Sikap Positif

Beberapa hari yang lalu saya mendapatkan sms dari salah seorang sahabat yang skit. Bunyi sms tersebut kurang lebih begini, “apa yang harus saya lakukan ketika dokter dan pengusaha alternatif sudah benar-benar bingung terhadap sakit yang saya sandang? Apa ini pertanda Allah akan membersihkan dosa-dosa saya ataukah karena ada maksud lain?”

Perlu anda ketahuai, sahabat saya tadi mengalami sakit yang ‘membingungkan’ ini sudah cukup lama. Sepertinya sudah lebih dari setahun. Selama itu pula ia harus pulang pergi dan keluar masuk rumah sakit tanpa ada kesimpulan yang pasti berkait dengan apa sesungguhnya penyakit yang ia sandang.

Saat sahabat saya berkirim sms seperti itu, pada satu sisi saya membayangkan betapa ia telah berjuang  dan berikhtiar dengan beragam cara. Tentu dengan harapan agar sakitnya cepat sembuh. Namun pada sisi lainnya saya juga bimbang harus membalas dengan jawaban seperti apa.

Dengan tetap berniat membantumeringan kan beban sahabat tersebut, saya pun membalasnya dengan kalimat begini. “Ketika kita tidak tahu harus berbuat apa, atau kita mengalami jalan buntu aatas maslah yang kita hadapi maka berserah diri kepada Allah agar diberi petunjuk dan jalan keluarnya dengan cara terbaik yang masih bisa kita lakukan.”

Jika sms tadi mesti dilanjutkan , insyaallah saya akan menambahkan begini. “Sembari kita berserah diri kepada Allah, kita harus berupaya untuk membangun sikap positif atas apapun yang sedang kita alami. Sebab dengan memiliki sikap positif, kita dapat memperoleh setidaknya tiga manfaat:

Pertama, perasaan kita cenderung menjadi lebih rileks.

Kedua, Terpeliharanya nilai spiritual yang lebih baik

Ketiga, Energi dan antusiasme kita mampu terproduksi lama>

Sepintas tentang Mubaligh Hijrah Muhammadiyah

Islam adalah agama yang menganjurkan dan menyuruh umatnya agar senantiasa melakukan amar makruf nahi mungkar yang berarti memerintahkan agar senantiasa melaksanakan hal-hal yang baik dan menjauhi dari hal-hal yang dilarang oleh Allah dan Rasulnya. Usaha dalam menjalankan syariat yang demikian itu dinamakan dakwah. Sebuah dakwah memerlukan perjuangan yang tidak mudah, kadang manis kadang pahit juga terasa. Itulah lika-liku dakwah islam. Bahkan dakwah juga terkadang perlu yang namanya pengorbanan jiwa, harta, mental dll. Semua itu kadang di perlukan dalam menjalankan dakwah yang mulia ini.

Setiap orang islam dan mengaku sebagai orang yang beriman kepada Allah dan rasulnya wajib hukumnya menjalankan dakwah islam semampunya. Dalam hal ini dakwah amar makruf nahi mungkar hukumnya wajib. Dalam kancah dewasa ini, dakwah sendiri diperankan oleh para da’i atau para mubaligh-mubaligh yang menyampaikan dakwahnya dengan cara-cara yang mudah dipahami oleh para masyarakat. Dalam menjalankan dakwah islam para da’i atau mubaligh-mubalighat dituntut agar dakwahnya senantiasa mengarah kepada hal-hal yang positif dan tidak memecah belah ummat, inilah esensi yang dilakukan oleh para da’i kreator masa dewasa ini. Dakwah di era global sekarang ini begitu canggih dan lebih menjangkau masyarakat luas. Akan tetapi berat dan besar sekali tantangannya. Terlebih diimbangai dengan sarana dan prasarana informassi dan komunikasi yang lengkap nan canggih. Sebut saja televisi. Setiap rumah hampir pasti memiliki layar kaca ini, tidak siang tidak malam akan senantiasa menyebarkan informasi dan berbagai hal.

