cinta dalam artian cinta lawan jenis. Semuanya itu menyenangkan.

Akhirnya kisah burlian ini diakhiri dengan sebuah ending yang sangat mengesankan. Setelah sekian tahun hanya melakukan surat menyurat melalui kertas, akhirnya burlian-khun bisa bertemu dengan Nakamura serta putrinya Keiko-chan di tempat kelahiran mereka, Jepang.

Puasa Arafah Bertepatan Hari Jum’at, Bolehkah?

Iedul Adha 1435 H bertepatan dengan 10 Dzulhijjah. hehe
Pada Iedul Adha tahun ini, yaitu tahun 2014/1435 H di Indonesia akan terjadi perbedaan. Pemerintah indonesia memutuskan bahwa 1 dzulhijjah itu jatuh pada hari jumat 26 sepetember 2014, itu artinya bahwa tanggal 9 dzulhijjah jatuh pada hari sabtu, dan ahadnya Idul Adha. Iedul Adha tahun ini bertepatan hari Ahad, 05 Oktober 2014 menurut pemerintah Indoensia. Namun di sisi lain, ada juga yang berbeda pendapat dengan pemerintah yang berlebaran Iedul Adha pada hari Sabtu, 04 Oktober 2014.

Yang akan menjadi pembahasan tulisan ini bukan pada perbedaan hari rayanya. Namun tentang puasa hari arafahnya yang kebetulan bertepatan hari jumat (sesuai waktu wukuf di arafah para jamaah haji tahun ini). Bolehkah mengerjakan puasa arafah pada hari jumat? Apakah tidak ada larangan? Bukankah Rasulullah melarang untuk berpuasa pada hari jumat?

Baik, pada tulisan ini akan kita bahas bersama. Dalam sebuah hadis disebutkan bahwa:
Hadis Abu Hurairah, ia berkata bahwa ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لا يَصُومَنَّ أَحَدُكُمْ يَوْمَ الْجُمُعَةِ إِلا يَوْمًا قَبْلَهُ أَوْ بَعْدَهُ
‘Janganlah salah seorang di antara kalian berpuasa pada hari Jum’at kecuali jika ia berpuasa pula pada hari sebelum atau sesudahnya.” (HR. Bukhari no. 1849 dan Muslim no. 1929).

Juga terdapat hadits dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَا تَخْتَصُّوا لَيْلَةَ الْجُمُعَةِ بِقِيَامٍ مِنْ بَيْنِ اللَّيَالِي وَلَا تَخُصُّوا يَوْمَ الْجُمُعَةِ بِصِيَامٍ مِنْ بَيْنِ الْأَيَّامِ إِلا أَنْ يَكُونَ فِي صَوْمٍ يَصُومُهُ أَحَدُكُمْ
“Janganlah khususkan malam Jum’at dengan shalat malam tertentu yang tidak dilakukan pada malam-malam lainnya. Janganlah pula khususkan hari Jum’at dengan puasa tertentu yang tidak dilakukan pada hari-hari lainnya kecuali jika ada puasa yang dilakukan karena sebab ketika itu.” (HR. Muslim no. 1144).

Imam Nawawi mengatakan, “Ulama Syafi’iyah berpendapat bahwa dimakruhkan berpuasa pada hari Jum’at secara bersendirian. Namun jika diikuti puasa sebelum atau sesudahnya atau bertepatan dengan kebiasaan puasa seperti berpuasa nadzar karena sembuh dari sakit dan bertepatan dengan hari Jum’at, maka tidaklah makruh.” Lihat Al Majmu’ Syarh Al Muhaddzab, 6: 479.

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin berkata dalam Syarhul Mumthi’ (6: 465), “Dikecualikan dari larangan ini adalah jika berpuasa sebelum atau sesudah Jum’at, atau bertepatan dengan kebiasaan puasa seperti berpuasa pada ayyamul bidh, atau bertepatan dengan puasa Arafah, atau karena puasa nadzar.”

Begitu pula dibolehkan puasa pada hari Jum’at jika bertepatan dengan puasa Arafah dan puasa Asyura, karena ketika itu niatannya adalah puasa Asyura dan Arofah, bukan berpuasa pada hari Jum’at secara bersendirian. Demikian kata Syaikh Sholih Al Munajjid dalam fatawanya no. 20049.

Jadi dari hadis-hadis di atas kemudian keterangan dari para ulama di atas dapat di sebutkan bahwa yang terlarang adalah berpuasa sunnah pada hari Jum'at secara khusus. Namun jika ada sebab seperti bertepatan dengan hari Asyura atau hari Arafah, maka tidaklah terlarang. Hal ini karena yang bersangkutan tidak meniatkan untuk puasa secara khusus pada hari Jum’at saja namun lebih karena memang bertepatan dengan hari jumat. Wallahu a’lam.


MEA: Gerakan Ekonomi Muhammadiyah Berbasis Syariah

Ziyad.web.id Telah kita ketahui bersama bahwa Muhammadiyah adalah salah satu ormas terbesar di Indonesia. Bahkan tidak hanya di Indonesia semata tetapi juga menyebar ke daerah-daerah lain melewati jangkauan negara. Di antaranya berada di Singapura, Malaysia, Mesir, Autralia dll. Ini menunjukkan bahwa Muhammadiyah adalah ormas yang sudah di akui baik di kancah nasional maupun internasional.

Pada awal berdirinya Muhammadiyah, KH. Ahmad Dahlan sebagai founding father Muhammadiyah itu sendiri adalah seorang ulama, pengajar dan juga pedagang. Beliau mengajarkan kepada murid-muridnya selain ilmu-ilmu agama juga ilmu-ilmu lain, seperti halnya ilmu seni biola, pengajaran bahkan perdagangan dengan menjual batik ke berbagai daerah. Amal usaha Muhammadiyah sendiri sekarang sudah mencapai ratusan perguruan tinggi , ribuan sekolah menengah, SD dan panti asuhan bahkan ratusan rumah sakit serta pusat-pusat pengajaran Muhammadiyah lainnya.

Muhammadiyah sebagai gerakan dakwah islam yang sudah sebesar ini sangat potensial untuk membangun kekuatan ekonomi sendiri.  Apalagi dengan dukungan anggota Muhammadiyah yang tersebar di seluruh nusantara dan berbagai amal usaha Muhammadiyah yang sudah nyata eksistensinya. Belajar dari orang china yang membangun ekonomi mereka secara intensif yang akhirnya menjadi kuat dan selanjutnya menginvasi ke negara-negara lain.

Bukan berarti apabila Muhammadiyah membangun perekonomian lantas meninggalkan peran utamanya sebagai gerakan dakwah islam amar makruf nahi mungkar. Tetapi Muhammadiyah mengakomodir para anggotanya untuk bersatu padu dan berafiliasi dalam satu wadah naungan yang di ciptakan Muhammadiyah sendiri dalam satu visi dan misi untuk membangun gerakan ekonomi islam. Ini sangatlah potensial, apalagi dilihat dari karakter orang-orang Muhammadiyah yang memang cukup berbakat dengan bidang ekonomi.

Apabila gerakan ekonomi Muhammadiyah ini telah terbagun secara mandiri di tingkat internalnya, maka bisa di perluas jangkauan kerjanya dalam lingkup yang lebih luas untuk membangun jaringan tanpa meninggalkan visi misi dari gerakan Muhammadiyah itu sendiri. Untuk membangun ekonomi tersebut bisa di awali dengan hal-hal kecil, misalnya dengan mengadakan pelatihan kewirausahaan secara intensif, memberikan modal dengan sistem bagi hasil, menghubungkan jaringan dengan sesama anggota dll.

Muhammadiyah sebagai gerakan dakwah memang seharusnya kuat dalam ekonomi. Mengapa itu di perlukan?. Karena tantangan dakwah di masa depan tidak hanya berkutat pada mengajarkan ilmu-ilmu islam saja. Akan tetapi juga kompleks dengan hal-hal lain. Terlebih dengan adanya tantangan di negara-negara asean dengan Asean Economy Community yang menjaring negara-negara asean untuk saling berkompetity dalam lingkup yang lebih luas.

Ini menjadi kesempatan emas bagi Indonesia umumnya dan secara khusus kepada Muhammadiyah yang sudah melalang buana dalam dunia dakwah. Ini saatnya Muhammadiyah berjalan di atas landasan ekonomi islam. Berjihad dengan gerakan ekonomi yang dijiwai dengan semangat tajdid dan pencerahan.

