Referensi Situs-situs Bermanfaat

Gudang Ilmu | Langkah Berdebu
Di bawah ini adalah situs-situs bermanfaat yang bisa penulis berikan kepada teman-teman ziyad.web.id sebagai referensi situs-situs yang bermanfaat. Di antara situs-situs tersebut adalah situs-situs yang pernah penulis singgahi maupun rekomendasi dari teman yang penulis kira bisa bermanfaat bagi para pembaca. Oke inilah situs-situs tersebut:

1. Membahas Seputar Syariah dan ada Referensinya:
http://ustadzridwan.com
# http://hamidfahmy.com/

2. Membahas tentang pemikiran Islam
# http://hamidfahmy.com/
# http://miumipusat.org/
# .......
#.......


Guru Sebagai Pilar Peradaban (Spesial Hari Guru)

Oleh: Ziyadul Muttaqin, Guru TPA al-Amin, Kaliurang-Yogyakarta
Hari senin tanggal 25 November merupakan hari dimana diperingati sebagai hari guru. Berbicara mengenai hari guru maka secara tidak langsung akan membicarakan pula mengenai  eksistensi, profesionalisme dan juga kompetensinya. Dalam kaitannya dengan hari guru kiranya tepat sekali bila waktu ini digunakan sebagai waktu yang tepat untuk introspeksi dan koreksi diri. Sudahkah kita sebagai guru mencerminkan perilaku sebagai guru yang baik ataukah belum?
Seorang guru dituntut mempunyai karakter, kompetensi dan profesionalisme yang tinggi dalam mendidik dan mengajar siswanya. Dengan profesionalismenya tersebut akan mampu membentuk kempetensi dan karakter siswa-siswinya sehingga akan berimplikasi terhadap kemampuan siswa, baik dari segi intelegensi, emosional maupun secara spiritual.
Dalam sebuah seminar Prof. Dr. Sunardi, M.Pd mengungkapkan bahwa guru yang ideal bisa diimplementasikan dari kepanjangan kata guru itu sendiri. Menurut beliau guru itu bermakna gagasan, usaha, rasa dan utama. Sebagai seorang guru harus dipenuhi dengan gagasan dan ide kreatif untuk menjadikan peserta didiknya lebih berkembang. Ide tersebut harus disertai dengan usaha yang maksimal untuk mewujudkannya. Ide dan usaha tersebut harus dilandasi dengan rasa atau empati sehingga ilmu yang dimiliki akan mengarah ke jalan yang positif. Kalau ketiganya sudah berjalan dengan baik maka keutamaan akan didapat.
Kaitannya dengan guru sebagai pilar peradaban, Pancasila dan Undang-undang ‘45 telah lama menyatakan bahwa mencerdaskan kehidupan bangsa adalah tugas bersama bangsa. Sedangkan dalam mencerdaskan suatu bangsa sangat tidak mungkin bisa lepas dari campur tangan sosok yang bernama guru. Dari tangan-tangan guru akan terbentuk generasi-generasi yang akan datang, baik yang sekarang masih TK sampai sekolah menengah. Oleh karena itu, seorang guru bukan hanya sekedar mencetak dan mentransfer ilmunya. Tapi bagaimana seorang guru dapat membuat siswanya lebih kreatif dan berkarakter sehingga bisa menumbuhkan peradaban yang bernilai di masa mendatang.
Saya memaknai bahwa tugas seorang guru tidak hanya formalitas mendidik dan mengajar saja. Akan tetapi lebih dari itu semua, meminjam istilah Anis Baswedan yaitu sebagai perwujudan ikut turun tangan dalam melunasi hutang kemerdekaan bangsa. Oleh karena itu, saya berani mengatakan bahwa guru adalah pilar penegak peradaban bangsa.

Sebagai bagian pilar penegak bangsa, tentunya para guru harus meningkatkan kualitasnya dalam menyikapi perkembangan dunia pendidikan. Pengabdian dan keluhuran budi juga harus ditegakkan sebagai perwujudan dari makna guru itu sendiri. Selamat Hari Guru. Semoga keikhlasan para guru menjadi amal yang barakah dunia dan akhirat.