Kemudian tentang mubaligh hijrah. Kata mubalihg hijrah merupakan susunan dua kata yang berasal dari dua kata yang berbeda yaitu “mubaligh’ dan “hijrah”. Mubaligh berarti penyampai, lebih khususnya seorang yang menyampaikan tentang ajaran-ajaran islam. Sedangkan hijrah berarti pindah. Sedangkan makna mubaligh hijrah secara keseluruhan maksudnya adalah seorang mubaligh yang ditugaskan untuk berdakwah di daerah orang baik itu daerah kampung, kota dan lainnya yang berasal dari luar daerah tersebut. Jadi secara singkatnya da’i atau mubaligh tersebut adalah pindahan dari daerah lain.

Tentang mubaligh hijrah ini. Salah satu lembaga atau instansi organisasi yang mengadakan program mubaligh hijrah adalah organisasi Muhammadiyah yang sudah sangat lama menekuni dan memberi perhatian yang besar terhadap kebutuhan dakwah ini. Mubaligh hijrah muhammadiyah ini dilakukan pada bulan ramadhan. Lebih khususnya kegiatan mubaligh hijrah ini dilakukan oleh Pimpinan Wilayah Muhammadiyag Yogyakarta. Menurut pengalaman penulis yang pernah mengikuti kegiatan ini. Sebelum kegiatan di mulai, para mubaligh dan muballighat dibekali dahulu dengan pembekalan-pembekalan yang dirasa perlu yang dilaksanakan di gedung Unires Universitas Muhammadiyah Yogyakarta selama 3 hari. Kemudian setelah itu baru diterjunkan ke lapangan secara langsung 3 hari sebelum hari H puasa awal. Selama di daerah medan dakwah para mubaligh dan muballighat ditugaskan untuk menyempaikan dakwah di daerah tersebut. Mungkin ada yang dapat di daereah yang kota bahkan ada juga yang dapat di daerah yang terpencil seperti yang perrnah penulis alami. Akan tetapi hal tersebut tidak menjadi halangan bagi para muballigh dan muballighat yang memang sudah disiapkan meski pada situasai yang sulit seperti tidak ada air atau kondisi masyarakat yang pas-pasan atau bahkan adat istiadat masyarakat yang tidak mendukung kegiatan dakwah islam secara menyeluruh. Hal-hal yang demikian kerap ada dan sedikit banyak menyita mental para muballigh dan muballighat.

Penelitian Hadis Doa Makan

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ


A.    LATAR BELAKANG MASALAH

Islam adalah agama yang mengatur segala aspek kehidupan manusia, mulai dari perkara-perkara yang sederhana dan mendasar seperti makan, minum hingga perkara-perkara yang rumit dan kompleks seperti persoalan politik dan kenegaraan. Salah satu bentuk aturan Islam di dalam aspek kehidupan adalah dianjurkannya berdoa sebagai pengiring setiap perbuatan manusia, apakah sebelum atau sedudahnya. Dalam hal ini termasuk makan. Maka tidak salah jika kaum muslimin berusaha menghidupkan ajaran agama ini dan  mengajarkan anak-anak mereka untuk berdoa sebelum makan. Sebuah doa yang terbaik adalah doa yang ma’tsur, yakni doa yang berasal dari hadis sahih Rasulullah saw. oleh karena itu, kami tertarik untuk meneliti doa makan yang selama ini beredar diajarkan dan diamalkan di lembaga pendidikan seperti sekolah dan TPA, dan dibiasakan diamalkan di rumah-rumah kaum muslimin.

B.    RUMUSAN MASALAH
Dari latar belakang di atas, maka rumusan masalahnya adalah ; bagimana status kesahihan hadis doa sebelum makan yang selama ini diamalkan?.

C.   LANGKAH-LANGKAH PENELITIAN
Langkah-langkah penelitian ini adalah melakukan takhrij terhadap doa tersebut, lalu dilakukan I’tibar dengan membaut skema sanad, lalu kritik rijal sehingga bisa disimpulkan status hadis yang akan diterliti.