Teori Emanasi El dan Dul

(Percakapan antara eL dan Dul).
El             : Dul, lu tahu nggak teori emanasi itu apa?
Dul         : hadeh, dasar lu el, teori emanasi aja kagak tahu lu.
EL            : ya makanya gue tanya ke lu. Lu tahu kan?
Dul         : ya kagak tahu persisnya sih. Tapi penjelasan gue sedikit tahu.
El             : gimana bro?
Dul         : Dia itu Seperti cahaya yang keluar dari matahari dengan adanya realitas yang keluar dari sumber atau proses munculnya sesuatu dari pemancaran bahwa yang dipancarkan substansinya sama dengan yang memancarkan. Gimana udah paham?
El             : sedikit paham, tapi nggak paham lebih banyak.
Dul         : Gini lho, emanasi itu seperti ketika lu adalah seorang pembohong sejati, lu banyak beretorika, lu banyak berkoar-koar kesana kemari banyak beretorika tapi hatinya busuk.  Ketika lu adalah seorang pembohong, maka ucapan yang lu lempar sejatinya adalah bagian dari lu yang pembohong. Artinya ucapan lu itu bohong sama kayak substansinya bahwa lu itu pembohong.
El             : oh gitu ya. (Gubrakz..!!), setengah kagak percaya). Pinter juga lu ya..haha
Dul         : yaelah bro, Gue kuliyah aja belon genep lu udah nohok tanya gue macem-macem. Untung pas gue bisa jawab. Kalo kagak bisa, lu bisa-bisa malu-maluin gue di sini.
El             : Nah lho, kok? Emang lu semester berapa sih sekarang?
Dul         : entahlah, Mungkin tujuh kali ya.
EL            : Lha kok mungkin, emang yang bener semester berapa, heh. Coba tanya tuh.
Dul         : entahlah, sesuai sarannya bang Iwan, gue udah coba tanya pada rumput tapi mereka kagak jawab, padahal mereka udah bergoyang. Tetep aja nggak tahu.
El             : heh? Lu stres. Please dong  jangan stres sekarang. Utang lu kan masih banyak ke gue.
Dul         : Kagak deh, gue kagak stres. Cuma kelaparan aja nih perut dari pagi minta dipijit.
El             : haha, terus kuliyah lu udah masuk?
Dul         : Entahlah, kalo lu ngomongin kuliyah melulu. Gue ajak ke warung  baru tau rasa.

El             : @#$%%^&,, Koplak.

Tafsir Feminis

Tafsir Feminis
Di era globalisasi , tantangan pemikiran (gazwul fikr) telah merambah ke dalam studi Islam , yang tidak hanya terbatas pada fiqh dan hadist saja. Tetapi ia juga masuk dalam studi al-Qur’ân yang merupakan jantung ilmu-ilmu keIslam an.  Salah satu tantangan tersebut adalah gerakan feminisme.
Dengan pengamatan sepintas saja, setiap pengamat keperempuanan dapat melihat bahwa, perempuan sepanjang sejarah peradaban manusia hanya memainkan peran sosio-ekonomi yang kecil jika dibandingkan dengan laki-laki, apalagi dibidang politik. Sebaliknya, peran domestik perempua lebih menonjol, baik itu menjadi isteri, ibu dari anak-anak maupun sebagai ibu rumah tangga.  Hal ini menyebabkan adanya anggapan yang mengendap di alam bawah sadar masyarakat bahwa laki-laki sebagai jenis kelamin utama (the prime sex) dan perempuan sebagai sebagai jenis kelamin kedua (the second sex). 

Ada beberapa pendapat yang menyebutkan tentang penyebab perempuan mimiliki kedudukan seperti di atas, yakni:
  1. Pendapat yang mengatakan bahwa hal tersebut merupakan fitrah masing-masing, sehingga secara alami telah terjadi konsensus pembagian yang sedemikian rupa.
  2. Pendapat yang mengatakan bahwa hal tersebut merupakan akibat dari ketidak mampuan perempuan bersaing secara objektif dengan laki-laki.
  3. Pendapat yang mengatakan bahwa hal tersebut berangkat dari asumsi teologis bahwa perempuan memang diciptakan lebih rendah dari laki-laki sehingga sudah sepantasnya laki-laki mendominasi kehidupan.

Bagi Asghar Ali Engineer dalam bukunya Hak-hak Perempuan dalam Islam  ia menyatakan dalam pendapat ketigalah yang paling benar. Agama Islam  adalah agama rahmatan lil âlamîn selalu menjunjung keadailan dan aspek-aspek yang dapat mewujudkan tercapainya fungsi agama sebagai pewujud rahmatan lil âlamîn. Jika melihat fenomena di atas, maka timbul pertanyaan apakah memang seperti itu keadilan yang dimaksudkan oleh al-Qur’an?. Maka dari itu sangat diperlukan adanya pembahasan mengenai kedudukan sebenarnya dari perempuan sehingga bisa mewujudkan prisnsip-prinsip rahmatan lil âlamîn. 

Pangkal munculnya permasalahan ini bukan ada pada al-Qur’annya tapi pada penafsirannya.  Para feminis menilai penafsiran para ulama tidak menunjukkan sisi keadalian bagi perempuan, sehingga mereka membuat penafsiran yang berbeda dengan pera ulama tafsir klasik (seperti Asghar Ali Engineer).  Dengan latar belakang tersebut maka sangat diperlukan pemaparan mengenai Pengertian tafsir feminisme, asumsi dasar, metodologi, dan contoh penafsiran feminisme 

Pengertian tafsir feminisme
Istilah feminisme secara etimologis berasal dari bahasa latin yakni femina= yang dalam bahasa Inggris diterjemahkan menjadi feminine, woman yang berarti memiliki sifat-sifat wanita. Kemudian kata itu ditambah “ism” menjadi feminism, yang berarti hal ihwal tentang perempuan, atau dapat pula berarti paham mengenai perempuan. 

Feminisme dipergunakan untuk menunjuk suatu teori tentang persamaan kelamin (sexual equality) antara laki-laki dan perempuan. Sejalan dengan pengertian feminisme yang dilontarkan oleh  Abdul Mustaqim mengutip Kamla Bahsin dan Nighat Said Khan ialah suatu kesadaran atas adanya penindasan dan pemerasan terhadap perempuan dalam masyarakat, di tempat kerja dan di dalam keluarga, serta tindakan sadar oleh perempuan maupun laki-laki untuk mengubah keadaan tersebut.  Pada perkembangan selanjutnya feminisme sering diartikan sebagai pembelaan terhadap hak-hak perempuan yang didasarkan pada keyakinan tentang kesamaan jenis kelamin.  Istilah feminisme yang mulai digunakan pada tahun 1985 adalah pengganti dari womanism yang dilahirkan pada tahun 1980-an . 

Gerakan feminisme bermula dari negara-negara maju dan selajutnya diikuti oleh negara-negara muslim meskipun memiiki intensitas, corak dan keberhasilan yang berbeda-beda.  Masuknya gerakan feminisme dalam studi al-Qur’an, dilatarbelakangi oleh ketidakpuasaan pegiat feminis dalam membuktikan bahwa ajaran Islam  mendukung ajaran patriarki.  Karena berasal dari dunia barat maka respon umat Islam  terhadap feminisme tidak 100% mengiyakan atau menolaknya, dalam hal ini umat Islam  terbagi menjadi dua kelompok: 
  1. kelompok yang berpendapat bahwa hubungan jender dalam masyarakat Islam  sudah sesuai dengan ajaran Islam, yang mendudukkan perempuan pada posisi yang terhormat tidak lebih rendah dari laki-laki. Dengan kata lain kelompok ini menganggap bahwa feminisme tidak relevan untuk diterapkan dalam masyarakat muslim dan menghendaki status qou. 
  2. Kelompok yang berpendapat bahwa dalam kenyataan kehidupan sosial masyarakat muslim, perempuan masih diperlakukan tidak adil, yakni mereka belum mendapatkan kedudukan yang setara dengan laki-laki dalam hubungan kesetaraan gender, kelompok ini disebut feminis muslim.

Kelompok pertama berargumen bahwa feminisme sebagai gerakan pembebasan perempuan dari belenggu penindasan sosial hanya cocok untuk barat yang menempatkan perempuan dibawah posisi laki-laki dalam struktur sosial. Sedangkan kelompok kedua berpegang pada prinsip dasar ajaran Islam yakni keadilan, kesetaraan, kepantasan, Musyawarah. 

Tokoh-tokoh feminis muslim yang pengaruhnya cukup besar di Indonesia adalah Riffat Hasan (Pakistan), Amina Wadud Muhsin (Malaysia), Fatima Mernisi (Maroko), Asghar Ali Engineer (India), Nasr Hamid Abu Zayd, sedangkan tokoh feminis muslim yang terkenal dari Indonesia, diantaranya adalah Nasaruddin Umar, Masdar F Masudi, Mansour Fakih, Wardah Hafizh, Nurul Agustina, Ratna Mega Wangi, Suti Ruhainiada dan Musda Mulia. Selain mereka ada juga feminis muslim yang kurang populer tetapi ia juga sebagai pejuang wanita yakni Quraisy Shihab, Nurcholis Majid dan Jalaluddin Rakhmat. 

Tafsir feminisme adalah hasil pemikiran kaum feminis di dalam menafsir ulang ayat-ayat al-Qur’an sebagai cara untuk mengungkapkan kepada dunia tentang hak-hak wanita yang selama ini hanya didominasi oleh kaum laki-laki , atau dengan definisi pemahan ulang terhadap al-Qur’an mengenai ayat-ayat tentang perempuan dengan menonjolkan sisi keadilan, persamaan, kepantasan antara kedudukan laki-laki dan perempuan 

Metodologi
Tafsir feminisme termasuk tafsir yang kontemporer, karena baru muncul di akhir abad 20. Metodologi yang digunakan dalam tafsir feminisme ini adalah metode tematik atau maudhu’i karena tidak mungkin menggunakan metode tahlili, pendekatannya menggunakan pendekatan bir ra’yi karena jika menggunakan pendekatan bilma’tsur akan menghasilkan hasil yang sama, kalaupu penafsiran feminisme menggunakan pendekatan bilma’tsur, maka pasti pemahaman terhadap nas nya tidak sama  dengan yang dipahami oleh para ahli tafsir klasik, baik itu pemahan tentang tekstual kontekstualnya, tsawabit dan mutaghayyirat, ushul dan far’u,  makna nas, makna kalimat bahkan sampai makna kata.