Menakar Eksistensi Profesi Guru (Spesial Hari Guru)

Oleh: Ziyadul Muttaqin, Guru TPA al-Amin, Kaliurang Yogyakarta

Hari senin, 25 November ini merupakan hari yang sangat berarti dalam dunia pendidikan. Pasalnya momentum ini diperingati sebagai hari yang bersejarah tentang guru. Momentum seperti ini sangat baik digunakan untuk merefleksi apa yang telah dilakukan oleh para guru ataupun para calon guru selama ini. Baik itu dari segi gagasan, usaha, rasa komitmen dan lain sebagainya.

Berbicara mengenai hari guru, pasti perhatian kita akan tercurah pada eksistensi guru. Bagaimana sepak terjangnya, kualitasnya maupun profesionalitasnya. Pertanyaan yang muncul di benak kita sekarang adalah apakah guru-guru sekarang sudah mencerminkan eksistensi sebagai guru yang baik ataukah belum. Hal inilah yang perlu menjadi renungan dan koreksi kita bersama.

Mengenai hal ini , tidak bisa kita pungkiri bahwa ada sebagian guru yang dalam melaksanakan tugasnya sebagai guru hanya seperti “buruh atau kuli”. Keberadaan mereka seperti dalam istilah “Wujuduhu Ka Adamihi”- keberdaannya sama seperti tidak adanya. Mereka datang ke kelas dan rajin mengisi absen tapi hal itu hanya sebagai rutinitas belaka tanpa ada perencanaan dan alur pengajaran yang sesuai. Guru yang seperti ini lambat laun pasti akan tergilas oleh masa jika tidak mau meningkatkan kualitasnya.

Namun demikian, tidak bisa kita pungkiri bahwa banyak juga guru yang sangat menjaga profesionalismenya dalam mengajar dan mendidik. Mereka memaknai profesi guru sebagai profesi yang mulia, sebagai pembangun peradaban masa depan. Guru yang seperti inilah yang sangat dibutuhkan pada masa sekarang ini.
Profesi guru sendiri mempunyai makna yang filosofis. Dalam bahasa jawa kita mengenal istilah guru sebagai “digugu lan ditiru” yang maknanya seorang guru harus bisa dipercaya, dianut dan dijadikan teladan. Maka timbul pertanyaan sudahkah sebagai guru dan calon guru tutur kata dan sikap kita mencerminkan filosofi tersebut?. Bahkan masa sekarang seiring dengan pesatnya arus global guru tidak hanya sebatas digugu dan ditiru tetapi juga sebagai sahabat dan kawan bagi para muridnya.

Dengan memahamai tugas dan peran guru, maka dapat dipahami bahwa guru merupakan bagian penting dari pilar penyangga masa depan murid, masa depan masyarakat dan lebih jauh lagi  sebagai pilar penyangga masa depan bangsa. Bagaimanapun profesi ini merupakan profesi yang sangat mulia. Tidak salah jika guru dianugerahi sebagai pahlawan.

Mengenai keberadaan guru dan eksistensinya dalam sebuah bangsa, saya masih teringat dengan kisah pengeboman sekutu terhadap kota Nagasaki dan Hirosima di Jepang. Setelah kedua kota itu hancur lebur karena serangan sekutu, para pemimpin Jepang bangkit dan hal yang paling pertama mereka ucapkan ialah berapa jumlah guru yang masih tersisa. Inilah hal penting yang sarat dengan keberadaan guru sebagai pilar penegak suatu bangsa. Kata berapa jumlah guru yang masih tersisa menunjukkan betapa keberadaan guru menduduki tempat yang vital dalam sebuah bangsa. Anak-anak kita sebagai generasi masa depan bangsa akan sangat dipengaruhi oleh eksistensi guru pada masa sekarang.


Sebagai pilar bangsa, tentunya para guru harus meningkatkan kualitasnya dalam menyikapai perkembangan dunia pendidikan. Pengabdian dan keluhuran budi juga harus ditegakkan sebagai perwujudan dari makna guru itu sendiri. Selamat Hari Guru. Engkau adalah pilar penegak peradaban umat, bangsa dan negara.