D.   ISI PENELITIAN
1)    Takhrij.
Hadis doa makan tersebut ditakhrij oleh Ibn Sunnî di dalam A’mâl al-Yaum wa al-Lailah, Bab Mâ Yaqȗl fi ath-Tha’âm Idzâ Qaruba Ilaih Juz II, Hal 327, Nomor : 456, Cet Muassasah ar-Risȃlah, Beirut edisi Farȗq Hammâdah. Dengan lafal sanad dan matannya sebagai berikut ;

حدثني فضل بن سليمان ، ثنا هِشامُ بنُ عمّارٍ ، ثنا مُحمّد بن عِيسى بنِ سُميعٍ ، ثنا مُحمّدِ بنِ أبِي الزُّعيزِعةِ ، عن عَمرِو بنِ شُعيبٍ ، عن أبِيهِ ، عن جده عَبدِ اللهِ بنِ عَمرٍو ، رضي الله عنهما ، عنِ النّبِيِّ صلى الله عليه وسلم ، أنّهُ كان يقُولُ فِي الطّعامِ إِذا قُرِّب إِليهِ : « اللّهُمّ بارِك لنا فِيما رزقتنا ، وقِنا عذاب النّارِ ، بِاسمِ اللهِ

Hadis ini juga ditakhrij ole hath-Thabrânî di dalam ad-Du’â, bab , Bab al-Qaulu ‘Inda Khudȗr ath-Tha’âm Juz I, Hal 278, Nomor : 888, Cet Dâr al-Kutub al-‘Ilmîyyah, Beirut edisi Musthafâ ‘Abd al-Qadîr Athâ . Dengan lafal sanad dan matannya sebagai berikut

حَدَّثَنَا الْحُسَيْنُ بْنُ إِسْحَاقَ التُّسْتَرِيُّ وَمُحَمَّدُ بْنُ أَبِي زُرْعَةَ الدِّمَشْقِيُّ ، قَالاَ : حَدَّثَنَا هِشَامُ بْنُ عَمَّارٍ ، حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عِيسَى بْنِ سُمَيْعٍ ، حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ أَبِي الزُّعَيْزِعَةِ ، حَدَّثَنِي عَمْرُو بْنُ شُعَيْبٍ ، عَنْ أَبِيهِ عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَمْرٍو رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ ، عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم أَنَّهُ كَانَ يَقُولُ فِي الطَّعَامِ إِذَا قُرِّبَ إِلَيْهِ اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيمَا رَزَقْتَنَا وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ بِسْمِ اللهِ

2)    Melakukan I’tibar dengan pembuatan skema sanad.





3)    Kritik Rijal
Perawi yang diteliti dalam penelitian ini adalah para perawi yang terdapat di dalam buku dalam A’mâl al-Yaum wa al-Lailah oleh Ibn Sunnî