Para Penafsir feminis menganggap semua tafsir sebagai produk akal manusia yang relatif, kontekstual, temporal dan p ersonal tidak ada salahnya ditafsirkan dengan cara berbeda yaitu dengan mengedepankan konteks daripada teks mereka tidak merujuk kepada penafsir-penafsir klasik karena hal demikian dianggap lebih adil dan menguntungkan semua pihak tanpa ada golongan yang dirugikan. Misalnya dalam ayat yang berkaitan dengan kepemimpinan wanita, pembagian waris, hingga persoalan poligami. Semua itu terasa menyudutkan kaum perempuan.Tujuan dari tafsir feminis ini adalah menyetarakan antara kedudukan laki-laki dan perempuan.

Asumsi Dasar
Misi utama al-Qur’an adalah untuk membebaskan manusia dari segala macam bentuk tindakan anrki, ketimpangan dan ketidak adilan,  jika ada penafsiran yang tidak sejalan dengan prinsip-prinsip tersebut maka penafsira tersebut harus dtinjau kembali, karena Allah adalah zat yang maha adil maka tidak mungkin di dalam kitab sucinya terkandung sesuatu yang tidak sejalan dengan prinsip tersebut. 
Di dalam al-Qur’an disebutkan tentang prinsip-prinsip kesetaraan gender dengan menggunakan variabel sebagai berikut: 

-Laki-laki dan perempuan sama-sama sebagai  hamba, sebagaimana QS. Dzariyat [51]: 56, dan ukuran kemuliaan hamba adalah ketakwaan QS. Al-Hujurat [49]: 13 tanpa membedakan antara laki-laki dan perempuan. Laki-laki dan perempuan juga akan sama dalam hal mendapatkan penghargaan dari amalnya. Secara jelas disebutkan dalam al-Qur’an antara laki-laki dan perempuan dalam penghargaan amal yakni QS. An-Nahl [16]: 97 
مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِّن ذَكَرٍ أَوْ أُنثَىٰ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً ۖ وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُم بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ 
Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan. 

-laki-laki dan perempuan sama–sama menjadi khalifah di bumi, Allah berfirman dalam QS. Al-An’am [16]: 165

وَهُوَ الَّذِي جَعَلَكُمْ خَلَائِفَ الْأَرْضِ وَرَفَعَ بَعْضَكُمْ فَوْقَ بَعْضٍ دَرَجَاتٍ لِّيَبْلُوَكُمْ فِي مَا آتَاكُمْ ۗ إِنَّ رَبَّكَ سَرِيعُ الْعِقَابِ وَإِنَّهُ لَغَفُورٌ رَّحِيمٌ

Dan Dialah yang menjadikan kamu penguasa-penguasa di bumi dan Dia meninggikan sebahagian kamu atas sebahagian (yang lain) beberapa derajat, untuk mengujimu tentang apa yang diberikan-Nya kepadamu. Sesungguhnya Tuhanmu amat cepat siksaan-Nya dan sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. 

Semua bisa menjadi khalifah dengan berpegang paka kata wa rafa’a ba’dakum ba’da tanpa menyebutkan laki-laki ataupun perempuan.

-Laki-laki dan perempuan sama–sama menerima perjanjian primordial (paling awal) yakni dalam QS. Al-A’raf [7]: 172
وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِن بَنِي آدَمَ مِن ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَىٰ أَنفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ
 قَالُوا بَلَىٰ ۛ شَهِدْنَا ۛ أَن تَقُولُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَٰذَا غَافِلِينَ 

Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): "Bukankah Aku ini Tuhanmu?" Mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi". (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)",

Semuanya mengiyakan baik itu laki-laki ataupun perempuan.karena disini  disebutkan bai adam. 

-Adam (laki-laki) Hawa (perempuan) sama-sama terlibat secara aktif dalam drama kosmis. Dari awal penciptaan Adam sampai keduanya ditrunkan ke bumi selalu menggunakan kata ganti  Humaa, tumaa seperti pada QS. Al-Baqarah [2]: 35 keduanya diciptakan dan memanfaatkan fasilitas di surga , QS. Al-A’raf [7]: 20 mendapatkan godaan dari syaitan,  QS. Al-A’raf [7]: 22 memakan buah khuldi dan diturunkan dari surga.  

-Contoh tafsir Feminis (analisis Gender)
Dalam kesaksian perempuan, menafsirkan ayat tentang hutang-piutang dalam Q.S. (2:282):
وَاسْتَشْهِدُوا شَهِيدَيْنِ مِن رِّجَالِكُمْ ۖ فَإِن لَّمْ يَكُونَا رَجُلَيْنِ فَرَجُلٌ وَامْرَأَتَانِ مِمَّن تَرْضَوْنَ مِنَ الشُّهَدَاءِ أَن تَضِلَّ إِحْدَاهُمَا فَتُذَكِّرَ إِحْدَاهُمَا الْأُخْرَىٰ 
Dan persaksikanlah dengan dua orang saksi dari orang-orang lelaki (di antaramu). Jika tak ada dua oang lelaki, maka (boleh) seorang lelaki dan dua orang perempuan dari saksi-saksi yang kamu ridhai, supaya jika seorang lupa maka yang seorang mengingatkannya.

Dari ayat di atas muncul dua permasalahan yakni, 
  1. Mengapa jika tidak ada dua laki-laki harus diganti dengan 1 laki-laki da 2 perempuan?, kenapa tidak 1 laki-laki dan 1 perempuan saja?, apakah itu tidak berarti merendahkan perempuan?
  2. Apakah perlakuan 1:2 ini berlaku khusus pada kesaksian transaksi kredit saja, atau untuk semua urusan yang memerlukan kesaksian seperti akad nikah, hudud dll?

Permasalahan pertama, zamakhsari mengatakan 2 perempuan sebagai ganti dari 1 laki-laki tapa menyebutkan alasannya, al-Alusi menyebutkan 1 alasan yakni, karena sifat perempuan memang pelupa, sedangkan said hawa menyebutkan 2 alasan, pertama, karena perempuan tidak banyak pengalaman dalam urusan transaksi sehingga mudah lupa detail-detailnya, kedua,karena perempuan cenderung emosional, satu sifat yang memang dibutuhkan oleh wanita sebagai ibu. 

Asghar Ali Engginer menyatakan kesaksian 1:2 tidak menunjukkan inferioritasnya perempuan karena memang perempuan pada masa itu tidak memiliki kemampuan yang mamadai dalam bidang transaksional. Selain hal itu, asghar mengingatkan bahwa walaupun dibutuhkan 2 saksi perempuan sebagai pengganti 1 laki-laki, tapi hanya 1 perempuan yang memberi saksi, sedangkan yang satu tidak lebih dari sebagai pengingatnya saja jika ia lupa.

Senada dengan Asghar, Amina mengatakan bahwa dalam ayat tidak disebutkan kedua sebagai saksi, meskipun perempuan yang dihadirkan ada dua tapi berbeda fungsi, satu sebagai saksi, satu sebagai pengingat. Selain itu Amina juga menyebutkan alasan lain yakni, adanya kata “yang kamu ridhai” menunjukkan adanya upanya pencegahan terjadinya kecurangan, karena pada masyarakat umum wanita mudah dipaksa, dan hal ini akan dimanfaatkan oleh pihak-pihak tertentu untuk memaksa perempuan dengan mudah. Dengan adanya 2 saksi  perempuan maka ini akan meminimalisir terjadinya paksaan yang melahirkan sumpah palsu. Alasan ketiga Amina adalah, dalam al-Qur’an tidak disebutkan 4 saksi perempuan jika tidak ada 2 saksi laki-laki, adalah untuk menyatakan bahwa tidak ada formulasi 1:2 dalam persaksian.

Selanjutnya tentang permasalahan kedua Apakah perlakuan 1:2 ini berlaku khusus pada kesaksian transaksi kredit saja, atau untuk semua urusan yang memerlukan kesaksian seperti akad nikah, hudud dll?

Dalam hal ini para fuqaha berbeda pendapat, jumhur mensyaratkan kesaksian dalam pernikahan, perceraian dan hudud harus laki-laki karena dua alasan:
1. Alasan kebahasaan.
2. Karena Rasulullah saw tidak membolehkan kesaksian perempuan dalam tiga macam kasus diatas, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Abu Ubaidah dan az-Zuhri.

Hanafiyyah membolehkan formulasi 1:2 untuk kesaksian dalam akad nikah, karena diqiyaskan dengan transaksi bisnis yang sama-sama memiliki sesuatu yang ditawarkan. Ibnu Hazm membolehkan persaksian perempuan untuk hudud perzinaan dengan formulasi 1:2. 

Menurut Asghar formulasi 1:2 hanya berlaku dalam transaksi bisnis saja, tidak dapat ditarik pada pembahasan yang lain dengan formulasi 1:2, karena pada masa turunnya ayat wanita tidak memiliki andil dan pengalaman yang cukup dalam transaksi bisnis. Menurut Asghar, ketentuan persaksian wanita dalam Q.S. (2:282) bersifat kontekstual bukan normatif, sedangkan hukum asli dalam persaksian adalah dengan menggunakan formulasi 1:1, hanya saja terdapat pengecualian pada persaksian bisnis, yakni dengan menggunakan formulasi 1:2. Ia berpegangan bahwa, dalam kasus wasiat Q.S. (5:106) , pembuktian perzinaan Q.S (4:15 , 24:4 ) tidak ada ketentuan para saksi harus laki-laki dan menggunakan formulasi 1:2.  