1.    Fadhal bin Sulaiman
2.    Hisyâm bin ‘Ammâr
a.    Nama lengkapnya adalah Hisyâm bin ‘Ammâr  bin Nashîr bin Maisarah as-Sulamî atau azh-Zhifrî ad-Dimasyqî (w. 245 H)
b.    Guru-gurunya dalam periwayatan hadis antara lain ; Ibrâhim bin Mȗsa al-Makkî, Radîh bin ‘Athiyah al-Quraisyî, Sa’îd bin Yahya dan lainnya.[1] Murid-muridnya antara lain ; Abȗ ‘Ubaid al-Qâsim,
c.    Penilaian kritikus hadis
1)    Ibn Hibbân menyebutkannya di dalam ats-Tsiqât[2].
2)    Al-‘Ijlî ; tsiqah, shadȗq.[3]
3)    Abȗ Hâtim ; dia shadȗq akan tetapi ketika usianya telah tua hafalannya berubah.[4]
4)    Ibn Ma’in ; tsiqah.
Para kritikus hadis menilai Hisyâm bin ‘Ammâr  sebagai seorang perawi yang dapat dipercaya, namun hafalannya memburuk ketika telah tua.
3.    Muhammad bin ‘îsa bin Sumai’
a.    Nama lengkapnya adalah Muhammad bin ‘îsa bin al-Qâsim bin Sumai’ ad-Dimasyqî Mula Mu’awiyah al-Quraisyî (w. 204-206).
b.    Guru-gurunya antara lain ; Zaid, Wâqid, Humaid ath-Thawîl, ;Ubaidullah bin ‘Umar, Rȗh bin al-Qâsim, Ibn Abî Dzi’bin dan lainnya. Murid-muridnya antara lain Hisyâm bin ‘Ammâr, ‘Abd al-Rahman bin Yahya, al-‘Abbâs bin al-Walîd ad-Dimasyqî dan lainnya.[5]
c.    Penilaian para krtikus hadis ;
1)     Abȗ Hâtim ; seorang guru yang hadisnya boleh ditulis namun tidak dapat dijadikan hujah.[6]
2)    Ibn Hajar ; shadȗq, sering salah dalam meriwayatkan hadis, seorang mudallis, tertuduh berfaham al-Qadariyyah.[7]
3)    Abȗ Dâwud ; laisa bihi ba’sun. tetapi dicurigai berfaham al-Qadariyyah.
Para kritikus hadis menilai Muhammad bin ‘îsa bin Sumai’ sebagai perawi yang hadisnya tidak dapat dijadikan hujah, selain itu dia seorang mudallis. Riwayat mudallis memakai lafal  yang mengindikasikan pendengaran langsung dapat diterima, namun dia tetap cacat karena dituduh pelaku bid’ah.
4.    Muhammad bin Abî Zu’aizi’ah.
a.    Nama lengkapnya adalah Muhammad bin Abî Zu’aizi’ah [8]
b.    Guru-gurunya dalam periwayatan hadis antara lain ‘Atha’, Nâfi’, ‘Amr bin Syu’aib dan lainnya. Murid-muridnya antara lain ; Muhammad bin ‘Isâ bin Sumai’.[9], menurut Ibn Hajar, muridnya ini adalah satu-satunya murid yang dimiliki rawi ini.[10]
c.    Penilaian kritkus hadis ;
1)    Abȗ Hâtim ; tidak usah menyibukan diri dengan hadis-hadisnya. Mungkar al-hadîts[11].
2)    Ibn Hibban ; salah satu Dajjal, dia meriwayatkan hadis-hadis palsu.[12]
3)    Al-Bukhârî ; munkar al-hadîts jiddan. Hadisnya tidak boleh dituliskan.[13]
Para kritius hadis mencela Muhammad bin Abî Zu’aizi’ah sebagai seorang perawi yang tidak bisa dipercaya, sering memalsukan hadis, bahkan oleh Ibn Hibbân disebut Dajjal yang menunjukan bahwa dia seorang pendusta.
5.    ‘Amr bin Syu’aib
a.    Nama lengkapnya adalah ‘Amr bin Syu’aib bin Muhammad bin ‘Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash.
b.    Guru-gurunya dalam periwayatan hadis antara lain ; ayahnya yaitu Muhammad bin ‘Abdullah bin ‘Amr, Sa’id bin al-Musayyab, Thâwus, dan lainnya. Murid-muridnya antaral lain Hassâ bin ‘Athiyyah, az-Zhuhrî, Ibn Juraij dan lainnya.[14]
c.    Komentar  para kritikus hadis ;
1)    Yahya bin Sa’id al-Qaththân ; jika yang meriwayatkan darinya adalah seorang yang tsiqah, maka riwayatnya bisa dipercaya.