Kesimpulan
Tafsir feminisme adalah hasil pemikiran kaum feminis di dalam menafsir ulang ayat-ayat al-Qur’an sebagai cara untuk mengungkapkan kepada dunia tentang hak-hak wanita yang selama ini hanya didominasi oleh kaum laki-laki, menonjolkan sisi keadilan, persamaan, kepantasan antara kedudukan laki-laki dan perempuan.

Para Penafsir feminis menganggap semua tafsir sebagai produk akal manusia yang relatif, kontekstual, temporal dan personal tidak ada salahnya ditafsirkan dengan cara berbeda yaitu dengan mengedepankan konteks daripada Teks mereka tidak merujuk kepada penafsir-penafsir klasik karena hal demikian dianggap lebih adil dan menguntungkan semua pihak tanpa ada golongan yang dirugikan.

Dengan berpegang bahwa:
  1. Laki-laki dan perempuan sama-sama sebagai  hamba, sebagaimana Q.S. (51:56), dan ukuran kemulyaan hamba adalah ketakwaan Q.S. (49:13) tanpa membedakan antara laki-laki dan perempuan.
  2. Laki-laki dan perempuan sama–sama menjadi khalifah di bumi
  3. Laki-laki dan perempuan sama–sama menerima perjanjian primordial (paling awal).
  4. Adam (laki-laki) Hawa (perempuan) sama-sama terlibat secara aktif dalam drama kosmis. Dari awal penciptaan adam sampai keduanya ditrnkan ke bumi selalu menggunakan kata gati  Humaa, tumaa. 


Resensi Kitab Kaifa Nataammal Maa as-Sunnah an-Nabawiyyah Yusuf Qardhawi Full Bagian 2

 Bagaimana Metode Memahami as-Sunnah dengan Baik? ini akan menjadi pertanyaan yang menarik untuk di jawab. Dan tentunya jawabannya telah kami siapkan sebagaimana ringkasan yang telah kami susun ini. Pada bagian pertama sudah dijelaskan bahwa untuk memahami al-Quran dengan baik harus memahami juga as-Sunnah. Tidak hanya memahami dari segi maknanya saja, tapi juga dari aspek sanad, otentisitasnya, sahih , hasan dan dhaifnya. Sedangkan pada bagian kedua ini, kami khususkan pada paruh kedua dari kitab Kaifa Nataammal Maa as-Sunnah an-Nabawiyyah Yusuf Qardhawi pada bagian metodenya. Dibawah ini adalah metode yang harus di gunakan dalam memahami as-Sunnah dengan baik. silahkan di simak baik-baik.

1. Memahami  As-Sunnah Menurut Perspektif Al-Qur`an
As-Sunnah merupakan sumber syari’at yang kedua setelah al-Qur`an, sudah menjadi kewajiban bagi kita untuk memahami as-Sunnah dengan benar dan tepat, jauh dari penafsiran-penafsiran yang meniympang, salah satu caranya ialah memahami as-Sunnah berdasarkan perspektif al-Qur`an, yang telah terjamin kebenarannya dan keadilannya, firman Allah:

وَتَمَّتْ كَلِمَتُ رَبِّكَ صِدْقًا وَعَدْلًا ۚ لَّا مُبَدِّلَ لِكَلِمَاتِهِ ۚ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ [٦:١١٥
Artinya: Telah sempurnalah kalimat Tuhanmu (Al-Quran) sebagai kalimat yang benar dan adil. Tidak ada yang dapat merubah rubah kalimat-kalimat-Nya dan Dialah yang Maha Mendenyar lagi Maha Mengetahui. (QS. Al-An’an 115) 
Al-Qur`an  adalah ruh agama islam, pedoman yang paling mendasar, sedangkan as-Sunnah nabawiyah adalah penjelas dan perinci dari al-Qur`an, maka selamanya, sunnah harus sejalan dengan al-Qur`an. Maka tidak mungkin terjadi as-Sunnah yang sifatnya sebagai penjelas dari al-Qur`an menyelisihi isi sari al-Qur`an itu sendiri, tidak mungkin furu` akan menyelisi asalnya. Dari sini tidak akan didapati as-Sunnah yang Shahihah bertentangan dengan ayat-ayat al-Qur’an, namun apabila hal itu pun terjadi maka hadis tersebut mengandung unsur ketidak sahihan atau pemahaman terhadap hadis yang kurang tepat, ataupun pertentangan itu bukan pada hakikatnya. Inilah yang dimaksud dengan memahami as-Sunnah berdasarkan perspektif al-Qur`an.

Sebagai contoh firman Allah swt :

أَفَرَأَيْتُمُ اللَّاتَ وَالْعُزَّىٰ [٥٣:١٩]وَمَنَاةَ الثَّالِثَةَ الْأُخْرَىٰ [٥٣:٢٠]أَلَكُمُ الذَّكَرُ وَلَهُ الْأُنثَىٰ [٥٣:٢١] 
تِلْكَ إِذًا قِسْمَةٌ ضِيزَىٰ [٥٣:٢٢]إِنْ هِيَ إِلَّا أَسْمَاءٌ سَمَّيْتُمُوهَا أَنتُمْ وَآبَاؤُكُم مَّا أَنزَلَ اللَّهُ بِهَا مِن سُلْطَانٍ ۚ إِن يَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ وَمَا تَهْوَى الْأَنفُسُ ۖ وَلَقَدْ جَاءَهُم مِّن رَّبِّهِمُ الْهُدَىٰ [٥٣:٢٣] 
Artinya:Maka apakah patut kamu (hai orang-orang musyrik) menganggap al Lata dan al Uzza, dan Manah yang ketiga, yang paling terkemudian (sebagai anak perempuan Allah)? Apakah (patut) untuk kamu (anak) laki-laki dan untuk Allah (anak) perempuan? 

Yang demikian itu tentulah suatu pembagian yang tidak adil. Itu tidak lain hanyalah nama-nama yang kamu dan bapak-bapak kamu mengadakannya; Allah tidak menurunkan suatu keteranganpun untuk (menyembah)nya. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti sangkaan-sangkaan, dan apa yang diingini oleh hawa nafsu mereka dan sesungguhnya telah datang petunjuk kepada mereka dari Tuhan mereka. (QS. An-Najm 19-23)

Di dalam ayat ini Alla sudah sangat jelas mencela berhala namun ada sunnah yang menyelisihinya,
تلك العرانيق العلا وان شفاعتهن لترجى
Artinya: Itu adalah al-Gharaniq yang maha tinggi, dan syafa’atnya di harapkan.

Dilihat dari sisi matannya, sudah sangat jelas bahwa hadis tersebut sangat bertolak belakang dengan al-Qur`an,  kemudian dapat disimpulkan bahwa as-Sunnah tersebut mengandung unsur ketidak shahihan karena menyelisi ayat al-Qur`an dan juga harus di dukung dengan penelitian kesahihan hadis.

Namun ketika terdapat hadis yang shahih secara substansi muatan  seperti menyelisi al-Qur`an dan tidak terdapat penjelasan-penjelasan dari ulama secara gamblang maka alangkah lebih baik bersikap tawakuf. Seperti contoh, 

الوائدة والموءودة فب النار
Artinya: Perempuan yang menanam bayi perempuan hidup-hidup dan bayi yang di tanam itu, kedua-duannya di neraka. ( Abu Dawud, diriwayatkan dari Ibnu Mas'ud dll, al-Haitsami berkata perawi-perawi hadis shahih).

hal serupa juga terdapat pada hadis,
الوائدة والموءودة فى النار الا ان تدرك  الوائدة الاسلام فتسلم
Artinya: Perempuan yang menanam bayi perempuan hidup-hidup dan bayi yang ditanam itu kedua-duanya di neraka, kecuali perempuan yang menanam bayi itu memeluk islam ia akan terselamat.(HR. Ahmad dan An- Nasa’i).

Maksud dari hadis itu adalah bahwa perempuan yang menanam bayi itu ada peluang untuk selamat, tetapi bayi itu tidak ada peluang untuk selamat. Hal ini menyelisihi firman Allah,
وَإِذَا الْمَوْءُودَةُ سُئِلَتْ [٨١:٨]بِأَيِّ ذَنبٍ قُتِلَتْ [٨١:٩] 
Artinya: dan apabila bayi-bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup ditanya, 
karena dosa apakah dia dibunuh, (QS. At-Takwir:8-9).

Dalil di atas menunjukkan bahwa wanita atau perempuan yang menguburkan anak perempuannya hidup-hidup punya kesempatan untuk selamat dari neraka sedangkan anaknya tidak punya peluang padahal di dalam al-Qur`an bayi tersebut dipertanyakan tentang sebab mereka dibunuh, dalam bukunya Yusuf Qaradawi mengambil sikap tawakuf karena hadis tersebut berstatus shahih, namun menurut kami yang tetap dimenangkan atau di kedepankan tetaplah dalil al-Qur`an sebagai firman Allah yang pasti terjaga dan tidak mungkin terdapat kesalahan di dalamnya.


-Kehati-hatian Dalam Memvonis Hadis  yang Bertentangan dengan Al-Qur`an
Dalam hal ini hendaklah seseorang harus berhati-hati ketika memvonis sebuah dalil hadis bertentangan dengan al-Qur`an. 