2)    Yahya bin Ma’in ; tsiqah jiak ia meriwayatkan dari seorang yang tsiqah
3)    Abȗ Hâtim ; tidak kuat (laisa bi qawiy) akan tetapi hadisnya boleh ditulis.
4)    Abȗ Zur’ah ; dia tsiqah, akan tetapi para kritikus membicarakannya karena kelemahan pada tulisannya (bi sabâb kitâbin) miliknya.
5)    Al-Bukhârî ; kebanyakan ashab kami berhujah dengan hadis yang diriwayatkannya dari ayahnya dari kakeknya.
Ada cacat para diri Amr bin Syu’aib yang menjadi perbincangan para kritikus hadis, namun menurut al-Bukhârî hadis dari ayah dari kakekny dapat dijadikan hujah, hadis ini adalah dari ayahnya dari kakeknya.
6.    Syu’aib bin Muhammad bin ‘Abdullah
a.    Nama lengkapnya adalah Syu’aib bin Muhammad bin ‘Abdullah bin ‘Amr bin al-Ash.
b.    Guru-gurunya dalam periwayatan hadis antara lain ; ‘Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash, ‘Amr bin al-Ash, Muhammad bin ‘Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash, Ibn ‘Umar, dan lainnya. Murid-muridnya antara lain Tsâbit al-Bannânî, dua orang putranya yaitu ‘Amr dan ‘Umar, ‘Atha’ al-Khurasânî dan lainnya.[15]
c.    Penilaian para kritikus hadis :
1)    An-Nawâwî ; dia tsiqah, dan sebagain kritikus mengingkari bahwa ia mendengarkan hadis dari kakeknya pengingkaran mereka itu salah.[16]
2)    Ibn Hibban menganggapnya tsiqah.
3)    Adz-Dzahabî ; shadȗq.
Syu’aib bin Muhammad bin ‘Abdullah dinilai terpercaya oleh para krtikus, dan riwayatnya dari kakeknya yaitu sahabat ‘Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash, diperselisihkan, ulama yang menganggapnya benar adalah an-Nawâwî sebagaimana telah disebutkan.
7.    ‘Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash.
a.    Nama lengkapnya adalah ‘Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash bin Wâil as-Sahmî al-Qursyî Abȗ Muhammad.
b.    Guru-gurunya dalam periwayatan hadis antara lain ; beliau adalah sahabat yang mendengarkan langung hadis dari Nabi saw, disamping itu juga dari shabat lain seperti Ubay bin Ka’ab bin Qais, Surâqah bin Mâlik. Murid-muridnya antara lain ; Abȗ Zur’ah, Aus bin Aus dan lainnya.
Beliau adalah seorang sahabat yang utama, dia diizinkan oleh Rasulullah saw untuk mencatat semua perkataan Rasulullah saw baik ketika beliau saw sedang senang maupun ketika sedang marah.[17]
E.    KESIMPULAN
Dari penelitian yang dilakukan terhadap hadis doa makan yang cukup masyhur ini, dapat ditarik beberapa kesimpulan ;
a.    Hadis ini dikeluarkan oleh dua ulama di dalam kitab tuntunan amal sehari-hari yakni Ibn Sunnî di dalam A’mâl al-Yaum wa al-Lailah dan ath-Tahbrânî di dalam ad-Du’â kedua kitab ini bukanlah sumber hadis yang diakui otoritasnya secara penuh.
b.    Dari penelitian terhadap sanad keduanya, dapat disimpulkan bahwa kedua jalur riwayat tersebut melalui seorang rawi yang lemah bahkan dituduh pendusta bernama Muhammad bin Abî Zu’aizi’ah. Oleh karena itu meskipun terdapat dua jalur, tetap tidak dapat “ditolong” karena keduanya melalui satu rijal yang tidak bisa dipercaya
c.    Hadis doa makan ini termasuk hadis daif.



















[1] Ibn Hibbân, ats-Tsiqât, edisi as-Sayyid Syaraf ad-Dîn Ahmad, (ttp : Dâr al-Fikrî, 1975), VI : 374, 311.
[2] Ibn Hibbân, ats-Tsiqât,…, IX:233.
[3] Al-‘Ijlî, Ma’rifah  ats-Tsiqât, edisi ‘Abd al-‘Alîm ‘Abd al-‘Azhîm, (Madinah : Maktabah ad-Dâr, 1985), II:332.
[4] Al-Bâjî, at-Tadîl wa Tajrîh li Man Kharraja lahȗ al-Bukhârî fi al-Jâmi’ as-Shahîh, edisi Abȗ Lubâbah Husain, (Riyadh : Dâr al-Wâ’I li an-Nasyr wa at-Tauzi’), III:1173.
[5] Ibn Abî Hâtim, al-Jarh wa at-Ta’dîl, (Beirut : Dâr al-Ihyâ’ at-Turâts, 1952), VIII: 37.
[6] Ibid, hal 38.
[7] As-Suyȗthî, Asmâ’ al-Mudallisîn, edisi Mahmȗd Muhammad Mahmȗd Hasan Nashshâr, (Beirut : Dâr al-Jîl, tt), hal 89.
[8] Ibn Abî Hâtim, al-Jarh wa at-Ta’dî…VII : 261.
[9] Ibid.
[10] Ibn Hajar, Lisân al-Mizân, editing oleh penertbit, (India : Dâirah al-Mu’arrif an-Niszhâmiyyah, 1986), V:165.
[11] Ibn Abî Hâtim, al-Jarh wa at-Ta’dî…VII : 261
[12] Ibn al-Jauzî, adh-Dhu’afâ’ wa al-Matrukîn, edisi ‘Abdullah al-Qâdhî, (Beirut : Dâr al-Kutȗb al-‘Ilmîyyah, 1406 H), III:59
[13] Ibid.
[14] Ibn Abî Hâtim, al-Jarh wa at-Ta’dî…VI : 238.