Golongan Mu’tazilah telah banyak melakukan kesalahan terhadap teks-teks hadis, mereka banyak menolak hadis-hadis shahih mengenai syafa’at yang diberikan oleh Nabi Muhammad saw kepada orang-orang yang shaleh.

عن أبي رجاء العطاردي عن عمران بن حصين عن النبي {صلى الله عليه وسلم} قال يخرج من النار قومٌ بشفاعة محمدٍ {صلى الله عليه وسلم} فيدخلون الجنة ويسمون الجهنميين (رواه البخاري والمسلم)

Artinya: Suatu kaum di keluarkan dari neraka dengan syafa’at Muhammad saw. Mereka masuk ke dalam surga dan mereka dinamakan jahanamiyin. (HR. Bukhari dan Muslim).

Golongan Mu’tazilah menolak hadis-hadis ini karena mereka lebih mengutamakan janji-janji buruk Allah daripada janji-janji baik Allah. Mereka menolak hadis tersebut sekalipun hadis tersebut shahih dan kuat. Mereka berhujjah bahwa hadis-hadis seperti itu bertentangan dengan al-Qur`an yang menafikan syafa’at dari seseorang.

Dan mereka menyembah selain daripada Allah apa yang tidak dapat mendatangkan kemudharatan kepada mereka dan tidak (pula) kemanfaatan, dan mereka berkata: "Mereka itu adalah pemberi syafa'at kepada kami di sisi Allah". Katakanlah: "Apakah kamu mengabarkan kepada Allah apa yang tidak diketahui-Nya baik di langit dan tidak (pula) dibumi?" Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dan apa yang mereka mempersekutukan (itu). (QS. Yunus 18).

أَمِ اتَّخَذُوا مِن دُونِ اللَّهِ شُفَعَاءَ ۚ قُلْ أَوَلَوْ كَانُوا لَا يَمْلِكُونَ شَيْئًا وَلَا يَعْقِلُونَ [٣٩:٤٣] 
Artinya: Bahkan mereka mengambil pemberi syafa'at selain Allah. Katakanlah: "Dan apakah (kamu mengambilnya juga) meskipun mereka tidak memiliki sesuatupun dan tidak berakal?" 

قُل لِّلَّهِ الشَّفَاعَةُ جَمِيعًا ۖ لَّهُ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۖ ثُمَّ إِلَيْهِ تُرْجَعُونَ [٣٩:٤٤] 
Artinya: Katakanlah: "Hanya kepunyaan Allah syafa'at itu semuanya. Kepunyaan-Nya kerajaan langit dan bumi. Kemudian kepada-Nya-lah kamu dikembalikan" 

Dari ayat di atas Mu’tazilah berpendapat bahwa syafa’at hanya bisa diberikan oleh Allah semata, tidak ada seorang yang bisa memberikan syafa’at kecuali Allah termasuk Nabi Muhammad saw, dengan pendapat inilah mereka banyak menolak hadis-hadis shahih, karena Nabi tersebut bertentangan dengan ayat al-Qur`an.

2. Menghimpun Hadis-Hadis yang Berkaitan Dalam Satu Tema
Suatu keharusan bagi setiap orang muslim untuk memahami as-Sunnah dengan benar, termasuk cara yang kedua yaitu dengan mengimpulkan hadis-hadis yang berkaitan dalam satu tema. Hadis-hadis yang mutasyabih hendaklah dirujuk mengikuti maksud-maksud hadis-hadis yang muhkam. Hadis-hadis yang mutlaq dihubungkan dengan hadis-hadis yang muqayyad, hadis-hadis yang umum hendaknya ditafsirkan dengan hadis-hadis yang khusus. Dengan demikian jelaslah maksud hadis-hadis tersebut dan tidak saling kontradiksi.

Sebagai contoh, hadis yang yang menerangkan tentang pakaian isbal, sebagian orang mengamalkannya dengan penuh semangat, mereka beranggapan bahwa hal tersebut adalah sebuah keharusan bahkan menjadikannya sebagai salah satu syi’ar atau menjadikannya sebuah kewajiban. Ketika mereka mendapati seorang ustadz atau dai yang mejulurkan pakaiannya melebihi mata kaki, mereka akan menganggapnya salah dan kurang dalam pemahaman agama. Hal ini berdasarkan sabda Nabi saw, 

عن أبي ذر عن النبي {صلى الله عليه وسلم} قال ثلاثة ٌ لا يكلمهم الله يوم القيامة ولا ينظر إليهم ولا يزكيهم ولهم عذابٌ أليم قال فقرأها رسول الله {صلى الله عليه وسلم} ثلاث مرار قال أبو ذر خابوا وخسروا من هم يا رسول الله قال المسبل والمنان والمنفق سلعته بالحلف الكاذب  (متفق عليه)
Artinya: Diriwayatkan dari Abi Dzar dari Nabi saw, beliau bersabada, tiga golongan yang Allah tidak akan berbicara dengan mereka pada hari kiamat dan tidak pula mensucikannya dan bagi mereka azab yang pedih, Rasulullah mengulangnya tiga, Abu dzar berkata : mereka menyesal dan rugi, siapakah mereka wahai Rasulullah ? rasulullah bersabda : orang yang menjulurkan pakaiannya di bawah mata kaki, orang yang mengungkit-ngungkit pemberian dan orang yang melariskan barang dagangannya dengan sumpah palsu. (Muttafaqun ‘alaih).

Maksud dari hadis ini adalah bahwa orang yang menjulurkan pakaiannya melebihi mata kaki maka balasan dari perbuatan tersebut adalah neraka. Ketika dipahami hadis ini secara parsial maka akan menghasilkan kesimpulan di atas. Oleh sebab itu langkah yang bisa di tempuh adalah dengan mengumpulkan semua hadis yang berkaitan dengan hal itu, sehingga terdapat hadis yang mengecualikannya,

عن ابن عمر عن النبي {صلى الله عليه وسلم} قال من جر ثوبه وقد أخرج البخاري بالإسناد من حديث موسى بن عقبة عن سالم عن ابن عمر أن النبي {صلى الله عليه وسلم} قال من جر ثوبه خيلاء لم ينظر الله إليه يوم القيامة فقال أبو بكر يا رسول الله أحد شقي إزاري يسترخي إلا أن أتعاهد ذلك منه فقال رسول الله {صلى الله عليه وسلم} لست ممن يصنعه خيلاء (متفق عليه)

Artinya: Diriwayatkan dari Ibnu Umar dari Nabi saw, beliau bersabda : barang siapa menjulurkan pakaiannya melebihi mata kaki karena sombong maka Allah  tidak akan memandangnya pada hari kiamat, lalu Abu Bakar berkata: ya Rasulullah salah satu bagian dari celana ku melorot menutupi mata kaki sehingga aku harus menjaganya, Nabi saw bersabda: engkau bukanlah termasuk orang yang berbuat sombong. (Muttafaqun `alaih).

Dua hadis di atas merupakan hadis yang menjelaskan tentang pakaian isbal, sehingga dijadikan dalam satu tema untuk memudahkan dalam memahami sunnah, terlebih lagi sunnah yang bertentangan. Di dalam hadis di atas di jelaskan tentang larangan berpakaian isbal karena beberapa factor:

 1. Adanya ancaman-ancaman yang berat, seperti tidak diajak bicara, tidak dilihat dan tidak disucikan, adanya pengulangan Rasul sampai tiga kali. Menunjukkan bahwa itu adalah dosa besar dan itu pasti urusan yang dharuriyyah, yang menjaga agama, jiwa, akal, keturunan dan harta,  sedangkan menjulurkan pakaian hanya urusan tahsiniyah,yang berhubungan dengan adat dan muamalah. Jadi tidak mungkin karena semata-mata menjulurkan pakaian, orang akan masuk neraka. 
2. Keadaan masyarakat saat itu menunjukkan kekayaan dan kehormatannya lewat pakaian yang menjulur, jadi berpeluang besar untuk sombong dan bermegah-megahan, namun berbeda dengan keadaan sekarang.
An-Nawawi dan Ibnu Hajar berkomentar: kemuthlakan ini harus dibawa pada muqayyadnya yakni kesombongan.
3. Menjam’u (mengkompromikan) atau mentarjih (memilih yang dianggap lebih kuat ) hadis-hadis yang bertentangan

Pada dasarnya nash-nash syar’i yang sahih tidak akan bertentangan antara satu dengan yang lainnya, karena yang hak tidak akan bertentangan dengan yang hak. Jika ada yang bertentangan maka itu hanya pada dzahirnya saja, tidak pada hakikatnya. Oleh karena itu, pertentangan (ta’arudl) harus dihilangkan. Jika memungkinkan maka yang bertentangan ini dapat dijam’u dan jika tidak memungkinkan baru ditarjih. Karena menggunakan 2 dalil lebih baik daripada menggunakan satu dalil atau menghilangkan satu dalil. 

a. Menjam’u didahulukan sebelum mentarjih
Menjam’u hadis-hadis sahih yang pada zhahirnya bertentangan adalah suatu perkara yang sangat penting dalam memahami sunnah dengan sebaik-baiknya. 

Contoh kasus yang berkaitan dengan hal ini:
1. Hadis mengenai ziarah kubur
Hadis tentang larangan wanita berziarah ke kuburan diantarannya yang diriwayatkan dari Abu Hurairah:
ان رسول الله صم لعن زوارات القبر (رواه الترمذي وابن ماجه واحمد) 
Artinya: sesungguhnya Rasulullah saw melaknat wanita (yang sering sekali) menziarahi kubur. H.R. at-Tirmidzi, ibnu Majah dan Ahmad.
Hadis di atas bertentangan dengan hadis yang membolehkan wanita berziarah ke kuburan, diantaranya:
 عن عبد الله بن بريدة من رواية محارب بن دثار عنه عن أبيه قال قال رسول الله {صلى الله عليه وسلم} كنت نهيتكم عن زيارة القبور فزوروها  (متفق عليه(
Artinya: Dari Abdullah bn BUraidah, dari riwayat Maharib bin Disar darinya, dari bapaknya, ia berkata:Rasulullah saw bersabda: dulu saya melarang kalian berziarah kubur, maka (sekarang) berziarahlah. H.R. Muttafaqun ‘alaih

Meskipun hadis-hadis yang membolehkan lebih banyak dan lebih kuat, akan tetapi masih bisa dilakukan jam’u. Caranya adalah larangan yang disebutkan dalam hadis itu sebagaimana perkataan al-Qurthubi adalah ditujukan untuk wanita yang terlalu sering berziarah ke kuburan, karena dalam hadis larangan disebutkan زَوَّارَاتِ dengan shighat muballaghah, bisa juga karana mengurangi perhatiannya pada suami dan keluarga, karena dandanannya, meratap di kubur dan yang lainnya.

2. Hadis mengenai ‘azal
‘azal adalah seorang laki-laki mengeluarkan maninya di luar faraj istrinya supaya istrinya tidak mengandung. Hadis yang membolehkan diantaranya:

عَنْ أَبِى سَعِيدٍ الْخُدْرِىِّ أَنَّ رَجُلاً قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ لِى جَارِيَةً وَأَنَا أَعْزِلُ عَنْهَا وَأَنَا أَكْرَهُ أَنْ تَحْمِلَ وَأَنَا أُرِيدُ مَا يُرِيدُ الرِّجَالُ وَإِنَّ الْيَهُودَ تُحَدِّثُ أنَّ الْعَزْلَ مَوْءُودَةُ الصُّغْرَى. قَالَ « كَذَبَتْ يَهُودُ لَوْ أَرَادَ اللَّهُ أَنْ يَخْلُقَهُ مَا اسْتَطَعْتَ أَنْ تَصْرِفَهُ (رواه ابو داود)
Artinya: dari abu Sa’id al-Khudri, sesungguhnya seorang laki- laki berkata: wahai Rasulullah, sesungguhnya aku memiliki seorang budak perempuan, dan aku melakukan 'azl terhadapnya, serta tidak ingin ia hamil, aku menginginkan apa yang diinginkan laki-laki, sementara orang-orang yahudi mengatakan; bahwa 'azl adalah pembunuhan kecil. Beliau berkata: "Orang-orang yahudi telah berdusta, seandainya Allah menghendaki untuk menciptakannya, maka mereka tidak akan dapat berpaling darinya." (H.R. Abu Dawud)

Akan tatapi, ada beberapa hadis yang melarang ‘azal sebagaimana dalam hadis di bawah ini:
 عن جدامة قالت حضرت رسول الله {صلى الله عليه وسلم} في أناس وهو يقول لقد هممت أن أنهى عن الغيلة فنظرت في الروم وفارس فإذا هم يغيلون أولادهم فلا يضر أولادهم ذلك شيئاً ثم سألوه عن العزل فقال رسول الله {صلى الله عليه وسلم ذلك الوأد الخفي وهي ( وإذا الموءودة سئلت  (متفق عليه)
Artinya: dari Judamah binti, dia berkata; Saya hadir waktu Rasulullah bersama orang-orang, sedangkan beliau bersabda: "Sungguh saya bertekad untuk melarang ghilah, setelah saya perhatikan orang-orang Romawi dan Persia, mereka melakukan ghilah, ternyata hal itu tidak membahayakan anak-anak mereka sedikit pun." Kemudian mereka bertanya mengenai azl, Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menjawab: "Itu adalah pembunuhan secara tidak langsung”. Muttafaqun ‘alih.

Jumhur ulama (fuqaha) membolehkan ‘azal, kecuali pada wanita merdeka haruslah disertai izin dan kerelaan darinya. Al-Baihaqi mengkompromikan hadis-hadis yang bertentangan itu dengan membawa larangan tersebut bersifat tajih (dijauhi). Ibnu Qayyim mengatakan ذلك الوأد الخفي  adalah hanya bertujuan membunuh tanpa adanya perbuatan pembunuhan secara langsung, sedangkan أنَّ الْعَزْلَ مَوْءُودَةُ الصُّغْرَى adalah tujuan dan perbuatan pembunuhan secara langsung. Pengkompromian yang dilakukan oleh Ibnu Qayyim memang cukup kuat. Beliau juga menghukumi bahwa hadis dari Judamah itu adalah hadis dha’if. Ada juga yang mendhaifkan hadis Judamah, karena menyelisihi dalil yang lebih banyak jalurnya. Al-Hafidz mengatakan, ini adalah pendhaifan yang hanya didasarkan dengan tawahum (keraguan dan ketidak jelasan) saja, karena hadis sahih tetaplah sahih selama masih mungkin untuk di jam’u.

b. Nasakh dalam hadis
Nasakh dalam hadis digunakan jika ada hadis yang saling bertentangan yang tidak dapat dikompromikan dan tidak ditemukan mana yang lebih kuat. Nasakh dalam hadis lebih banyak daripada dalam al-Qura’n. Dalam banyak kasus ada hadis-hadis yang dinasakh tapi sebenarnya tidak, bisa dikarenakan karena ada hadis yang berbentuk azimah terkesan bertentangan dengan yang berbentuk rukhsah padahal bisa sama-sama berlaku. Ada hadis yang berkaitan dengan keadaan tertentu, dan hadis lain juga berkaitan dengan keadaan yang lain. Maka perbedaan keadaan tersebut bukan menunjukkan kepada nasakh. Seperti hadis tentang menyimpan daging kurban lebih dari 3 hari, ada yang membolehkan dan ada yang melarang.

Imam al-Baihaqi menukil dari imam as-Syafi’i: selama hadis-hadis itu bisa diamalkan maka lebih baik diamalkan daripada menghilangkan salah satunya. Jika ada hadis yang saling bertentangan maka ada 2 kemungkinan:

1. Ada diketahui nasikh dan mansukh
2. Tidak diketahui adanya nasikh dan mansukh, kita tidak boleh menguatkan satu dan melemahkan yang lain tanpa adanya sebab yang menguatkan atau melemahkan.

Hadis-hadis yang diriwayatkan itu ada tiga jenis:
1. Hadis yang sudah disepakati oleh pera ulama akan kesahihannya.
2. Hadis yang sudah disepakati oleh pera ulama akan kedahifannya.
3. Hadis yang dinyatakan sahih oleh sebagian ulama dan dianggap dhaif oleh ulama lain, dikarenakan adanya beberapa hal yang belum diketahui bersama atau disepakati bersama.

Jenis yang ketiga ini menjadi kewajiban ulama hadis mutaakhir membuat kajian tentang perselisihan pendapat mereka dan berusaha untuk mengetahui cara mereka menerima sebuah hadis atau menolaknya. Kemudian mereka haruslah memilih pendapat yang paling kuat.

4. Memahami hadis-hadis pada perspektis sabab wurud, yang berkaitan dengannya dan tujuannya.
Pemahaman hadis yang bagus diantaranya adalah melihat hadis dengan sebab-sebab khusus mengapa hadis itu berlaku, atau adanya illah (alasan) tertentu. Maka seorang ahli hadis akan menemukan ada hadis yang hanya mengenai waktu dan keadaan tertentu untuk mewujudkan maslahat dan menolak mafsadat atau untuk meluruskan masalah yang ada saat itu. Artinya, ada hadis mengenai hukum tertentu yang dzahirnya nampak berlaku secara umum dan selamanya, akan tetapi ketika ada illahnya, maka hukum itu berlaku jika ada illahnya dan tidak belaku jika illahnya hilang.

Sabab nuzul sangat membantu dalam memahami al-Qur’an, maka sabab wurud akan lebih dibutuhkan untuk meahami hadis. Karena al-Qur’an bersifat umum dan berlaku selamanya. Sedangkan hadis tidak semuanya seperti itu, banyak hadis yang menjelaskan keadaan tertentu dalam waktu tertentu. Maka harus dibedakan antara yang amm dari yang khas, yang sementara dengan yang kekal, juz’i dan kulli,melihat syiyakul kalam, mulabasahnya (keterkaitannya) dan sebab-sebab lain yang membantu dalam memahami hadis.

Contoh:
a. Hadis tentang انتم اعلم بعمور دنياكم (kalian lebih mengetahui urusan dunia kalian)
 Hadis itu sering digunakan orang untuk tidak melakukan hukum syara’ yang berkaitan dengan masalah ekonomi, politik, manajemen dan lain-lain. Karena mereka berpendapat bahwa rasul sudah menyerahkan urusan ini kepada kita yang lebih mengetahuinya daripada rasul. Sebenarnya maksud hadis tersebut tidak seperti itu, karena Allah mengutus rasul untuk meletakkan dasar keadilan, hak dan tanggung jawab,serta kewajiban mereka di dunia supaya mereka tidak tersesat, dan mereka mempunyai parameter yang jelas. Banyak nas yang menjelaskan tentang muamalah, jual-beli, sewa-menyewa dan lain sebagainya. Hadis di atas haruslah difahami dengan melihat sabab wurud yang ada. Yakni tentang penyerbukan pohon kurma.

b. Hadis tentang perempuan bepergian bersama mahram
Diantara hadisnya itu terdapat dalam sahih al-Bukhari dan sahih Muslim yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas bahwa Rasulullah bersabda:
لا تسافر امراة الا ومعها محرم
Artinya: janganlah seorang wanita bepergian kecuali bersama dengan mahramnya.