[15] An-Nawâwî, Tahdzîb al-Asmâ’ , edisi Musthafa ‘Abd al-Qâdir Athâ, (Beirut : Dâr al-Kutub al-‘Ilmiyyah, tt), I:346.
[16] Ibid
[17] Ibn al-Atsîr, Usd al-Ghâbah fi Ma’rifah as-Shahâbah, I:657.
http://ayubmenulis.blogspot.com/2012/06/bagaimanakah-status-hadis-doa-makan.html

Hadis Dhaif Seputar Ramadhan


Bulan  Ramadhan datang lagi, kegiatan keagamaan pun marak pula.  Maka  tak  pelak  lagi  para  muballigh  dan  penceramah  akan  penuh kesibukan.  Mereka  akan  selalu  menyebut-nyebut  beberapa  Hadis  Nabawi  dalam  kegiatan-kegiatan  itu.  Hadis-hadis  ini  umumnya  berkaitan dengan fadhilah (keutamaan) bulan Ramadhan yang intinya  mendorong  kaum  Muslimin  untuk  meningkatkan  ibadah  dan  amal  kebajikan.  di  samping menghindari maksiat.  Kendati  demikian,  tidak selamanya Hadis-hadis Ramadhan yang  mereka  sampaikan itu dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiyah.  Memang,  di  antara Hadis-hadis itu ada yang shahih, tetapi juga  tidak  sedikit yang dha 'if (lemah). bahkan parah sekali kedha'ifannya, atau juga  maudhu' (palsu). Dan di antara Hadis keutamaan bulan Ramadhan yang tidak layak dikumandangkan adalah Bulan Ramadhan itu awalnya Rahmat, tengahnya maghfirah, dan akhirnya pembebasan dari neraka. 
Teks Hadis  ini  nyaris paling sering dikumandangkan pada setiap acara  kultum atau ceramah-ceramah bulan Ramadhan. Teks selengkapnya adalah sebagai berikut: 
أول شهر رمضان رحمة وأوسطه مغفرة وأخره عتق من النار
“Permulaan bulan Ramadhan itu rahmat, pertengahannya maghfirah,  dan  penghabisannya merupakan pembebasan dari neraka".
Hadis ini diriwayatkan oleh al-'Uqaili dalam kitab ai-Dhu'afa, Ibn ‘Adiy, al-Khatib al-Baghdad didalam kitab Tarikh Baghdad, al-Dailami dan Ibn  ‘Asakir. Sementara sanadnya adalah Sallam bin Sawwar, dari Maslamah bin al-Shalt, dari al-Zuhri, dari Abu Salamah, dari Abu Hurairah, dari Nabi Saw
Kualitas Hadis
Menurut Imam al-Suyuti, Hadis ini  nilainya dh 'if. (lemah), dan menurut ahli Hadis masa kini, Syeikh Muhammad Nashir al-Din al-Albani mengatakan bahwa Hadis ini adalah munkar. Pernyataan al-Albani ini tidak berlawanan dengan pernyataan al-Suyuti, karena Hadis munkar adalah bagian dari Hadis dha'if. Hadis munkar adalah Hadis di mana dalam sanadnya terdapat rawi yang pernah melakukan kesalahan yang parah, pelupa, atau ia seorang yang jelas melakukan maksiat (fasiq) . Hadis munkar termasuk katagori Hadis yang sangat lemah dan tidak dapat dipakai sebagai dalil apa pun. Sebagai Hadis dha 'if ( lemah), ia menempati urutan ketiga sesudah matruk (semi palsu) dan maudhu' (palsu).
Para Hadirin yang Dirahmati Allah SWT..
Ada riwayat semisal lain yang diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah dalam Shahih Ibnu Khuzaimah menyatakan tentang keutamaan bulan ramadhan, namun sama juga dhaif. Salman menuturkan bahwa ia mendengar Nabi SAW berpidato diakhir bulan sya’ban dengan redaksi yang cukup panjang:
قَالَ : خَطَبَنَا رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ آخِرَ يَوْمٍ فِي شَعْبَانَ ، فَقَالَ : (( يَا أَيُّهَا النَّاسُ ، قَدْ أَظَلًَّكُمْ شَهْرٌ عَظِيمٌ ، شَهْرٌ مُبَارَكٌ ، فِيهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ ، افْتَرَضَ اللهُ صِيَامَهُ ، وَجَعَلَ قِيَامَهُ تَطَوُّعَاً ، مَنْ تَقَرَّبَ فِيهِ بِخَصْلَةٍ مِنْ الْخَيْرِ ، كَمَنْ أَدَّى فَرِيْضَةً فِيمَا سِوَاهُ ، وَمَنْ أَدَّى فِيهِ فَرِيْضَةً كَانَ كَمَنْ أَدَّى سَبْعِينَ فَرِيْضَةً فِيمَا سِوَاهُ ... )) الْحَدِيثَ .

“Hai sekalian manusia, kamu sekalian akan dilindungi bulan yang agung. Bulan yang diberkahi, bulan dimana terdapat suatu malam yang lebih baik daripada seribu bulan. Allah menjadikan puasa pada bulan itu sebagai suatu kewajiban sementara shalaat malamnya dijadikan saaebagai kesunahan. Siapa yang melakukan suatu  amal kebajikan pada bulan itu, ia seperti melakukan suatu kewajiban pada bulan yang lain. Dan oarang yang menjalankan suatu kewajiban pada bulan itu, ia seperti menjalankan tujuh puluh kewajiban pada bulan yang lain...”
Namun riwayat Ibn Khuzaimah ini ternyata juga dha'if. karena di dalam sanadnya terdapat rawi yang bernama Ali bin Zeid bin Jud'an. Menurut ulama ahli kritik Hadis Imam Yahya bin Ma'in, Ali bin Zeid bin jud'an adalah “Laisa  bi hujjah” (tidak dapat dijadikan hujjah). Menurut Imam Abu Zur'ah, Ali bin Zeid bin Jud'an “Laisa  bi qawiy (tidak kuat) dan begitu pula menurut ulama yang lain.
Oleh karena itu tidak selayaknya hadis dhaif diatas dijadikan bahan ceramah atau hujjah tanpa disampaikan penilaian kedhaifannya. Memang ada hadis dhaif yang dijadikan dalil untuk beramal kebajikan (fadhailul a’mal), tetapi ada syarat-syarat tertentu antara lain kedhifannya tidak terlalu parah. Sementara hadis fadhilah ramadhan yang diriwayatkan oleh al-‘Uqaili dan Ibnu Khuzaimah ini kedhaifannya sangat parah  sehingga tidak bisa dijadikan dalal apapun.