Illah hadis di atas adalah karena adanya kekhawatiran keselamatan bagi perempuan tersebut, karena perginya dengan menunggang  onta atau keledai yang melewati padang pasir yang tidah berpenghuni, jika ia selamatpun masih akan adanya kemungkinan nama baiknya jadi tercemar.

Kalau kita perhatikan pada zaman sekarang  ini, Illat pada hadis itu sudah hilang, karena orang bepergian jauh telah menggunakan pesawat terbang atau kereta api dan lain sebagainya. Maka seorang wanita boleh bepergian tanpa mahramnya, hai ini juga dikuatkan oleh hadis marfu’ yang diriwayatkan oleh ‘Adi bin Hatim yang terdapat dalam sahih al-Bukhari: 

يوشك ان تخرج الظعينة من الحيرة تقدم البيت اي الكعبة لا زوج معه
Artinya: akan ada seorang wanita keluar dari Hirah menuju ka’bah tanpa suaminya (H.R. Bukhari)

c. Hadis tentang pemimpin berasal dari suku Quraisy ((الأئمة من قريش
menurut ibnu Khaldun adanya hadis mengenai pemimpin harus berasal dari suku Quraisy karena memang keadaan saat itu yang punya kekuatan dan kekeluargaan yang besar dan kuat adalah suku Quraisy. Sehingga Rasulullah mengeluarkan hadis itu semata-mata guna menghindari perpecahan. Karena itu, hal ini dijadikan sebagai illat kenapa pemimpin itu berasal dari suku Quraisy.

Adapun metode sahabat dan tabiin dalam melihat ilah dan dzurufnya (waktu dan tempat) adalah dengan  meninggalkan mengamalkan dengan dhahir nya sebagian hadis, ketika mereka mengetahui bahwa hadis itu untuk memecahkan permasalahan pada zaman nabi. Kemudian keadaan telah berubah dari apa yang telah terjadi pada zaman Rasulullah.

Contohnya ketika nabi membagi tanah penaklukan di Khaibar untuk para mujahid, akan tetapi Umar tidak berbuat demikian di Irak, malainkan tetap dimiliki oleh tuan tanahnya, dengan ketentuan harus membayar kharaj. Menurut Ibnu Qudamah bahwa yang dilakukan umar saat itu sudah pas dengan keadaan saat itu.  

Contoh lain yaitu ketika Rasulullah ditanya tentang unta yang tersesat maka Rasulullah menyuruh untuk membiarkannya sehingga yang punya bias menemukannya. Di zaman Umar, unta yangtersesat ditangkap dan diiklankan kemudian jika yang punya dating, unta itu diserahkan pada pemiliknya. Sedangkan di zaman Ali, unta itu ditangkap dan dipelihara, jika dirasa merugikan boleh dijual dan uangnya diberikan kepada pemiliknya, atau dipelihara dengan uang dari baitul mal.

Nas-nas yang disandarkan pada kebiasaan yang terjadi di zaman Rasulullah, kemudian kebiasaan tersebut berubah pada zaman sekarang maka hal tersebut diperbolehkan. Seperti pada zaman Rasulullah, jual beli kurma, gandum dengn menggunakan takaran. Abu Yusuf berpendapat bahwa saat ini yang lebih mudah adalah dengan timbangan dan itu juga yang sudah menjadi urf.

5. Membedakan antara wasilah (perantara yang berubah-ubah) dan tujuan yang tetap dari sebuah hadis.
Salah satu kesalahan memahami al-Sunnah ialah terdapat orang yang belum bisa membedakan antara wasilah dan tujuan, sehingga mereka menggunakan wasilah seolah itu adalah sebuah tujuan. Sebaliknya bagi orang yang benar-benar memahami al-Sunnah dan hikmah-hikmahnya, mereka akan lebih memahami tujuan hadis yang kekal dan tetap serta tidak selamanya menggunakan wasilah yang ditunjukkan oleh Nabi saw karena wasilah bisa berubah mengikut tempat, waktu, adat dan sebagainya.

Setiap cara akan berubah dari satu zaman ke satu zaman yang lain dan satu keadaan ke satu keadaan yang lain. Maka apabila terdapat nas mengenai salah satu daripada cara-cara tersebut, itu adalah untuk menjelaskan bahwa ada cara yang sesuai pada masa itu dan tidak semestinya kita terikat dengan cara tersebut.

Sebagai contoh, sebagian mereka yang mempelajari al-Sunnah berkaitan dengan perobatan menurut Nabi saw yang hanya menggunakan kepada obat, makanan, biji-bijian dan lainnya untuk sembuh dengan mengemukakan beberapa hadis yang masyhur sebagai berikut:

خَيْرُ مَا تَدَاوَيْتُمْ بِهِ الْحِجَامَةُ
Artinya: Sebaik-baik yang gunakan untuk berobat adalah berbekam. (H.R. Ahmad, ath-Thabrai dan al-Hakim dan ia mensahihkannya)
فِي الْحَبَّةِ السَّوْدَاءِ شِفَاءٌ مِنْ كُلِّ دَاءٍ، إِلاَّ السَّامَ
Artinya: Terdapat di dalam al-habbah al-sauda’ penyembuhan daripada segala penyakit kecuali mati. (Muttafaq ‘alaih)
Menurut pendapat saya (Qardhawi), apa yang disebut pada hadis di atas bukan merupakan ruh perobatan Nabi saw, tetapi sebenarnya adalah ruh pengajaran kesehatan dan kehidupan manusia. Ia merupakan kewajiban manusia untuk beristirahat ketika lapar dan makan ketika lapar serta berobat ketika sakit.

Perubahan zaman ke satu zaman dan keadaan ke satu keadaan sudah pasti akan mengenal cara perobatan yang berbeda dan cara yang tertentu. Hadis-hadis di atas hanya untuk menjelaskan cara yang sesuai pada zaman nabi dan tidak sekali-kali kita hanya terikat dengan cara perobatan tersebut.

Contoh kedua ialah mengenai peralatan peperangan yang terdapat pada hadis Nabi saw. Hadisnya sebagai berikut:
مَنْ رَمَى بِسَهْمٍ فِي سَبِيلِ اللهِ فَلَهُ كَذَا وَكَذَا
Artinya: Sesiapa yang memanah dengan anak panah karena perang di jalan Allah, maka baginya (pahala) begini dan begini. (H.R. Ahmad, ath-Thabrani, al-Hakim, an-Nasa’i dan at-Tirmidzi)

وَأَعِدُّوا لَهُم مَّا اسْتَطَعْتُم مِّن قُوَّةٍ وَمِن رِّبَاطِ الْخَيْلِ تُرْهِبُونَ بِهِ عَدُوَّ اللَّهِ وَعَدُوَّكُمْ وَآخَرِينَ مِن دُونِهِمْ
Artinya: Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah dan musuhmu dan orang orang selain mereka. (Al-Anfal: 60)

Dalam keadaan dan zaman sekarang, maka kita harus menyiapkan tank, pesawat termpur, bom dan pistol. Coba bayangkan jika kita masih menggunakan anak panah sedangkan musuh menggunakan senapang dan nuklir. Sudah pasti umat Islam akan kalah di medan peperangan.

Contoh ketiga ialah Nabi saw telah menentukan cara membersihkan gigi dengan menggunakan siwak. Supaya gigi kita putih dan bersih.

السِّوَاكُ مَطْهَرَةٌ لِلْفَمِ مَرْضَاةٌ لِلرَّبِّ
Artinya: Bersiwak itu membersihkan mulut dan mendatangkan keredhaan Allah.(H.R. Bukhari, Ahmad dll)

Nabi menerangkan suatu yang dapat menyampaikan kepada tujuan dan benda itu tidak menyusahkan. Di negara yang sulit untuk mendapatkan kayu siwak boleh menggunakan alat lain yang bisa digunakan untuk jutaan manusia seperti sikat gigi. Ini juga termasuk timbangan dan takaran serta hisab dan rukyat.

6. Membedakan antara yang hakiki dan yang majazi dalam memahami sebuah hadis.
Bahasa Arab mengandungi banyak majaz (kiasan). Majaz yang terdapat di dalam ilmu balaghah lebih kuat kedudukannya daripada hakikat. Nabi saw adalah seorang berbangsa Arab yang paling tinggi bahasanya. Ditambah lagi dengan perkataannya yang merupakan wahyu dari Allah swt. Oleh karena itu, tidak heranlah jika hadis nabi banyak mengandungi majaz yang menerangkan suatu maksud dengan bahasa yang sangat indah. Maksud majaz di sini adalah: Majaz dari segi bahasa, yaitu akal, isti’arah, kinayah, dan semua yang tidak menunjukkan pada makna aslinya.

Terkadang, suatu percakapan itu mesti dipahami sacara majaz. Jika tidak, akan membawa kepada kesalahan dan kekeliruan.

Contoh pertama ialah ketika Nabi bersabda kepada istri-istrinya:
أَسْرَعُكُنَّ بِي لِحَاقًا أَطْوَلُكُنَّ يَدًا
Artinya: Orang yang paling cepat mengikuti aku ialah yang paling panjang tangannya.

Istri-istri Nabi saw memahami kata-kata tersebut dengan makna hakikat. Menurut ‘Aisyah r.a, mereka mengukur siapakah yang paling panjang tangannya. Dalam satu riwayat, mereka mengambil sebatang kayu untuk mengukur siapakah yang paling panjang tangannya. Padahal, maksud Nabi ialah siapakah di antara mereka yang lebih banyak melakukan kebaikan.

Contoh kedua mengenai hadis:
حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْلِ 
Artinya: Setelah benang putih dan hitam sudah jelas kelihatan pada waktu fajar, makan sempurnakanlah puasa kalian hingga ke malam hari.

Ada sahabat yang menaruh benang hitam dan putih dibawah bantal dalam memahami sabda Nabi saw di atas. Padahal yang dimaksud Nabi saw adalah putih tanda waktu siang dan hitam tanda kegelapan malam.

-Waspada Terhadap Kelonggaran Dalam Takwil Majaz
Menurut saya (Qardhawi), mentakwil hadis atau nas dari maknanya yang asal tidak boleh dilakukan oleh seorang muslim kecuali ada sebab-sebab tertentu dari pandangan akal dan nas.
Takwil terhadap majaz akan ditolak jika tanpa sebab yang munasabah atau menyeleweng. Penggunaan makna hakikat juga akan ditolak jika tidak sesuai dengan akal yang sehat, syariat, ilmu pengetahuan dan kenyataan.
Sebabnya adalah, keberadaan majaz banyak terdapat pada hadis maupun ayat hokum. Maka sebagian ulama berpendapat bahwa para ahli fikih adalah seorang ahli bahasa, sehingga memiliki pemahaman terhadap teks, sebagaimana pemahaman para sahabat atau orang arab terdahulu terhadap teks.

Akibat mengabaikan pembedaan antara majaz dah hakikat, ia membawa pelbagai kesalahan, seperti memberi fatwa haram, wajib, bid’ah dan fasik, sehingga saling mengkafirkan.
Contoh kasus hadis:
مَنْ قَطَعَ سِدْرَةً صَوَّبَ اللهُ رَأْسَهُ فِي النَّارِ
Artinya: Sesiapa yang memotong pohon bidara, Allah halalkan kepalanya ke neraka.

Ada yang mengatakan bahwa perkara ini hanya berlaku untuk pohon bidara yang ada di Tanah Haram. Maka pohon yang selebihnya tidak termasuk dalam hokum haram tersebut. Tetapi ketika dilihat di Sunan Abu Dawud, ia mengatakan bahwa hadis ini adalah ringkasan dari hadis berikut:

مَنْ قَطَعَ سِدْرَةً فِى فَلاَةٍ يَسْتَظِلُّ بِهَا ابْنُ السَّبِيلِ وَالْبَهَائِمُ عَبَثًا وَظُلْمًا بِغَيْرِ حَقٍّ يَكُونُ لَهُ فِيهَا صَوَّبَ اللَّهُ رَأْسَهُ فِى النَّارِ
Artinya: Sesiapa yang memotong pohon bidara di kawasan tanah lapang yang dimanfaatkan oleh para musafir dan binatang sebagai tempat teduh tanpa sebab yang benar, maka Allah akan menghalalkan kepada orang yang menebang itu ke neraka.

Ibnu Taimiyah menolak penggunaan majaz. Syeikhul Islam menolak majaz karena beliau ingin menutup pintu para mu’atillah yaitu pentakwil yang berlebihan mengenai sifat Allah. Beliau ingin menghidupkan apa yang dilakukan oleh ulama salaf yaitu menetapkan kepada sesuatu Allah tetapkan untuk dirinya sendiri dan menadakan apa yang ditiadakan dari diri Allah. Akan tetapi ia berlebihan karena juga menafikan majaz secara keseluruhan.

Yusuf Qaradawi mengatakan mengenai sifat-sifat Allah dan sesuatu yang berkaitan dengan alam ghaib dan akhirat,  yang paling baik adalah kita tidak mendalami takwilnya kecuali ada dalil yang menunjukkannya dan kita serahkan kepada orang yang mengetahuinya.

7. Membedakan antara yang ghaib dan khdpan nyata.
Sunnah menyebutkan tentang hal yang ghaib, sebagian yang ada dalam alam ini akan tetapi tidak dapat dilihat seperti jin, malaikat dan sebagian lagi ada di kehidupan alam barzakh, seperti nikmat dan siksa kubur, sebagian lagi berkaitan dengan alam akhirat, yang dimulai dengan bangkit dari kubur, ada neraka surga dll.

Dalam masalah ini kita wajib menerima hadis-hadis yang telah disahihkan, kita tidak boleh menolaknya hanya karena itu bertentangan dengan pengetahuan yang kita miliki. Nas yang sahih tidak akan bertentangan dengan akal, jika bertentangan maka ada kemungkinan nas itu yang salah atu akal itu tidak waras. Mu’tazilah menolak hadis-hadis sahih yang jauh dari pemikiran mereka, seperti mereka menolak adanya pertanyaan, nikmat dan siksa kubur.

Imam as-Syatibi mengetakan: ahli bid’ah dan penyelewengan mengingkari hadis-hadis sahih yang tidak sesuai dengan kehendak mereka dan mazab mereka, dan mengatakan itu semua bertentangan dengan akal dan tidak pantas dijadikan dalil, bahkan mereka berani mencela para sahabat, tabi’in dan para ulama hadis di depan umum supaya khalayak umum membenci ulama hadis dan tidak mengamalkan sunnah. Permasalahan mendasar yang membuat mereka menolak hadis-hadis itu adalah karena meraka mencoba membandingkan perkara ghaib dengan perkara yang nyata, padahal keduaya tidak dapat dibandingkan dan tidak sama. Ibnu Abbas pernah berkata: tidak ada satupun yang ada di dunia ini sama dengan yang ada di surga, kecuali hanya namanya.Apa bia kita menemukan hadis sahih yang berhubungan dengan akhirat, maka yang seharusnya kita lakukan adalah mengimaninya.

8. Penelitian terhadap makna lafaz-lafaz hadis.
Ini sangat penting karena dalalah atau makna lafadz hadis itu berbeda dari satu waktu dengan waktu yang lain, satu tempat dengan tempat lain karena adanya perkembangan bahasa dan lafaz yang dipengaruhi oleh waktu dan tempat.

Mengenai definisi dari lafadz-lafadz hadis sudah ada banyak kitab yang membahasnya, akan tetapi yang menjadi masalah adalah bagaimana penggunaan lafdz tersebut untuk masa sekarang, misalnya untuk benda atau kegiatan yang belum ada pada zaman nabi seperti foto digital. Ini sangat penting karena akan berpengaruh pada hukum suatu hal.

Mayoritas orang arab mengatakan orang yang memiliki kamera adalah mushawwir, sedangkan perbuatannya adalah tashwir,
Padahal dalam hadis dari aun bin juhaifah dari bapaknya:
إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنْ ثَمَنِ الدَّمِ وَثَمَنِ الْكَلْبِ وَكَسْبِ الْأَمَةِ وَلَعَنَ الْوَاشِمَةَ وَالْمُسْتَوْشِمَةَ وَآكِلَ الرِّبَا وَمُوكِلَهُ وَلَعَنَ الْمُصَوِّرَ
Artinya: Sesungghunya Rasulullah saw telah melarang harga (uang hasil jual beli) darah, anjing dan melarang orang yang membuat tato dan yang minta ditato dan pemakan riba' dan yang meminjam riba serta melaknat pembuat patung".(H.R. Bukhari)

Akibat hukumnya adalah pemilik kamera mendapatkan laknat dari Allah. Kewajiban kejelian dan teliti ketika mensyarah mufradat sehingga jelas maksud dari nash, mencoba menyesuaikan dengan tujuan pemilik kalimat dan memsesuaikan dengan makna yang berkaitan.

Hal diatas menjadi wajib jika nash itu berhubungan dengan nash agama seperti al-Qur’an dan hadis. Sebagian lafaz terkadang sudah jelas hanya dengan mengembalikan lafaz itu kekamus-kamus bahasa, kitab-kitab gharibul hadis.

Sebagian lafaz berubah dari hakiki menjadi majaz, dari yang sharih menjadi kinayah. Sebagian lafaz dikuluarkan oleh agama dari hakikat bahasanya dan memberinya makna baru yang belum pernah ada sebelumnya, seperti lafz salat, taharah, wudhu dan tayamum. Dan sebagian lafaz tidak difahami kecuali dalam perspektif konteksnya dan tujuannya dan keterkaitan sabab wurudnya.

Dalam pembahasan tarjih, sebaiknya diberikan kriteria-kriteria pentarjihan sebagaimana yang ada dalam buku manhaj tarjih muhammadiyah yang dikarang oleh pak Asmuni Abdurrahman bab I. Pembahasannya banyak yang terlalu melebar, sehingga bagi pemula akan susah memahaminya.

Kesimpulan:
Memahami haddis dengan pemahaman yang benar adalah sebuah kewajiba, maka dari itu sangat perlu untuk menggunakan metode-metode yang telah terpaparkan di atas agar tidak salah dalam memahami makna suatu hadis, sehingga tujuan atau ruh, semangat dari hadis tersebut lebih bisa teraplikasikan.